Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
200 juta?


__ADS_3

Seorang pria yang memiliki tinggi 185 cm, kulit putih dengan rahang yang kokoh dan bentuk tubuh atletis serta memiliki mata indah dan bibir yang sedikit tebal, jangan lupakan wajahnya yang tampan dan menawan. Ia sedang berdiri tegap sambil membaca sebuah berkas yang berisikan tentang informasi gadis yang saat ini ia cari. Sesekali ia mengerutkan keningnya saat membaca informasi itu menandakan ada beberapa yang membuatnya binggung.


“Jadi dia seorang mahasiswi?” Ucapnya kepada bodyguard yang berada disampingnya tanpa memalingkan wajahnya dari berkas yang berada di tangannya.


“Terus kenapa ia harus tinggal pisah dengan orangtuanya. Siapa pria yang tinggal bersamanya itu?” Lanjutnya.


“Iya tuan, Nona itu seorang mahasiswi dan pria yang tinggal bersamanya seorang yang bertugas sebagai pilot. Tapi hubungan nona dengan pria itu belum bisa dipastikan ada hubungan apa yang sebenarnya. Semua media tidak ada yang menyoroti keduanya.” Ucap bodyguard itu menjelaskan secara detail tentang gadis yang selama ini mereka cari.


Kedua orangtua mereka memiliki perusahaan yang bekerja sama dengan tuan.


Mendengar itu pria tersebut menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya. jika orang yang melihatnya akan takut melihat itu.


...****************...


Aleea yang sedang menikmati sarapan pagi dengan ditemani oleh Sean. Setelah terbangun dengan posisi berpelukan saat di rumah mertuanya mereka sudah tidak secanggung dulu.


Selama empat hari mereka selalu menyempatkan untuk makan bersama baik itu sekedar sarapan pagi atau makan malam. Tetapi kamar mereka masih masih terpisah.


“Aku akan keluar sebentar, ada urusan yang akan aku urus.” Ucap Sean setelah selesai dengan sarapan paginya.


Aleea mendongakan kepalanya atas perkataan Sean. Pandangan mata mereka beradu saling menatap beberapa menit. Aleea yang segera memutuskan pandangan itu.


Deg. Deg. Deg.


“Kenapa dengan jantungku,” bathin Aleea sambil memegang dadanya merasakan debaran jantung yang cepat.


Sean yang tidak mendapat jawaban atas pertanyaan lalu ia melihat ke arah Aleea yang sejak memutuskan tatapan mereka berdiam dia.


“Aleea!” Ucapnya dengan suara bariton sambil memegang lengan Aleea yang berada di sampingnya.


“E.. Eh, iya.” Aleea terlonjak saat melihat Sean memicingkan mata di depannya.


“Kenapa? Aku panggilin bukannya jawab,” dengus Sean pelan.


“Kamu bilang apa tadi?” Tanya Aleea kembali pada Sean dengan melihat ke arahnya.


“Aku akan keluar, ada urusan harus ku selesaikan.” Ucapnya sambil menatap kembali Aleea.


“Yasudah, kamu mau makan malam apa? Biar aku masakan.”


“Apa saja,” lanjutnya. Aleea hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


Setelah Sean pamit untuk keluar. Aleea sedang bersiap untuk berangkat kuliah.


Aleea mengendarai mobilnya dengan hati-hati. Ditengah perjalanan ia mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak di kenal. Tetapi ia tidak menerima panggilan tersebut dan mendiamkan saja ponselnya sampai ponselnya mati dengan sendiri.


Tidak lama setelahnya ia mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal, jika dilihat itu nomor dari penelepon yang tidak di jawabnya.

__ADS_1


Aleea sudah sampai di parkiran kampusnya. Ia penasaran dengan penelepon tadi segera ia membuka pesan yang telah di kirimkan olehnya.


Membaca pesan itu mata Aleea membelalak kaget, tubuhnya mendadak lemas setelah membaca isi pesan tersebut.


+62853….


Saya Asisten dari mobil yang telah anda tabrak beberapa hari lalu.


Rincian dana memperbaiki mobil dengan jumlah 200 juta.


jika anda telah menerima pesan ini segera hubungi saya kembali.


“My God. Apa lagi ini, aku harus mencari uang sebanyak ini dimana. Tabungan aku saja tidak cukup untuk menggantinya. Tidak mungkin minta sama mama.” Aleea mendesis sambil menopangkan kepalanya di atas setir mobilnya.


