
Setelah kepergian oma, mereka yang berada disana hanya bisa diam dan tidak ada satu pun dati mereka yang berbicara.
“Jujur sama aku, kalian apain istriku?!” Bentak Sean kepada semua orang yang kini memandangnya. Namun sama dengan respon Omanya, orang orang yang ada disana pun malah ikut diam begitu saja tanpa menghiraukan ucapan Sean.
“Bangs-” Sentuhan Aleea ditangannya membuat Sean yang hendak mengeluarkan kata kasar terhenti.
“By.” Ucap Sean dengan lembut yang di jawab dengan gelengan oleh Aleea.
“Udah, gapapa. Ayo pulang.” Ucap Aleea dengan suara serak dan tatapan mata yang sulit di artikan.
Lalu setelah berucap seperti itu, Aleea berjalan pergi dari sana. Meninggalkan Sean yang masih terdiam kebingungan. Tak lama, karena setelah itu Sean pun ikut menyusul Aleea.
“Mama dimana? Aku ingin pamit dulu sebelum kita pulang,” Tanya Aleea yang masih berjalan di depan Sean.
“Tadi aku lihat mereka di ruang keluarga,” jawab Sean yang masih setia berjalan di belakang Aleea.
“Ya sudah kita masuk ke ruang keluarga aja kalau begitu. Mama pasti di dalam.” Lanjutnya.
Mereka melangkahkan kaki ke arah ruang keluarga dimana mamanya berada.
“Sayang. Kenapa disini? Kenapa tidak gabung dengan yang lain?” Ucap Regina saat melihat Aleea bersama Sean di depan ruangan keluarga.
“Ini mah. Kami mau pamit pulang,” Ucap Sean dengan nada datar seperti biasanya.
Regina mengerutkan dahinya, sambil mengatakan. “Loh. Kok pulang sih. Tapi kalian bilang akan menginap di sini juga.”
“Maaf sepertinya malam ini kami tidak bisa menginap disi-” Ucap Sean terhenti ketika namanya di panggil seseorang yang ia kenali di dalam ruangan tersebut.
“Sean kamu disini juga nak?” Ucap Revan yang sudah di depan mereka.
“Iya Pah. Kami mau pamit pulang.” Ucap Sean.
“Kenapa pulang sekarang? sudah tengah malam. Kenapa tiba-tiba begini?.” Ucap Revan.
“Ngak Apa-apa Pah. Kami akan hati-hati,” ucap Sean.
__ADS_1
“Kenapa nak? Apakah kamu tidak nyaman bersama keluarga Papa disini?” Ucap Revan kepada Aleea yang berada di depannya.
Aleea hanya diam setelah mendapat pertanyaan seperti yang di ucapkan oleh Revan, Papanya Sean.
Aleea tidak mungkin berkata jujur jika ia mendapat perlakukan yang tidak baik saja di halaman belakang.
“Eng-ngak pah, bu-bukan karena itu. Hmm besok Aleaa ada janji datang ke pesta teman Aleea.” Bukan Aleea yang menjawab melainkan Sean.
“Acaranya jam berapa nak?” Tanya Revan.
“Hah! Oh. Acaranya siang Pah.” Jawab Sean.
“Ya sudah. Kan acaranya siang. Kalian besok berangkat dari sini saja agar tidak terlambat sampai ke tempat acara itu.” Ucap Revan final.
Sean dan Aleea saling melirik untuk memberikan jawaban kepada Revan.
“Baiklah Pah. Kami malam ini menginap di sini besok pagi-pagi kami pulang karna ada yang mau kami urus dulu sebelum pergi.” Ucap Sean setelah mendapat anggukan dari Aleea sebagai jawaban setuju untuk menginap disini.
”Pah! Mah! Kami istirahat dulu ya.” Ucap Aleea yang sudah memulai membuka suaranya.
Aleea dan Sean kembali melangkahkan kaki mereka ke kamar Sean yang mereka tempati beberapa jam yang lalu.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka. Aleea melangkahkan kakinya dahulu yang diikuti oleh Sean di belakangnya.
“Aku ke kamar mandi dulu.” Ucap Aleea yang melangkahkan kakinya sebelum mendapatkan jawaban dari Sean.
Sean memandang tubuh ringkih istrinya sampai punggung itu menghilang tertutup pintu kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Aleea keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju tidur pendek miliknya yang sengaja ia tinggal di kamar Sean beberapa waktu yang lalu.
“Kamu bersihkan dulu tubuhmu,” ucap Aleea yang sudah berada di dekat Sean.
Aleea berjalan ke arah kasur yang ada di ruangan Sean. Tapi baru beberapa langkah Aleea tubuh Aleea terdorong ke depan.
__ADS_1
BRUK!
Sean memeluk Aleea dari belakang. Ia peluk erat tubuh wanita yang dia cintai. Ia tenggelamkan wajahnya di ceruk leher aleea. Ia hirup aroma tubuh aleea yang sangat ia sukai. Harum bayi dan vanilla yang menenangkan
“Jangan diami aku,” Ucap Sean dengan pelan tapi masih terdengar oleh aleea.
Deg!
Aleea merasa bersalah telah mendiamkan pria yang sejak tadi selalu membelanya.
Aleea diam sebentar membiarkan Sean memeluknya. Setelah merasa pelukan itu sedikit longgar aleea membalikan tubuhnya. Melihat sosok pria yang sedang berapa didepannya.
Ia Angkat tangannya kemudian ia membelai wajah Sean dengan lembut. Sedangkan Sean hanya memejamkan matanya menerima perlakuan aleea.
“Maaf.” Ucap aleea dengan singkat.
“Terimakasih,” lanjutnya.
Sean mengerutkan alisnya menandakan dia tidak mengerti apa yang di ucapkan istrinya.
“Maaf telah mendiamkan mu. Terimakasih telah membelaku di depan keluargamu.” Ucap aleea, kemudian ia melangkahkan kakinya memeluk erat tubuh pria yang ada di depannya.
Sean membalas pelukan yang tak kalah erat sambil menampilkan senyuman yang tipis sangat tipis sehingga tidak ada yang bisa melihatnya.
“Bersihkan dirimu dulu, terus kita beristirahat,” Ucap aleea setelah pelukan itu terlepas.
“Baiklah Baby. Malam ini akan aku berikan pelukan yang hangat sepanjang malammu,” Ucap Sean kemudian ia melangkahkan kakinya ke kamar. Sedangkan Aleea ia mulai menaiki kasur dan mulai menidurkan dirinya diatas kasur tersebut.
Beberapa menit kemudian Sean keluar dari kamar mandi. Ia melihat tubuh istrinya yang sudah mulai terbaring di atas kasur. Sean melangkahkan kaki menuju kasur yang berisikan istrinya. Ia mulai menaiki dan menidurkan dirinya tepat disamping Aleea.
“By. Geser sini dikit.” Ucap Sean yang mengarahkan tangannya sebagai bantai Aleea tidur.
Aleea melihat itu menggeser tubuhnya dan mengubah posisi yang Sean mau.
Mereka tidur sambil berpelukan, sesekali Sean memberikan kecupan di puncak kepala aleea.
__ADS_1