
Bu Rossa melihat Aleea yang berada di dekatnya, kemudian ia berkata “ini nak, tuan ini ingin menjemput istrinya. Tapi ia malah datang di panti.”
Aleea membelalakkan matanya mendengar perkataan ibu panti jika keberadaan Sean disini ingin menjemput istrinya yang otomatis dirinya.
“Atau mungkin pemuda ini maling nak, ingin menculik anak panti disini,” Ucap buk Rossa kemudian ia mengambil sapu yang tidak jauh dari jangkauannya.
“Akh...” Sean meringis ketika tubuhnya mendapat pukulan dari Bu Rossa.
“Nak Aleea, kamu jangan dekat-dekat dengan dia. Ibu yakin dia seorang penculik.” Ucap bu Rossa yang membawa rubuh aleea menjauh dari pria itu.
“Akh...”
“Aku bukan penculik bu. Aku hanya ingin menjemput istri ku,” Ucap Sean meringis ketika tubuhnya mendapatkan pukulan yang ke sekian kali nya.
“Istri kamu bilang! Kamu tidak salah mencari istri disini?” Ucap bu Rossa yang masih mencoba memukuli Sean tetapi tidak kena karena ia selalu menghindar. Sean berlari ke belakang tubuh Aleea karna ia tahu bu Rossa tak akan memukul istrinya.
Aleea yang tersadar apa yang terjadi kemudian ia menghentikan bu Rossa yang masih berniat memukuli Sean kembali.
“Bu! Dia bukan penculik tapi dia benar suami Aleea.” Ucapan Aleea yang membuat bu Rossa menghentikan pukulan nya
“Kamu serius nak? Bukan kamu hanya untuk menolong nya kan?” Tanya bu Rossa yang mendapat anggukan dari aleea.
“Iya bu. Dia bener suami aleea.” Ucap aleea kembali untuk meyakinkan wanita paruh baya di depannya. Akhirnya bu Rossa percaya jika pria asing ini adalah suami Aleea.
"Maaf ya bu sudah membuat sedikit kekacauan?" Ucap Aleea.
Wanita itu tersenyum hangat, menampilkan kerutan yang mulai terpampang di daerah sekitar ujung mata.
"Tidak apa-apa nak. Ibu yang harus minta maaf. Ibu pikir kamu belum menikah." Jawabnya dengan nada ramah.
''Maaf telah membuat kamu terluka nak'' Lanjutnya kembali sambil melihat Sean yang berada di belakang Aleea.
''Tidak apa-apa bu. Pernikahan kami memang tersembunyi hanya keluarga dekat saja yang mengetahuinya.'' Ucap Aleea yang di beri anggukan oleh bu Rossa seolah mengerti.
''Bawa suami kamu kedalam nak,'' Ucap bu Rossa sebelum meninggalkan pasangan suami istri itu di dalam sana yang di beri anggukan oleh Aleea.
Sepeninggalan bu Rossa mereka hanya saling diam tidak ada yang mau memabuka suara.
“Kamu kenapa datang kesini?” Tanya Aleea memulai pembukaan pembicaraan mereka.
“Kamu aku hubungi tidak bisa. Hari juga semakin malam. Jadi aku datang kesini.” Jawabnya dengan lembut sambil terus menatap wanita yang berada di depannya.
“Aku kan sudah mengirim pesan kepada kamu. Kalau aku tidak pulang hari ini.” Ucap Aleea dengan nada dingin tidak seperti biasanya.
“Kamu tidak ada mengirim ku pesan By,” Ucap Sean sambil mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam saku celananya.
“Coba kamu lihat dulu, ada tidak aku mengirim kamu pesan.” Ucap Aleea yang masih dengan nada dinginnya.
Sean pun mengecek ponsel dilihat ternyata benar Aleea mengirim ponselnya ketika ia pergi kesini.
“Hehehe. Aku tidak mengecek ponsel. Aku hanya fokus untuk menjemput kamu saja By.” Ucap Sean.
Aleea hanya merotasikan matanya mendengar ucapan Sean. Ia hanya diam tidak ada kata yang terucap dari bibirnya.
Suara terdengar memecahkan keheningan yang menyelimuti antara Sean dan Aleea. Ketika seorang anak kecil membawa boneka dinosaurus keluar dari dalam ruangan.
“Kak Aleea. Kakak kenapa lama sekali di luar. Zeline sudah menunggu lama di kamar.”
__ADS_1
“Kakak kan sudah janji mau menemani zeline tidur.”
Ucap anak perempuan sambil menatap Aleea dengan mata berbinar.
Aleea melihat zeline yang berada di sampingnya. Ia berjongkok membuat dirinya sejajar dengan zeline.
“Kakak! Siapa kakak tampan ini?” Tanya zeline yang melihat pria asing yang berada di tempat tinggalnya sambil menunjuk kearah Sean.
“Kakak ini namanya Sean. Kak Sean suami kakak,” Jawab aleea.
“Oh. Jadi kakak tampan ini, suami kak Alee ya?” Tanya zeline yang di balas anggukan oleh Aleea.
“Zeline bisa minta adik kalau gitu?” Lanjut zeline.
Aleea terkaget mendengar perkataan yang zeline ucapkan.