“Aish, kenapa mahal banget memperbaiki mobil itu, apa mereka mencoba memerasku.” Lanjutnya. Kemudian ia mengambil ponselnya, ia mencari nomor yang tidak dikenalnya itu dan menelepon kembali nomor itu.


Panggilan tersebut tersambung.


Penelepon : Hallo, apa ini dengan nona Aleea?


Aleea : Iya. Dengan saya sendiri. Kenapa biaya perbaikan itu terlalu besar. Anda ingin menipu saya?


Penelepon : Maaf nona saya tidak menipu anda. Jika anda tidak percaya, bisa kita bertemu? Saya akan memberikan rincian biayanya.


Aleea : Baiklah. Dimana saya bisa menemui anda


Aleea : kirim saja alamatnya, saya akan kesana


Penelepon : baiklah, saya akan mengirim alamatnya


Tak lama panggilan tersebut terputus. Notifikasi ponsel Aleea berbunyi menandakan ada pesan masuk.


+62853 : lokasi📍


Ia hanya membaca saja pesan itu tanpa minat untuk membalasnya.


...****************...


“Hei, kamu kenapa? Sejak di dalam kelas ku lihat kau sangat lelah.” Tanya Shea yang di ikuti anggukan kedua temannya bahwa mereka setuju apa yang di ucapkan Shea.


“Tidak biasanya kamu begini,” lanjutnya.


“Kemaren sebelum aku ke apartemenmu, aku sempat menambrak mobil orang. Hari ini mereka menghubungiku untuk meminta ganti rugi sebesar 200 juta.” Balas Aleea sambil menenggelamkan wajahnya diatas lipatan tangannya.


Keesokan harinya setelah Aleea selesai kuliah ia bergegas ke alamat kantor yang telah dikirimkan. Sebelumnya ia sudah mengirim pesan jika ia akan datang hari ini.


Sekitar empat puluh menit ia telah sampai di depan gedung tinggi yang memiliki 48 lantai dengan bangunan yang sangat mewah.

__ADS_1


Tap tap tap


Suara kaki Aleea melangkah.


“Permisi mbak saya ingin bertemu dengan pak Aiden,” ucap Aleea pada Resepsionis, sedangkan resepsionis yang ada di depannya memandangi Aleea dari atas sampai bawah.


“Jadi ini kekasihnya pak bos. Sepertinya masih sangat muda.” Batinnya sambil melihat kearah Aleea, ia teringat waktu asisten Aiden bilang jika ada wanita yang bernama Aleea datang langsung antarkan ke ruangan Pak Aiden.


Aleea yang risih dilihat seperti itu kembali bersuara.


“Kak. Apa pak Aiden ada di ruangannya?” Tanya Aleea kembali.


“H..hah. Iya. Resepsionis itu terlonjak kaget, Mari saya antar ke ruangan pak Aiden.” Ucap resepsionis itu dengan sopan, Aleea mengikutinya dari belakang.


Mereka menaiki lift menuju lantai 48, sepanjang perjalanan dapat Aleea lihat pemandangan yang sangat indah dari dalam lift.


“Nona tunggu disini dulu, saya akan memberitahu Tuan jika nona sudah sampai.” Ucapnya pada Aleea yang berada di sampingnya yang hanya di balas anggukan.


Aleea duduk di kursi yang telah disediakan, mungkin ini untuk orang-karang yang akan datang menemui pemilik tempat ini.


Aleea memandangi punggung resepsionis itu yang semakin lama semakin jauh.


Sekitar sepuluh menit Aleea menunggu, akhirnya resepsionis itu keluar dengan raut wajah yang sulit di artikan.


Aleea tidak mau bertanya apa yang sedang terjadi.


Tok tok tok


Suara pintu di ketuk.


“Masuk,” jawaban dari seorang pria dari dalam.


Ceklek!


Suara pintu dibuka.


“Nona, Silahkan masuk Tuan sudah menunggu anda.” Ucap resepsionis itu sambil menundukan kepalanya.


“Sayang! Kamu sudah datang.” Ucap seorang pria dari dalam sambil memeluk ke Aleea begitu erat.


Glek!


Aleea gemetar, tubuhnya mendadak kaku, sulit untuk ia gerakan.


Deg.


Aleea melihat seseorang yang berada di ruangan itu dengan tatapan yang sulit di artikan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2