
“Kenapa dengannya,”
“Kenapa dia seperti terburu-buru,”
“Apa yang sedang terjadi,” Gumam Aleea sambil melihat kearah Sean yang dipenuhi dengan rasa penasaran.
...****************...
Aleea sekarang berada di sebuah Taman yang terletak di pinggir kota N.
Taman tersebut memiliki sebuah Danau yang sangat indah.
Aleea jika memiliki masalah ia selalu datang kesini.
Pemandangan yang indah membuat Aleea betah berlama-lama disini.
Aleea mendongakan kepala menghirup udara sebanyak-banyaknya. Angin bertiup mengenai wajahnya membuat rambutnya sedikit berantakan.
Beberapa menit Aleea dalam posisi itu, tiba-tiba seseorang duduk disampingnya sambil memejamkan mata.
Aleea hanya melihat sekilas seorang yang duduk disampingnya, lalu ia melanjutkan kembali mendongakan wajah kan ke atas.
“Alee, lama tak jumpa?” Ucap seseorang yang disampinganya dengan nada lembutnya.
Mendengar pertanyaan itu membuat mengerutkan keningnya, Aleea melihat kearah yang telah duduk disampingnya.
“Yang benar saja. Kita Kemarin baru saja bertemu Xander,” Ucap Aleea.
Ya seseorang yang berada disamping Aleea adalah Xander.
“Tapi itu kan kemaren Aleea,”
“Kamu kan tau, kalau aku tidak bisa jika satu hari tidak melihat mu.” Ucap Xander yang sedang menampilkan wajah dengan tatapan lembut melihat Aleea.
Mendengar itu Aleea tidak berkomentar apapun, karna jika Aleea membalas perkataan Xander, maka pasti panjang jawabannya.
“Kamu kenapa bisa berada disini?” Tanya Aleea yang duduk sedang menatap Xander.
Aleea tau rumah Xander jauh dari taman ini. Taman yang letaknya jauh dari pusat kota. Membutuhkan waktu satu jam dari pusat kota ke Taman ini.
“Menenangkan diri,” Jawab Xander sambil melihat Aleea sekilas kemudian mengangkat wajahnya keatas dan memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Jawaban Xander otomatis membuat Aleea langsung melihat ke arah Xander sekilas, dapat Ia lihat wajahnya terlihat sedikit memar dan tidak tampak wajah ceria seperti biasa yang selalu ia perlihatkan.
Mereka diposisi itu hanya berdiam diri dengan pikiran masing-masing-masing tanpa ada yang bersuara.
...****************...
“Kenapa langitnya ga bagus sih?”
“Seakan dunia ikut serta tidak berbahagia dengan pernikahanku,” Gumam gadis yang masih menatap ke jendela yang terlihat memiliki embun hujan.
Perasaan yang tidak bisa di dideskripsikan antara sedih atau senang, bahagia atau si suatu yang tidak dapat diungkapkan.
“Nak!”
Terdengar suara bariton yang terdengar serak itu memanggil.
Aleea menoleh menatap ke arah pria paruh baya dengan setelan jas rapi yang berdiri diantara pintu menatapnya dengan tatapan lembut.
Tak ada jawaban, manik biru gadis itu menatap lirih. Ekspresi yang tidak menunjukan perasaan bahagia namun bukan ekspresi kesedihan juga.
“Gugup? Jangan khawatir papa akan bersama kamu,” ucap Aldrich pada putri tersayangnya.
Aleea di pasangkan kalung di lehernya agar tidak terlalu polos dan dikepalanya terpasang Veil. Ia Membawa beberapa tangkai mawar merah tanpa diikat.
“Kita pergi sekarang, Sean sudah menunggumu di altar.” Ucap Adrich.
“Bisa beri aku waktu sebentar Pa?”
“Oh tentu saja sayang..” Ucap Adrich sambil duduk di kursi yang berada di ruangan itu.
Aleea berbalik lagi dan menatap dirinya di cermin. Dadanya berdentum kuat. Satu tangan ia bawa mawar di pangkuan sementara tangan lain meraba debaran di dadanya.
