
Seorang wanita yang mendengar suara dari kamar mandi, ia melangkahkan kakinya dengan membawa infus yang ia dorong dengan perlahan.
Hoek.. Hoek.. Hoek..
“Kamu kenapa? Wajah kamu tampak lebih pucat”. Ucap seorang wanita melihat Sean yang duduk di atas closed.
Sean menatap wanita yang berada di belakangnya dengan membawa infus yang masih terpasang di tangan nya.
“Aku tidak apa-apa mungkin hanya masuk angin saja.” Ucap Sean yang mencoba membangunkan tubuhnya.
“Kamu, kenapa disini?” Tanya Sean kepada wanita yang berada di depannya.
“Kata dokter kamu tidak boleh banyak bergerak agar tidak mengalami pendarahan lagi.” Lanjutnya kemudian membantu wanita itu kembali ke atas kasur.
“Aku bosan, sudah beberapa hari tiduran terus.” Ucap wanita tersebut.
“Syeila!” Ucap Sean dengan nada datar.
Syeila yang merasa namanya di panggil dengan nada yang terdengar datar tapi tegas, ia segera mengikuti Sean untuk kembali ke atas kasur yang beberapa hari ini ia tiduri.
Wanita yang bersama Sean saat ini adalah Syeila, dia sudah beberapa hari di rawat di rumah sakit karena mengalami kontraksi dan pendarahan karena plasenta yang menutupi jalan lahir.
Selama beberapa hari ini Sean selalu mondar mandir dari kantor pulang ke rumah kemudian ke rumah sakit. Setiap hari selalu itu rutinitas yang ia lakukan beberapa hari ini. Tapi semua itu ia sembunyikan dari Aleea. Wanita itu tidak tahu jika Sean masih menjaga Syeila saat ini.
Sean tidak tahu apa yang terjadi ketika istrinya masih mengetahui jika dirinya masih mengurusi hidup mantan kekasihnya tersebut.
Flashback
Sean memasuki kamar nya, melihat istrinya yang berada di atas balkon kamar mereka. Sean berjalan mendekat ke arah Aleea.
Grep!
Aleea tersentak ketika tubuhnya di peluk dari belakang.
“By..” Ucap Sean dengan lirih.
“Hal yang paling buat aku bersedih adalah melihat kamu berantakan seperti ini,” Lanjutnya kembali.
Mendengar ucapan Sean, Aleea membalikan badan nya menghadap Sean tetapi tangan Sean masih berada di pinggang nya.
“Tapi aku juga tidak bisa seperti ini,” Ucap Aleea dengan suara yang lemah tapi masih bisa terdengar oleh Sean.
“Kalau kamu tidak bisa melepaskan Syeila dari hidup kamu,” Lanjut Aleea
“Ya uda gak papa, ngomong aja sama aku agar aku yang pergi dari hidup kamu,” Ucap Aleea dengan suara yang serak dan mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Aleea mendongakan wajahnya agar air mata tidak menetes di pipinya. Dadanya terasa sesak, kemudian ia berkata “Disini posisinya aku istrimu! Bukan dia!”
“Atau hanya aku saja yang merasa ingin mempertahankan rumah tangga kita?” Ucap Aleea kembali dengan suara yang sudah mulai bergetar.
Sean mengelengkan kepalanya bahwa ia tidak setuju dengan apa yang di katakan oleh Aleea.
“Aku sangat sangat ingin mempertahankan rumah tangga kita By.” Ucap Sean dengan lemah.
“Aku tidak ada niat untuk menyakiti kamu By,”
“Oke! Aku janji, mulai sekarang aku tidak akan selalu mengurusi Syeila.”
“Aku tidak akan ikut campur tentang masalahnya atau kasih perhatian apapun tentang kandungannya.”
“Beneran ya? Aku pegang janji kamu.” Ucap aleea
“Makasih kamu sudah mau bersabar.” Ucap Sean yang di beri anggukan oleh Aleea.
Sean bawa tubuh wanita nya kedalam pelukan, ia peluk tubuh wanita itu dengan sangat erat sambil ia mengelus surai indah istrinya. Seolah ini adalah pelukan yang terakhir.
Flashback off
“Kamu istirahat saja, aku akan panggilkan dokter untuk menanyakan tentang keadaan kamu.” Ucap Sean yang sudah melihat Syeila kembali ke atas kasurnya. Kemudian Sean melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
Sedangkan di tempat yang sama tetapi di ruangan yang berbeda seorang wanita yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke ruang untuk memastikan apa yang ia alami beberapa minggu ini.
