
Sean berlari keluar dari ruangan itu. Justin yang melihat Sean berlari mengikuti dari belakang meninggalkan ruangan itu.
“Tuan! Anda ingin kemana?” Tanya Justin yang sudah bisa mensejajarkan disamping Sean.
Sean hanya melihat Justin sekilas, kemudian ia lari menuju ruangan dimana istrinya sedang di tangani.
“Tapi tuan. Nona Syeila sedang di operasi. Siapa yang akan menunggu nya.” Lanjut justin yang masih menaejajarkan langkahnya dengan Sean.
“Kamu urus itu, Aleea sekarang membutuhkan ku,” Ucap Sean sambil mempercepat langkahnya.
Justin hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh Sean. ia hanya menatap punggung Sean yang masih terlihat dengan jelas sampai punggung itu hilang.
Brukk!!
Sean terjatuh terduduk karena tidak bisa menopang tubuhnya yang bertabrakan dengan seseorang sedang berjalan berlawanan arah dengannya.
“Maaf,” ucap Sean, segelah itu ia melangkahkan kakinya kembali.
Sean tiba di ruang instalasi gawat darurat, kemudian ia berjalan mendekati petugas yang berada disana.
“Permisi, saya ingin bertanya apakah korban tabrakan di tangani disini,” tanya Sean.
Sebelum petugas itu menjawab pertanyaan Sean. pria itu melihat seseorang yang sangat ia kenal.
“Maaf. Saya sudah menemukan nya,” Ucap nya kembali kemudian ia berjalan mendekati wanita yang di kenalnya.
“Mah, bagaimana dengan keadaan Aleea?” Tanya Sean yang berdiri di depan Anna.
Sean melihat wajah wanita parubaya yang berada di depannya. Terlihat wajah yang sangat sembab habis menangis.
“Mama tidak tahu nak, Aleea sudah di tangani selama dia puluh menit tapi tidak ada tanda-tanda dokter keluar.” Ucap Anna sambil mengeluarkan air matanya yang mulai menetes kembali ke pipinya.
Sean hanya bisa menepuk punggung Anna sebagai tanda untuk menenangkan.
Ia melihat ayah Aleea yang berada tidak jauh darinya dan seorang pria yang ia kenal berada di di sekitar mereka.
Ceklek!!!
Suara pintu ruangan tersebut terbuka. Menampilkan seorang dokter keluar dari ruangan itu.
Semua orang yang berada disana berjalan mendekat ke arah dokter tersebut.
“Kondisi pasien saat ini dalam masalah kritis, pasien mengalami pendarahan oleh karena itu pasien harus dilakukan segera dilakukan curretage.” Ucap dokter tersebut.
“Pasien sedang hamil dengan usia kandungan tujuh minggu, akibat benturan yang mengenai perut bawah mengakibatkan jaringan dari dalam rahim harus segera di angkat.” Lanjut dokter tersebut menerangkan kondisi Aleea saat ini.
Deg!!
“Aleea nya didalam sana sedang berjuang, selama ini Aleea hamil, kenapa ia tidak menyadari jika Aleea hamil,” Batin Sean.
“Apakah suami dari nona Aleea ada berada disini? Saya membutuhkan tanda tangan untuk di lakukan tindakan curettage.” Ucap dokter tersebut.
“Saya dok, saya suaminya,” Ucap Sean dengan nada lemah, kemudian ia mengikuti dokter yang berjalan di depannya.
__ADS_1
Setelah Sean selesai memberikan persetujuan untuk di lakukan tindakan curettage ia kembali ke luar ruangan tersebut dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sean hanya berdiam diri duduk di sebuah kursi di dekat ruangan tersebut. Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan tersebut dan Aleea di pantau di ruang pemulihan setelahnya di bawa ke ruang rawat inap.
Sean duduk di atas kursi tepat disamping istrinya sedang tertidur yang sudah beberapa jam tidak bangun. Setelah Aleea di pindahkan ke ruang perawatan semua keluarga Aleea kembali ke rumah masing-masing.
Sean sepanjang malam ini ia terjaga, ia lebih memilih menjaga dan memandangi wajah istrinya yang masih terbaring di atas bed pasien.
Sean tersentak ketika tangan Aleea bergerak.
“By,” panggil Sean dengan lembut.
Ia melihat Aleea yang mengerjabkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk di mata nya.
Aww!!
Aleea meringis merasakan sakit tubuhnya.
“By,” dimana yang sakit? Biar ku panggilkan dokter dulu” Ucap Sean kembali kemudian ia memencet tombol diruangan itu. Tak lama kemudian dokter dan beberapa petugas lain datang ke ruangan Aleea.
“Tuan. Bisa anda bergeser sedikit? Kami akan memeriksa keadaan nona Aleea.” Ucap seorang petugas medis.
Sean membawa tubuhnya bergeser kebelakang agar memudahkan dokter dan paramedis untuk memeriksa Aleea.
