Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Bersandiwara


__ADS_3

Setelah pertengkaran Aleea dan Sean yang membuat Sean pergi dari rumahnya.


Sudah hampir seminggu Sean tidak pulang ke rumah. Ntah pergi kemana Aleea tidak tahu. Weekend ini orangtua Sean akan berkunjung ke rumah mereka. Aleea tidak pernah sekalipun mengadu kepada orang tuanya atau orang tua Sean.


Aleea mengambil ponselnya yang berada di dekat nakas tempat tidurnya. Ia berjalan ke sofa. Setelah menemukan nama seseorang yang akan ia telefon.


Tuutt.. Tuuttt.. Tuuutt..


Suara nada telepon tersambung. Tapi sudah beberapa kali tidak di angkat.


Aleea memcoba menghubungi Asisiten Sean. Justin, yaa ia harus mencoba menelepon nomor asistennya itu.


Baru panggilan pertama telepon itu sudah tersambung.


Justin : Hallo Nona. Ada yang bisa saya bantu.


Aleea : Justin! Apakah kamu sedang bersama Sean?


Justin : Iya Nona. Say sedang di kantor bersama tuan. Ada yang ingin anda sampaikan atau anda ingin berbicara dengannya.


Aleea : Tidak!! Eh.. Maksudku aku tidak mau bicara dengannya. tong bilangkan sama Sean jika orang tua nya malam ini akan menginap di rumah kami.


Sean : Baiklah Nona. Tuan Sean sudah mendengarnya langsung jadi anda tidak usah khawatir kalau saya tidak menyampaikan pesan aanda.


Mendengar perkataan Asisiten Sean, Aleea segera mematikan panggilan tersebut.


Flashback


Sean mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Ia menyusuri jalanan yang masih sangat padat orang-orang yang melakukan aktivitas.


Ntah apa yang membuat ia sangat marah seperti itu.


Chiitt,


Suara rem dari pengendara mobil.


Pengendara itu keluar duduk di kursi kemudinya, hampir saja ia mengalami kecelakaan dikarenakan tiba-tiba di arah yang berlawanan ada mobil yang menyalip.

__ADS_1


Sean mengingat kejadian beberapa lalu saat dirinya dan Aleea bertengkar.


Perkataan Aleea yang mana yang membuat dia kacau seperti ini.


Dapat terlihat Wajahnya sangat merah, urat di lehernya terlihat jelas dan kedua tangannya menggenggam erat stir mobil sampai buku-buku tangannya memutih. Ia terlihat sangat menahan amarah.


Drttt... Drttt... Drttt...


Suara ponsel Sean berbunyi menampilkan nama yang membuat ia dan Aleea bertengkar. ia angkat panggilan itu.


Sean : Hallo sayang! Ada apa?


Dapat Sean dengar suara dari penelepon di seberang sana, seperti seseorang yang sedang menangis.


Sean : Sayang! Ada apa, jangan membuat aku khawatir.


Tapi pertanyaan Sean hanya membuat seseorang di seberang sana semakin menangis.


Hiks.. Hiks..


Suara tangis di seberang sana dengan suara tangisan yang terdengar sedikit memilukan.


Syeila : Ah..Kuu aa..dah di..rumm..ah sakit. Ne…nek tel..ah me..ning..gal.


Ucapnya terputus.


Sean : Kamu tenang dulu. Aku akan kesana share lokasi kamu sekarang. Kamu jangan matikan panggilan ini.


Setelah memberi perintah kepada Syeila untuk tidak mematikan panggilannya. Ia mengaktifkan loudspeaker ponselnya. Ia segera menyusuri jalanan itu untuk pergi ke suatu tempat.


Selama lina belas menit perjalanan, ia akhirnya sampai di lokasi yang Syeila kirimkan.


Aleea segera menyusuri rumah sakit itu untuk mencari keberadaan kekasihnya itu. Sebelum ia turun, Syeila sudah memberitahu lokasi dia berada di rumah sakit ini.


Dapat Sean lihat kekasihnya itu sedang duduk di kursi pengunjung. Ia segera mendekat ke arah kekasihnya itu dan duduk di sampingnya. Ia lihat kekasihnya sedikit terkejut melihat ia yang sudah berada disini.


Hiks.. Hiks..

__ADS_1


Tangisan itu pecah. Ia bawa tubuh kekasihnya itu ke dalam pelukannya dengan memberi sedikit usapan di punggung kekasihnya itu.


Sean terus menemani kekasihnya itu mengurus jenazah tersebut sampai pengistirahatan terakhir.


Suda hampir satu minggu juga Sean harus mondar-mandir dari kantor ke apartemen Syeila untuk menemani Syeila dan tidak pernah pulang ke rumahnya.


Flashback Off


Sean melihat ponselnya yang sedari tadi berbunyi menampilkan nama seseorang.


Seseorang yang beberapa hari ini ia hindari.


Selama ia tidak pulang ke rumahnya, ia tidak pernah sekalipun hanya sekedar memberi kabar atau menanyai keadaan Aleea.


Aleea yang sudah beberapa kali menelepon dirinya tapi ia tidak minat untuk mengangkat pangilan tersebut.


Setelah mendengar Aleea bahwa kedua orang tuanya telah datang ke rumah miliknya. Ia segera bergegas pulang ke rumahnya setelah menyelesaikan urusan di kantornya.


Ia tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui keadaan pernikahannya. Karna yang orangtua mereka tau kalau keadaan pernikahan Sean baik-baik saja, setiap kali mereka bertanya yang akan di jawab Sean kalau pernikahan mereka baik-baik saja dan Sean bilang kalau mereka sudah mulai saling membuka hati untuk melanjutkan pernikahan mereka.


Ia akan bersandiwara lagi agar kedua orang tua nya tidak tau yang sebenarnya.


Ia akan meminta Aleea untuk melakukan sandiwara tersebut.


Ia tidak ingin terbongkar tentang hubungan ia dan Syeila yang belum berakhir.


Keesokan harinya.


Sean dan Aleea berada di ruang keluarga bersama orang tua sean, mereka baru saja sampai di rumah milik Sean. Dapat Sean lihat keadaan Papanya yang sudah banyak perubahan setelah kecelakaaan kemarin. Papanya sudah bisa berjalan walaupun masih menggunakan tongkat untuk menopang tubuhnya.


Sean melihat tangan Aleea yang menganggur diatas paha Aleea, Ia ambil tangan tersebut kemudian ia genggam.


Aleea tersentak, merasakan tangannya di genggam oleh Sean. Aleea mengerutkan dahinya karna ia binggung apa yang dilakukan oleh Sean.


Sean yang merasa jika Aleea bingung kemudian ia mengatakan. “By. Coba kamu lihat dulu kamar tamu sudah selesai di rapikan belum?” Ucap Sean yang masih mengenggam erat tangan Aleea.


“Iy..iya aku akan melihat ke kamar tamu dulu.” Ucap Aleea sedikit terbata tetapi masih menampilkan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


Lalu Aleea berjalan menuju kamar tamu. Sepanjang perjalanan ia menggerutu melihat tindakan yang di lakukan oleh Sean. “Ckkk. Aku tau dia bersandiwara tapi jangan sampai kontak fisik juga.”


__ADS_2