Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Ayo Kita Akhiri Hubungan ini!


__ADS_3

Derap langkah kaki yang terdengar dari seorang gadis baru saja memasuki parkiran mobil disebuah perusahaan yang terlihat sunyi.


Aleea memasuki mobil dan menyetir mobilnya kesalah satu Mall ternama. Ia telah berjanji kepada sahabatnya untuk bertemu di sebuah Mall untuk mencari beberapa perlengkapan untuk kuliahnya.


Selama tiga puluh menit Aleea telah sampai di sebuah Mall yang mereka sepakati.


Aleea melangkahkan kakinya ke sebuah restoran yang ada di dalam Mall tersebut.


“Alee!! disini.” Ucap Selena yang melihat Aleea memasuki restoran tersebut sambil melambaikan tangannya agar terlihat Alee dimana ia berada.


“Maaf. Aku terlambat. Kalian sudah memesan makanan?” Ucap Aleea yang baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi tepat di samping Selena.


“Sudah. Kamu Makan dulu gih.” Ucap Selena sambil memberikan makanan yang sudah mereka perasan kepada Aleea.


..... Sedangkan di sebuah perusahaan seorang asisten memasuki ruangan tuannya untuk mengantarkan makanan yang telah dititipkan oleh nonanya.


“Tuan. Ini makan siang anda dari nona Aleea.” Ucap Justin sambil meletakan tas pemberian Aleea diatas meja.


“Dimana dia sekarang?” Tanya Sean sambil melihat ke arah asistennya yang berada di depannya.


“Nona tadi sempat datang keruangan anda, tapi nona melihat anda ada tamu jadi beliau menitipkan makanan ini kepada saya.” Lanjutnya.


Perkataan asistennya mengingatkan kejadian beberapa menit yang lalu.


“Jangan-jangan Aleea melihat aku berpelukan dengan Syeila makanya dia segera pulang,”


“Kenapa dia tidak masuk saja,”


“Kenapa aku pusing memikirkan itu,”


“Bagaimana jika dia tidak percaya anak yang dia kandung bukan anakku.” Batin Sean.


Flashback


Sean yang sedang membaca berkas di meja kerjanya. Tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang beberapa hari ini di hindarinya.


CEKLEK!


Sean bisa melihat kenop pintu yang berputar. Suara pintu yang berdecit pelan, sebelum pintu tersebut terbuka perlahan. Menampilkan seorang wanita dengan manik mata penuh keingintahuan, mengintip dari luar ruangan untuk melihat keadaan dalam.


Perlahan Syeila membiarkan dirinya melangkah masuk, tetapi Sean memilih untuk tetap tidak acuh. Ia sibuk dengan membaca berkas yang berada d tangannya, sampai suatu saat Syeila yang terlebih dahulu menghampiri dirinya dengan jarak yang lebih dekat. Wanita itu duduk didepan Sean, sebelum memanggil, “Kamu masih sibuk yah? Bisa kita bicara sebentar?”


Sean mengarahkan wajahnya saat pertanyaan keluar dari bibir Syeila. Ia memberikan tatapan tajam kepada Syeila membuat yang ditatap binggung harus melakukan apa.


Suasana diruangan itu semakin tegang, bahkan AC yang menyala tidak terasa oleh Syeila. Ia yang semula yakin akan berbicara kepada Sean, malah sebaliknya ia tidak yakin hari ini adalah hari yang tepat untuk ia membicarakan semuanya.


Sean menarik nafas berat, seolah ada paku yang tersangkut di tenggorokannya, siap melukai pita suara agar kembali menyalurkan semua emosinya.


“Mau apa lagi kamu disini? Kurasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan!” Ucap Sean dengan nada dingin di suara baritonnya.


Syeila meneguk tenggorokannya yang kering, tubuh seketika menegang mendengar suara Sean yang begitu dingin. Ia menggenggam kedua tangannya di ujung Dress yang ia gunakan untuk mendapatkan keberanian membicarakan semuanya kepada Sean.


