Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Sadar


__ADS_3

Sudah beberapa hari Aleea menemani Mama Sean berada berada di Rumah Sakit milik keluarga Sean, yang dipimpin oleh Pamannya Sean. Sekarang mereka berada di dalam ruangan Papa Sean dirawat.


Selama seminggu Papa Sean dirawat diruang ICU karna mengalami koma setelah dilakukan operasi karna perdarahan di otak.


Mamanya Sean baru beberapa hari sudah dirawat Rumah Sakit yang sama dengan suaminya karena mengalami Dehidrasi. Semenjak Revan di rawat karna mengalami kecelakaaan Regina tidak mau makan dan minum, katanya ia masih kenyang selalu itu alasannya. Tapi setelah beberapa hari tidak makan dan minum juga sulit beristirahat mengakibatkan harus di rawat juga karna saat menunggu suaminya siuman ia pingsan.


“Mah. Lebih baik kita istirahat dulu ke kamar.” Ucap Aleea yang berada di sampingnya sambil memdorong Regina yang duduk di kursi roda, ia menuju kamar yang sudah mereka pesan.


“Mama tiduran dulu. Aleea keluar sebentar, Aleea membeli makanan dan minuman buat mama. Sean belum kembali.” Lanjutnya sambil membenarkan selimut untuk menutupi tubuh Regina. Baru beberapa langkah ia berjalan sudah terdengar suara pintu terbuka.


CEKLEK!!


Sean yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Dapat ia lihat Sean saat ini, pria itu berpenampilan yang sedikit berantakan. Ia hanya menggunakan celana pendek diatas lutut, baju kaos pass body, janggut yang sudah mulai tumbuh dagu, pipi dan leher pria itu dan jangan lupakan kantong mata hitam yang menghiasi wajahnya itu. Sangat terlihat kalau pria itu sudah lama tidak beristirahat dengan teratur. Ia selalu membagi waktunya untuk menjaga Papa dan mamanya secara bergantian.


“Ini,” ucap Sean sambil memberikan kantong plastik yang berisi makanan dan minuman.


“Kamu makan dulu, sudah waktunya makan siang.” Lanjutnya. Aleea ambil kantong plastik itu, ia salin kedalam piring yang tersedia diruangan itu.


“Ini kamu makan dulu,” ucap Aleea sambil memberikan piring berisi makanan yang ia beli tadi kepada Sean.


“Setelah itu kamu pulang untuk beristirahat, sudah seminggu kamu tidak tidur dengan nyaman. Biar mama aku yang jaga.” Lanjut Aleea yang di balas anggukan oleh Sean. dilihatnya Sean yang mulai memakan makanannya Aleea menuju ke arah tempat tidur untuk membangunkan mertuanya.


“Mah Bangun dulu, makan terus minum obat setelah itu mama istirahat kembali.” Ucapnya sambil membatu Regina untuk bangun, ia stel tempat tidur dengan posisi duduk.

__ADS_1


Aleea dengan telaten menyuapi mertuanya sedikit demi sedikit sehingga makanan itu habis tak tersisa. Kemudian ia memberikan obat kepada Regina untuk ia minum. Setelah selesai ia menidurkan kembali Regina. kegiatan Aleea terlihat jelas di mata Sean yang sedang merawat mamanya.


“Kamu makan dulu, aku pulang ada berapa barang yang harus ku ambil.” Ucap Sean tanpa menunggu jawaban Aleea, ia kearah pintu untuk keluar dari ruangan itu.


Setelahnya, Sean lalu berlalu. Berjalan dengan santai, Aleea memandangi punggung Sean yang semakin lama semakin tidak nampak karna pintu yang telah tertutup kembali.


...****************...


Sebulan kemudian.


Suasana masih sama, mereka masih berada di rumah sakit, tetapi Revan sudah tidak di rawat di ruang ICU, melainkan ia dirawat di ruangan VVIP di rumah sakit tersebut.


Beberapa hari yang lalu Revan dinyatakan kondisinya sudah membaik sudah melewati masa kritisnya. Tetapi ia masih belum sadarkan diri, tubuhnya masih terpasang beberapa alat dan monitor disampingnya berfungsi untuk memberikan informasi kondisi pasien.


Beberapa menit mereka berbicara, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk dari luar.


Tok tok tok!


Dapat mereka lihat seseorang pria yang usianya seperti Sean Masuk kedalam ruangan itu.


“Maaf tuan, saya ingin memberikan kabar bahwa perusahaan sedang tidak baik-baik saja.” Ucap Justin, yang mereka kenal sebagai asisten Papanya Sean.


“Beberapa petinggi di Perusahaan menarik saham mereka, karna mereka tau Taun sudah tidak bisa menjalankan perusahaan. Sekarang saham perusahaan turun drastis.” Lanjutnya.

__ADS_1


Mendengar pernyataan itu membuat suasana di ruangan itu menjadi tegang. Regina sudah meneteskan airmata. Sedangkan Sean hanya terdiam, mencoba berpikir tindakan apa yang harus ia lakukan.


“My God. Apa yang harus aku lakukan, ia tidak mungkin mendiamkan perusahaan yang telah di bangun Papanya dengan begitu mudah bangkut. Tapi ia tidak bisa meninggalkan profesi yang ia sukai sebagai seorang Pilot, untuk mencapai posisi seorang Captain bukanlah gampang.” Batinnya.


Dilihatnya Mamanya ya yang sudah berada di pelukan Aleea. Ia memejamkan matanya sejenak untuk mengambil keputusan.


“Baiklah kamu siap saja untuk Meeting besok, saya akan menggantikan Papa untuk sementara sampai Papa saya sembuh.” Ucap Sean.


“Kamu kirim datanya biar saya pelajari.” Lanjutnya.


Sean berjalan ke arah mamanya, Aleea yang merasa Sean di sampingnya, ia melepaskan pelukan dari mertuanya yang digantikan oleh Sean yang membawa mamanya kedalam pelukannya.


sambil memberikan usapan di punggung mamanya untuk menenangkannya.


Beberapa jam kemudian, Ruangan itu yang hanya berisikan Aleea dan Regina yang tertidur di kursi samping suaminya. Sean sudah pulang sejak asisten Papanya datang, ia pulang untuk mempelajari masalah yang terjadi di perusahaan milik Papanya. Sedang orangtua Aleea baru saja pulang beberapa menit yang lalu.


Aleea mendekati Regina yang tertidur di kursi untuk membawa ke arah kasur yang berada di ruangan itu.


“Mah, bangun pindah kasur saja.” Ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Regina. Wanita itu terbangun.


Revan bergerak menggerakkan jarinya yang dapat dilihat oleh Aleea dan Regina. Mereka saling memandang melihat gerakan jari Revan yang mereka yakini kalau yang mereka lihat nyata.


“Mah! Aleea panggil dokter dulu.” ucapnya bergegas keluar ruangan itu yang diberikan anggukan oleh Regina.

__ADS_1


__ADS_2