
Sinar matahari pagi menyapa lewat ventilasi kamar Sean. Tampak pasangan suami istri yang masih terlelap di atas kasur miliknya. Pria ini menelungkupkan wajahnya ke ceruk leher seolah mencari ketenangan dan sambil memeluk erat sang pria seolah sedang mencari kehangatan.
Matahari sudah menujukan sinarnya yang cukup cerah tetapi pasangan ini masih setia memberikan pelukan satu sama lain. Seperti tidak akan ada hari esok lagi untuk merasakan kehangatan.
Beberapa menit kemudian tampak seorang wanita mulai membuka matanya dengan pelan-pelan. Wanita mengerutkan dahinya agar ia dapat menyesuaikan cahaya yang sudah mulai terang dengan matanya.
Wanita itu mencoba mengerakan tubuhnya, tetapi ia merasa sesuatu yang berat memeluk tubuhnya.
Ia melihat suaminya masih tertidur pulas dengan wajah yang ia tenggelamkan di ceruk lehernya. Ia hanya bisa berdiam diri karena semakin ia banyak bergerak semakin erat pelukan di tubuhnya. Ia mainkan rambut milik suaminya dan tiba-tiba merasakan hembusan panas di lehernya.
Ia melihat suhu dikamarnya menyala tetapi kenapa suamin nya berkeringat seperti ini.
Aleea menggerakkan tangannya menyentuh dahi Sean.
“Panas!” Gumam Aleea sambil mengibaskan selimut yang mereka masih berada menutupi tubuh mereka. Terlihat seluruh tubuh Sean penuh dengan keringat.
“Sean! Bangun dulu.” Ucap Aleea dengan mencoba menggoyangkan tubuh Sean, penuh kekhawatiran di wajahnya.
Tidak ada jawaban tetapi yang ia dapat hanya pelukan yang semakin erat. Aleea menyingkirkan tangan yang ada di pinggangnya.
“By. Mau kemana?” Ucap Sean dengan nada lemah tapi Aleea masih bisa mendengarkan nya. Ketika Aleea mencoba melepaskan pelukan mereka.
“Badan kamu panas Sean, aku ambil air kompres ya di bawah sebentar saja nanti ke sini lagi menjagamu.” Ucap Aleea dengan sangat lembut, kemudian tangannya terulur membantu Sean untuk tidur kembali dengan posisi yang menurutnya nyaman.
Aleea yang melihat suaminya sudah tenang walaupun terlihat sedikit gemetaran karena merasa kedinginan. Ia mengambil remote dan mematikan suhu ruangan tersebut.
Aleea dengan cepat menuruni kasur dan membawa langkah kakinya keluar kamar menuju dapur untuk mengambil baskom dan air hangat untuk mengompres tubuh suaminya.
Tetapi baru beberapa langkah Aleea ingin keluar dari dapur tersebut dirinya tiba-tiba masuk seorang gadis cantik yang Aleea kurang tau siapa namanya. Jika di lihat usia wanita ini lebih tua beberapa tahun diatas Aleea.
Aleea hanya mengenali wajahnya karena beberapa kali terlihat selalu berada disamping oma nya Sean.
“Wanita sepertimu tidak cocok bersanding dengan kak Sean yang sempurna,” Ucap wanita yang berada didepannya dengan menampilkan tatapan yang tidak menyenangkan melihat Aleea.
Aleea hanya melihat wanita di depan nya hanya membolakan matanya.
“Hmmm. Menurut kakak, Sean cocok dengan wanita seperti apa? Seperti anda kah?” Ucap Aleea sambil melihat wanita yang ada di depannya.
Wanita di depan Aleea merasakan tidak terima jika dengan ucapan Aleea kemudian ia menunjuk Aleea dengan menggunakan jari.
“Kau!” Ucapnya dengan nada sedikit keras.
“Kenapa kak? Tidak terima?” Ucap Aleea.
Seorang wanita masuk ke dalam dapur melihat menantu dan keponakan nya yang berada di depan dia.
“Kalian kenapa bisa berada di sini?” Ucap Regina yang sedikit curiga melihat dua orang wanita uang berada di depannya.
“Aleea sedang apa di sini nak? Terus itu untuk apa?” Tanya Regina yang melihat Aleea membawa sebuah baskom berisi air.
“Kamu juga Carissa kenapa bisa berada disini, tidak biasanya kamu ke dalam dapur?” Lanjut Regina sambil memperhatikan keponakan nya yang bersama mantunya.
