
Flashback
Alee baru saja sampai di negara N dimana disini dia merasakan sakit yang begitu dalam. Di negara inilah yang ia hindari beberapa tahun ini.
Dengan perlahan ia membawa langkah kakinya untun mencari jalan keluar.
“Non, sepertinya supir akan terlambat menjemput kita karena mobil yang akan menjemput kita mogok di tengah jalan. Tapi orang kantor sudah berjalan kesini untuk menjemput kita.” Ucap Asisiten papinya Aleea yang sering di panggil Jeremy, ia ikut juga ke negara tersebut.
“Kita tunggu saja mereka,” Ucap Aleea kemudian ia membawa langkahnya kakinya duduk di tempat kursi.
“Aleea, kamu ada berada disini,” panggil seorang wanita sambil menepuk pelan punggung Aleea dengan mata yang sedikit berbinar melihat Aleea didepannya.
Aleea mendongakan wajah nya menatap seseorang yang berada di sampingnya.
“Shea!” Panggil Aleaa saat melihat sahabatnya juga berada di tempat itu.
“Kamu bilang akan kesini besok malam, kenapa sudah sampai hari ini?” Tanya Shea dengan tatapan yang sedikit bingung karena didalam grup mereka Aleea bilang jika dirinya sampai ke negara ini besok malam.
“Papa yang bilang jadwal pertemuannya di majukan.” Balas Aleea yang dibalas anggukan oleh Shea.
Beberapa menit mereka berbicara dan harus berpisah karena aleea sudah di jemput. Didalam perjalanan aleea melihat sebuah toko roti yang cukup banyak pengunjungnya dan ia meminta untuk berhenti di depan toko tersebut.
Aleea membawa langkah kakinya untuk masuk kedalam toko tersebut. Sebuah toko yang tidak terlalu besar. Ia melihat beberapa macam kue yang tersusun rapi di etalase. Matanya tertuju dengan macaron.
“Kak saya pesan ini,” Ucap Aleea kepada pelayan yang baru saja selesai melayani pembeli yang lain.
“Aleea!! Benarkan kamu Aleea?” Ucap wanita tersebut.
Aleea menatap wanita yang ada di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Syeila..” Gumam Aleea pelan saat melihat wanita yang sedang di depannya.
“Bagaimana kabar kamu? Sudah lama kita tidak bertemu.” Tanya Syeila yang melihat Aleea sejak tadi hanya berdiam diri.
“Baik. Kabar kamu bagaimana?” Tanya Aleea kembali.
“Seperti yang kamu lihat kabar aku baik juga.” Jawab Syeila dengan senyuman di wajahnya.
“Jika Brian melihat kamu pasti ia sangat senang.” Ucap Syeila.
Aleea mengerutkan keningnya tidak mengerti Brian siapa yang dia maksud. “Brian Austin nama putraku.” Ucap Syeila seolah mengerti tentang Aleea yang sedang kebingungan.
“Ohh dimana dia sekarang?” Tanya Aleea sambil memperhatikan disekitarnya mencoba mencari putra Syeila.
“Brian diajak bermain oleh teman ku,” jawab Syeila.
“Oh iya. Kamu ingin pesan apa?” Tanya ia kembali.
“Aku ingin beli yang ini lima box saja?” Ucap Aleea sambil menunjuk macaron yang ada di estalase.
“Ini Al pesanan kamu.” Ucap Syeila sambil memberikan pesanan Aleea.
“Terimakasih.” Ucap Aleea setelah membayar kue yang ia beli.
Aleea mulai membalikan badannnya tapi terhenti ketika tangan di pegang oleh Syeila.
“Al apakah kamu terburu-buru?” Tanya Syeila sambil melepaskan tangan Aleea pelan.
“Maaf, aku sedang terburu-buru. Ini kartu namaku, kamu bisa menghubungi ku.” Ucap Aleea kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
“Maaf,” ucap Syeila sambil menatap punggung Aleea, banyak sekali yang ia sampaikan tapi tidak dapat ia ucapkan karena menyangkut putra semata wayangnya.
Setelah pertemuan Aleea dengan Syeila yang terakhir kali mereka tidak saling bertemu.