“Maaf,” Ucap Syeila dengan suara yang bergetar, hanya satu kata yang keluar dari bibir Syeila. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya sedikit kuat agar suara tangis tidak terdengar, air matanya mulai membasahi pipinya.


“Maafkan aku,”


“Maafkan aku,”

__ADS_1


“Maafkan aku,”


“Maafkan aku,”


Ucap Syeila dengan suara lirih yang masih dapat didengar oleh Sean.


“Aku sudah memaafkan mu, tapi aku tidak bisa kembali kepadamu.” Ucap Sean.


“Tapi satu yang ingin aku ketahui, siapa ayah dari anak yang kamu kandung.” Lanjut Sean.


Syeila mengangkat wajahnya melihat kearah Sean yang tepat duduk didepannya. Ia tidak peduli Sean akan menganggapnya seperti apa. Tapi yang ia inginkan hanyalah maaf dari Sean.


Airmatanya terus mengalir membasahi pipinya, dengan nada suara yang masih bergetar Aleea memberanikan diri untuk berkata.


“Terimakasih sudah memaafkan aku,”


“Terimakasih sudah tidak membenci anak yang aku kandung,”


“Terimakasih sudah menyanyangi dan menjagaku sampai hari ini,” Ucapnya sesekali mengahapus airmatanya yang semakin mengalir.


“Semoga kamu ditemukan oleh seseorang yang mencintai dan menyayangi dengan tulus.” Ucap Syeila dengan tulus.


“Tapi maaf aku tidak bisa memberitahu siapa ayah dari anak yang aku kandung.”


Suara Syeila memecahkan keheningan di ruangan itu, setelah beberapa menit tidak ada yang melanjutkan pembicaranya tersebut.


“Hahaha. Hidupku selama ini tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtua ku, tapi Tuhan memberiku anak yang tidak diinginkan oleh ayahnya.” Ucap Syeila dengan suara yang sedikit prustasi dengan hidupnya. Seolah takdir tidak ingin melihat ia bahagia sedikitpun.


Deg!


Mendengar perkataan Syeila membuat hati Sean juga sakit. Wanita yang selama ini ia jaga harus dirusak oleh seorang yang tidak bertanggung jawab.


“Sebelumnya aku memang berniat untuk menggugurkannya, tapi aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur menyayanginya. Biar saja aku tidak dapat kasih sayang orangtua ku tapi anak yang aku kandung jangan. Aku akan menyayanginya memberikan kasih sayang yang melimpah walaupun dia tidak memiliki ayah.” Ucap Syeila.


“Lagipula cuma dia yang akan jadi keluargaku satu-satunya setelah nenek sudah tiada,” Lanjutnya sambil mengelus perutnya yang masih rata dengan sayang.


Mendengar jawaban Syeila, Sean tidak tahu harus merespons seperti apa. Ia hanya diam mendengar apa yang sedang Syeila bicarakan.


“Ma-maaf! tak pernah sekitpun aku berniat mengkhianatimu.” Ucap Aleea.


“Seandainya aku malam itu tidak mabuk dan tidak berakhir di ranjang seseorang pasti tidak akan seperti ini.” Lanjutnya.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


Sean mendengus melihat seorang yang masih dia cintai didepannya, ia mendekat kearah Syeila masih menangis duduk didepannya. Sean bawa tubuh wanita ringkih itu kedalam pelukannya.


“Menangislah, tapi ini yang terakhir kalinya aku melihat mu menangis,” Ucap Sean yang masih memeluk Syeila, Ia berikan tepukan-tepukan kecil di punggung Syeila untuk menenangkan wanita itu yang masih menangis.


Hiks.. Hiks.. Hiks


Pertahanan syeila runtuh, ia menangis sesenggukan melepas semua beban yang selama ini ia tanggung.


Orang-orang hanya melihat kehidupannya yang sempurna memiliki karier yang bagus dan cintai oleh banyak orang.


Tapi mereka tidak tahu bahwa ia hanyalah seorang anak yang mengharapkan kasih sayang dari orangtuanya yang tidak pernah ia rasakan dari ia masih kecil.