“Aku sedang mengambil minum tante, terus jumpa dengan istri kakak disini,” ucapnya dengan nada lembut yang berbeda sekali jika berbicara dengan Aleea.
“Ya kan kak?” Lanjutnya sambil memberikan senyuman saat melihat Aleea.
“Sungguh pintar sekali dia bersandiwara,” Batin Aleea yang melihat wanita di depannya.
__ADS_1
“Itu untuk apa Alee?” Tanya Regina kembali.
“Oh. In-ini untuk mengompres Sean mah, tubuhnya panas.” Ucap aleea terbata.
“Hemm maaf mah. Bisakah mama memanggil dokter untuk kesini?” Lanjut aleea.
“Yasudah kamu ke kamar, Sean agak keras kepala susah untuk minum obat. Biar mama telepon dokter keluarga kita,” ucap Regina kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Aleea melangkahkan kaki nya tapi di cegah oleh wanita yang aleea baru tahu namanya yaitu Carissa.
“Mau kemana kamu?” Ucap Carissa
“Maaf ya kak. Aku ke kamar dulu ya. Nanti lagi kalau mau berdebatnya. Aku mau mengurus SUAMIKU dulu,” ucap Aleea dengan menekankan kata suamiku. Lalu Aleea pergi dari ruangan itu.
Sedang Carissa melihat Aleea yang pergi begitu saja merasa sangat kesal dengan menggengam kuat telapak tangan sehingga buku-buku tangan tampak jelas berwarna putih.
“Lihat saja akan aku rebut kembali kak Sean darimu,” Ucapnya sambil terus melihat punggung Aleea dengan tatapan penuh kebencian.
Aleea meletakan baskom yang berisi air kompresan di atas nakas. Aleea mulai membasahi handuk lalu diletakan di dahi dan leher Sean. Aleea lakukan sampai berulang kali. Tapi Sean tidak merespons hanya menutup matanya.
“Sean, buka matamu. Jangan buat aku khawatir.” Ucap Aleea yang sudah meneteskan airmatanya.
Beberapa menit kemudian suara pintu terbuka, menampilkan Regina dan Revan memasuki kamarnya bersama seorang pria yang menggunakan jas putih berprofesi sebagai dokter pribadi keluarga Sean.
“Maaf nona. Bisakah saya memeriksa tuan muda sebentar?” Ucapnya yang sering disebut Garvin oleh keluarga Sean.
Aleea mengeser tubuhnya sedikit menjauh dari suaminya. Agar pria itu dengan mudah untuk memeriksa suaminya.
“Tenanglah sayang Sean pasti akan baik-baik saja.” Ucap Regina yang mencoba menguatkan Aleea. Ia pun sama khawatir nya dengan Aleea yang melihat anak semata wayangnya seperti ini. Sean tipe orang yang sulit sekali untuk sakit.
Tak lama kemudian muncul wanita yang cukup tua dengan wanita yang masih mudah memasuki kamar mereka.
“Dokter bagaimana keadaan suami saya?” Ucap Aleea yang khawatir tentang keadaan suaminya.
“Tuan muda hanya kecapekan saja nona. Dari pemeriksaan yang saya dapat mulai dari tekanan darah, nadi, pernapasan, dan oksigen di dalam darah tuan dalam batas normal. Hanya saja suhu tubuh tuan yang sedikit meningkat. Saya sudah mengambil sampel darah tuan Sean yang akan di periksa di laboratorium. Jika hasilnya sudah keluar akan saya beritahu.” Ucap Garvin menjelaskan hasil pemeriksaan yang ia dapat. Aleea hanya mengganggukan kepalanya sebagai jawaban jika ia mengerti semua yang dijelaskan.
“Saya juga sudah menyuntikkan obat kedalam tubuh tuan. Mungkin beberapa menit kemudian tuan akan bangun.”
“Nona ini ada obat penurun panas panas dan vitamin untuk tuan. Setelah tuan bangun berikan obat ini.” Lanjutnya kemudian menjelaskan bagaimana aturan obat yang ia berikan.
“Kalau begitu saya pamit dulu nyonya dan nona muda,” Ucap Garvin setelahnya ia keluar dari kamar tersebut.
Sean sedang terduduk diatas kasur sambil disuapi bubur oleh Aleea, dan Aleea pun yang membawa segelas susu rasa fullcream untuk Sean. Beberapa menit yang lalu Sean sudah sadarkan diri. Setelah Sean sadar para orang tua kembali melakukan aktivitas mereka. Sekarang tinggal lah Aleea dan Sean yang berada di ruangan itu.
