
“Mama senang kamu dan Aleea sudah mau saling membuka hati untuk menyanyangi.” Ucap Regina dengan senyuman yang manis, matanya berkaca-kaca akhirnya pilihan dia menikahkan Aleea dan Sean adalah pilihan yang tepat.
“Iya Mah. Ternyata Sean istri yang baik.” Bohong Sean.
“Terus kapan kamu kasih mama cucu?” Ucap Regina
“Mama sudah ingin menggendong cucu.” Lanjutnya, sambil menampilkan wajah yang di buat sedih.
Revan yang berada di samping istrinya tidak berkata apa-apa.
“Sabar Mah. Kami masih usaha.” Balas Sean singkat.
“Oh. Iya hampir saja lupa.” Ucap Regina saat Aleea yang baru saja menduduki di tempatnya tadi setelah ia melihat kamar tamu yang sudah di bersihkan oleh asisten rumah tangganya.
Pertanyaan mereka membuat ketiga orang disana melihat kearah Regina.
“Tada. Lihat! Mama bawa apa ini?.” Ucapnya sambil mengangkat tangannya ke atas untuk melihatkan tiket liburan.
Aleea dan Sean saling melirik, bahwa mereka tidak setuju untuk liburan.
Sean menyela keputusan mamanya yang ingin berlibur tidak memberitahu dia. “Tapi Mah.”
“Sudahlah Sean tidak ada tapi-tapian. Kita akan liburan bareng sama orangtuanya Alee juga. Kalian bisa sambil honeymoon yang kedua.” Ucap Regina, sambil memberikan senyuman menggoda untuk anak dan menantunya itu.
Mendengar ucapan Regina membuat Sean dan Aleea hanya bisa tersenyum kikuk, tidak bisa untuk menyela keputusan Mamanya.
Beberapa hari kemudian.
Mereka telah sampai di negara M, setelah menghabiskan waktu sekitar enam jam di perjalanan. Perkerjaan Sean ia berikan kepada Asisitennya untuk menghandel semua. Sedangkan Aleea masih libur semester jadi tidak bisa menolak liburan bersama.
Regina memesan tiga vila sekaligus, yang akan di tempati oleh dia dan suaminya, untuk Sean dan Aleea dan yang terakhir untuk sahabat sekaligus besannya bersama istrinya.
Vila terapung menjadi pilihannya untuk tempat ia menginap beberapa hari kedepan. Vila yang berada di atas air laut, menyaksikan indahnya langit karena bagian atap memiliki desain tirai yang bisa dibuka, dan di dalam kamarnya bisa langsung mengakses turun ke laut. Ruangan yang didesain secara modern ini luas dan nyaman untuk ditinggali. Kamar mandi di dalamnya pun sangat luas dan bersih. tersedia balkon untuk menikmati pemandangan pulau dan laut yang indah.
“Ya sudah kalian istirahat saja dulu, Mama juga sudah capek ingin beristirahat.” Ucap Regina pada Aleea yang berada di sampingnya. Aleea hanya memberi anggukan sebagai jawaban. Ia dan Sean segera pamit ke kamar mereka.
Aleea mulai menidurkan dirinya di atas sofa yang berada di kamar itu. Sofa yang ukurannya tidak terlalu besar tapi cukup untuk tubuhnya yang kecil tapi berisi.
__ADS_1
“Hhuuhh! Tubuh ku terasa ingin patah.” Gumamnya.
Aleea terus meniduri tubuhnya di atas sofa mencari posisi yang nyaman agar jika ia tidur tubuhnya tidak akan terjatuh. Dalam hitungan menit ia sudah terlelap.
Kenapa Aleea tidak tidur di ranjang?
Jawaban karna Aleea sudah lelah berdebat Sean dengan cara licik Sean yang dia pakai.
Flasback
Aleea yang baru saja memasuki kamar tersebut, ia berlari kecil menuju kasur untuk menidurkan tubuhnya yang sudah sangat kelah karna harus bertahan selama perjalanan.
“Huuh nyamannya,” ucapnya saat mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia mulai memejakan matanya karna posisi ini sangat nyaman. Beberapa detik Aleea mulai berada di alam mimpinya yang harus seketika terbangun karna Sean menarik kakinya untuk membangunkan dirinya. Hampir saja ia terjatuh dari tempat tidur.
