Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Bayi Serigala


__ADS_3

Sepasang suami istri itu keluar dari kamar mereka. Sean menggunakan kaos pas body dengan celana di atas lutut sedangkan Aleea menggunakan celana jeans pendek dengan atasan tangtop yang di padukan oleh cardigan.


“Baby! Coba lihat sana,” Ucap Sean pada Aleea sambil menunjuk ke arah tepi di sekitar danau itu. Aleea mengikuti arah yang Sean tunjukan.


Aleea binggung di tepi danau yang Sean tunjuk tidak ada yang menarik, hanya lahan kosong yang tak ada seorang pun disana atau bangunan pun tidak ada satupun.


“Bagaimana jika kita buat villa disana yang tertuju ke arah air terjun ini.” Lanjutnya dengan suara yang sangat menyakinkan.


“Maksud kamu, kamu ingin tinggal disini?” Tanya Aleea yang tidak percaya Sean akan tinggal disini di daerah yang jauh dari kota tapi membuat pemandangan ini sangat sejuk. Udara yang terasa segar, terkadang udara tercium wangi tumbuh-tumbuhan yang menyegarkan.


“Ckk. Bukan itu maksud ku. Jika kita ingin berlibur kesini lagi kita tidak usah repot-repot memesan villa. kita buat saja villa disini agar kamu dan anak-anak kita akan nyaman tidak ada orang luar di sekitar kita.” Ucap Sean menjelaskan sambil meletakan dagunya di puncak kepala Aleea.


Mereka sekarang berada di sebuah speed boat untuk mengelilingi danau tersebut dengan posisi Aleea di sampingnya memeluk tubuh istrinya dari samping.


Aleea saat mendengar penuturan Sean membuat hatinya sedikit menghangat.


“Semoga kebahagiaan ini selamanya,” batin Aleea.


“By. Baby! Kenapa diam sih?”


“Kamu tidak ingin kembali bersamaku lagi kesini?”


Tanya Sean sambil menggoyangkan badan mereka, kemudian ia melirik Aleea dengan menampilkan wajah kesalnya ketika Aleea tidak menjawabnya sama sekali.


“Gemes banget sih bayii besar ku,” Ucap Aleea sambil memberikan kecupan di pipi Sean. Sean senang menjahili suaminya dengan perkataannya. Bagi Aleea Sean itu seperti bayi serigala, lucu tapi juga menyeramkan di waktu yang bersamaan.


“Apaan sih bayi. bayi. Kamu tuh masih bayi tapi akan punya bayi. Udah tumbuh belum ya dedek bayi disini.” Ucap Sean sambil mengelus perut rata Aleea.


Plak!


“Aww, sakit!” Ucap Sean ketika mendapatkan cubitan kecil di pinggangnya.


“Ini kekerasan dalam rumah tangga.” Ucap Sean sambil menampilkan wajah sedihnya. Aleea hanya memutarkan bola matanya merasa jengah karna tingkah Sean.


“Kamu sih di tempat gak jelas banget,” Ucap Aleea pada Sean yang masih mengelus pinggang yang Aleea berikan cubitan tadi. Sebenarnya tidak sakit bahkan tidak terasa sama sekali. Namanya juga Sean yang ingin di manja sama istrinya.


“Apanya yang jelas baby? Kan aku benar semalam kan kita baru habiskan mal..” Ucap Sean terputus ketika mulutnya di bungkam oleh Aleea.


“Iya! Iya.” Ucap Aleea pasrah. Ia tak habis pikir ucapan Sean tidak bisa di filter sama sekali.


“Ia kenapa sih pake mulut aku di bekap-bekap segala.” Ucapnya Sean ketika mulutnya terletak dati belahan Aleea, ia tidak terima ketika Aleea membekap mulutnya.


“Kamu sih bicara sembarangan, kalau orang tau gimana.” Ucap Aleea.


“Ya gak gimana-gimana, kamu kan istri aku jadi gak masalah orang-orang tau.” Ucap Sean.

__ADS_1


“Jangan bilang kamu tidak ingin kembali kesini bersama ku? Terus kamu mengalihkan topik pembicaraan kita?” Tuduh Sean pada Aleea karena ia tidak mendengar jawaban yang Aleea berikan.


“Aku ingin kembali kesini bersama kamu dan anak-anak kita nanti. Tapi aku tidak yakin kita bisa tidak datang kesini lagi bersama-sama.” Ucap Aleea. Ntah kenapa ia tidak yakin akan bisa kembali kesini bersama Sean.


“Kenapa kamu tidak yakin?” Tanya Sean yang penasaran dengan apa yang Aleea pikirkan.


“Ntahlah akupun tak tau.” Ucap Aleea.


“Yasudah jangan kamu pikirkan. Aku ingin kedepannya kamu selalu percaya dan yakin sama aku. Apapun yang terjadi aku harap kita akan selalu bersama selamanya.” Ucap Sean yang mengeratkan pelukannya sesekali membubuhkan kecupan di puncak kepala Aleea, yang hanya di balas dengan anggukan kepala.


Aleea memejamkan matanya menerima pelukan Sean dari belakang. Ia nyaman bersama Sean dan merasa selalu di jaga dan di lindungi.


“Tuhan. Aku ingin kebahagiaan ini selamanya.” Batin Aleea berkata.


“Tuhan. Tolong beri kami kebahagiaan selalu dalam menjalani pernikahan kami.” Batin Sean.


Beberapa menit Speed Boat yang Aleea dan Sean tumpangi telah sampai di sebuah wisata yang akan mereka kunjungi.


“Baby. Kita makan siang dulu ya disana?” Tanya Sean menuju restoran yang berada di sekitar wisata itu. Ia mengajak istrinya untuk mengisi perut mereka ketika waktu sudah menunjukan makan siang.


