Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Bisakah Kita Bicara?


__ADS_3

Sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah-celah gorden sedikit menyinari ruangan ini. Aleea menggeliat pelan ia membuka matanya melihat ruangan yang serupa dengan kamar yang ia datangi semalam. Kamar ini hanya diterangi oleh cahaya matahari dibalik gorden.


Aleea mendongak menatap pria yang masih tertidur pulas. Tubuhnya dipeluk erat pria membuat Aleea susah bergerak. Aleea menatap pria yang terlihat polos saat tidur. Tidak seperti saat pria ini terbangun hanya tatapan tajam dan wajah arogannya saja yang di tampilkan.


Aleea menggangkat tangan pria itu agar memudahkan tubuhnya untuk keluar dari pelukan Aleea. Bukannya mengendur tapi pelukan itu semakin erat.


“Sean.. Lepaskan! Aku harus membantu bibi membuat sarapan.” Ucap Aleea yang masih di dalam pelukan Sean.


“Tunggu. Lima menit lagi.” Ucap Sean dengan lemah, khas suara bangun tidur. Ia kembali menenggelamkan wajahnya di lipatan leher Aleea.


Aleea tidak berontak ia hanya menuruti keinginan Sean yang ingin memeluk dirinya. Aleea tidak ingin bertanya kenapa Sean seperti ini. Maksud dari perkataannya semalam jika anak yang di kandungnya bukan anaknya. Banyak sekali pertanyaan di kepalanya. Tapi Ia tidak berani bertanya, karna itu privasi.


Tepat lima menit Sean mulai membuka matanya. Aleea merasa pelukan Sean tidak seerat tadi, ia menggangkat tangan sean yang berada di pinggangnya. Aleea membangunkan dirinya dan kembali ke kamar miliknya yang berseberangan dengan kamar milik Aleea.


Sean tidak melakukan apapun melihat kepergian Aleea yang keluar dari kamarnya.


Beberapa menit yang lalu Aleea baru selesai membuat sarapan. Aleea menata masakan yang baru ia buat ke atas wadah. Ia berjalan menuju kamar Sean yang berada di lantai dua.


CEKLEK!!


Di dalam kamar tidur yang ia tinggalkan beberapa menit, Sean bisa melihat kenop pintu yang berputar. Suara pintu yang berdecit pelan, sebelum pintu tersebut terbuka perlahan. Menampilkan seorang wanita mengintip dari luar ruangan untuk melihat keadaan dalam.


Pandangan mata mereka bertemu beberapa saat.


“Aku membawakan sarapan untukmu,” Ucap Aleea yang mulai melangkahkan kakinya kedalam kamar Sean.


“Aku juga buatkan minuman air jahe, yang katanya dapat mengurangi rasa mual dan sakit perut setelah mabuk.” Lanjutnya kembali.


Aleea meletakan wadah itu ke atas nakas yang berada disamping tempat tidur.


“Terimakasih,” Ucap Sean. Yang dibalas Aleea denga anggukan tak lupa dengan senyumannya yang merekah di bibirnya. Aleea mendudukan tubuhnya ke atas sofa yang berada di ruangan itu.


Sean mulai mengambil bubur yang di buat oleh Aleea. Ia mulai menyendoki bubur itu, Ia makan dengan perlahan satu suapan, dua suapan dan tidak terasa habis di makan olehnya.


Aleea mendekati Sean yang dirasa sudah cukup menghabiskan makanannya.


“Ini diminum dulu,” Ucap Aleea sambil memberikan segelas minuman.


“Ini. Minuman air jahe dapat membantu mengurangi mual dan sakit perut ketika hangover.” Lanjutnya kembali. Kemudian Aleea berjalan keluar dari ruangan tersebut.


..... Hari ini Sean mulai kembali bekerja setelah beberapa hari tidak masuk, beberapa hari Kemaren ia tidak datang karena sakit semua pekerjaannya di handel oleh Asisitennya.


