
Suara derap kaki pun terdengar. Seorang pria berjalan dengan senyuman di bibirnya. Ia merasa senang bahwa hari ini akan kembali ke rumahnya tentu saja bersama istrinya.
“Selamat pagi tuan,” ucap Justin yang berada di depan Sean.
“Tuan tampak senang hari ini,” lanjutnya kembali karena sepanjang jalan ia melihat Sean yang pasang senyuman di bibirnya sedari tadi.
“Apakah itu sangat terlihat Justin?” Tanya Sean yang di balas anggukan oleh Justin.
“Lihatlah mereka tuan sedari tadi mereka melihat anda karena anda hari ini sangat berbeda.” Jawab Justin sambil menunjuk ke arah karyawan yang sedari tadi melihat ke arah Sean.
Sean pun ikut melihat ke arah yang ditunjuk oleh Justin. Dan benar saja karyawannya melihat dia dan mereka kembali bubar setelah ketahuan melihat Sean.
“Aku hari ini sangat bahagia Justin, Aleea hari ini sudah di izinkan pulang oleh dokter yang merawatnya.” Ucap Sean dengan wajah yang tak luntur senyuman di bibirnya.
“Aku senang mendengar kabar tersebut tuan,” Ucap Justin.
Mereka pun melangkahkan kembali kaki mereka setelah beberapa menit terhenti.
Sean memimpin rapat yang berjalan dengan lancar, tapi senyuman di wajahnya memenuhi ruangan rapat itu.
Beberapa jam kemudian rapat itu telah selesai. Sean bergegas keluar ruangan itu menuju ke rumah sakit untuk menjemput istrinya.
“Tuan setelah habis makan siang kita akan ada pertemuan dengan perwakilan dari negara M tentang proyek yang sedang kita lakukan.” Ucap Justin yang menghentikan langkah Sean.
Sean kembali mengingat jadwal agendanya hari ini. Benar sekali hari ini akan ada pertemuan dengan perwakilan dari negara M untuk membicarakan proyeknya.
“Kamu saja yang mengurus itu Justin, aku harus menjemput istri ku, aku percayakan ini kepada mu,” Ucap Sean yang terus berjalan tanpa harus mendengar jawaban Justin.
Justin yang masih berada ditempatnya hanya bisa mendengus karena sikap tuanya yang semaunya saja.
“Jika saja tuan Revan yang tidak meminta aku menjadi Asisiten anaknya sudah dari dulu aku akan mengundurkan diri,” Gumam Justin kemudian ia kembali ke ruangannya.
Beberapa menit Sean dalam perjalanan akhirnya sampai juga di rumah sakit yang merawat istrinya.
Ceklek!!
Suara pintu terbuka dari luar. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu. Ia melihat ruangan itu kosong tanpa ada orang didalamnya.
“Apa aku salah kamar.” Ucap Sean, kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
“Ini benar ruangan Aleea,” Ucapnya kembali sambil melihat nomor ruangan Aleea dirawat beberapa hari ini.
Sean mengambil ponselnya yang berada kantong celananya, ia cari nomor ponsel yang akan ia hubungi.
Tapi Nomor tersebut tidak aktif dan hanya suara operator yang terdengar.
“Maaf. Saya ingin bertanya pasien atas nama Aleea Cullen. Saya lihat di kamarnya sudah tidak ada.” Ucap Sean.
“Nona Aleea Cullen sudah keluar dari rumah sakit pukul 10:00 tuan.” Ucap petugas tersebut.
Deg!!!
“Jangan-jangan.”
“Tidak! Aku mohon jangan tinggalkan aku By,”
Batin Sean.
Sean berlari setelah mendengar kabar Aleea telah pulang dari rumah sakit tanpa berpamitan kepada petugas rumah sakit tersebut.
Tiinnnnn!!!!!
Tiinnnnn!!!!!
Suara klakson mobil yang ia kendarai. Sean dengan cepat mengendarai mobilnya. Sesekali ia menelepon Aleea tapi jawabannya tetap sama hanya suara operator yang terdengar.
__ADS_1
Ciiitttt!!
Suara rem mobil itu terdengar ketika Sean melihat ada seorang yang menyeberang jalan dengan tiba-tiba.
BRUK!!
Mobilnya menabrak pembatas jalan.
“Awww,” Sean mendesis ketika dahinya terbentur setir dan mengeluarkan darah. Ia keluar dari mobilnya dan meninggalkannya disana. tujuannya hanya satu ia mencari Aleea di rumahnya.
“Tuan!” Panggil pengawal Sean saat melihat tuannya sedang menahan sakit di dahinya.
Sean yang melihat pengawalnya itu mendekati mobil yang di bawa pengawalnya.
“Kalian urus itu,” ucap Sean kemudian ia masuk kedalam mobil tersebut.
Beberapa menit kemudian ia sampai dirumah nya. Sean langsung naik menuju kamarnya bersama Aleea.
“By, kamu didalam?” Ucap Sean saat memasuki kamar tersebut. Kamarnya masih tertata rapi seperti tidak ada seorang pun yang memasukinya.
Sean keluar dari kamarnya dan melihat pembantu rumah nya sedang menghampirinya.
“Apakah Aleea sudah pulang bik?” Tanya Sean saat melihat pembantunya berada di depannya.
“Nona Aleea hanya menitipkan ini saja tuan, setelah itu nona pergi kembali,” Ucap pembantu tersebut sambil memberikan sebuah map setelahnya ia mengundurkan diri kembali ke dapur untuk meneruskan pekerjaannya.
