Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Percaya Aku!


__ADS_3

Waktu kembali berputar, matahari kembali bersinar. Di musim cerah seperti ini, langit pagi pun sudah berwarna biru terang. Langit cerah terus bergerak menuju siang. Dan pintu kamar mereka masih tertutup rapat. Terlihat Sean keluar dari ruang ganti baju sambil mengeringkan rambutnya. Suasana hatinya terlihat senang, bisa dilihat dari senyum yang muncul di bibirnya. Dia memakai pakaian yang cukup santai.


“Baby! Kamu benar-benar tidak


bergerak dari tempat tidur ya." Bergumam sendiri saat mendapati Aleea yang hanya terlihat ujung rambutnya, tertutup selimut.


Aleea masih terlelap dalam tidurnya. Sean melemparkan handuk di tangannya yang jatuh ke ujung meja. Lalu dia melompat ke tempat tidur di samping Aleea. Gadis itu hanya menggeliat tapi tidak terbangun. Walaupun Sean menjatuhkan diri cukup keras tepat di samping Aleea.


"Baby, kamu benar-benar tidak bangun ya." Ucap Sean sudah mulai gemas dan tidak bisa menahan diri menjahili istrinya.


Ia menarik ujung selimut sampai bahu Aleea tersibak, terlihat jelas beberapa tanda kepemilikan berwarna merah di sana. Sean mencium setiap tanda itu sambil tertawa, karena Aleea benar- benar tidak menunjukan reaksi apa pun.


"Baby, bangun!" Ucap Sean sambil menciumi wajah istrinya.


"Kau tidur jam berapa semalam, sesiang ini belum bangun?" Lanjutnya.


Padahal karena siapa Aleea sampai seperti itu, seharusnya tidak perlu ditanyakan.


"Baby, Al sayang, bangun." Sean berbisik di telinga Aleea sambil tangannya melingkar memeluk Aleea.


"Baby, bangun, atau kita akan ketinggalan pesawat nanti." Belum ada bereaksi juga, akhirnya Sean mencium bibir Aleea dengan memberikan gigitan-gigitan kecil walaupun tidak mendapat balasan tapi tetap ia lakukan.


Aleea mulai menggeliat. Terdengar erangan kecil.


“Sean jangan ganggu. Aku masih mengantuk.” Ucap Aleea yang masih memejamkan matanya.


"Baby bangun! Lihat sudah jam berapa sekarang."


Aleea Menggeliat, sambil memastikan waktu dengan melihat jendela. Terperanjat karena di luar sana cuaca sudah cukup terang.


“Yasudah awas aku mau bangun.” Ucap Aleea sedangkan Sean hanya bereaksi dengan mempererat pelukannya.


Lihat, dia yang minta orang bangun, giliran sudah bangun malah didekap seerat itu. Bukannya melepaskan diri Aleea ikut larut bersantai diatas kasur sambil menggeliat dan membenamkan wajah di dada suaminya.


"Sean, aku bermimpi barusan." Aleea mendongakkan kepala yang langsung di beri kecupan lembut di keningnya.


"Apa?" Tanya Sean.


“Ntahlah. Aku juga tidak tau tapi aku rasa mimpinya sangat aneh.” Jawab Aleea.

__ADS_1


“Tanganmu Sean, tolong kondisikan tanganmu.” Ucap Aleea ketika merasakan tangan Aleea sudah mulai menjelajahi tubuhnya.


Bukannya marah Sean malah tertawa lalu mencium pipi Aleea.


Aleea menarik ujung lengan Sean yang sudah duduk di tepi tempat tidur.


"Apa? bangun sana! Mau ku makan lagi” ketika selimut yang dipakai Aleea merosot untuk melindungi tubuh polosnya.


"Kamu benar-benar mau mengajakku tidur lagi ya?" Ucap Sean sambil menarik selimut.


"Tidak." Langsung sigap Aleea mempertahankan helaian kain pelindung tubuhnya.


Aleea melihat bayangannya di kaca saat mengeringkan rambut. Merasa dicintai itu benar-benar memunculkan perasaan yang berbeda dengan situasi saat kita mencintai. Dia merasa senang sekaligus berbunga secara bersamaan. Makin hari perasaannya semakin tumbuh dengan kuat.


Aleea mengintip di balik pintu ruang ganti setelah selesai mandi dan ganti baju, masih mendapati Sean terlentang di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.


“Oh Tuhan. Semoga perasaan kami terus seperti ini selamanya.” Batin Aleea.