Dilihat Syeila yang sudah sedikit tenang, Sean mencoba melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


“Biarkan seperti ini dulu, kumohon.” Ucap Syeila yang masih berada di dalam pelukan Sean. Biarkan ia merasakan pelukan hangat dari pria yang ia cintai untuk terakhir kalinya. Tak terasa air matanya mengalir kembali membasahi pipinya yang sudah mulai kering kembali basah.


Beberapa menit berlalu, Syeila melepaskan pelukannya sebelumnya ia menghapus airmatanya yang mengalir.


Syeila memberikan senyuman termanisnya, sambil mengulurkan tangannya ke arah Sean yang berada didepannya.


“Ayo kita akhiri hubungan ini! Ku harap kau selalu diberikan kebahagiaan,” Ucap Syeila dengan tulis yang menampilkan senyuman dibibirnya.


Sean tertegun mendengar perkataan Syeila, ia tahu Syeila wanita yang baik hanya saja takdir yang tidak menginginkan ia untuk hidup damai.


Ia sempat berpikir bisa saja Syeila jika ia wanita yang jahat dan licik pasti ia akan menjebaknya.


denagn mengatakan seolah anak yang di kandungnya adalah anaknya, dengan pura-pura ia dan Syeila sudah melakukan hubungan int*m dengan menjebaknya untuk tidur bersama atau menggugurkan anak yang di kandungnya.


Tapi ia hanya berdiam dan tidak melakukan apapun. Ia tidak ingin merusak hidup seseorang demi membuatnya dirinya bahagia.


“Ayo kita akhiri hubungan ini! Semoga kamu dan anak dalam kandunganmu selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan.” Ucap Sean sambil membalas jabatan tangan Syeila.


“Jika kamu butuh bantuan, kamu bisa menghubungi aku.” Lanjutnya kembali yang diberikan anggukan oleh Syeila.


“Aku pergi,” Ucap Syeila kemudian ia melangkahkan kakinya berjalan keluar ruangan tersebut.


Sean hanya memandang tubuh ringkih Syeila yang hilang sedikit demi sedikit ketika pintu ruangannya sudah tertutup rapat.


Flashback Off


Setelah selesai makan siang, Aleea dan ketiga temannya mulai mencari perlengkapan untuk kuliah mereka yang beberapa hari lagi akan menjalani kembali aktif sebagai mahasiswa.


Ketika sedang asik berbelanja, dering ponsel Aleea terdengar membuat ketiga teman itu menoleh melihat Aleea. Aleea mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya, dapat terlihat jelas nama penelepon yang memanggilnya.


Sean Calling…


Aleea membawa tubuhnya menjauh dari ketiga temannya. Sebelumnya ia sudah bilang kepada temanya jika ingin menjawab telepon dari Sean.


*Aleea : Hallo.* Beberapa detik Sean tidak menjawab pertanyaannya kemudian Aleea memenuhinya kembali. Sean kamu masih disanakan?


Sean : Iya. Aku masih disini.


Aleea : Kenapa meneleponku? Apa yang ingin kamu katakan?


Sean : Kenapa tidak langsung masuk keruanganku?


Aleea : Aku lihat kamu tadi ada kedatangan seorang tamu. Jadi aku tidak ingin mengganggu, aku ingin menunggu tapi aku ada janji dengan teman-temanku untuk belanja perlengkapan kuliah hari ini.


Sean : …


Aleea : Sean. Kamu kenapa sih?


Sean : aku.. hubungan aku dan Syeila sudah berakhir.


Aleea: …


Sean : Kamu dengar apa yang aku katakan?


Aleea : E-eh. Sean maaf temanku sudah memanggil aku tutup dulu yaa!


Aleaa mematikan panggilan teleponnya secara sepihak, ia tidak tahu harus merespons apa.

__ADS_1


“Jika hubungan mereka sudah selesai! Terus hubungan denganku apa?” Gumam Aleea sambil melangkahkan kakinya ke arah temannya.


__ADS_2