Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Rasanya Sakit Sekali?


__ADS_3

Aleea tengah berada di kamarnya yang ada di rumah kakak nya. Setelah beberapa menit yang lalu Aleea sampai diruangan itu. Dengan memakan waktu sekitar tiga puluh menit dari bandara ke rumah kakaknya. Sedangkan keluarga aleea yang lain nya masih berada di ruang keluarga.


Aleea berdiri di depan balkon yang akan menjadi kamarnya. Ia mengingat beberapa jam yang lalu ketika ia masih berada di bandara.


Flashback


Aleea masih berada di dalam pelukan mama mertuanya. Ia merasakan usapan pelan di punggung nya. Aleea hanya memejamkan matanya. Ia memeluk erat wanita yang ada di depannya kemudian memegang kuat baju yang di pakai mertuanya. Ia menggigit pipi bagian dalam agar tangisan nya tidak pecah.


Sedangkan Regina yang merasakan tubuhnya di dekap erat oleh Aleea hanya memberikan usapan lembut di punggungnya.


“Menangislah sayang jangan di pendam,” ucap Regina dengan lembut. Perkataan itu membuat tangisan Aleea akhirnya pecah juga.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


Aleea menangis dalam dekapan Regina. Ia hanya membiarkan Aleea menangis menyalurkan semua rasa sakit dan kecewa yang selama ini ia pendam.


Merasa Aleea sudah sedikit tenang, ia melepaskan pelukan mereka kemuadian menghapus bekas air mata di wajah Aleea.


“Sudah ya sayang. Sudah cukup menangisnya.”


“Mama harap kamu mendapatkan kebahagiaan disini,”


Ucapnya kemudian memberikan kecupan di dahinya. Aleea hanya memejamkan matanya ketika merasakan dahiny di beri kecupan.


Aleea bukannya membalas perkataan Regina, ia malah berkata, “Maafkan Alee ya mah, Alee tidak bisa menjadi menantu yang baik untuk mama,”


“Maafkan alee tidak bisa mempertahankan pernikahan aleea.”


Ucap aleea dengan suara serak karna habis menangis.


“Jangan minta maaf sayang. Kamu tidak salah disini tapi putra mama yang salah.”


“Perlu kamu ingat sayang, kamu bukan hanya sekedar menantu bagi mama. Tapi mama sudah menganggap kamu putri mama. Putri dari keluarga Cullen.”


“Bahagia selalu ya sayang,”


Ucap Regina dengan suara lembut.


“Apakah mama masih bisa mengunjungi kamu kesini lagi jika mama kangen dengan Alee?” Tanya Regina.


“Mama bisa mengunjungi Aleea kapan pun mama mau,” Ucap Aleea.


“Ta-tapi Mah,” ucap Aleea dengan sedikit keraguan. Sebelum ia melanjutkan perkataannya sudah dipotong oleh Regina.


“Mama tidak akan memberitahu Sean sayang. Kamu percaya sama mama,” Ucap Regina.


“Alee harap mama jangan memarahi Sean, dia sudah dewasa dan tau mana yang baik dan tidaknya untuk hidupnya.”


“Alee ingin siapapun wanita pilihan Sean, mama dapat merestuinya.


Ucap Aleea yang di balas anggukan oleh Regina.


Flashback Off

__ADS_1


Lamunan Aleea tersentak dari lamunannya ketika gadis kecil itu terus memanggil namanya.


“Onty! kenapa diam saja?” Tanya Alice yang sejak tadi gadis kecil itu selalu mengikuti Aleea kemana pun ia berada. Bahkan untuk saat ini Alice bersamanya tepat berada di sampingnya. Ntah sejak kapan gadis itu berada di sampingnya.


Aleea menatap wajah gadis itu yang mendongakan kepalanya melihat ke arah Aleea. Ia lihat gadis itu Sudah berganti baju tidak menggunakan pakaian ketika menjemputnya.


“Tidak apa-apa sayang. Onty hanya capek sedikit,” Ucap nya sambil mengelus wajah gadis itu.


“Onty mandi saja dulu, terus tidur. Mommy bilang onty pasti lelah karena perjalanan kesini sangat lama.” Ucap gadis itu.


“Tapi Onty, Alice boleh tetap di sini saja yah? Alice masih ingin bersama onty.” Lanjut gadis itu dengan suara yang mengecil.


“Iya sayang. Alice boleh disini, ayo kita masuk kedalam” Ucap Aleea, kemudian ia memgendong Alice dan membawa langkah kakinya masuk kedalam kamarnya kemudian meletakan Alice duduk di kasurnya.


“Alice disini dulu yah, onty mandi dulu,” Ucap aleea kemudian berjalan kearah kamar mandi.


… Sedangkan di sebuah kamar yang terdapat seorang pria yang tengah meratapi nasibnya. Pria itu menangis tidak ada hentinya.


Prang!!


Brak!!


Suara benda berjatuhan akibat ulah Sean yang melampiaskan kemarahannya dengan membanting semua barang yang ada dikamarnya.


