Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Mulai dari awal 2


__ADS_3

Sean yang sudah terbangun beberapa menit yang lalu saat ini ia melihat sosok wanita yang selama ini ia sia-siakan.


Ia pandangi wajah wanita yang tertidur dalam pelukan.


“Cantik,” Gumamnya saat menatap wajah Aleea. Ia singkirkan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Ia bubuhkan sesekali kecupan di dahi wanita itu.


Aleea menggeliat dalam tidurnya. Pelan-pelan matanya yang semula kini perlahan terbuka sedikit demi sedikit.


“Kenapa tidak membangunkan aku,” Ucap Aleea sambil mencoba melonggarkan pelukan, tapi bukannya longgar malah semakin erat pelukan itu.


“Sean lepas dulu, lihat sudah jam berapa sekarang?” Ucapnya menunjukan jam makan siang, sambil mengarahkan tangan nya ke arah jam dinding yang berada di ruangan itu.


Cup


Aleea tersentak kecil. Saat Sean memberikan kecupan ringan pada pipinya. Melepaskan kedua tangan besar miliknya pada pinggang milik Aleea.


Aleea merasa canggung, namun Sean sama sekali tidak. Wajah pria itu masih berseri terukir sebuah senyuman disana.


Ia mengacak rambut si cantik dengan perlahan, kemudian ia rapikan kembali.


“Cantik,” Ucap Sean pelan tapi masih didengar Aleea.


Blush!


Pipi Aleea memerah mendengar ucapan Sean. Melihat wajah wanita di depan nya yang memerah dengan sok polos nya ia berucap sambil menampilkan senyuman tipis di bibirnya “By. Kamu sakit? Pipi kamu merah.”


Aleea merasa pipi semakin memanas menandakan ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sean.


“Hahaha!” Suara Sean tertawa melihat tingkah Aleea yang semakin menggemaskan.


“Aww!” Sean meringis ketika dadanya di pukul oleh Aleea, padahal pukulan kecil tapi sean nya saja yang lebai sedikit.


“Kamu sih iseng banget,” Ucap Aleea yang masih menyembunyikan wajah nya di dada bidang sean.


Sean kembali membawa Aleea kedalam pelukan nya. Ntah kenapa ia senang sekali menjahili Aleea. Mungkin ia sudah menemukan hobi baru yaitu dengan menjauhi Aleea.


“Sean semalam Papa mengirim pesan. jika kamu sudah pulang dari perjalanan bisnis, Papa ingin kita ke rumahnya ada yang ingin Papa sampaikan kepada kita.” Ucap Aleea yang sedikit mendongakan wajahnya menatap wajah Sean.


Aleea merasakan tubuh Sean sedikit menegang mendengar perkataan ia tadi. Kemudian ia mengangkat tangannya membawa ke arah Sean, meletakan tangannya di pipi Sean yang mudah dia gapai. Ia belai perlahan, memberikan sedikit ketenangan. Sean yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa memejamkan matanya, merasakan tangan lembut aleea yang membelai wajahnya.

__ADS_1


“Aku akan memberi jawaban kepada Papa, jika aku akan memberi kamu kesempatan.” Lanjutnya kembali.


“Terimakasih. Telah memberiku kesempatan.” Ucap Sean dengan tulus yang menampilkan senyuman di bibirnya.


Sean bawa tangan Aleea yang masih di pipinya. Kemudian ia genggam tangan tersebut dan ia arahkan tangan Aleea ke bibibirnya.


Cup. Sean memberi kecupan di punggung tangan Aleea.


Beberapa detik mereka saling menatap. Pelan-pelan wajah mereka semakin dekat, jarak bibirnya dengan Aleea hanya beberapa senti sehingga mereka dapat merasakan nafas satu sama lain. Mata mereka ikut terpejam dengan jarak yang semakin dekat. Sean memiringkan sedikit kepalanya, semakin mendekatkan wajah mereka .


Kriuk.. Kriuk..


Suara cacing di perut Aleea terdengar sangat jelas ketika mereka yang berada di dalam ruangan itu tidak ada suara.


Mereka membuka mata secara bersamaan.


“Hahaha.” Suara tertawa mereka yang terdengar begitu nyaring di dalam ruangan itu.


Cup


Sean tersentak kecil. Saat Aleea memberikan kecupan ringan pada pipinya. Aleea melepaskan kedua tangan besar Sean yang masih berada pinggangnya.