Tidak ada kalimat yang terucap pada dirinya sendiri selain hanya tatapan dalam.
Aleea menarik napas dalam-dalam. Dia akan menikah, tetapi tak seperti pernikahan normal pada umumnya yang saling mencintai.
Aleea menarik Veil menutupi seluruh kepalanya. Lalu ia menggenggam tangkai bunga mawar merah yany akan ia bawa.
Adrich mendampingi dirinya. Mereka Menuju Taman yang sudah di dekorasi menjadi tempat yang sangat Mewah. Taman yang di depannya memiliki sebuah danau. Pencahayaan yang cukup membuatnya tempat itu terlihat indah.
Aleea memejamkan mata lalu pandangan Aleea detik itu menatap lurus pada Sean yang berdiri di depan altar.
__ADS_1
Terlihat gagah dalam balutan jas berwarna abu- abu.
Kaki Aleea melangkah maju. Menuju dimana Sean berdiri.
Sisi kiri ada kedua orangtua Sean duduk bersama keluarga lainnya.
Sedangkan di sisi kanan, terdapat Mama Aleea dan keluarganya terdekatnya saja.
Tapi ada salah satu orang yang dikenalnya juga sedang duduk disana dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan antara senang atau sedih.
Dia adalah Xander, sosok yang menatap Aleea dengan tatapan yang sulit diartikan.
Adrich menyerahkan tangan Aleea yang dingin itu pada Sean. Tatapan mata mereka beradu meski Vail terpasang dikepala Aleea. Keduanya menghadap altar.
Seorang pendeta memulai proses demi proses. Pikiran Aleea tidak di tempat saat pembacaan itu. Hingga mereka berdiri berhadapan, kemudian mendengar Sean mengikrarkan janji pernikahan di depan semua orang dan Tuhan.
“Aleea Steinfeld.. aku, Allesio Sean Cullen memilih Engkau menjadi pendampingku, istriku. Aku berjanji setia kepadamu dalam keadaan suka maupun duka, di waktu sehat maupun sakit. Aku akan mencintai dan menghormatimu seumur hidupku.” Ucap Sean
Sean kemudian memasangkan cincin di jemari manis Aleea. Cincin yang mereka pilih, sangat cocok di pakai oleh Aleea. Semua orang melihat kearah pasangan di depan yang sedang mengikrarkan janji suci.
Aleea menarik napas dalam-dalam. Bibirnya perlahan bergerak, detik itu ia harus berikrar, namun keraguan masih menyelubungi hatinya.
Dia memejamkan mata sekilas, mengatur nafas yang terasa semakin menyempit. Mata Aleea mulai terbuka, bertubrukan dengan tatapan tajam dari manik berwarna biru itu. Manik mata yang serupa dengan warna Matanya.
Dadanya semakin berdebar. Aleea mencengkeram tangan Sean. Sementara tangan lain memegang erat tangkai bunga mawar yang di pegangnya.
“Allesio Sean Cullen.. aku, Aleea Steinfeld memilih Engkau menjadi pendampingku, suamiku. Aku berjanji setia kepadamu dalam keadaan suka maupun duka, di waktu sehat maupun sakit. Aku akan men.. mencintai dan menghormatimu seumur hidupku.” Ucapnya dengan suara gemetar. Tepat saat itu air matanya jatuh.
Aleea memasangkan cincin dengan tangan gemetar di jari manis Sean.
Pendeta mengucapkan sesuatu pengesahan untuk mereka hingga meresmikan hubungan mereka, “mulai detik ini kalian menjadi suami-istri yang sah di hadapan Tuhan,”
Tuan Cullen.. kau boleh melihat wajah istrimu dan menciumnya.
Sean mendekat, menaikkan Veil. Aleea sedikit menunduk. Sean meraih wajah Aleea, mengagumi wajah cantiknya yang sempurna. Gadis itu kini telah menjadi miliknya, istrinya.
Sean memegang dagunya. Ia memiringkan wajah, kemudian menyatukan bibir mereka.
Sehingga mengantarkan sebuah desiran hangat di hati masing-masing.
Bersambung...
__ADS_1