
“Sudah jangan kamu dengeri ya By apa yang di ucapkan Oma tadi.” Ucap Sean yang menidurkan Aleea diatas kasur miliknya.
“Yang mengenal kamu itu aku bukan mereka.” Lanjutnya sambil meletakan dagunya di atas puncak kepala Aleea.
Aleea hanya diam sedari tadi tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Airmata kembali membasahi pipinya sehingga membuat baju yang Sean gunakan ikut basah karena Aleea tidur dengan berbantalkan dada bidang Sean.
“Apa kita pulang saja?” Tanya Sean yang mendapat gelengan dari Aleea.
“Tidak! Tunggu lima menit lagi, kita akan keluar dan berkumpul bersama mereka.” Ucap Aleea sambil memeluk erat tubuh suaminya, seolah menyalurkan semua rasa sesak di tubuhnya.
Beberapa menit kemudian Sean mendengar hembusan halus dari Aleea menandakan wanita yang berada di pelukannya sedang tertidur.
Ia angkat wajah istrinya membersihkan bekas airmata yang masih terlihat di wajahnya.
Ia beri kecupan di ke dua mata Aleea secara bergantian. Kemudian ia membenarkan selimut yang hingga menutupi tubuh istrinya sampai ke bahu.
Sean lihat Aleea sudah nyaman dengan posisi tidurnya ia memberikan kecupan di dahi sebelum meninggalkan kamarnya.
Ia melangkahkan kakinya menuruni tangga mencari salah satu pelayan untuk membawa minuman ke dalam kamarnya.
Ia melihat sekitar tampak sunyi, ruangan yang sempat membuat ia berseteru dengan Omanya tidak ada seorang pun di ruangan itu.
“Bik. Tolong bawakan minuman ke kamar saya.”Ucap Sean kemudian ia melangkahkan kakinya ke atas tangga untuk kembali kemarnya tapi belum sempat ia melangkahkan kakinya, ia sudah di panggil oleh mamanya.
“Sean!” Panggil mamanya yang tak jauh dari posisi ia berdiri.
“Langsung masuk saja bik, istri saya sedang tidur.” Lanjutnya kemudian ia mendekat ke arah mamanya.
“Mana Aleea nak? Dia baik-baik saja kan?” Tanya Regina dengan wajah yang terlihat sangat khawatir terhadap menantunya.
“Al sedang tidur mah, mungkin ia kelelahan menangis sehingga membuatnya mudah tertidur.” Jawab Sean.
“Apa setelah Aleea bangun kalian akan pulang?” Lanjutnya dengan menampilkan raut sedih yang mendominasi.
“Tidak tahu mah. Sepertinya Al masih ingin berkumpul dengan yang lain.” Ucap Sean sambil menyandarkan tubuhnya di sofa yang ia duduki dan memejamkan matanya.
“Lepaskan Aleea.” Ucap Revan yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
Ucapan Revan membuatnya membuka matanya dan menatap tak suka Papanya.
“Maksud Papa apa?” Ucapnya dengan nada dingin yang jelas tidak terima apa yang di ucapkan oleh Papanya.
“Lepaskan saja Aleea Sean. Jika kamu tidak bisa menjaganya.” Ucap Revan dengan nada yang santai.
“Papa menyesal menjodohkan kamu dengan Aleea, anak yang baik seperti dia tidak pantas bersanding dengan kamu.”
__ADS_1
“Seandainya Papa tahu kamu menyakitinya begitu dalam sudah dari awal Papa menjauhkan kamu dengannya.” Lanjutnya kembali.
“Yang benar saja kemarin begitu mudah untuk menikahkan dia dengan Aleea, sebelum rasa itu ada pada istrinya. Sekarang dengan mudahnya Papanya menyuruh dia meninggalkan istrinya disaat dia sudah mulai mencintai istrinya.” Batin Sean.
“Maaf Pah! Sean tidak bisa meninggalkan Aleea. Aku benar-benar sudah menyayanginya Pah.” Bantah Sean karena ia tidak akan dan sampai kapanpun akan berpisah dengan istrinya.
Ting!
Dering Ponsel Sean, ia segera ambil ponsel yang ada di saku celananya.
Bby ❤️ : Sean kamu dimana? Aku cari kok gak ada dikamar.
setelah Sean menerima pesan dari Aleea ia pamit kembali ke kamarnya menemui istrinya yang sedang mencarinya.
CEKLEK!
Di dalam kamar tidur yang ia inapkan saat ini, Aleea bisa melihat kenop pintu yang berputar. Suara pintu yang berdecit pelan, sebelum pintu tersebut terbuka perlahan. Menampilkan seorang pria dengan manik mata penuh keingintahuan, mengintip dari luar ruangan untuk melihat keadaan dalam.
Perlahan Sean membiarkan dirinya melangkah masuk, tetapi Aleea memilih untuk tetap tidak acuh. Ia sibuk dengan melihat ponselnya sendiri, sampai suatu saat Sean yang terlebih dahulu menghampiri dirinya dengan jarak yang lebih dekat.