Sean yang mendengarkan perkataan Aleea hanya menggelengkan kepalanya. Ternyata istrinya sangat lucu sekali.


Sean menatap punggung aleea yang semakin lama semakin jauh dan menghilang ketika pintu kamarnya tertutup kembali.


...****************...


Malam ini Aleea dan Sean akan menginap di rumah orang tua Aleea. Mereka memutuskan untuk memberi jawaban kepada orang tua Aleea kalau mereka akan tetap melanjutkan pernikahan mereka. Mereka telah sepakat untuk memulai hubungan dari awal.


Sepanjang perjalanan Aleea bernyanyi mengikuti suara musik yang terpasang di dalam mobil milik Sean. Mereka hanya pergi berdua dan Sean yang menyetir mobilnya.


Satu hal yang Sean tahu ternyata istrinya ini sangat berisik. Aleea tipe jika dia yang sudah nyaman dengan seseorang maka sifat aslinya akan keluar. Contohnya saat ini ia tengah asik bernyanyi tapi untungnya suara aleea sangat merdu untuk di dengar.


Setelah menghabiskan waktu sekitar empat puluh menit dengan mengendarai kecepatan sedang dan tidak ada kemacetan Aleea telah sampai di kediaman orang tuanya.


Aleea sedikit tegang untuk bertemu dengan Papanya. Ia tersentak ketika tangannya di pegang oleh seseorang. Ia melihat kesamping sosok pria yang menggenggam tangannya. Aleea balas genggaman itu dengan meletakan tangannya ke atas tangan pria itu.


Aleea memberikan senyuman yang di balas oleh senyuman.

__ADS_1


“Terimakasih telah memberi kesempatan.”


“Terimakasih telah mau memulai dan berjuang bersama” Ucap Sean dengan nada lemahnya. Aleea hanya membalas Sean dengan anggukan dan senyuman.


“Ayo. Kurasa kita sudah di tunggu orang tua ku di dalam.” Ucap Aleea yang sudah keluar dari mobil itu yang di ikuti Sean juga.


Mereka berjalan beriringan dengan genggaman memenuhi jari mereka masing-masing. Tak ada celah sedikitpun diantara jari-jari tersebut.


Mereka saling menatap dan memberikan senyuman manis yang terlihat jelas di wajah mereka.


“Mah!” Panggil Aleea ketika melihat mamanya membawa beberapa cemilan di dalam toples menuju ruang keluarga.


Anna yang mendengar ada yang memanggilnya menoleh ke sisi kiri, posisi Aleea berada bersama Sean.


Aleea melangkahkan kakinya kearah mamanya. Mereka berjalan beriringan yang diikuti oleh Sean di belakangnya.


“Aleea akan memberi Papa jawaban, Aleea akan memberi Sean kesempatan.” Ucap Aleea kepada Papa, suara Aleea yang memecahkan keheningan.


“Kamu yakin nak, dengan pilihan mu?” Ucap Adrick yang menatap putrinya.


Sean menggenggam tangan Aleea yang terletak di atas pahanya. Untuk memberikan ketenangan.


“Aleea yakin Pah,”


“Yasudah jika itu pilihan kamu. Papa hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaan kamu nak.”


Mendengar ucapan Papanya Aleea melepaskan genggaman tangan Sean kepadanya. Ia melangkah kan kakinya kearah Papa nyaa. kemudian ia memeluk Papanya dengan sangat erat yang di balas dengan pelukan yang tak kalah erat.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


Suara tangis Aleea yang mulai terdengar dari bibir Aleea.


Adrich menepuk pelan punggung putrinya. Ia melonggarkan sedikit pelukannya kemudian melihat wajah putrinya. Terlihat sangat jelas air mata yang keluar membasahi di wajahnya. Ia usap pelan-pelan air mata yang membasahi putrinya.


“Sudah jangan menangis. Tidak malu dengan suamimu.” Ucap Adrich dengan senyuman yang memenuhi wajahnya.


“Isss Papa jangan isengi Alee.” Ucap Aleea dengan nada merengek.


“Hahaha iya iya. Abis kamu sudah punya suami masih saja cengeng. Tidak malu dengan suamimu itu.” Ucap Adrich sambil menunjuk ke arah Sean yang duduk didepan mereka.

__ADS_1


__ADS_2