
Didalam sebuah kamar mewah terdapat seorang wanita yang sedang duduk di atas lantai.
Hiks.. Hiks.. Hiks..
Air mata Aleea mulai membasahi pipinya. Aleea hanya bisa meneteskan air matanya sesekali ia menepuk pelan dada nya karena terasa sesak.
Air matanya terus mengalir semakin deras seperti tidak mau berhenti.
Hiks.. Hiks.. Hiks..
Akhhh!!!
Suara tangis Aleea pecah.
Hiks.. Hiks.. Hiks..
Suara tangis itu masih terdengar jelas, tangis sangat memilukan.
Awww!!!
Aleea meringis merasakan sakit di bagian perutnya. Seakan ia tersadar jika ia sedang mengandung, ada sosok yang tumbuh di dalam rahim nya.
Aleea mengelus perutnya yang masih terlihat rata. Seakan tahu Mamanya bersedih, perutnya yang semula merasa sakit perlahan rasa sakit itu menghilang.
“Maafkan mama ya sayang.”
“Papa kamu lebih memilih tante Syeila dibandingkan kita.”
“Kamu jangan pernah benci Papa ya sayang,”
“Papa tidak salah, Mama yang seharusnya tidak menerima perjodohan ini,”
“Jangan benci Papa ya sayang, karena ada nya Papa kamu bisa ada disini.”
Ucap Aleea pelan sambil mengelus perutnya.
Hiks.. Hiks.. Hiks
“Gak apa-apa kan sayang jika kita berdua saja?”
“Mama janji kamu tidak kehilangan kasih sayang,”
“Mama akan jadi Mama dan juga sekaligus Papa buat kamu agar kamu selalu mendapatkan cinta.”
Gumam Aleea yang sesekali menepuk pelan dada Aleea.
__ADS_1
Hiks.. Hiks.. Hiks..
“Kita pulang ke rumah Oma dan Opa ya, pasti mereka sangat senang mendengar kehadiran kamu.”
“Maaf, mama belum sempat memberitahu Papa tentang kehadiran kamu disini,”
Ucap Aleea. kemudian ia melangkahkan kakinya ke untuk mengambil barang-barang miliknya yang akan ia bawa pulang kembali ke rumah orang tuanya.
Aleea mengambil koper dan memasukan baju dan barang-barang miliknya.
Ia mengambil tas miliknya dan meninggalkan beberapa kartu yang sempat Sean berikan kepada nya beberapa waktu yang lalu.
Aleea dengan berat hati untuk meninggalkan kamar yang hampir setahun ia tempati. Ia melihat setiap sisi ruangan itu seakan tersadar jika kamar yang ia tempati tidak ada foto dirinya sama sekali hanya ada foto Sean yang berada di atas meja belajar.
Aleea menarik napas secara perlahan untuk menghilangkan sesak di dada nya dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
Dengan perlahan kemudian ia memegang knop pintu tersebut untuk keluar dari ruangan itu.
Ceklek!!
Aleea menutup pintu kamar Sean dan berjalan ke bawah untuk berpamitan dengan pelayan dan supir yang berada di dalam rumah tersebut.
Aleea turun dari tangga dengan membawa dua koper yang berada di tiap tangan nya.
Seorang Pelayan yang nampak Aleea sedang mendorong koper bergegas membantu Aleea yang sulit menuruni anak tangga.
“Terimakasih pak.” Ucap Aleea ketika sudah sampai di bawah tangga.
“Nona.. nona mau kemana membawa koper ini?” Tanya pelayan dengan memberikan tatapan yang penuh dengan khawatir.
“Alee, ingin pulang ke rumah mama bik,”
“Titip rumah dan Sean ya bik.”
Ucap Aleea dengan lembut.
“Loh, nona tidak di antar tuan?” Tanya pelayan kembali.
“Tidak bik. Sean ada urusan sehingga Alee pergi sendiri,” Ucap Aleea dengan memberikan senyuman di wajahnya.
"Nona hati-hati ya," ucap pelayanan
"Tidak mau di antar saja nona? Sudah malam gini takutnya ada apa-apa di jalan," lanjut pelayan tersebut.
"Alee pergi sendiri saja bik, lagi pula belum terlalu malam juga," ucap Aleea.
__ADS_1
Aleea membawa langkah kaki nya menuju pintu utama ruangan tersebut.
Aleea melihat mobilnya sudah terparkir didepan, sebelum nya ia minta tolong kepada supir untuk membawa mobilnya agar di parkirkan di depan rumah.
Aleea melihat kebelakang, memandang rumah yang hampir setahun ia tinggali, terhindari dari hujan dan panas.
“Untuk kali ini aku benar-benar melepaskanmu..” Ucap Aleea lirih. Dengan berat hati Aleea melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil miliknya.
Aleea mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, air matanya kembali menetes mengingat apa yang terjadi selama ini. Setelah ia melihat di dalam rumah nya tidak ada sama sekali fotonya di rumah itu. Tetapi foto mantan nya masih tertata rapi di meja kerja.
Ia tidak bodoh, tapi ia hanya pura-pura tidak tahu akan hal itu. Ia percaya jika sean akan tulus mencintainya. Tapi disini hanya ia yang mencintai sean. Ia semakin tidak yakin jika sean akan menginginkan anak yang ada di kandungan nya. Karna ia pernah dengar jika sean untuk dua tahun ini masih belum menginginkan anak.
Chittt!
Suara rem dari mobil Aleea.
Aleea menepikan mobilnya di pinggir jalan raya yang tampak sunyi.
Tiiiiiinnnn!!!!
Suara klakson mobilnya terdengar sangat kuat, kepalanya ia jatuhnya di atas klakson tersebut.
Hiks.. Hikss.. Hikss..
Aleea menghapus air matanya dengan sedikit kasar agar segera berhenti. Tetapi bukanya berhenti malah sebaliknya airmatanya semakin mengalir deras.
Aleea terdiam sambil menangis di dalam mobilnya yang terletak di tengah jalan sunyi. Hujan mulai terdengar rintikan nya. Seakan alam ikut serta merasakan kesedihan yang ia rasakan.
Beberapa menit kemudian aleea melajukan mobilnya kembali di saat hujan mulai turun dengan deras. Aleea menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tiba-tiba dengan arah berlawanan terlihat sebuah truk yang oleng. Truk itu berjalan tidak seimbang seperti ingin jatuh.
Tiiiiiinnnnnnn!!!!!
BRUK!!!!
Suara mobil yang menambrak sebuah lampu jalan.
... Sean segera memasuki rumah sakit yang meneleponnya. Ia kari dengan sekuat tenaga agar sampai tepat waktu.
“Pak Sean. Bapak harus segera menanda tangani berkas ini,”
“Pasein di dalam sana sudah harus segera di tangani,”
Sean segera membaca dan langsung membubuhi dengan tanda tangannya.
__ADS_1
Sean menunggu didepan ruangan tersebut dengan hati yang gelisah.