"Udah enakan? Masih pusing ga?" ucap Aleea dengan lemah lembut dan sambil menyuapi bubur ke sean.
"Udah, ngga pusing si udah enakan lah, kita pulang sekarang aja ya By?"
"Tidak! Kita berada disini sampai kamu sudah enakan,"
"Maaf. Aku tidak bisa menjagamu dengan benar." ucap Aleea dengan tatapan penuh kekhawatiran, ia merasa bersalah tidak memperhatikan Sean.
Selama beberapa hari ini Sean selalu lembur dan pulang hingga malam dan pergi terlalu pagi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahaannya. Sedangkan selama di kediaman milik orang tua Sean, Pria itu terus menjaganya sehingga melupakan dirinya yang kurang fit dan berakhir seperti sekarang ini.
“Jangan bicara seperti itu. Aku tidak suka.” Ucap Sean sambil membelai wajah istrinya.
“Sean buka mulutmu, ayo minum obat dulu biar agak mendingan.” Ucap Aleea yang sudah jenuh membujuk Sean agar membuka mulutnya.
__ADS_1
“Gak mau By, pahit! Gak suka.” Ucap Sean dengan menampilkan mata yang sudah berkaca-kaca.
Aleea mencari cara agar Sean mau minum obat yang ada di tangannya. Ia baru tahu jika Sean sakit maka manjanya akan berkali-kali lipat
“Ayo lah By, buka mulutnya yah,”
“Apa? Kamu barusan memanggil ku apa? Katakan sekali lagi. Ayo katakan.” Ucap Sean dengan antusias. Senyuman merekah di bibirnya.
Blus!
Pipi Aleea merona.
“Ba-Baby. Ayo buka mulutnya minum obatnya.” Ucap Aleea terbata.
Sean tersenyum mendapat panggilan sayang dari istrinya.
“Bagus. Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan itu.”
Aleea hanya memutar matanya jengah. Tapi ia hanya mengganggukan kepalanya.
“Yasudah. Ayo buka mulutnya.”
“Gak mau By. Pahit.”
“Ya sudah kalau kamu tidak mau.” Ucap Aleea kemudian ia mengambil obat untuk dimasukan ke mulutnya dan air minum yang berada didekatnya lalu menenggaknya.
“Yaaa By. Apa yang kau lak-,” ucapan Sean terpotong ketika Aleea memasukan obat yang ada di dalam mulutnya ke dalam mulut Sean.
Glek!
Sean menelan obat yang di berikan Aleea dengan cara yang tak bisa di pikirkan nya.
Aleea mengulang itu beberapa kali sehingga obat yang berada di tangannya habis tak tersisa.
Setelah Aleea merasa Sean telah menelan obat terakhir yang telah diberikannya Aleea melepas tautan bibir mereka. Tapi bukan Sean namanya jika ia melepaskan kesempatan, ia kemudian mencium bibir Aleaa dengan sangat lembut serta memberikan gigitan-gigitan kecil pada bibir bawah Aleea sehingga Aleea membuka mulutnya untuk memberi akses lidah Sean untuk masuk menjelajahi mulut Aleea. Bibir mereka saling beradu. Aleea dapat merasakan pahit dari efek obat yang sean minum tadi.
Ahhh..
Aleea mendesis disela ciuman yang memabukkan, tangan Sean mulai menjelajahi tubuh sang istri. Sean mulai menidurkan Aleea mengukung tubuh istrinya yang berada dibawahnya.
Ahhh... Sean…
Aleea kembali mendesis mendapatkan Sean yang mulai memberikan kecupan basah di leher jenjang miliknya. Tubuh Aleea merinding mendapatkan sengatan di tubuhnya. Aleea mendongakan wajahnya agar Sean dengan mudah mengakses leher jenjangnya.
Tok. Tok. Tok
Suara pintu di ketuk dari luar. Tapi pasangan yang berada di dalam tidak mendengar ketukan pintu di kamarnya. Pasangan itu kembali memberikan ciuman yang memabukan satu sama lain. Seolah ini adalah ciuman terakhir mereka.
Sean… Ahhh…
Tok. Tok. Tok.
Suara pintu kembali diketuk.
“Sean! Aleea! Kalian baik-baik saja kan.”
Tok. Tok. Tok.
__ADS_1
Aleea sudah mulai membuka matanya setelah mendapatkan kesadarannya. Samar-samar ia mendengar ketukan dari luar dan suara mama sean memanggil mereka.