Hari ini sebenarnya Sean tidak ingin hadir tapi sesuatu pekerjaan yang mengharuskan dirinya untuk datang ke kantor.

__ADS_1


Hubungan Sean dan Aleea tidak banyak perubahan. Beberapa hari ini Sean sakit yang mengharuskan Aleea mengurusi sean yang sedang sakit.


Disela-sela mengurus Sean yang sedang sakit, Aleea juga menyibukkan dirinya mempersiapkan kuliahnya karna beberapa hari kedepan sudah selesai libur dan mulai memasuki semester baru.


“Tuan. Nona Syeila sudah menunggu beberapa hari ini lobi perusahaan.” Ucap Justin yang menghentikan mobilnya di depan gedung perusahaan milik Sean.


“Ckkk, mau apa lagi dia? Apakah dia masih punya muka setelah kejadian itu?” Gumam Sean yang mulai keluar dari mobilnya.


Sean berjalan menuju ruangannya yang diikuti oleh Justin yang berada di depannya.


Sean melihat Syeila yang berdiri kemudian ia berjalan sedikit melebarkan langkah kakinya, Sean menghentikan langkah kakinya ketika melihat Syeila yang sudah berada didepannya.


“Sean bisakah kita bicara?” Ucap Syeila dengan nada lembutnya.


Bukannya menjawab Sean malah memberi ia tatapan dingin, tatapan yang jelas sekali ia lihat tatapan tidak suka melihatnya.


Tidak ada lagi tatapan yang meneduhkan saat mata itu memandang wajahnya. Sekarang yang terlihat adalah tatapan kecewa.


Sedih? Jawaban sudah pasti iya. Tapi disini dia tidak mau menyalahi Sean, karna dia yang salah.


Andai saja malam itu dia tidak pergi ke bar sendiri pasti tidak ada kejadian yang seperti itu yang mengakibatkan ia mengandung benih seseorang yang tidak mau mengakui bayinya.


“Aku lagi sibuk!” Ucap Sean dengan nada ketus, setelah itu ia pergi masuk menggunakan lift menuju ruangannya.


“Baiklah. Aku akan menunggu disitu.” Ucap Syeila pelan tapi masih bisa didengar oleh Sean yang jaraknya tidak terlalu jauh.


wanita itu kembali ke tempat semula sebelum Sean berada di perusahaanya.


Tok. Tok. Tok


“Tuan sudah waktunya jam makan siang.” Ucap Justin yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


Sean melirik jam yang berada dimejanya. Sudah menunjukan jam makan siang. Kemudian melanjutkan pekerjaanya kembali.


“Tuan. Ingin makan siang apa? Agar saya pesankan untuk anda.” Ucap Justin kembali setelah tidak mendengar jawaban dari tuannya.


“Kamu kulihat semakin cerewet saja!” Ucap Sean dengan nada datar.


“Aleea akan mengirimkan makan siangku, mungkin sebentar lagi supir sampai membawa makananku. Kamu tunggu saja di lobi dan bawa kesini.” Jawab Sean.


Sudah beberapa menit yang lalu mereka membahas makan siang, tapi Asisitennya tidak keluar dari ruangannya. Sean mengerutkan dahinya melihat Justin yang masih berada di ruanganya.


“Ada apa lagi? Kamu tidak mendengar saya barusan bilang apa?” Ucap Sean sedikit tinggi nada bicaranya.

__ADS_1


“Tuan. Nona Syeila masih di bawah, apakah anda sama sekali tidak ingin bicara padanya. Kurasa setelah anda bicara padanya dia akan segera pulang dari sini. Lagian ini sudah jam makan siang, kasian jika dia harus menunggu lama lagi.” Ucap Justin panjang lebar. Karna ia merasa kasian terhadap wanita itu, sudah beberapa kali ia melihat syeila yang berada di lobi memeganggi perutnya dan sedikit menahan sakit.


