Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
Bab 112


__ADS_3

Di desa, uang 200 juta tidak termasuk sedikit.


Setidaknya keluarga mereka pasti tidak memiliki uang sebanyak itu, jadi ibunya langsung terkejut begitu melihat Robert mentransfer begitu banyak uang kepadanya.


Robert menjelaskan dengan susah payah kepada ibunya, dan akhirnya baru berhasil meyakinkan ibunya bahwa uang itu diperoleh dengan legal.


Setelah menutup telepon, Robert menghela napas panjang, untungnya hanya 200 juta yang dikirim olehnya, jika tidak ibunya pasti datang ke Jakarta dengan membawa pisau dan membawanya ke kantor polisi.


Tidak lama setelah menutup telepon, pamannya menelepon.


"Halo Robert, sepupumu dan aku akan tiba di Jakarta dalam waktu sekitar satu jam! Apakah kamu di rumah sekarang?" Junius tertawa di telepon.


"Ah ... ada di rumah," jawab Robert.


“Bagus, aku akan menghubungimu nanti saat kami hampir sampai.” Selesai berkata, Junius langsung menutup telepon.


Robert melemparkan ponselnya ke tempat tidur, dan tiba-tiba kepalanya terasa sakit.


Ada saja masalah setiap hari!


Tidak perlu menghiraukan mereka?


Tentu saja tidak, ayahnya akan marah besar!


Demi ayahnya, dia harus memperlakukan paman dan sepupunya dengan baik.


Namun, mereka tidak boleh dibawa ke sini karena pasti akan terjadi masalah besar kalau mereka mengetahui bahwa dirinya memiliki vila paling mewah di Jakarta. Apalagi diketahui orang tuanya, dia pasti tidak bisa menjelaskannya!


Lebih baik tetap low profile.


Bawa mereka tinggal di rumah basement?


Tidak, semua orang di sana mengenalnya sekarang, dan lubang besar di bawah basement baru saja ditutup untuk sementara waktu, jika diinjak oleh mereka pasti akan roboh.


Untuk saat ini, satu-satunya cara yang tersisa adalah menyewa rumah.


Ketika Robert memikirkan hal ini, dia mengeluarkan kartu nama yang diberikan Abidin padanya di tempat parkiran tadi malam.


Kalau tidak salah Abidin bekerja dalam bisnis menyewa rumah.


Tak lama kemudian, telepon tersambung.


“Halo, halo? Siapa ini?” tanya Abidin di telepon.


Robert tersenyum dan berkata, "Namaku Robert, kita bertemu tadi malam, aku yang menghalangi mobilmu tadi malam."

__ADS_1


"Yo!"


Abidin berkata dengan terkejut. "Ternyata kamu! Halo, Tuan Robert!"


Dia hanya ingin memperluas jaringannya kemarin, makanya mencoba memberikan kartu nama kepada Robert. Dia berpikir bisa memiliki koneksi dengan Robert, tapi tidak disangka Robert akan menelponnya hari ini!


"Pak Abidin, aku ingin menyewa rumah."


Robert langsung masuk ke topik utama, "Rumah dengan dua kamar tidur dan satu ruang tamu, atau satu kamar tidur dan satu ruang tamu juga boleh, yang bisa langsung dihuni."


"Baik!"


Abidin tidak banyak bertanya, dia langsung mengiyakan. "Aku akan segera mengaturnya, kapan kamu menginginkannya?"


"Dalam waktu setengah jam, kalau bisa lebih cepat lebih baik! Kalau sudah diatur, segera kirim alamatnya ke ponselku!"


"Tidak masalah! Beri aku sepuluh menit untuk mengaturnya untukmu!"


Setelah menutup telepon, Abidin kembali meneleponnya dalam waktu kurang dari lima menit.


“Tuan Robert, alamat rumahnya berada di Taman Anggrek Mas, blok 2, gedung 56, kamar 301. Aku mengantar kuncinya untukmu?”


"Tidak, aku akan mengambilnya sendiri, aku mau menyewanya selama sebulan, berapa biayanya, aku akan mentransfernya kepadamu sekarang."


Biaya sewanya hanya 2 juta lebih per bulan. Abidin lebih memilih untuk menanggung biayanya sendiri daripada menerima uang dari Robert!


Karena jika dia bisa berteman dengan orang hebat seperti Robert, manfaatnya pasti akan jauh lebih besar dari ini.


“Oke! Terima kasih, aku akan mentraktirmu makan di lain hari.” Robert tidak lagi sungkan.


Pada saat ini, Lia meneleponnya.


Robert menekan tombol jawab, lalu bertanya, "Ada apa mencariku, Nona Lia?"


"Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu, di mana kamu sekarang?"


"Aku sekarang di Taman Anggrek Mas, blok 2, gedung 56, ada apa?"


"Kamu akan tahu setelah aku tiba." Setelah itu, Lia langsung menutup telepon.


Robert menggelengkan kepalanya, dia naik ke atas dan melihat rumah.


Rumah itu memiliki tiga kamar tidur dan dua ruang tamu, dekorasinya juga sangat indah, bukan rumah satu kamar tidur atau dua kamar tidur dan satu ruang tamu yang diminta oleh Robert. Dapat dilihat bahwa Abidin mengaturnya dengan sepenuh hati.


Pada saat ini, Junius menelepon lagi.

__ADS_1


"Halo Robert, kami sudah sampai di Jakarta!" kata Junius.


"Di mana kamu turun, aku akan menjemputmu."


"Tidak perlu, naik bus terlalu merepotkan, kami datang dengan mengendarai mobil! Kirimkan saja lokasinya, aku akan langsung ke sana dengan sepupumu." Junius tertawa.


Robert bergeming. "..."


Tidak perlu menjemput mereka, jadi tidak perlu repot-repot!


Robert langsung mengirim lokasi ke Junius.


Setelah setengah jam, Junius menelepon lagi.


"Kami sudah di pintu, turun dan jemput kami," kata Junius.


"Baik."


Tampaknya mereka tidak terlalu keterlaluan karena masih tahu membawa buah tangan.


Begitu turun, Robert melihat sebuah SUV putih baru berhenti di depannya.


 Kemudian, Junius yang rambutnya setengah botak, berjalan keluar dengan sepupunya, Alexander.


"Paman."


Robert memanggil dengan sopan.


Begitu Junius turun, dia tertawa dan berkata ketika Robert, "Robert, terlalu merepotkan bagimu untuk menjemput kami, kakakmu sudah punya mobil, dia baru saja membelinya, harganya lebih dari 400 juta! Namanya Honda C ...C .…”


"CRV." Alexander terkekeh.


"Iya benar!" Junius menepuk pahanya dan berkata, "Ini mobilnya!"


Alexander tertawa dan berkata, "Robert juga anak muda, dia pasti tahu mobil ini, kamu tidak perlu memperkenalkannya, Ayah."


"Oke, aku tidak akan banyak bicara lagi. Ayo Robert, aku membawakanmu bawang putih dari rumah, ini ditanam oleh bibimu!" Junius berkata sambil mengeluarkan kantong transparan dari mobil yang berisi bawang putih.


Robert bergeming.


Junius menelepon dan memintanya turun untuk menjemputnya, Robert mengira Junius membawakan banyak buah tangan untuknya.


Antonius mentransfer enam juta untuk dipakai pada paman dan sepupunya, tapi tidak disangka Junius hanya datang dengan membawa bawang putih sebagai buah tangan untuknya.


Robert akhirnya tahu bahwa Junius sengaja menyuruhnya turun menjemputnya hanya untuk memamerkan CRV yang dibelinya!

__ADS_1


__ADS_2