Hari ini Aleea berada di restoran dengan ketiga temannya.
“Maaf aku sedikit terlambat.” Ucap pria yang sedang berdiri di samping meja mereka.
“Kenapa harus jumpa disini sih,” batin Aleea saat melihat pria itu, pria yang beberapa hari ini paling ia hindari.
“Tidak masalah kami baru saja siap memesan makanan,” Ucap Shea.
“Aku yang memberitahu Sams kita disini, tidak apa-apa kan? Kalian tidak sedang bertengkar kan?” Ucap Shea sambil menatap Aleaa yang di depannya.
“Tidak masalah, kami baik-baik saja.” Ucap Aleea sambil memberikan senyuman.
Selanjutnya mereka menyantap makanan yang sudah tersedia diatas meja.
Sams sejak tadi hanya menatap Aleea yang menyantap makanan yang tersedia. Ia melihat ada sisa makanan yang ada di ujung bibir Aleea. Kemudian ia mengambil tisu dan mencoba membersihkan sisa makanan itu.
Aleea tersentak ketika Sams mencoba membersihkannya tapi belum sempat ia protes seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.
“Oh, jadi begini wanita yang baru berpisah dengan suaminya tapi sudah bermesraan di depan umum, pria mana lagi yang menjadi incaranmu?” Ucap wanita tersebut.
“Memang wanita murahan seperti kamu tidak pantas bersanding dengan cucuku, wanita tidak tahu diri, syukurlah cucuku sudah sadar dan berpisah dengan kamu.” Ucap wanita itu kembali.
“Oma...” ucap Aleea pelan sambil menatap wanita di depannya bersama dengan wanita muda yang ia kenali. Kemudian ia berdiri dan mencoba untuk menyalim Arini. “jangan sentuh tanganku dengan tanganmu itu!”.
Wanita itu adalah Arini Cullen, oma dari Sean mantan suami Aleea bersama dengan cucu wanita tersayangnya Carissa.
Aleea hanya menundukan saja wajahnya, ia merasa malu dengan temanya yang ada disana. Dari mulai menikah sampai ia berpisah pun oma nya masih membenci dirinya. Padahal ia hanya beberapa kali bertemu dengan Arini.
“Ntah apa yang dilihat dari anak saya menikahkan cucuku dengan wanita sepertimu,” Ucap arini dengan tatapan mengejek mulai melihat Aleea dari atas hingga ke bawah.
Sams merasa tidak terima wanita yang sangat ia cintai dihina seperti itu. Ia kemudian mencoba untuk berdiri tapi dicegah oleh Aleea dengan menarik baju yang Sams gunakan.
Aleea tau oma Sean tidak akan lama disini. Karena setelah puas menghina dirinya mereka akan pergi segera. Dan benar dalam hitungan 120 detik mereka meninggalkan tempat itu.
Sams membawa tubuh Aleea untuk kembali duduk di tempat semula. Ia memberi minum Aleea yang terlihat sedikit syok dengan kejadian tadi.
“Maaf,,” gumam Aleea pelan yang masih didengar oleh mereka yang ada di meja tersebut.
Mereka seolah mengerti akan situasi yang terjadi tidak ada sedikit pun dari mereka bertanya siapa wanita tersebut karena mereka sudah kenal siapa keluarga Cullen.
Mereka melanjutkan makanan mereka terkecuali Aleea yang sudah tidak memiliki selera nya.
Beberapa menit kemudian mereka telah siap menikmati makan siang mereka.
“Alee. Apa ada yang ingin kamu tuju lagi?” Tanya Sams lembut yang di beri gelenggan oleh Aleea.
“Yasudah kalau begitu kita pulang saja.” Ucap Sean setelah pamit dengan ketiga sahabat Aleea.
Sampainya Aleea di rumahnya, Aleea langsung menuju kamar miliknya.
BRAK!!
Aleea langsung menjatuhkan dirinya diatas kasur dan menenggelamkan wajahnya di atas bantal.
Hikkss... Hikkss... Hikkss...
__ADS_1
Aleea menangis di dalam kamarnya tersebut.
Hikkss... Hikkss... Hikkss...
