Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Salting Yah?


__ADS_3

Aleea bersama ketiga sahabatnya duduk di kantin, Ia menceritakan semua kejadian beberapa jam yang lalu waktu ia di ikuti oleh seseorang saat akan pergi ke kampus dan ia menetap di si buah super market untuk menghindari seorang yang mengikutinya. Tak lupa juga ia mengatakan jika disana ia bertemu dengan Aiden.


Mendengar penjelasan Aleea ketiga temannya merasa prihatin apa yang terjadi dengan Aleea.


“Alee, kamu sudah bilang pada suamimu kalau kamu di ikuti oleh seseorang hari ini?” Tanya Ziva pada Aleea, mereka sudah tahu jika hubungan Sean dan Aleea sudah membaik beberapa hari ini. Semenjak Sean pergi untuk melakukan perjalanan bisnis. Karna pernah terlihat mereka Aleea yang menerima panggilan video ketika dia bersama temannya di rumah Aleea.


“Belum. Aku tidak ingin dia cemas. Mungkin saja itu hanya orang iseng aja.” Ucap Aleea.


“Apa! Orang iseng kamu bilang.” Ucap Selana sedikit kuat karna tidak terima dengan pemikiran Aleea.


“Mana ada orang iseng yang intens mengikutimu setiap hari.” Lanjutnya.


Aleea hanya bisa terdiam mendengar suara sahabatnya yang sedikit kuat.


“Coba kamu cerita sama tante Anna saja,” Ucap Shea yang mencari jalan keluar agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan kepada Aleea.


“Aku tidak bisa, Papa dan Mama pasti akan terus kepikiran. Aku tidak mau menambah beban kepada mereka.” Ucap Aleea dengan nada lemahnya.


Ketiga sahabat Alee melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Aleea paham dengan apa yang di khawatirkan oleh sahabatnya tentang Aleea.


... Sedangkan seseorang yang pria menghancurkan semua benda-benda yang terdapat di ruangan yang ia yang terdapat sinar dari celah gorden yang terbuka sedikit.


Terlihat sangat berantakan ruangan yang di tempati pria itu, kaca-kaca yang berserakan di atas lantai. Seprai yang sudah tidak pada tempatnya. Bantal dan guling yang sudah tidak terbentuk lagi, kapas-kapas yang beterbangan keluar dari bantal dan guling tersebut.


Ia memegang sebuah IPad keluaran terbaru yang memiliki logo berbentuk apel dengan gigitan sedikit. Ia melihat kembali video yang beberapa dikirimkan oleh anak buahnya.


Ia angkat IPad keluaran terbaru itu kemudian ia lemparkan ke arah kaca yang ada di ruangan. Itu.


PRANG!


PRANG!


Suara benda yang jatuh ke lantai. IPad keluaran terbaru itu sudah tidak terbentuk lagi.


“Tunggu aku Baby. Kita akan bersama.” Ucap pria itu sambil menampilkan senyuman tipis di wajahnya.


...****************...


Tak terasa hari sudah berganti hari.


Malam berganti pagi, matahari sudah menampakan sinarnya menyelinap masuk melewati celah-celah gorden yang menutupi jendela kamar Aleea.


Aleea membangunkan dirinya yang tadi semula tidur sekarang sudah mulai duduk. Ia lihat jam sudah menunjukan pukul 06.00, Aleea mengambil ikat rambut yang ada di nakas kemudian mengikat cepol rambutnya.


Aleea melangkah kan kakinya ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Ia menyikat gigi dan mencuci wajahnya. Selanjutnya ia melangkahkan kembali kakinya ke arah pintu kamarnya.


CEKLEK!


Suara pintu yang terbuka dari dalam, ia melangkah kan kakinya tapi langkahnya terhenti melihat sosok pria yang sudah berdiri tegak di depannya.

__ADS_1


Terlihat pria itu menggunakan baju pas body dan celana di atas lutut. Tidak lupa rambut yang masih sedikit basah.


Aleea memundurkan langkahnya kemudian ia menutup kembali pintunya.


“Bukankah Dia bilang kalau hari ini akan pulang? Terus pria didepan kamarnya siapa?” Gumam Aleea di dalam kamarnya.