Terkadang ia sempat ragu jika Sean hanya memanfaatkan dirinya saja, mendekati dirinya ketika untuk melupakan kekasihnya. Tapi setelah ia melihat keteguhan Sean untuk melanjutkan pernikahan mereka. Ia yakin jika Sean benar-benar tulus untuk tetap bersamanya.


Tring… Tring… Tring…


“Baby. Coba kamu lihat siapa yang menelepon ku?” Ucap Sean kepada Aleea yang berada tidak jauh darinya.


“Justin! Mungkin ada yang penting jadi dia menghubungi kamu.” Ucap Aleea ketika ia melihat nama penelepon di ponsel Sean yang berada di dekatnya.


Sean membangunkan dirinya, kemudian ia mengambil ponsel miliknya. Memberikan kecupan di dahi Aleea.


“Sebentar. Aku angkat dulu panggilan Justin.” Ucap Sean yang di berikan anggukan kepada oleh Aleea sebagai jawaban.


Kemudian Sean melangkahkan kakinya ke arah balkon dan menerima panggilan Justin.


Beberapa menit setelah pamit undur diri untuk mengangkat panggilan telepon, Sean kembali dengan raut yang tidak mengenakan terlihat di wajahnya.


Aleea ingin bertanya tapi ia undur, mungkin jika Sean ingin bercerita ia akan memberitahunya. Ia tidak akan menanyakan yang menurut Sean privasi.


Ting Tong!


Suara bel terdengar.

__ADS_1


“Mungkin itu makanan yang ia pesan tadi,” Ucap Aleea. Kemudian ia membawa langkahnya menuju pintu dimana suara bel itu terdengar.


Ceklek!


Aleea membuka pintu kamarnya, terlihat pelayan yang sudah berdiri di depan pintunya dengan membawa beberapa macam makanan yang ia pesan.


Aleea memanggil Sean untuk memakan sarapan yang sudah lewat beberapa jam.


Mereka menikmati sarapan itu dengan diam, tidak ada yang mulai membuka suara sedikitpun.


Beberapa menit mereka telah siap menyantap makanan mereka.


“Sean. Kamu kenapa? Ada masalah? Aku perhatikan kamu banyak diam setelah mendapat telepon dari Justin.” Tanya Aleea dengan wajah yang sedikit khawatir tampak jelas di wajahnya.


Sean menggangkat wajahnya ke arah Aleea yang berada disampingnya. Ia bawa tangan Aleea yang dekat jangkauannya.


Puk Puk!


Sean menepuk pahanya dengan satu tangan yang lain, agar Aleea duduk di pangkuannya. Aleea yang paham keinginan Sean.


Membawa tubuhnya ketika tangan nya sudah di tarik oleh Sean untuk duduk di pangkuannya.


Sean melingkarkan tangan berurat miliknya ke pinggang ramping Aleea. Ia peluk tubuh wanita mungil itu dengan begitu erat, seolah menyalurkan semua kegelisahan dan ketakutan yang ia rasakan.


“Aku mohon... Jangan tinggalkan aku, tetap di sampingku dan tetap percaya aku apapun yang akan terjadi.” Ucap Sean dengan nada lemah dengan suara baritonnya, tatapan mata yang menunjukan ketulusan disana.


Deg!


“My God. Apa arti dari semua ini. Kenapa Sean berkata seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi.” Batin Aleea.


Aleea hanya diam tidak merespons apapun yang telah Sean katakan. Ia hanya takut akan salah bicara dan membuat suasana menjadi tidak enak.


Aleea bawa tangannya ke atas untuk mengelus rambut Sean yang terlihat berantakan. Ia rapikan rambut itu. Kemudian ia membelai wajah Sean. Sean hanya memejamkan matanya mendapatkan perlakuan lembut dari Aleea.


Sean mendongakan matanya menatap Aleaa yang berada di pangkuannya. Tatapan mata mereka bertemu.


“Jika ada sesuatu cerita kepada aku, jangan sampai aku menerka-nerka apa yang terjadi. Yang akan membuat aku salah paham dan memilih untuk pergi.” Ucap Aleea dengan suara lembut yang ia miliki, tangannya masih membelai wajah dan surai milik Sean.


Sean mendengar perkataan Aleea hanya bisa menganggukan kepalanya. Kemudian ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher milik Aleea. Menghidup dalam-dalam aroma yang memabukkan, aroma tubuh Aleea yang membuatnya merasa tenang.

__ADS_1


__ADS_2