“Ckkk. Wanita itu masih saja keras kepala.” Gumam Sean yang hanya ia yang bisa mendengarkannya.


“Suruh dia keruangan saya,” Ucap Sean yang di balas anggukan oleh Justin. kemudian Justin keluar dari ruangan tersebut.


..... Sedangkan seseorang wanita mulai memasukan beberapa masakannya ke dalam kedalam tas untuk ia antar ke kantor Sean. Hari ini ia akan ke kantor Sean untuk pertama kalinya. Tadinya yang akan mengantar makan siang Sean supir yang bekerja di rumah mereka, tapi karena Aleea yang akan pergi membeli beberapa perlengkapan kuliahnya dan jalan yang akan ia lewati melewati kantor Sean jadi ia berinisiatif bahwa ia yang akan mengantar makanan itu.


Beberapa menit di perjalanan Aleea sampai di parkiran mobil. Ia melangkahkan kakinya menuju lobi untuk bertanya kepada Resepsionis dan menitipkan makanannya tersebut.


“Selamat siang nona. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya petugas resepsionis itu dengan ramah.


“Ini saya ingin menitipkan makan siang tuan Sean.” Jawab Aleea yang tak kalah ramah dari resepsionis itu sambil meletakan tas yang berisi makanan di atas meja. Sebelum tas itu di ambil oleh petugas resepsionis. Aleea di kejutkan tiba-tiba seseorang memanggil namanya.


“Nona Aleea! Apa yang anda lakukan disini?” Ucap Justin kepada istri tuannya.


“Ini Justin aku mengantar makanan buat Sean, karena searah jadi aku yang mengantarkannya.” Ucap Aleea sambil memperlihatkan tas yang berada diatas meja resepsionis.


“Nona sebaiknya anda antar saja ke ruangan tuan Sean.”


“Apakah dia tidak si sibuk?”


“Tidak nona, mari saya antar keruangan tian Sean.” Ucap Sean yang di balas anggukan oleh Aleea.


Justin mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan Sean dilantai teratas ruangan tersebut yang diikuti oleh Aleea di belakangnya.


Ting!


Suara pintu lift terbuka.


“Nona anda bisa langsung masuk untuk mengantarkan makanan tuan Sean. Pintu paling ujung ruangan tuan Sean. Maaf nona harus saya tinggal, saya harus memeriksa sesuatu di ruangan saya” Ucap Justin,


Aleea mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan yang Justin maksud. Aleea mau melangkahkan kakinya masuk keruangan yang tidak tertutup rapat.


“Biarkan seperti ini dulu, kumohon.” Ucap seorang wanita dari dalam ruangan itu.


Aleea yang mendengar suara wanita yang berada diruangan itu langkahnya tiba-tiba berhenti.


Ia lihat sepasang kekasih tersebut saling berpelukan dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, yang menampakan punggung laki-laki tapi tidak dengan tubuh wanita yang tertutup oleh tubuh Sean, hanya menampakan tangan seorang wanita yang memeluk tubuh Sean.


“Nona. Kenapa anda belum masuk?” Ucap Justin yang penasaran melihat Aleea hanya berdiri di depan ruangan tuanya.


“Kurasa Sean kedatangan seorang tamu, aku titipkan saja ini kepadamu.” Ucap Aleea yang memberikan tas yang berisi makanan kepada Justin. Kemudian ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Justin melihat ke dalam ruangan tuannya yang tidak terkunci menampilkan sepasang kekasih yang berpelukan. Perasaan bersalah karena membawa nona Aleea yang melihat tuannya berpelukan.


“Aku pikir nona Syeila sudah pulang, maafkan aku nona Aleea. Anda harus melihat ini.” Batin Justin sambil melihat punggung Aleea yang berjalan ke arah lift sampai tubuhnya menghilang karena pintu lift yang sudah tertutup.


__ADS_2