Sedangkan sosok pria yang masih berada di depan kamarnya, hanya menampilkan senyum manis melihat tingkah Aleea.


“Mungkin hanya halusinasi ku saja,” Lanjutnya kemudian membuka pintu kamarnya kembali.


Aleea terbengong menatap pria yang masih berada didepannya, kali ini dia benar bahwa ini bukan halusinasinya. Tatapan mata mereka bertemu.


“Hei. Kenapa bengong?” Ucap pria tersebut sambil menampilkan senyuman di wajahnya.


“A-apa? Ke-kenapa sudah sampai sini aja. Semalam kamu bilang kalau hari ini akan pulang.” Ucap Aleea dengan nada terbata.


Sean gemas sendiri melihat tingkah istrinya yang baru seminggu ia tinggal untuk perjalanan bisnisnya.


“Isshh ditanya bukannya menjawab malah senyum-senyum sendiri?” Ucap Aleea yang sedikit kesal karna melihat Sean yang didepannya hanya berdiam diri tidak menjawab pertanyaannya malah hanya senyum-senyum sendiri.


“Apa yah,” Ucap Sean sambil pura-pura berpikir tapi tidak lupa senyuman selalu terpatri di bibirnya.


“Kangen kali ya, sudah lama berpisah dengan istriku ini.” Ucap Sean sambil mencubit pelan pipi Aleea.


Aleea hanya bisa mendengus mendengar ucapan yang Sean katakan.


“Aissh apaan sih! Tidak nyambung.” Ucap Aleea yang melanjutkan langkahnya untuk menutupi wajahnya yang merah, sudah seperti kepiting rebus.


“Hahaha!” Ucap Sean yang yang mengikuti Aleea yang berjalan didepannya.


Aleea melangkahkan kaki menuruni anak tangga dengan hati-hati yang diikuti oleh Sean di belakangnya.


Sampainya mereka di dapur Aleea mengambil beberapa macam sayuran dan daging yang akan ia masak untuk sarapan pagi mereka hari ini. Sedangkan Sean, pria itu di kursi bar di dekat dapur mereka melihat Aleea yang sudah mulai memotong sayur.


Sesekali Sean menguap menahan kantuknya baru pulang tiga pagi dia sampai ke negara ini dan sekarang baru menunjukan pukul enam pagi dia sudah berpakaian rapi berada di dapur bersama istrinya.


Aleea melihat Sean yang berada di meja bar dekat tempat ia memasak. Sean tertidur dalam posisi duduk dengan bertumpukan tangan sebagai bantal untuk menyangga kepalanya.


Aleea mendekat ke arah Sean sebelumnya ia mencuci tangganya di washtapel yang berada di dapurnya.


“Sean! Bangun.. lanjut tidur dulu di kamar.” Ucap Aleea dengan lembut sambil menepuk pelan punggung Sean.


Bukannya merasa terganggu tidurnya ia malah semakin pulas mendapatkan tepukan pelan tepatnya di punggungnya.


Aleea kembali membangunkan Sean dengan menepuk pelan pipi Sean, tetapi lengan Aleea yang dibawa masuk ke dalam pelukannya.


“Sean Bagun!” Ucap Aleea dengan suara yang sedikit kuat sehingga membuat Sean terbangun dari tidurnya karena merasa terkejut.


“Sorry,” Ucap Aleea yang sedikit merasa bersalah karena membangunkan Sean dengan cara seperti itu.


“it’s ok,” Ucap Sean sambil menepuk pelan pipi Aleea yang berada di depannya sambil menampilkan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


Sedangkan pelayan yang masih berada di sekitar mereka yang membantu Aleea membuat sarapan mereka hanya bisa tersenyum bahagia melihat tuan dan nona mereka seperti ini. Menjalani pernikahan yang seharusnya seperti pasangan lain.


“Kamu pasti lelahkan. Aku dengar dari Bibik kalau kamu sampai rumah pukul empat pagi, lebih baik kamu istirahat dulu, nanti aku banguni kalau sudah selesai.” Ucap Aleea panjang lebar yang diberi anggukan oleh Sean.


Sean melangkahkan kakinya kembali ke kamar tidurnya yang ia tinggal beberapa menit yang lalu.