“Kenapa zeline berkata seperti itu?” Tanya aleea sambil membelai puncak kepala zeline.
“Kata Angel kalau kita minta adik sama orang yang mempunyai suami istri pasti akan di kasih kakak.”
“Karena Angel di kasih adik sama Mama dan Papa nya karena mama dan Papa Angel suami istri kakak.”
“Jadi zeline bisa minta adik juga kan sama kakak?”
“Kakak kan sudah punya suami, suami kakak tampan ini,”
Ucap zeline menjelaskan panjang lebar.
“Kenapa Zeline ingin punya adik?” Tanya zeline.
“Karena zeline ingin punya teman kakak, zeline selalu kesepian kalau zeline pulang sekolah. Kakak-kakak zeline yang lain pulangnya selalu sore kakak. Kalau zeline tanya kenapa pulang sore.” Jawab zeline yang sedang menjelaskan semangat.
“Ayo, zeline sudah menggantuk kan?”
“Ayo kita segera tidur,”
Ucap Aleea, Ia lebih baik menghindar dari pertanyaan zeline dengan berkilah mengajak zeline pergi ke kamar nya.
“Kamu pulang saja dulu, aku malam ini akan tidur disini,” Ucap Aleea kemudian ia mengandeng tangan zeline untuk pergi ke kamar anak-anak yang lain.
Sean terus menatap punggung istrinya sampai punggung tersebut hilang dari pandangannya karena terhalang pintu rumah kamar anak panti.
Jjdaaarrrr!!!
Suara petir menggelegar di langit.
Tik. Tik. Tik.
Suara hujan mulai terdengar di atap rumah panti tersebut.
Aleea yang di berada di dalam kamar mendengar suara petir dan hujan yang mulai turun dengan cukup deras.
“Mungkin Sean sudah pulang, tidak mungkin dia masih menunggu di luar.” Batin Aleea.
Beberapa menit kemudian Aleea yang sudah melihat zeline tertidur ia segera kembali ke kamarnya yang berada di panti tersebut.
Aleea memelukku kamar sendiri di ruangan itu. Orang tua Aleea donatur tetap di panti tersebut. Setelah usia Aleea sudah menginjak tujuh belas tahun ia sering menginap di panti bersama anak-anak panti karena sesekali di tinggal Papa dan mama nya perjalanan bisnis. Jadi ia memiliki kamar pribadi di panti tersebut setelah pantinya di renovasi.
__ADS_1
Aleea kemudian turun dari kasur dan membenarkan selimut zeline sampai menutupi lehernya. Ia melihat anak-anak yang lain setelah ia anak-anak telah tidur dengan pulas ia keluar dari kamar tersebut.
Aleea melihat pintu utama tidak terkunci dengan benar. Ia mendekati pintu dan ingin segera menutup pintu, tapi terdengar suara seseorang diluar sana sehingga membuat langkah kakinya terhenti.
Samar-samar ia mendengar suara seseorang sedang menelepon.
“Aku tidak bisa kesana. Aku sedang bersama istriku. Aku tidak mau ia semakin marah dengan ku”
....
“Aku akan menelepon Justin agar ke apartemen kamu,”
....
“Tidak apa-apa biar aku saja yang menjelaskan kepada Aleea. Karena disini aku yang bersalah,”
....
“Jangan kamu pikiri, Aleea tanggung jawab aku. Aku pasti bisa menjaganya dengan baik.”
....
“Kamu periksa saja kandungan kamu, Justin akan segera ke apartemen kamu.”
....
“Iya. Terimakasih, semoga saja Aleea mau memaafkan aku. Aku gak bisa jika dia terus mendiamkan aku. Aku tutup teleponnya.”
Hattcimmm!!
Hattcimmm!!
Sean mulai bersin, cuaca malam ini begitu dingin serta hujan yang semakin deras. Tidak tahu kapan akan segera berhentinya.
Ceklek!!
Terdengar suara pintu terbuka dari dalam. Sean melihat seseorang wanita yang keluar dari dalam telah menampakan dirinya. Wanita yang sangat ia kenali.
“Kamu kenapa masih disini?” Tanya Aleea yang melihat Sean masih di sekitar panti.
Hattcimmm!!
“Kamu pul-” Ucapan Aleea terhenti ketika melihat bu Rossa datang dengan mengucapkan “Suami kamu bawa saja ke dalam nak, hujan nya semakin deras. Tidak baik jika di paksakan untuk pulang,”
“Terimakasih bu. Aku besok harus membelikan bu Rossa hadiah karena mau menyuruhku untuk menginap disini,” Batin Sean.
“Tapi bu,” Ucap Aleea.
“Tidak apa-apa bu, biar saya pulang saja kalau begitu.” Ucap Aleea dengan lemah.
Hattcimmm!!
Hattcimmm!!
“Kamu bawa saya nak Sean kedalam, biar ibu yang mengunci pintunya,” ucap bu Rossa.
Sean menampilkan senyuman yang sangat tipis sehingga ia saja yang mengetahui nya. Tapi ia salah, Aleea sempat melihat senyuman itu.
__ADS_1
“Dasar raja drama,” Ucap Aleea yang meninggalkan bu Rossa setelah ia pamit untuk kembali ke kamarnya, yang di ikuti oleh Sean di belakangnya.