Suara tangisnya membuat orang yang mendengarnya begitu merasa kasihan. Hanya didalam kamar ini Aleea bisa menumpahkan semua kesedihan. Ia ingin melawan tapi ia tidak bisa karna bagaimana pun Arini orang tua yang harus di hormati.
Lama menangis membuatnya kelelahan sehingga tertidur dengan wajah yang berantakan. Sedangkan pria didepan kamarnya hanya bisa mengepalkan tanganya karena tidak bisa berbuat apapun karena telah berjanji.
“Jangan kamu lukai mereka,” Ucap Aleea sebelum masuk kedalam kamarnya.
Malam harinya Aleea terbangun dari tidurnya. Ia teringat kejadian siang tadi yang membuat air matanya mengalir kembali.
“Baiklah aku akan segera menyelesaikan pekerjaan disini dan aku akan kembali ke rumah agar tidak bertemu lagi dengannya.” Gumam Aleea.
Aleea teringat sebelum ia pulang dari sini ia ingin memastikan perkataan orang tuanya jika apa yang dikatakan mereka benar tentang Sams.
Ia kemudian mencari kontak Syeila yang ada di ponselnya. Syeila sudah pernah mengajaknya bertemu tapi ia tolak karena masih belum siap untuk bertemu dengannya kembali.
Aleea : Syeila, ini Aleea. bisakah kita bertemu besok? Jika ia tolong jawab pesanku dan Silahkan kamu mencari tempat yang ingin kita kunjungi.
Flashback off
“Syeila, maaf. aku mengajak Sams ikut dengan kita tidak apa-apakan?” Ucap Aleea dengan nada lemah seolah ia merasa bersalah tidak bilang Syeila dahulu.
“Tidak apa-apa.” Ucap Syeila pelan dengan sedikit bergetar.
Aleea tengah asik mengendong Brian, sedangkan Sams hanya memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Sams coba kamu gendong Brian,” Ucap Aleea sambil meletakan Brian di dada Sams yang membuat anak itu menangis.
Aleea melihat Brian ketakutan saat melihat sams lain saat pertama kali di gendong olehnya.
Saat itu Sams merasa ada sedikit yang aneh saat anak itu ada diatas dadanya. Tapi ia dengan cepat menghilangkan perasaan aneh itu.
Setelah Syeila menenangkan Brian yang telah berhenti menangis, mereka mulai menikmati makanan yang ada di atas meja dengan sesekali aleea menyuapi Brian yang duduk di kursi anak.
“Sams. Kamu lihat Brian sangat tampan. Sangat disayangkan sekali jika anak setampan ini harus di gugurkan. Tapi syukurlah jika Papanya Brian sudah meninggal.” Ucap Aleea pelan sambil melihat kedua orang yang ada di samping dan didepannya.
“Perasaan aku tidak bicara seperti itu dengan Aleea tadi, tapi nanti aku jelaskan lagi kepadanya.” Batin Syeila.
Sams tidak menjawab pertanyaan Aleea ia masih menikmati makanan yang ada.
“Tapi Sams kenapa wajahnya Brian mirip dengan mu saat waktu kecil?” Tanya Aleea yang membuat Syeila dan Sams dalam waktu bersamaan tersedak.
Brurrr!!
Syeila menyemburkan air yang di mulutnya.
Uhuuuk.. Uhuuuk..
Sams keselek makanan yang ia santap.
Sams dan Syeila saling bertatapan dengan tatapan yang paling dominan Sams.
“Kalian kenapa?” Tanya Aleea dengan menampilkan wajah polosnya.
“Tidak apa-apa,” jawab mereka barengan.
“Kenapa bertanya seperti itu?” Tanya Sams saat merasa ada yang tidak beres dengan apa yang dikatakan oleh Aleea.
__ADS_1
“Aku hanya penasaran, wajah Brian seperti tidak asing bagiku, terus aku melihat di galeri ponselku dan menemukan wajahmu saat waktu kecil.” Ucap Aleea sambil menunjukan foto yang ada di ponselnya dan benar saja wajah mereka sangat mirip seperti pinang dibelah dua.
Perkataan Aleea membuat dua orang didepannya terdiam.