Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Rumah


__ADS_3

Dering ponsel Aleea membangunkan ia dari lamunannya. Ia ambil ponselnya yang berada di dalam tas miliknya.


Mama 2 calling…


Ia lihat nama yang tertera di ponsel itu. Ia memberi nama itu karna Regina seperti mamanya yang kedua setelah Anna. Regina selalu memberi perhatian dan kasih sayang layak Aleea putrinya sendiri.


Ia mengatur napasnya agar tidak kentara karna habis menangis. Lalu ia mengangkat panggilan tersebut.


Aleea : Hallo Mah..


Mama 2 : Sayang. kamu dimana? Sudah hampir satu jam tapi kamu belum sampai. Kamu tidak apa-apa kan?


Aleea : Alee tidak apa-apa Mah. Ini Alee sudah mau sampai. Apa ada yang ingin Mama titip?


Mama 2 : Yasudah kalau kamu tidak kenapa-napa. Bawa mobilnya hati-hati ya sayang. Mama tutup dulu ya telepon nya. Papa sudah memanggil.


Aleea : Iya mah..


Setelah ia selesai menerima pangilan dari Regina. Ia membuka kamera depan di ponsel miliknya terlihat jelas wajah Aleea yang sembab habis menangis.


Aleea berjalan menuju toilet dengan jas yang masih melekat di atas kepalanya. Ia mencuci wajahnya untuk menghilangkan bekas air mata yang ada di wajahnya. Ia menatap wajahnya berada di depan cermin, kemudian ia teringat kembali kejadian yang membuat dirinya menangis pilu seperti tadi.


Flashback


Aleea yang baru saja memasuki rumah sakit dikejutkan dengan seseorang yang mirip sekali dengan orang yang ia kenal yaitu Syeila.


Wanita itu memasuki sebuah ruangan yang bertuliskan diatas pintu ruangan itu.


dr. Daniella Leight Sp.OG


Aleea terdiam beberapa detik.


Sudah berapa jauh hubungan Sean dan kekasihnya. Sehingga ia dapat melihat kekasih suaminya memasuki ruangan itu. Aleea tidak bodoh, ia tau apa yang dilakukan kekasih suaminya itu di dalam, dengan meremas kedua telapak tangannya membuat buku-buku tangannya memutih sehingga ia tidak sadar melukai telapak tangan nya itu.


Mendengar suara pintu sedang di buka dari dalam, Aleea menyembunyikan dirinya pura-pura menduduki di salah satu kursi pengunjung.


“Nona. Lebih baik kunjungan kedua anda di temani suami anda.” Ucap perawat itu sambil membuka kan pintu ruangan itu yang diikuti oleh Syeila dibelakangnya.


“Semoga suami anda senang mendengar kabar kehamil*n anda.” Ucap kembali.


“Terimakasih. Iya nanti saya akan berkunjung kembali bersama suami saya.” Ucap Syeila dengan nada lemah.


“Mari nona saya antar untuk menebus vitamin anda.” Ucap petugas itu kembali tapi baru selangkah petugas itu berhenti karna kertas yang berada di tangannya jatuh dengan lembar itu terbuka tepat dibawah kaki Aleea. karna penasaran Aleea mengambil kertas itu.


DEG!!


Aleea dapat membaca dengan jelas kertas yang berada di tangannya. Matanya sudah berkaca-kaca. Tulisan yang ia baca sudah tersimpan di memori kepalanya.


Tn. Allessio Sean Cullen dan Ny. Syeila Curris sebagai nama orang tua calon bayi tersebut.

__ADS_1


Terdapat juga gambar dan keterangan bahwa berusia sudah 12 minggu.


“Terimakasih Nona.” Ucep petugas itu kemudian ia mengambil kertas yang yang ada di tangan Aleea, kemudian mereka berjalan kembali untuk menembus vitamin untuk Syeila.


Tubuh Aleea melemah, airmata nya sudah mengalir deras tanpa izinnya.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


Tangisan Aleea akhirnya pecah.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


“Ke..kenapa ka..u..u teh..tega.” Ucap Aleea di tengah-tengah tangisnya sambil berkata sambil terbata.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


“Sakitt,” Ucapnya kembali, masih dengan posisi duduk sambil menangis Aleea menepuk-nepuk dadanya agar tidak terlalu sesak yang ia rasa. Sudah beberapa kali Aleea mencoba menepuk dadanya bukannya makin sedikit tenang melainkan semakin sesak yang ia dapat.


Aleea tidak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang melihatnya.


Aleea mencoba berdiri mencari tempat yang sunyi untuk menumpahkan semua tangisannya. Tapi baru beberapa langkah ia tak mampu menopang tubuh. Ia berjongkok untuk menopang tubuhnya sambil bersender dinding.


Ia berjongkok dengan tangan yang seperti memeluk tubuhnya sendiri, wajahnya ia sembunyikan dilipatan tangannya. Lama ia dengan posisi itu.


Sedangkan disisi lain terlihat seorang pria yang baru saja selesai memeriksa kesehatannya secara rutin, sedang memperhatikan Aleea dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Pria itu melihat Aleea mulai dari memasuki rumah sakit ini, Aleea yang pura-pura sembunyi dan berakhir menangis seperti ini.


Semua yang dilakukan aleaa terlihat jelas di kedua matanya.