Sean mengelus puncak kepalanya, sebelum memanggil, “By, kamu lagi apa?”
Ucapan Sean membuat Aleea mengalihkan pandangan menatap Sean yang sudah duduk di sampingnya.
“Balas chat di grup. Mereka mengajak malam ini untuk kumpul.” Jawab Aleea.
“Kenapa?”
“Aku ingin mengenal keluarga besar mu.”
“Terimakasih ya” Ucap Sean yang memberikan kecupan di dahi Aleea.
Ia sangat bersyukur memiliki istri seperti Aleea gadis yang sangat baik dan dewasa. Walaupun usianya masih muda tapi pemikirannya sangat bijaksana.
Cup!
Aleea tersentak mendapat kecupan tiba-tiba di bibirnya. Sean mendekatkan wajahnya ke arah Aleea yang mulai menutup matanya. Ia tahu bahwa Aleea memberikan jawaban setuju.
Sean mulai mengecup bibir Aleea dengan lembut.
Aleea melenguh. Bibirnya lalu terbuka, memberikan akses masuk untuk lidah Sean agar semakin dalam mengakses rongga mulutnya. Lidah mereka pun saling bertemu. Menyapa satu sama lain, hingga berakhir dengan saling lilit dan bertukar saliva hingga terdengar suara kecipak basah. Tangan Aleea lantas naik. Ke arah surai hitam kecoklatan milik Sean lalu merematnya. Menyalurkan rasa enak yang ia terima dari permainan lidah mereka.
Sean menyesap mulut Aleea dengan gerakan hati-hati, sekali-kali, ia gigit dengan lembut lalu dihisap pelan.
Menubruk dan mengejar sensasi manis yang tadi ia rasakan. Tanpa seinci pun terlewati, Sean menyesap dan membasahi tiap bagian bibir istrinya. Matanya terpejam, menikmati pagutan dalam jarak yang cukup intim itu tanpa celah. Hingga bengkak, Sean terus menggigit bibir Aleea perlahan. Dia menyapa Aleea sebentar sebelum melanjutkan menjilati bibir atas Aleea. Terus mengabdikan dirinya pada inti Aleea, berbagi kehangatan dan kasih sayang yang nyaman dengan cara yang tidak pernah terpikirkan oleh Aleea.
Bugh! Bugh! Bugh!
__ADS_1
Aleea memukul dada Sean untuk menghentikan ciuman mereka. Seolah Sean mengetahui istrinya kehabisan nafas ia melepaskan panggutan tersebut.
Huh! Huh!
Aleea menghirup udara sebanyak-banyaknya. Setelah mendapat banyak pasokan udara Aleea langsung memprotes sean.
“Kamu ingin membunuhku?” Ucap Aleea dengan nada kesalnya.
“Hahaha! Mana mungkin aku ingin membunuhmu By.” Ucap Sean.
Cup!
“Manis,” ucap Sean ketika memberikan kecupan yang terakhir.
Aleea melihat kearah Sean dengan memicingkan matanya. Bukannya takut, Sean malah semakin di buat gemes oleh istrinya.
“Sean! Sakit!” Ucap Aleea sedikit berteriak setelah merasakan pipinya yang di gigit oleh Sean.
“Abisnya kamu gemesin banget sih, jadi pengen aku makan.” Ucap Sean dengan senyum yang masih setia di bibirnya.
“Gak jelas banget sih,” ucap Aleea dengan pipi yang merona.
“Yaakk Sean! Apa yang kamu lakukan?” Teriak Aleea ketika tubuhnya merasa melayang ke udara.
“Ayok kita mandi. Kita sudah di tunggu sama yang lain.” Ucap Sean yang masih menggendong Aleea yang berada di depannya. Mengendong Aleea seperti anak koala.
“Aku bisa mandi sendiri,”
“Ckkk! Lama By kalau mandi sendiri-sendiri.”
“Aku bisa mandi di kamar tamu,”
“Kamar tamu sudah terisi,”
“Iya. Ta-tapi ak-aku bisa menunggu kamu dulu yang mandi.”
Blam!
Suara pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. Terdengar samar-samar suara pasangan suami istri itu yang sedang mandi bersama.
“By. Balik belakang.” Suara Sean terdengar mendominasi di dalam ruangan itu. Aleea hanya mengikuti arahan Sean membalikan tubuhnya ke belakang.
“Mundur dikit By.” Ucap Sean kemudian ia menggosok punggung Aleea sambil memberikan kecupan-kecupan kecil di punggung polos aleea.
“Sttttt,” Tubuh Aleea merinding mendapatkan sentuhan-sentuhan halus dari tangan berurat milik Sean.
Sean mulai membersihkan seluruh tubuh Aleea tanda sedikit pun yang terlewatkan.
__ADS_1
Sedangkan Aleea yang mulai membersihkan tubuh Sean dengan tangan yang sedikit bergetar membersihkan tubuh Sean.