Sean kembali memasuki kamarnya. Ia berjalan menuju sofa yang berada di ruangan itu. Ia buka map tersebut membuat rahangnya mengeras menampilkan urat yang terlihat jelas di lehernya. Tangannya menggengam erat sehingga buku-buku tangan terlihat berwarna putih.
Surat dari Aleea
Hai Sean,
Setelah kamu menerima dan membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi di negara ini.
Hmmm. Aku ingin mengucapkan terima kasih telah menggantikan kedua orangtua ku untuk menjagaku
Bukan maksud aku menyembunyikan calon bayi kita darimu
Kamu ingatkan hari terakhir aku sebelum kecelakaan?
Hari itu aku berniat memberitahu kamu tentang kehamilan ku yang sudah memasuki usia tujuh minggu.
Aku senang sekali ketika dokter bilang jika aku sedang mengandung bahkan aku sampai menangis karena bahagia ada calon bayi di dalam tubuhku.
Tapi aku sadar jika pernikahan ini hanya ada aku di dalamnya.
Malam dimana kamu meninggal aku karena mengurus mantan kamu yang akan melahirkan dan meninggalkan aku dan calon bayi di rumah
Kamu bilang aku egois bukan?
Iya! Kamu benar aku memang egois.
Aku hanya ingin perhatianmu hanya untuk aku dan calon bayi di kandungan aku.
Hahaha, lucu yah?
Oh iya! Aku sudah mengurus semua berkas perceraian kita, jadi kamu tidak perlu repot untuk mengurusnya
Kamu tinggal menanda tangani saja surat ini dan kita akan sah bercerai
Maaf yah telah hadir di tengah kebahagiaan kalian
Aku kali ini melepaskan kamu, hiduplah bahagia dan bina rumah tangga dengan Syeila dan putranya.
Mari hidup dengan bahagia dan aku harap kita tidak akan bertemu lagi selamanya.
__ADS_1
Aleea
Setelah membaca dan menerima surat perceraian yang Aleea kirimkan kepadanya membuat ia sangat-sangat marah.
Aaarrgghh!!
Sean menjerit sekuat tenaganya menyalurkan segala emosi didalam dirinya.
PRANG!!
PRANG!!
Sean membanting semua benda yang berada di kamarnya. Ruangan yang tadinya tertata dengan rapi kini sangat berantakan.
PRANG!!
PRANG!!
Setelah puas melampiaskan semua emosinya dengan menghancurkan semua barang-barang itu kemuadian ia membawa langkah kakinya keluar dari ruangan tersebut. Ia tidak memperdulikan sakit dan memiliki banyak luka yang ada di dalam tubuhnya.
“Tuan,” Ucap Justin di ujung panggilan teleponnya. Ia melihat Sean yang baru saja keluar dari sebuah bar.
BRUK!!
Sean menabrak kumpulan seseorang ketika ia berjalan. Sean sama sekali tidak berhenti ataupun meminta maaf, ia hanya berjalan saja tanpa merasa bersalah.
Justin yang melihat Sean dari seberang yang berjalan sempoyongan karena mabuk.
“Hei! Kau harus minta maaf karena menabrakku,” Ucap pria tersebut, sedangkan Sean terus berjalan.
“Hei! Kau tak mendengarkan ku!” Ucap pria itu kembali.
Karena kesal pria itu memegang bahu Sean dan mencoba untuk memukul Sean tapi Sean menghindar dan pria itu semakin geram akhirnya memberikan pukulan tepat di wajah Sean.
Bugh!!
Aaarrgghh!!
Sean yang wajahnya di pukul seseorang, ia pun terus membalas pukulan tersebut.
“Berengs*k!! Kau ingin mat*!” Ucap Sean dengan wajah yang sangat merah dengan terlihat jelas urat di leher dan kepalan tangannya yang memperlihatkan urat-urat terlihat jelas di sana. Sean terus memukuli pria tersebut, sampai nyaris pria itu tidak sadarkan diri.
“Tuan. Sadarkah kau bisa membun*hnya,” Ucap Justin tepat di samping sean.
Bugh!!
Sean kembali memukul seseorang tapi bukan pria itu yang dipukulnya sebaliknya yang ia pukul adalah Justin.
Aaarrgghh!!
Justin pun berdiri dan memberitahu agar para pengawal sean untuk membereskan kumpulan orang-orang tersebut sedang Justin mencoba memukul kembali sean agar pria itu tersadar.
“Tuan sadarlah,” Ucap Justin yang menghindar dari pukulan Sean. Tapi Sean tidak mendengar ucapan Justin dan malah berjalan mendekati pria yang sudah babak belur karenanya.
Justin menarik bahu Sean untuk menghentikan nya sehingga perkelahian itu terjadi ntah siapa yang memulainya.
Bugh!!
Bugh!!
Aaarrgghh!!
Sean meringis dan terjatuh karena Justin memukulnya tepat di wajah Sean.
“Jika tuan ingin melihat nona Aleea, pergi dan kita sama-sama mencarinya tuan!” Ucap Justin yang sedikit kuat agar Sean tersadar.
__ADS_1
“Nona, baru satu hari saja anda pergi tuan Sean sudah kehilangan arah untuk hidupnya, bagaimana ia akan menjalankan semua ini jika rumahnya sudah meninggalkannya sendiri disini.” Batin Justin yang melihat keadaan Sean yang di bilang sangat memilukan.