Sean sebenarnya tidak ingin jalan-jalan hari ini ia ingin menghabiskan waktunya bersama sang istri di villa mereka saja. Setelah menghabiskan malam panas bersama. Ia merasa kasihan kepada istrinya yang kesulitan berjalan seperti saat ini.


Ia tau jika istrinya sesekali mengiris menahan sakit. Jika saja istrinya tidak merengek untuk keluar sekarang sudah dipastikan mereka akan seharian didalam villa mereka.


“Yaaak Sean apa yang kamu lakukan!” Ucap Aleea yang sedikit berteriak ketika tubuhnya melayang.


Aleea mencoba untuk melepaskan gendongan Sean dengan cara menggoyang-goyangkan badannya. Agar Sean melepaskan dari gendongannya.


“Sudah kamu tenang saja di sini, aku tak tega melihatmu sepanjang jalan meringis kesakitan.” Ucap sean dengan nada lembut, ia memberikan tatapan yang meneduhkan.


Aleea tersentuh mendengar perkataan Sean. Ia memberikan senyuman dan anggukan kepala sebagai jawaban menerima atas semua perlakuan Sean.


Aleea menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya menyembunyikan rasa malu saat orang-orang sekitarnya melihat mereka.


Mereka menghabiskan makanan siang mereka sebelum mereka melanjutkan perjalanan wisata mereka.


... Jejak sepasang kaki terlihat diantara ribuan pasir putih. Terlihat sepasang kekasih saling bergandengan tangan menyusuri pinggir danau tersebut.


Pemandangan yang menyejukkan mata untuk memandangan, gunung yang terlihat jelas dan di sekitarnya ada air terjun yang jatuh ke danau yang sangat indah.


“Baby! Jangan lari.” Ucap Sean ketika Aleea mulai berlari menikmati indah pemandangan di sekitarnya.


BRUK!!


Aleea terjatuh saat kakinya tidak sengaja menyandung timbunan pasir.

__ADS_1


“Aww.” Aleea meringis merasakan lulutnya sedikit nyeri.


Sean yang berada tidak jauh dari Aleea segera berlari mendekati istrinya.


“Kan uda bilang jangan lari tapi masih bandel tidak mau mendengar. Jadinya begini kan!” Ucap Sean sedikit kesal melihat Aleea. Ia membersihkan tubuh Aleea dari tanah yang berada di tubuh istrinya.


Aleea hanya menampilkan senyuman di bibirnya. Ia tau ia salah tidak mendengarkan Sean. Ia hanya pasrah ketika tubuhnya di bersihkan oleh Sean.


Setelah melihat tubuh istrinya sedikit bersih. Ia mulai membawa istrinya kedalam gendongannya. Menggendong Aleea seperti koala. Aleea hanya pasrah mengikuti kemauan Sean. ia menolak pun tak bisa, kaki nya jika di paksa berjalan akan terasa sakit.


“Terimakasih,” Ucap Aleea saat tubuhnya berada di gendongan Sean. Ia mengeratkan salah satu tangannya ke bahu Sean agar tidak terjatuh. Tangan satunya lagi ia gunakan untuk membelai wajah Sean yang berada di depannya.


Tampan! Satu kata yang terucap oleh bibir Sean. Ketika ia melihat Sean dengan jarak sedekat ini.


Sean hanya diam menerima apa yang Aleea lakukan pada dirinya. Ia hanya memejamkan matanya mendapat sentuhan di wajahnya. Ia terus melangkahkan kakinya ke tempat sewaktu mereka sampai, ia letakan tubuh Aleea dia atas kain yang mereka gelar.


Sean mengambil kotak yang berisi beberapa macam obat-obatan. Ia membersihkan luka di lutut Aleea, sesekali ia memberi hembusan di lutut Aleea untuk menghilangkan rasa perih.


Setelah merasa luka nya sudah bersih ia olesi salep di atas luka itu.


Aleea hanya sesekali meringis merasakan pedih di lututnya.


“Selesai!” Ucap Sean antusias setelah mengobati lulut Aleea.


“Sekarang mana upahku?” Lanjutnya kembali.


Aleea mengerutkan dahinya binggung mendengar ucapan Sean, upah apa yang di maksud.


“Berikan aku ciuman,” Ucap Sean yang mendapatkan cebikan di bibir Aleea.


“Baby! Di dunia ini tidak ada yang gratis jadi sekarang beri aku ciuman atau aku saja yang mengambil upah ku?” Ucap Sean sambil menampilkan senyuman di bibirnya.


“Ya Tuhan. Kenapa aku harus punya suami yang perhitungan, istrinya sedang kesusahan tapi suaminya minta upah” Ucap Aleea dengan menampilkan wajah yang di buat sedih.


“Bukan gitu baby...” Ucal Sean terputus sebelum ia melanjutkan perkataannya. Aleea sudah berkata.


“Iya! Aku ngerti,” Ucap Aleea.


Cup!


Sean terkaget sedikit ketika bibirnya diberikan kecupan.


“Aku minta ciuman baby, bukan kecupan.” Ucap Sean yang protes ketika Aleea hanya memberikannya kecupan di bibirnya.


Sean mendekatkan wajahnya di depan Aleea. Aleea mulai memejamkan matanya ketika bibir mereka mulai bertumu. Aleea melenguh. Bibirnya lalu terbuka, memberikan akses masuk untuk lidah Sean agar semakin dalam mengakses rongga mulutnya. Lidah mereka pun saling bertemu.

__ADS_1


Ciuman itu tidak penuh dengan naf** sedikit pun, hanya menyalurkan perasaan kasih dan sayang satu sama lain.


__ADS_2