Pria itu tidak menggubris perkataan asistennya melainkan pria itu menghampiri Aleea yang berada di beberapa meter di depannya.


Pria itu membuka jasnya ketika sudah berada didepan tubuh Aleea yang masih dengan posisi jongkok dengan kedua tangannya memeluk tubuhnya.


Pria itu meletakan jasnya tepat berada di kepala Aleea yang menuruti hampir seluruh tubuhnya saat posisi seperti itu.


Ia melihat Aleea terkejut dengan mendongakan kepalanya dengan airmata yang masih membasahi pipinya.


Mata mereka saling bertatap beberapa menit.


Aleea mencoba melepaskan jas yang ia pakaikan yang berada di atas kepalanya.


“Sudah jangan kamu lepas, kamu pakai saja itu. Aku yakin setelah kamu sadar, kamu akan malu melihat apa yang kamu lakukan.” Ucap pria itu kemudian ia merapikan kembali jas yang sempat Aleea lepas ke posisi semula. Kemudian ia melangkahkan kaki nya berjalan ke arah luar Rumah Sakit itu.


Flashback off


Airmata Aleea kembali menetes segera ia hapus.


“Aku ingin Sean menjadi Rumah ku, tapi Sean sudah memiliki rumahnya sendiri.” Gumam Aleea sambil meninggalkan toilet itu.


Rumah yang Aleea maksud adalah seseorang yang bisa ia jadikan sandaran dikala ia merasa sedih dan senang, yang dapat memeluknya dan memberikan kata-kata semangat untuknya.

__ADS_1


Rumah yang selalu ia jadikan tempat yang paling aman dan nyaman untuknya dan keluarganya.


...****************...


“Maaf mah. Alee lama sampai disini.” Ucap Aleea yang menyembulkan kepalanya sambil menampilkan senyuman manisnya.


“Tidak apa-apa sayang.” Ucap Regina sambil melambaikan tangannya memanggil Aleea untuk mendekat.


“Sean bilang ia dalam perjalanan pulang. Mungkin besok atau lusa sudah sampai.” Ucapnya kembali.


Aleea mendengar nama suaminya dan kejadian yang baru ia lihat, ia tidak habis pikir apa yang akan terjadi kepada kedua orangtuanya dan Sean jika mereka tau kalau Sean akan memiliki seorang anak dari kekasihnya.


“Apakah aku yang harus mengalah dan melepaskan Sean untuk memberikan kebahagiaan Sean untuk membuat rumah buat anaknya dan kekasihnya itu. Atau ia harus tetap bersama Sean untuk kebahagiaan dirinya.” Batin Aleea.


“Sayang! Kamu tidak apa-apakan? Kamu dan Sean tidak bertengkar kan?” Ucap Regina sambil membawa Aleea kepelukannya.


Aleea memejamkan kedua matanya mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan mertuanya.


“Alee dan Sean baik-baik saja Mah. Beberapa hari ini Alee dan Sean sama-sama sibuk jadi kurang bisa berkomunikasi.” Ucap Aleea yang membalas pelukan mertuanya itu yang tak kalah erat.


“Syukurlah kalau begitu Mama senang mendengarnya.” Balas Regina.


“Mah! kita pulang sekarang atau masih ada yang mama tunggu disini?” Tanya Aleea.


“Sebentar lagi ya sayang. Kita tunggu Papa bangun setelah itu kita baru pulang.” Balas Regina yang di jawab anggukan oleh Aleea.


Aleea duduk di sofa sebelumnya ia meletakan tas dan jas milik pria itu. Ketika Ia sedang asik memainkan ponsel miliknya terhenti ketika mertuanya memberikan ponsel mertuanya di depan wajahnya.


Aleea mengerutkan dahinya karna ia binggung maksud dari mertuanya memberikan ponsel miliknya kepada Aleea. Seakan ia mengerti pikiran Aleea ia segera berucap “Sean! Ia ingin berbicara kepadamu.” Kemudian ia memberikan ponselnya kepada Aleea yang di terimanya langsung.


Aleea : Hallo...


Sean : Tidak usah bicara macam-macam sama orangtua ku. Awas saja kamu bilang yang tidak-tidak!!


Kemudian Sean mematikan panggilannya sepihak.


Aleea : Iya. Kamu hati-hati dijalan. Aku matikan ya panggilannya.


Aleea terpaksa bicara seperti itu, ia tidak ingin mertuanya menggetahui seperti apa yang sebenarnya pernikahan mereka. Kemudian ia membalikan ponsel yang ia pegang kepada pemiliknya yaitu Regina.


Setelah hampir kima puluh menit mereka melihat Revan sudah bangun. Mereka segera membereskan barang-barang yang akan mereka bawa pulang.


“Sayang! Itu milik siapa? Perasaan mama tidak membawa itu kemarin.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah jas yang Aleea bawa tadi.


Deg!!


“My God. Ayo Alee berpikir.” Batin Aleea.


“Oh. Itu milik Aleea mah, tidak sengaja Alee tadi menabrak seseorang didepan dan jas yang ia pakai terkena kopi yang bari ia minum. jadi Alee berniat untuk mencucinya.” Ucap Aleea.

__ADS_1


Aleea sengaja berbohong, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya kenapa ia terlambat datang kesini.


__ADS_2