
Didalam ruangan yang tadinya dingin kini tiba-tiba menjadi panas karena terlihat tampak jelas kemarahan Sean.
“Sean! Apa yang kamu lakukan?” Ucap Nevy, Mama dari wanita tersebut.
Aaarrgghh!!
Suara wanita itu kesakitan ketika lehernya di cek*k dengan sangat kuat.
“Ka-kak! Le-pas. Ak-ku mo-hon.” Ucap wanita tersebut dengan terbata. Wajahnya sudah tampak merah. Sesekali ia memukul lengan Sean agar melepaskan cekik*n di lehernya.
“Jangan ada yang mendekat!” Ucap Sean secara lantang.
“Jika kalian mendekat satu langkah saja maka kalian akan melihat leher wanita ini terbelah menjadi dua!”Lanjutnya kembali.
Seketika orang yang berada di ruangan itu tidak mampu menolong wanita itu. Mereka tau jika apa yang Sean katakan jika ada yang membantahnya ia akan melakukan hal tersebut.
Sebuah mobil mewah baru saja sampai di Mansion. Sepasang suami istri keluar dari mobil dan berjalan memasuki Mansion tersebut. Dari sini terdengar suara ribut di ruang keluarga.
“Bik. Ada di dalam sana kenapa suaranya terdengar sampai sini?” Ucap wanita tersebut kepada seorang pelayan.
“Didalam sana tuan muda Sean marah nyonya, sampai leher nona muda juga di cekik oleh tuan muda.” ucap pelayan tersebut.
Mendengar perkataan membuat jantung wanita itu berdetak lebih cepat.
“Pah! Sean..” Ucap wanita itu dengan nada lemah.
“Sudah mah. Tidak akan terjadi apa-apa,” Ucap pria itu untuk menenangkan istrinya. Sebenarnya ia sama takutnya dengan istrinya. Tapi ia pura-pura tenang agar istrinya akan tetap tenang juga.
Mereka terus melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang keluarga itu.
__ADS_1
“Sean! Apa yang kamu lakukan?” Ucap wanita tersebut saat ia melihat putranya mencek*k seorang wanita yang sangat di kenalnya.
“Mamah!” Ucap Sean lemah saat melihat mama nya juga berada di ruangan itu. Sepasang suami istri itu adalah Regina dan Revan yang baru saja datang terlambat karena ada hal yang harus di lakukan.
Wanita yang berada di depan Sean mencoba melepaskan dirinya dari Sean ketika ia merasa cekik*n di leher sedikit melemah, tapi cekik*n itu semakin kuat.
Aaarrgghh!!
“Sean. Lepaskan nak! Kita bicara baik-baik ya sayang.” Ucap Regina melemah, ia melihat anaknya saat ini sangat berantakan. Tapi ini pilihan anaknya ia hanya bisa merestui apa yang akan menjadi pilihan putranya itu.
“Sean! Kamu bisa membunuhnya.” Ucap Regina kembali saat melihat putra nya semakin mencengkeram kuat leher wanita itu.
“Lepaskan dan kita bicarakan masalah ini baik-baik.”
“Carissa itu adik kamu, jika kamu lupa?”
Ucapnya Regina kembali mencoba mengingatkan wanita yang berada di depannya.
“Bukan dia yang membuat Aleea pergi Sean! Tapi yang membuat Aleea pergi adalah kamu sendiri!”
“sikap kamu!” Ucap Regina dengan suara lantang.
“Kamu pikir saja Sean! Wanita mana yang mau masih bertahan ketika melihat suaminya mengurus mantan kekasihnya yang sedang hamil.” Ucapnya kembali.
Deg!!
Perkataan Regina membuat tubuh Sean menegang. Cengkeraman di leher Carissa mengendur dan terlepas dengan sendiri.
BRUK!!
__ADS_1
Tubuhnya Carissa terjatuh keatas lantai ruangan itu. Ia di bantu oleh ibunya untuk berdiri dan duduk di ruangan itu.
“Mama tidak tahu apa yang telah di lakukan oleh Carissa, tapi dengan melihat sikapmu menjaga dan merawat mantan kekasihmu itu penyebab utama Aleea meninggalkan dirimu, yang dilakukan Carissa tidak benar. Tapi apa yang kamu lakukan kepada Aleea jauh lebih tidak benar.” Ucap Regina.
Beberapa menit kemudian Regina yang melihat putranya berdiam diri, ia mengambil kertas yang berada di dalam tasnya dan kemudian ia melanjutkan ucapannya.
“Kamu tanda tangani saja berkas ini, setelah itu kamu bebas memilih untuk menjadi pasanganmu.” Ucap Regina yang sudah berada di depan Aleea sambil memberikan surat yang di beri Aleea beberapa hari yang lalu saat ia mengunjungi Aleea kembali.
Ketika menerima surat itu perasaannya tidak karuan. Antara bahagia dan sedih. Bahagia melihat Aleea bisa memulai hidupnya mencari kebahagiaan dan sedih melihat Aleea bahagia tapi bukan dengan putra nya.
Dengan menarik nafas panjang Regina kembali berkata kepada putranya.
“Mama kali ini akan mengikuti kemauan kamu untuk memilih pasanganmu. Mama akan merestui kamu.”
“Sekalipun kamu ingin memulai hidup dengan bahagia dengan mantan kekasihmu mama akan merestuimu seperti ucapan putri mama untuk mengikuti semua kemauan kamu,” Ucapanya kembali sambil mengeluarkan air mata yang mulai membasahi pipinya. Kemudian ia meletakan kertas tersebut ke tangan Sean.
Sean membuka surat tersebut dengan rahang yang mengeras dan tangan yang mengeras sehingga buku-buku tangan terlihat dengan jelas yang mengartikan jika ia sedang menahan amarah.
Surat perceraian yang dikirimkan oleh Aleea setelah beberapa minggu yang lalu ia merobek surat yang sama dengan yang saat ini ditangannya.
“Mama dapat dari mana surat ini?” Tanya Sean sambil menujukan surat yang ada di tangannya.
“Kamu tidak perlu tahu mama dapat dari mana surat itu,” Jawab Regina.
“Sampai kapanpun aku tidak akan menanda tangani surat ini. Lebih baik aku mati daripada harus menceraikan Aleea.” Ucap Sean.
Krek! Krek! Krek!
Sean merobek surat yang ada ditangannya. Kemudian ia meninggalkan ruangan itu dengan robekan kertas yang bertaburan dilantai.
__ADS_1
Sedangkan orang-orang yang ada diruangan itu hanya mampu menatap punggung Sean yang mulai menjauh keluar dari ruangan tersebut.