Sepenjang perjalanan senyuman di wajahnya tidak luntur sama sekali. Sudah bisa melihat wajah istrinya pagi ini setelah seminggu tidak bertemu.


“Thank God! Telah membuat Aleea memberi kesempatan untuknya.” Batin Sean.


Sean mengingat kembali beberapa jam sebelum sampai disini, malam dimana ia dan asistennya telah selesai dengan semua pekerjaannya. Membuat asistennya kewalahan mencari tiket yang mengharuskan malam itu juga pulang dengan sendiri. Karena sudah tidak bisa menahan rindu untuk bertemu dengan istrinya.


Yaa setelah Aleea memberikan ia kesempatan tidak ingin sekalipun ia menjauh dari Aleea.


Aleea hanya bisa menggeleng liat tingkah Sean pagi ini, ia melihat Sean yang lalu. Menatap punggung Sean yang mulai menaiki anak tangga satu per satu. Aleea kemudian ia melanjutkan memasaknya yang di bantu oleh beberapa pelayan wanita di rumahnya.


Beberapa menit kemudian masakan Aleea telah selesai memasak dan menata masakan yang telah ia buat diatas meja makan.


Aleea melangkahkan kakinya berjalan menuju kamarnya yang di lantai dua, sebelumnya sudah berpamitan kepada pelayan di rumahnya dan memberikan izin untuk sarapan dahulu tanpa menunggu dirinya.


Aleea menghidupkan shower di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.


Air mulai berjatuhan membasahi seluruh tubuhnya. Aleea telah menyelesaikan mandi dan memakai pakaiannya.


Sekarang ia duduk di depan kaca hias untuk memakai pelembab di wajahnya dan menyisir rambutnya setelah ia mengeringatkan rambutnya dengan hair dryer miliknya.


Aleea melangkahkan kakinya berjalan ke arah pintu kamar Sean, Aleea dengan ragu membuka kamar Sean yang tidak sembarangan orang untuk memasukinya.


CEKLEK!


Suara decitan pintu terbuka dari luar. Aleea menatap sekitar ruangan kamar Sean, dengan ragu ia melangkahkan kakinya berjalan pelan masuk ke dalam kamar tersebut.


Aleea melihat Sean yang masih tidur pulas di atas tempat tidurnya. Ia melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur yang sedang ditiduri Sean.


“Sean. Bangun!” Ucap Aleea dengan lembut sambil menepuk pelan pipi Sean.


Mata Sean masih terpejam, dan tidak terusik sama sekali dengan Aleea yang masuk kedalam kamarnya.


“Mungkin dia masih lelah, Ya sudah nanti saja aku kesini lagi untuk membangunkan.” Gumam Aleea yang melihat Sean masih pulas dalam tidurnya.


Aleea membalikan tubuhnya dan berjalan tapi kakinya masih mau mulai melangkah sudah terhenti karena seseorang menarik tangannya.


Dilihatnya Sean yang mulai membuka matanya.


“Yasudah kamu istirahat saja dulu,” Ucap Aleea sambil membenarkan selimut Sean.


Sean menggelengkan kepalanya mengadakan ia tidak setuju dengan ucapan Aleea. Sean menggeser tubuhnya ke samping memberi celah agar Aleea ikut bergabung bersamanya.


“Kamu saja yang tidur lagi, aku akan kesini setelah kmu selesai istirahatnya.” Ucap Aleea kembali, tapi Sean tetap memberikan gelengan kepala sebagai jawaban sambil menampilkan wajah yang sedikit memohon agar Aleea mau menemaninya.


Aleea pasrah, Ia melihat bagian yang kosong di samping Sean. kemudian dia ikut merebahkan tubuhnya disamping Sean yang beralaskan tangan Sean sebagai bantalnya.

__ADS_1


Melihat Aleea yang sudah cukup tenang dengan posisinya. Sean membalikan posisinya menyamping untuk memeluk Aleea yang berada disampingnya.


“Bernafaslah! Aku tidak akan macam-macam.” Ucap Sean dengan suara khas bangun tidur. Kemudian ia melanjutkan tidurnya dalam posisi yang memeluk Aleea dengan sangat erat.


__ADS_2