Ruangan yang bertuliskan nama seorang dokter diatas pintu ruangan itu.
“Nona, ada yang bisa saya bantu?” Tanya dokter Daniella saat Aleea sudah duduk di tempatnya.
“Dokter sudah beberapa minggu saya telat menstruasi dan beberapa hari yang lalu saya mencek dengan menggunakan tespek hasil dua garis merah.” Jawab Aleea dengan menjelaskan secara rinci apa yang ia rasakan.
“Tapi saya tidak merasakan mual muntah dan tubuh saya rasanya sehat-sehat saja. Tidak seperti yang di alami oleh orang-orang ketika mereka hamil,” lanjut Aleea.
“Tidak semua wanita hamil merasakan mual dan muntah. Kalau ibu hamil tidak mual-mual, mungkin ini disebabkan oleh tubuh ibu hamil yang bisa cepat beradaptasi dengan kenaikan hormon kehamilan. Jadi, ibu hamil justru bisa dibilang termasuk dalam kelompok ibu hamil yang tubuhnya kuat dalam menghadapi perubahan pada kehamilan.” Jawab dokter Daniella.
“Untuk memastikan jika anda hamil atau tidak kita coba melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG),” lanjut dokter Daniella.
Aleea menaiki bed yang berada di ruangan tersebut. Asisten dokter mengangkat baju Aleea ke atas dan mengoleskan jelly di atas perut Aleea.
“Nona Aleea.. anda bisa lihat di layar monitor. Ini sudah terdapat kantong janin, usia kandungan sudah tujuh minggu.” Ucap dokter Daniella saat melakukan ultrasonografi (USG).
Deg!
Aleea meneteskan matanya saat melihat di dalam tubuhnya ada seorang janin.
__ADS_1
“Pasti Sean dan Mama akan senang mendengar kabar kehamilanku.” Batin Aleea sambil melihat layar monitor.
“Sehat-sehat kita ya sayang,” Lanjutnya kembali.
Setelah selesai melakukan ultrasonografi (USG) Aleea melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dengan di antar oleh asisten dokter Daniella untuk menebus vitamin.
Aleea melihat seseorang mirip dengan suaminya memasuki ruangan dokter.
“Itu Sean. Tapi untuk apa dia di sini.” Gumam Aleea yang menghentikan langkahnya.
“Nona. Apa anda baik-baik saja?” Ucap Asisiten dokter Daniella yang melihat Aleea tiba-tiba menghentikan langkah nya.
“Saya baik-baik saja. Maaf saya tadi melihat seseorang yang mirip suami saya disini,” Ucap Aleea.
“Mungkin hanya mirip saja.” Ucap Aleea pelan yang hanya ia mendengarkannya.
Mereka kembali melangkah kan kakinya untuk menebus resep vitamin.
… Sean melangkahkan kakinya yang di ikuti oleh seorang dokter di belakangnya.
Ceklek!!
Suara pintu di buka dari luar.
Tampak seorang wanita yang tertidur di atas bed sambil memainkan ponsel miliknya.
“Sean! Kamu sudah kembali.” Ucap Syeila dengan mata yang berbinar menatap Aleea yang masuk ke dalam ruangannya. Seketika wajah menjadi murung melihat seorang yang masuk juga ke dalam ruangan itu.
“Jangan kau pasang wajah seperti itu, biarkan dokter ini memeriksa mu,” ucap Sean yang melihat Syeila yang cemberut.
“Aku ingin pulang sekarang Sean. Please..” Ucap Syeila yang memberikan tatapan memohon.
“Tidak Syeila. Ikuti apa kata dokter.” Ucap Sean final.
Sean hanya melihat Syeila yang sedang di periksa di atas bed.
Bebebrapa menit Syeila di periksa oleh dokter penanggung jawab. Syeila di sarankan agar besok untuk pulang karena malam ini akan di berikan obat.
Perkataan dokter itu membuat Syeila semakin cemberut karena tidak bisa pulang ke apartemen nya.
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, membuat Sean harus pulang ke rumahnya.
“Aku pulang dulu, beberapa menit lagi Justin akan datang kesini untuk menjaga kamu.” Ucap Sean sambil mengemasi barang nya.
“Kamu jangan menyusahkan Justin. Nurut apa yang di katakan oleh nya.” Lanjutnya kembali.
__ADS_1
Kemudian Sean berlalu, keluar dari ruangan itu. Sedangkan Syeila Hany menatap punggung Sean yang sudah tidak tampak lagi karena pintu kamar itu sudah tertutup rapat.