Hikss Hikss Hikss


Tangisan pria itu pecah. Sambil memegang dadanya yang terasa sangat menyakitkan.


Sean menjatuhkan dirinya ke lantai karena tidak mampu menopang berat beneran tubuhnya.


Hikss Hikss Hikss


“Aku harus mencari kamu kemana By,”


“Kenapa kamu tega menyiksa aku seperti ini By,”


“Kamu dimana By,”


Ucap Sean yang masih posisi terduduk di lantai.


Hikss Hikss Hikss


Aaarrgghh!!


Suara Sean berteriak sekuat tenaganya. Sedangkan Pelayan yang berada di luar ruangan itu sangat khawatir. Mereka menunggu Justin yang beberapa menit lagi akan sampai. Sejak tadi mereka mengetuk pintu kamar Sean tapi tidak ada jawaban sama sekali. Sehingga kepala pelayan harus menelepon Justin untuk melihat keadaan tuan nya yang berada di dalam kamar nya.


Prang!!


Prang!!


“Sejak kapan tuan Sean memecahkan barang-barang di dalam?” Tanya Justin ketika sampai di depan kamar Sean.


“Tuan Sean seperti itu setelah anda meninggalkan ruangannya beberapa menit setelahnya tuan Sean mengamuk di dalam kamarnya,” Ucap kepala pelayan tersebut menjelaskan keadaan Sean.

__ADS_1


Prang!!


Aaarrgghh!!


Terdengar suara seseorang dari dalam sana. Justin mendekatkan dirinya ke depan pintu kamar Sean.


Tok Tok Tok!!


“Tuan, buka pintunya ini saya Justin tuan,”


“Tuan. Anak buah kit sudah mencari keberadaan nona Aleea, pasti kita akan menemukan nona Aleea.”


“Tuan. Jangan seperti ini, jika tuan sakit siapa yang akan menemui nona Aleea.”


Ucap Justin di luar kamar tersebut sambil terus mengetuk pintu pintu ruangan tersebut.


Hanya dalam kurun waktu tiga menit setelah suara ketukan tersebut berbunyi, pintu kamar Sean sudah terbuka lebar.


Dapat mereka lihat keadaan tuannya saat ini sangat memprihatinkan, terdapat luka di bibirnya yang darahnya sebagian sudah mengering dan di ujung hidungnya. Jangan lupakan tangan yang sejak tadi darah terus menetes dan beberapa luka yang terlihat darah yang sudah mengering.


Justin yang melihat Sean masuk ke dalam ruangannya, ia juga mengikuti Sean tepat di belakangnya yang diikuti beberapa pelayan di belakangnya. Ia melihat kamar yang baru beberapa menit ia tinggal dengan barang-barang yang tadinya tersusun rapi kini sudah tidak tahu dimana tempatnya. Kamar ini sangat berantakan.


BRUK!!


Tubuh Sean terjatuh diatas lantai yang dingin. Ia mencoba mencoba untuk berdiri tapi tetap saja tidak bisa.


BRUK!!


Sean kembali terjatuh.


Ketika ia ingin kembali berdiri tubuhnya di tahan oleh Justin.


Dengan mata yang berkaca-kaca.


“Rasanya sakit sekali, rasanya ingin mat*,” Ucap Sean.


“Apa yang harus aku lakukan Justin?” Ucap kembali sedikit mendongakan wajah nya melihat Justin dengan posisi Justin yang menopang berat tubuhnya menggunakan kedua lulutnya. Tatapan mata Sean sangat menyedihkan terlihat kesediahan dan penyesalan di sana.


“Kita obati dulu luka anda tuan,” Ucap Justin yang menopang tubuh sean untuk berjalan keluar dari ruangan itu.


Sean hanya berdiam diri menerima perlakuan Justin, ia menidurkan tubuhnya di atas kasur yang Aleea tiduri sejak pertama kali mereka menikah.


“Maaf tuan jika saya lancang memasuki kamar nona Aleea.” Ucap Justin.


Setelah ia melihat sean yang telah berada di atas kasur, ia langsung menelepon dokter keluarga yang biasa memeriksa keluarga Cullen jik ada yang sakit.


Beberapa menit kemudian dokter itu datang dan memeriksan Sean yang masih tertidur di atas kasur. Justin hanya melihat dokter tersebut mngobati luka yang ada di sekitar wajah dan tubuh tuannya. Ia hanya melihat dengan jarak yang tidak jauh dari posisi tuannya.


Justin meninggalkan ruangan Sean ketika melihat tuannya sudah tenang tertidur diatas kasur dan lukanya sudah di obati oleh dokter tersebut.


“Bik. Jika ada sesuatu dengan tuan Sean, segera hubungiku. Saya akan kembali ke kantor untuk meneruskan rapat yang sempat tertunda.” Ucap Justin kepada kelapa pelayan tersebut.


“Baik tuan,” Ucap pelayan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2