Sean hanya melihat istrinya yang sedang di periksa dokter hanya beberapa langkah dari tempatnya.
“Bagaimana keadaan istri saya?” Tanya Sean ketika ia melihat dokter telah selesai memeriksa istrinya.
“Tim saya telah memberikan suntikan pereda nyeri,” Ucap dokter tersebut menjelaskan kepada Sean.
Sean melihat dokter yang telah selesai menangani Aleea keluar dari ruangan tersebut.
“By. Kamu makan dulu ya sedikit terus minum obatnya,” Ucap Sean dengan lembut sambil mengelus pucuk kepala Aleea.
Aleea hanya terdiam setelah tidak merespons apa yang di lakukan Sean.
Ting!
Ting!
Dering notifikasi ponsel Sean, Aleea hanya melihat sekilas ponsel Sean yang berada di samping nakas tempat tidurnya. Nama seseorang terlihat sangat jelas di ponselnya.
Aleea hanya bisa memejamkan matanya menahan air matanya agar tidak terjatuh, sungguh hatinya sangat sakit. Tak lama kemudian ponsel itu kembali berdering dengan nomor penelepon yang sama dengan pengirim pesan itu. Sean tidak merespons penelepon yang menelepon dirinya.
“By. Kamu makan dulu yah, biar aku suapi.” Ucap Sean kembali setelah tidak mendapat respons dari Aleea.
Bukan nya menjawab Aleea malah berkata, “Kamu angkat saja telepon kamu,” Ucap Aleea dengan nada datar, tidak ada lagi senyuman yang ada di wajahnya hanya wajah datar yang dilihatkan olehnya.
“By. Ka-,” kata-kata Sean terputus ketika seseorang masuk ke dalam kamar istrinya.
Ceklek!!!
Pintu ruangan Aleea terbuka, memperlihatkan seseorang masuk kedalam ruangannya.
__ADS_1
“Sayang…” Ucap Anna dengan nada lembutnya kemudian ia berjalan mendekati kasur Aleea. Terlihat jelas penuh kekhawatiran di wajahnya.
Ia belai wajah putri yang sangat ia sayangi kemudian ia bubuhkan kecupan di dahi putrinya. Aleea hanya bisa memejamkan matanya menerima belaian dari mama nya.
“Maaf, sudah membuat mama khawatir.” Ucap Aleea dengan lembut.
“Tidak apa-apa sayang. semua sudah ada yang mengatur.”
“Yang terpenting kamu sudah baik-baik sekarang,” Ucap Anna.
“Mama datang dengan siapa?”
“Papa tidak datang juga mah?” Tanya Aleea yang melihat mama nya masuk ke dalam ruangan nya sendiri.
“Papa siang atau sore baru sampai sini nak, ada yang masih Papa urus.” jawab Anna.
Sean sejak tadi hanya bisa melihat pasangan ibu dan anak itu tampak akrab.
Ceklek!!!
Tampak seorang pria sedang berjalan masuk kedalam dengan membawa beberapa paper bag. Pria itu menampilkan senyuman indah di bibirnya.
“Bagaimana keadaanmu? Apakah masih ada yang sakit?” Tanya pria itu dengan lembut, Aleea hanya memberikan gelengan sebagai jawaban.
Mereka tampak berbincang dengan asik, sedangkan Sean hanya melihat saja tanpa ada yang mengajaknya untuk sekedar bertanya.
“Mah. Alee punya kabar baik,” Ucap Aleea dengan senyuman di wajahnya.
“Kabar apa sayang,” Tanya Anna yang masih berada di samping Aleea.
“Aleea hamil mah, usianya masih tujuh minggu,” Jawab Aleea dengan senyuman masih wajah nya.
“Alee senang mah, ada calon bayi di perut Aleea.” Lanjutnya kembali.
Sedangkan orang yang berada di sekitar Aleea hanya bisa terdiam mendengar ucapan Aleea.
“Kenapa kalian diam.. apakah kalian tidak senang jika Aleea mengandung.” Ucap Aleea sambil meraba perutnya yang masih datar.
Deg!!
Aleea mulai meneteskan air matanya di pipi.
Hiks.. Hiks.. Hiks..
“Mah, kenapa? Kenapa mamah tega menggugurkan calon bayi aleea mah?,” Tanya Aleea.
Aleea menggoyangkan tubuh mama nya yang sedari tadi hanya bisa terdiam. Kemudian ia melihat Sean yang masih berada di sampingnya. Tatapan yang sulit diartikan. Tatapan penuh dengan kekecewaan.
“Jahat! Kamu jahat!” Ucap aleea sambil memukul punggung Sean yang masih di sampingnya sedangkan Sean tidak menjauh dari posisinya, membiarkan Aleea untuk melampiaskan rasa sakit kepada tubuhnya.
“Maaf. Maafkan aku By,”
“Maaf,” hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.
__ADS_1