
Aleea dan Sean melangkahkan kaki menuju tempat di mana keluarga Sean berkumpul.
“By. Kita makan dulu aja ya. setelah itu kita kumpul di halaman belakang.” Ucap Sean.
“Kita makan aja dulu, kamu dari siang gak ada makan kan?” Ucap Aleea yang di beri anggukan sebagai jawaban.
Mereka melangkahkan kaki memasuki ruang makan dimana sebagian keluarga besar berada di situ.
“Sini sayang.” Ucap Regina yang telah melihat anak dan menantunya sudah terlihat di depan ruang makan.
Sebagian mata mereka tertuju pada Aleea dan Sean yang baru memasuki ruangan tersebut. Sean semakin menggengam erat tangan Aleea.
“Duduk di sini By.” Ucap Sean yang memberi ruang agar Aleea bisa mendudukan tubuhnya. Sedangkan Sean menduduki kursi yang berada di samping Aleea.
“Kamu mau makan yang mana lagi?” Tanya Aleea yang sudah meletakan beberapa macam makanan di atas piring Sean.
“Sudah yang ini aja dulu, nanti kalau kurang aku minta lagi,” Jawab Sean.
“Kamu makan juga gih, piring kamu masih kosong?” Lanjutnya yang di balas dengan anggukan kepala.
Mereka menikmati makan malam mereka dengan nikmat tanpa ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut mereka.
Setelah selesai makan malam mereka berkumpul di halaman belakang Mansion milik keluarga Sean.
“By, aku izin ke kamar mandi dulu ya?" Mata Aleea yang sedari tadi melihat ponsel yang ada di tangannya itu sekarang beralih menatap Sean.
Wanita cantik itu mencebikkan penghalang.
"Aku sendirian dong, gak mau!" Cicit Aleea yang masih di dengar oleh Sean.
"sebentar aja By. Aku kebelet asli." Ujar Sean sembari bangkit dari duduknya.
"Tapi aku takut,” Ucap Aleea pelan.
Memang benar. Aleea masih takut untuk berkumpul dengan keluar besar Sean sejak kejadian siang tadi. Aleea sama sekali tidak dekat dengan satupun anggota dari keluarga Sean. Mereka hanya bertemu saat Aleea menikah dengan Sean setelah itu Aleea tidak pernah bertemu lagi.
Ketika Aleea berada disini, Semua anggota keluarga Sean yang berada di acara itupun seolah menganggapnya tidak ada. Tidak ada yang menyapanya, mengajak ngobrol, atau bahkan menegur Aleea. Benar benar seolah kehadiran Aleea tidak terlihat bagi mereka semua. Padahal mereka semua tahu jelas, jika Aleea ini istri Sean. Dan jujur, itu membuat Aleea merasa sedikit takut dan gelisah.
"Gausah berinteraksi sama siapapun, kalo ada yang ngajak ngobrol diem aja. Jangan di respon oke? Aku janji cuma sebentar, lima menit aja. Okay?"
Pada akhirnya, dengan rasa ragu dihatinya, Aleea mengangguk mengiyakan. Sedangkan Sean tersenyum tipis, mengusak rambut Aleea sekilas sebelum pergi dari sana.
Begitu punggung Sean menghilang dari pandangannya, Aleea merasa seolah olah seluruh tatapan manusia yang ada disini tertuju padanya. Bahkan Aleea mulai mendengar bisikan orang orang pada dirinya.
Aleea merasa terintimidasi, tangannya berkeringat dingin saking cemasnya. Bibirnya ia gigit sekencang mungkin untuk menenangkan degup jantungnya yang menggila. “Sean pleaseee, jangan lama-lama”batinnya.
"Liat deh, gak tau malu banget. Padahal gara-gara dia Sean berdebat dengan Oma."
"Apa sih bagusnya dia sampai di bela sampai segitunya?”
“Pasti maksa Sean agar bisa tetap disini, dasar caper."
__ADS_1
"Dasar aneh."
"Males banget lihat dia."
"Kalo bukan karena Sean dan tante Regina, males juga kesini."
"Udah tau disini gaada satupun yang suka dia, tetep aja disini. Mau apasih? Cari perhatian atau gimana?"
"Gara gara dia Sean putus dengan Syeila model ternama itu."
“Bagusan Syeila kemana-mana dari pada tuh cewek,”
“Belum lulus kuliah juga, mau aja di nikahkan.”
Sangat terdengar dengan jelas suara mereka yang membicarakan Aleea dengan terang-terangan.
Seluruh ucapan ucapan yang keluar dari mulut jahat itu membuat Aleea meringis pelan.
Ada rasa menyakitkan yang sangat amat ketika Aleea tau pada siapa kata perkata itu ditujukan. Jelas pada dirinya, siapa lagi memang?
Jika kalian bertanya apakah Sean dan mertuanya tahu tentang ini?
Jawabannya tentu saja tidak tahu.
Kedua orang tua Sean sedang berada di dalam Mansion bersama sebagian orangtua sedangkan Aleea berada di halaman belakang rumah Sean.
Mereka lakukan itu ketika Sean tidak disamping Aleea. Karena ketika Sean ada, Mereka hanya mampu terdiam.
Mereka tidak berani sampai mengatakan hal yang tidak tidak tentang Aleea. Karena mereka sendiripun tau, akan semarah apa Sean jika ada yang menyakiti Aleea.
Itu Oma Sean bersama seorang wanita cantik di sampingnya.
“Oh tuhan, Kemana Sean? Kenapa pria itu sangat lama?” Cicit Aleea.
“Kenapa ucapan mereka jahat banget sih,” lanjutnya kembali.
