Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Pelukan Terakhir


__ADS_3

Didalam ruangan yang bernuansa putih terdapat seorang wanita yang duduk di atas kasur dengan air mata yang menetes di pipinya.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


Tangisan Aleea pecah. Sudah lama ia ingin menangis tapi selalu saja ada orang lain di sekitarnya.


Ia terus menangis meratapi apa yang telah terjadi. Jika orang lain melihatnya akan merasakan sakit seperti yang Aleea rasakan. Didalam kamar itu menjadi saksi bahwa Aleea tengah rapuh dan sangat rapuh. Aleea bisa menutupi kesedihan nya jika ada orang di sekitarnya tapi ketika sendiri dia hanyalah seperti wanita yang lain yang sama rapuhnya.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


“Maafkan Mama nak,”


“Maaf,”


“Mama tidak bisa menjaga mu,”


“Tenang disana ya sayang. Mama akan selalu mendoakan kamu,”


Hiks.. Hiks.. Hiks..


Aleea masih menagis tapi tangisan nya tidak seperti tadi. Setelah Sean pergi dari ruangan Aleea, yang ia lakukan sejak tadi adalah menagis. Ntah sudah berapa lama Aleea menangis sehingga ia tertidur setelah banyak menangis.


Tok Tok Tok


Samar-samar Aleea mendengar suara pintunya di ketuk dari luar. Ia mencoba membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan dengan cahaya ruangan itu.


CEKLEK!


Di dalam kamar tidur yang Aleea inapkan saat ini, Aleea bisa melihat kenop pintu yang berputar. Suara pintu yang berdecit pelan, sebelum pintu tersebut terbuka perlahan. Menampilkan seorang wanita yang berada di atas kursi roda dengan membawa seseorang digendongan nya yang di bantu petugas mendorong dari belakang. Dengan manik mata penuh keingintahuan, mengintip dari luar ruangan untuk melihat keadaan dalam.


Perlahan Syeila membiarkan dirinya masuk, wanita itu menampilkan senyuman indah di wajahnya. Syeila yang terlebih dahulu menghampiri dirinya dengan jarak yang lebih dekat.


Dengan senyuman yang selalu di bibirnya, sebelum memanggil, "Hay. Apa kabar?"


Aleea melihat wanita yang berada disampingnya. “aku baik-baik saja,” ucap Aleea dengan wajah yang masih terlihat sedikit pucat.


“Maaf. Baru bisa datang sekarang,”


“Tidak apa-apa. Kabar kamu bagaimana?”


“Aku dan dia baik-baik saja,“ Ucap Syeila sambil menunjuk ke arah bayi yang sedang ia gendong.


Deg!


Aleea teringat tentang anaknya yang sudah tiada. Matanya mulai berkaca-kaca, ketika ia mengedipkan saja matanya maka airmata sudah keluar.


Syeila yang melihat Aleea hanya berdiam dia inisiatif untuk memberikan anaknya agar di gendong oleh Aleea.


“Kamu tidak ingin mengendong putra ku?” Tanya Syeila yang menampilkan wajah sedih. Aleea mengambil putra Syeila kedalam gendongannya.

__ADS_1


“Tampan,” Ucap Aleea yang melihat wajah putra Syeila.


“Kamu sudah memberi nama anak mu ini?” Tanya Aleea yang masih menatap wajah bayi yang ada di gendongannya.


“Sudah. Tapi aku rasa kurang cocok untuknya.” Ucap Syeila.


“Siapa namanya?” Tanya Aleea.


“Brian Austin,” Jawab Syeila.


“Nama yang bagus, ” Ucap Aleea.


“Aku akan memangil kamu Baby B, Baby Brian.” Ucap Aleea sesekali ia membubuhkan kecupan di pipi gembul bayi tersebut.


“Terimakasih Mami Al,” Ucap Syeila sambil menirukan suara anak kecil.


Aleea merasa tersentuh mendengar ucapan Syeila. airmata yang sejak tadi ia ia simpan kini mengalir deras di pipinya.


“Kenapa menangis?” Tanya Syeila yang di beri gelengan kepala oleh Aleea.


“Kamu bisa menganggap Brian sebagai putra mu juga, kita bisa merawatnya bersama” lanjutnya kembali yang di balas senyuman oleh Aleea. ia tidak tahu harus menjawab apa.


...****************...


Hari ini Aleea sudah di perbolehkan untuk pulang, selama beberapa hari ini Sean menjaga Aleea. Dia harus pulang pergi dari rumah sakit ke kantor. Selama itu juga ia tidak pernah pulang ke rumahnya. Hari ini dia akan kembali ke rumahnya dengan bersama Aleea tentunya. Beberapa hari ini hubungan Aleea dengan Sean sudah membaik.


Setelah melihat Syeila dan putranya yang beberapa hari lalu datang melihatnya. Aleea semakin yakin ini pilihan yang tepat untuk pernikahannya.


“Tidak apa sean. Kamu ke kantor saja biar mama yang mengantar aku ke rumah.” Ucap aleea dengan lembut.


“No!! Aku akan kembali kesini dan kita akan pulang bersama. Lagian aku bisa meninggalkan rapat sebentar, setelah jam makan siang aku akan kembali ke kantor,” Ucap sean dengan lembut.


“Tapi sean.. Kam-,” Ucapan Aleea terpotong ketika Sean kembali mengatakan “tidak ada tapi-tapian By. kamu lebih penting dari apapun,” Sean mendekat ke arah Aleea yang berada di atas tempat tidur.