“Ckkk. Apaan sih? Tanya Aleea saat ia terduduk di ujung tempat tidur sambil memicingkan matanya menatap Sean, tatapan yang menjelaskan bahwa ia tidak suka dengan apa yang di lakukan oleh Sean.
“Turun.” Ucap Sean dengan cepat.
Satu kata yang membuat Aleea tidak mengerti maksud pria yang di depannya ini.
“Aku bilang turun dari kasur ini, kamu tidur disana.” Ucap Sean sambil menunjuk ke arah sofa yang berada di ruangan itu.
Sean melihat tingkah Aleea membuatnya mendengus. Ia mendapat ide agar Aleea mau melepaskan tempat tidurnya dan dengan suka rela tidur di sofa. Sangat terlihat jelas senyuman licik di wajahnya.
Aleea yang marah karena kontak fisik yang ia lakukan di rumahnya Kemaren karna bersandiwara di depan orangtuanya. Bukannya ia tidak bisa tidur di sofa itu, melainkan ukuran sofa yang terbilang sangat kecil untuk ukuran tubuhnya. Bisa di pastikan jika ia harus tidur di situ akan membuat tubuhnya tidak bisa beraktivitas beberapa hari.
Sean menidurkan tubuhnya diatas kasur itu yang membuat kasur itu bergoyang, Aleea membuka matanya melihat seseorang di sampingnya.
“Kamu ingatkan tujuan mama membawa kita untuk liburan kemari?” Ucap Sean memecahkan keheningan.
“Mama bilangkan ini honeymoon kita yang kedua, kamu tau kan artinya honeymoon sebelum babymoon.” Lanjut Sean dengan menunjukan wajah seriusnya.
Perkataan Sean membuat Aleea merinding. Melihat Aleea yang terdiam saja membuat Sean untuk melaksanakan aksi selanjutnya.
“Yasudah! Ayo kita mulai dengan ritual Honeymoon.” Ucap Sean dengan memiringkan tubuhnya memeluk Aleea yang jaraknya hanya lima senti wajah Aleea dan Sean dengan posisi Aleea yang berada dibawah Sean. Mereka saling menatap dalam beberapa detik.
Aleea yang tersadar dengan apa yang dilakukan oleh Sean membuat ia harus bereaksi jangan sampai pertahanan yang sudah ia buat lepas kembali. Ia hanya akan menunggu Sean untuk menceraikannya saja.
__ADS_1
TAK!!!
Aleea membenturkan kepalanya dengan Sean.
“Aww, apa yang kamu lakukan?” Ucap Sean sambil mengusap kepalanya yang sakit akibat benturan kepala mereka.
“Makanya jangan iseng,” Ucap Aleea sambil mendorong tubuh Sean yang masih berada di atasnya. Aleea menuruni tempat tidur itu dan berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri. Ia sudah tidak berminat merebahkan dirinya kembali karna ulah Sean.
Flashback off
Ceklek!!
Suara pintu yang baru terbuka menampilkan Sean yang baru saja keluar dari kamar mandi tersebut.
Ia hanya menggunakan celana pendek diatas lutut dan baju kaos putih dan rambut yang masih terlihat sedikit basah.
“Ckkk. Lihatlah dia sudah terlelap. Baru beberapa menit aku membersihkan diri.” Gumamnya yang melihat arah Aleea yang sudah terlelap dengan nyaman di atas sofa.
Sean mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Setelah merasa rambutnya kering ia menaiki kasur dan menidurkan tubuhnya.
Malam harinya.
Mereka menikmati makan malam bersama sambil melihat pemandangan yang sangat indah. Bintang yang bertaburan dan sinar rembulan yang menyinari yang menjadi cahaya mereka malam ini.
“Mama ingin setelah kita pulang dari sini. Mama mendapat kabar yang menyenangkan dari kalian berdua. Tentang kehamilan Aleea.” Ucap Regina disela-sela makan malam mereka.
Uhuk.. uhuk..
Aleea tersedak mendengar ucapan Regina.
“By. Minum dulu ini. Kamu pelan-pelan makannya.” Ucap Sean yang memberikan minumnya kepada Aleea sambil menepuk pelan punggung Aleea.
“I-Iya. Terimakasih.” Ucap Aleea dengan gugup.
Ia merasa sangat bersalah telah membohongi kedua orangtuanya dan orangtua Sean. mereka terlalu berekspektasi tinggi tentang pernikahan mereka.
Deg!
__ADS_1
Aleea melihat tatapan Mamanya. Tatapan yang jarang sekali Aleea lihat.