"Aku pikir kamu sudah pulang dari sini, sedang apa disini bahkan keluarga lain tidak menerima kehadiranmu?" Kalimat pertama yang wanita itu ucapkan ketika sudah berdiri di hadapan Aleea.
Dengan gemetar, Aleea bangkit dari duduknya. Tubuhnya ia bawa mendekat ke arah wanita paruh baya itu. Tangan Aleea terulur, hendak meyalami nenek dari Sean. Namun sebelum itu, tangannya lebih dulu ditepis dengan kasarnya.
"Jangan menyentuh saya. Saya tidak sudi disentuh oleh wanita seperti kamu." Aleaa tersenyum getir. Wajahnya ia tundukan. Matanya memerah karena menahan tangis. Dadanya pun sesak tanpa celah.
Ini sangat menyakitkan. Aleea tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini dari keluarganya ataupun orang di sekitarnya.
“Lihat diri kamu sendiri. Kamu bertahan dengan cucu saya karena uang kan?”
“Walau sudah di sakiti masih mau menerima pasti karna uang kan? Karena dia kaya kan? Tentu saja, cucu saya bisa memberi apapun yang kamu mau dengan uangnya.”
“Wanita murahan yang hobinya memoroti uang orang lain seperti kamu itu tidak pantas mendapatkan kebahagiaan.”
“Bahkan kamu masih kuliah tapi sudah mau dinikahkan.”
__ADS_1
“Ckk Ckk Ckk,” ucap nya sambil memandang Aleea dari atas sampai bawah dan sebaliknya.
“Lebih baik Sean menikah dengan mantanya yang seorang model itu, dibandingkan dengan anak kemarin sore sepertimu.”
“Yang pastinya wanita itu tidak menjadi benalu di hidup cucu ku,”
Deg!
“Sebenarnya seberapa dekat Syeila dengan keluarga Sean.” Batin Aleea. Ia tau wanita yang sebagai model itu adalah Syeila. Ia tau wanita itu lebih cantik dan dewasa dari dirinya. Tapi dia dan Syeila dua orang yang berbeda. Kenapa semua orang yang berada di sana harus menyamakan dia dan wanita itu.
Hiks.. Hiks.. Hiks..
Aleea tidak mampu lagi menahan sesak di dadanya, wanita itu akhirnya menangis. Menangis menyedihkan dihadapan orang orang yang saat ini mungkin saja menertawakan kesedihannya.
Aleea menghapus airmata di pipinya, ia menggenggam ujung Dress yang ia gunakan, setelah mengumpulkan keberanian kemudian ia berkata.
“Kenapa Oma Sean berpikir seperti ini? “
“Jika memang Aleea bertahan dengan Sean hanya karena uang, sedangkan orangtuanya mampu memberikan apa saja yang ia mau.”
“Aleea benar-benar tidak mengerti. Mengapa Oma seolah-olah orang yang paling mengerti Sean? “
"Oma kenapa ngomong gini? Apa saya keliatan semiskin itu sampai Oma nyamain saya sama orang orang murahan diluaran sana?"
Jeda sebentar. Aleea sekarang mendongakan kepalanya, menatap wajah Arini dengan mata sembabnya. Entah keberanian darimana, wanita cantik itu berani menjawab ucapan wanita paruh baya didepannya.
"Saya yakin Oma tahu?”
“Maaf, saya bukan anak yang terlahir dari keluarga yang kurang mampu.”
“Saya beruntung lahir di keluarga yang sangat cukup. Oma juga tahu kan? Papa saya seorang pengusaha yang cukup terkenal di negara ini.”
“Lalu dari semua itu, apakah saya terdengar seperti orang yang akan memoroti uang cucu Oma?”
"Kalo saya mau, saya bisa beli apapun yang saya mau tanpa harus meminta atau berusaha keras. Karena orangtua saya, dengan senang hati pasti akan memberikan yang saya inginkan." Cerca Aleea.
“Maaf jika kata-kata saya ada yang menyinggung Oma.”
"Kamu berani berbicara seperti ini hah?! Kemana perginya sopan santun kamu?!" Oma Sean terlihat emosi, Wanita itu bahkan berteriak sehingga menarik perhatian seluruh orang yang ada disana.
“Saya cuma ngomong sesuai dengan kebenarannya.” ucap Aleea.
"ANAK SIA**N!"
Sontak, Aleea memejamkan matanya erat ketika melihat tangan wanita tua itu hendak melayangkan sebuah pukulan. Tapi setelah beberapa detik kemudian, bukanlah pukulan yang ia rasakan, namun malah sebuah usapan lembut di kepalanya.
"Oma! Ngapain Oma disini? Bukanya para orangtua berada di dalam." Mendengar suara itu, Sedikit demi sedikit mata Akeea terbuka. Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Sean yang terlihat khawatir memandanginya.
Ah, pantas saja wanita itu tidak jadi memukulnya. Ini karena sekarang Sean ada disini.
"By? Kamu kenapa nangis?" Ujar pria itu dengan nada yang terdengar sangat cemas. Sean bahkan mendekat dan langsung memegang pundak Aleea. Memeriksa dari atas sampai bawah untuk memastikan Aleea tidak terluka.
__ADS_1
"Oma, Oma ngapain Aleea? Kenapa Aleea menangis?" Tatapan lembut Sean saat melihat Aleea berubah tajam ketika menatap Oma dan keluarganya yang ada disana.
“Oma gak apa apain dia.” Lalu setelah berucap demikian, wanita paruh baya itu pergi dengan tergesa dari sana yang di temani wanita cantik yang sedari tadi bersamanya.