“Terimakasih masih bertahan,” Ucap sean sambil membawa tubuh aleea masuk kedalam pelukannya. Ntah lah apa yang Sean rasakan saat ini. Seolah ini adalah pelukan terakhirnya memeluk wanita di depannya.


Aleea merasakan pelukan di tubuhnya semakin erat. Ia hanya membalas pelukan sean dengan memberikan tepukan-tepukan kecil di punggungnya. Tak berapa lama ia merasakan punggungnya basah. Ia tahu jika sean sedang menangis. Ia tak habis pikir beberapa hari ini sean mudah sekali menangis.


Aleea mengendurkan pelukannya dan di lihat wajah sean sudah penuh dengan air mata yang membasahi pipinya. “Hei! Kenapa menangis?” Ucap aleea sambil menghapus pelan air mata sean. Sean hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


“Aku merasa ini seperti pertemuan dan aku merasa ini akan menjadi pelukan terakhir kita,” Ucap sean dengan lemah.


“Kamu ngomong apa sih? Sudah jangan menangis lagi, aku ada disini,” Ucap aleea dengan lembut disertai dengan suara yang mulai bergetar.


“Sudah beberapa hari ini aku melihat kamu banyak menangis, aku yakin karyawan kamu tidak percaya melihat bos nya cengeng seperti ini.” Ucap aleea sambil menghapus air mata yang semakin banyak menetes di pipi Sean.


Aleea membawa tubuh Sean ke dalam pelukannya mencoba untuk menenangkan pria itu. Sean merasakan tubuhnya di peluk oleh Aleea ia membalas pelukan itu dengan sangat erat. Seolah melampiaskan semua ketakutan akan kehilangan dengan pelukan istrinya. Ia menghirup aroma tubuh istrinya yang sangat memabukan, akan ia ingat selalu aroma tubuh ini yang sangat menenangkan.


Aleea merasakan Sean yang sudah tenang, ia kembali melepaskan pelukan dari dekapan Sean. Ia ambil tisu yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya. Ia rapikan kembali wajah Sean yang sedikit berantakan akibat menangis. Ia rapikan rambut sean dengan menggunakan sela-sela jarinya agar terlihat sedikit rapi.

__ADS_1


“Tampan,” Ucap Aleea untuk mendeskripsikan sean saat ini. Walaupun wajahnya sedikit sembab akibat banyak menangis tapi ketampanan nya tidak hilang sedikitpun.


Cup!


Sean tersentak merasakan kecupan di pipinya.


“Hahaha, wajah kamu kenapa lucu sekali?” Ucap Aleea yang melihat wajah sean yang terbengong.


“Itu hadiah untuk kamu agar semangat hari ini untuk memimpin rapat,” lanjutnya sambil memberikan senyuman di bibir manisnya.


“Kamu curang,” Ucap sean dengan cepat ia mencuri kecupan singkat di pipi istrinya.


“Satu sama,” lanjutnya kembali kemudian ia membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya sesekali ia memberikan kecupan-kecupan di dahi wanita itu.


“Aku pergi dulu, aku janji sebelum makan siang akan menjemputmu kembali ke rumah kita,” Ucap sean setelah melepaskan pelukan mereka yang di balas oleh Aleea dengan anggukan sebagai jawaban setuju.


Aleea hanya melihat punggung sean, sampai punggung itu menghilang karena pintu yang sudah tertutup.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


Tangisan Aleea pecah. Sejak tadi ia mencoba untuk menahan dan akhirnya tangisan itu pecah juga.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


Tangisan yang sangat memilukan sesekali ia memukul dadanya karena terasa sesak. sedangkan seseorang yang berada di depan pintu ruangan Aleea hanya bisa mengenggam kedua tangannya untuk menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan juga. Melihat orang yang dia cintai rapuh seperti sangat menyakitkan untuknya.


Pria itu merasa tangisan Aleea didalam sana sudah tenang, ia hapus air mata yang jatuh di pipinya kemudian ia mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam ruangan itu.


CEKLEK!!


Suara pintu terbuka, Aleea melihat seorang pria yang mulai mendekat ke arahnya sambil menampikan senyuman di bibirnya.


“Sudah siap?” Tanya pria itu sambil memberikan tepukan pelan di puncak kepala Aleea.


“Sudah. Terimakasih Sams.” Ucap Aleea dengan lemah saat melihat Sams berada didepannya. Pria itu hanya diam dan memberikan anggukan sebagai jawaban.


“Aku senang bisa membantu kamu, Mama dan Papa kamu sudah menunggu kita disana. Sebaiknya kita pergi sekarang agar tidak terlambat.” Ucap pria itu kemudian mengambil barang-barang Aleea yang telah disusun oleh sean beberapa menit yang lalu.


Aleea dan Pria itu meninggalkan ruangan itu, sesekali Aleea melihat kebelakang. Ruangan itu yang menjadi saksi kenangan Aleea dan Sean beberapa hari bersama. Ia menghapus air mata yang mulai menetes kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.


Biarlah Aleea yang mengalah dan melepaskan Sean untuk kebahagiaan pria itu bersama wanitanya.


“Semoga kamu selalu diberikan kebahagiaan sean,”


“Semoga kalian dapat membina rumah tangga yang bahagia,”


“Maaf telah hadir di tengah-tengah kebahagiaan kalian,”


“Semoga kalian hidup bahagia,”

__ADS_1


“Semoga kita tidak akan bertemu kembali,”


Batin Aleea.


__ADS_2