
Setelah mendengar kata-kata Alexander yang terlihat malu-malu tapi sebenarnya sombong, Robert tidak bisa menahan diri dan tertawa sinis dalam hati.
Apa yang dimaksud dengan membual tanpa mempersiapkan draft?
Sekarang Robert sudah memahaminya, apa pun yang dikatakan benar-benar keluar begitu saja dari mulut.
Masih ingin membandingkan diri dengan pemilik hotel?
Kau juga tahu ada perbedaan?
Yang terpenting, apakah kau pernah berjumpa pemilik hotel itu sendiri?
Jika pernah, bagaimana bisa tidak mengenal pemilik hotel yang duduk di depanmu?
Saat ini, makanan sudah dihidangkan.
Cukup mewah.
Enam orang duduk di kursi masing-masing, Junius mengangkat tangannya. "Makan sepuasnya, kita mempunyai kartu VIP, dapat diskon 50% untuk makan!"
"Terima kasih, Kak." Meriatanti berkata dengan sopan.
Antonius juga tertawa, dan berkata, "Kak, Erni, kelak Alexander akan menjadi artis terkenal, kami berharap kelak kalian bisa membantu Robert lebih banyak lagi,bagaimanapun kita adalah satu keluarga!"
Junius tertawa, dan berkata, "Tentu saja, kami akan membantu sebisa mungkin! Robert, benar, 'kan?"
Robert tersenyum kecil sambil berkata, "Itu tergantung apa yang kalian lakukan!"
"Hei?"
Junius memelototi. "Apa maksudmu? Kenapa? Ayahmu meminta kami membantumu, kami masih harus melihat suasana hatimu?"
"Kak, Kak."
Antonius segera berdiri sambil berkata, "Robert tidak pandai berbicara, mari kita makan dulu. Ayo, aku akan bersulang dengan Kakak dan Erni dulu, semoga Alexander bisa segera menjadi terkenal!"
Setelah selesai berbicara, Antonius segera mengisi anggur ke gelas Junius.
Kemudian Junius mengangkat gelas dan tos dengan Antonius dengan asal-asalan, lalu melototi Robert dengan marah sambil berkata, "Anak ini sangat keras kepala, kalau dia bisa lebih fleksibel, tahu cara berinteraksi dengan baik, dan tidak suka emosi, dia juga tidak mungkin akan seperti sekarang, tidak bisa menemukan pekerjaan yang baik!"
"Ya ya ya!" Antonius segera tersenyum dan berkata, "Jadi kami masih banyak butuh bantuanmu!"
Junius mengangguk dan berkata, "Itu sudah pasti! Hari ini kami mengajak kalian dari desa ke sini, selain untuk menikmati kemewahan hotel bintang lima dan menonton pertunjukan konser Jasmine, sebenarnya ada satu hal lain yang ingin kami diskusikan dengan kalian!"
"Silakan ceritakan Kak." Antonius segera menjawab.
Robert mengangkat alisnya, wajahnya juga terlihat bersemangat.
Apakah pertunjukan akan segera dimulai?
Junius menggerakkan bibirnya dan berkata dengan nada serius. "Kelak Alexander adalah orang yang memiliki status tinggi, tentu saja harus memiliki sebuah rumah di kota, jika tidak, ini akan memalukan keluar Kusnadi! Oleh karena itu, aku berencana untuk membeli sebuah rumah di Jakarta bersama Erni, tapi saat ini masih kekurangan sekitar 200 juta, jadi ingin kalian membantu kami."
__ADS_1
"Ini ...." Antonius terdiam sejenak.
Setelah Robert mendengar ini, barulah dia mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Junius.
Ternyata dia ingin meminjam uang.
Tidak heran dia mengatur ayah dan ibunya untuk menginap di hotel bintang lima dan mengajak mereka makan serta menonton konser.
Robert mengira sifat mereka sudah berubah.
Tetapi akhirnya tetap saja demi uang.
Robert menoleh dan melihat ibunya, terlihat bahwa ibunya sedang menundukkan kepala dan memakan sesuatu, tidak mengatakan sepatah kata pun, diperkirakan dia juga sudah mendengar gosip tentang masalah ini.
Bagaimanapun gosip di desa selalu bisa tersebar lebih cepat daripada jaringan 5G.
Robert menggelengkan kepala, kembali melihat ayahnya.
Dia sangat penasaran bagaimana ayahnya akan menangani masalah ini.
Melihat Antonius tidak bicara, Junius melanjutkan. "Antonius, kami meminjam, bukan tidak mengembalikan. Setelah Alexander menjadi artis, saat itu kami akan punya uang yang tak habis-habisnya, apakah kau masih takut kami tidak mampu mengembalikan uangmu?"
Antonius berkata dengan wajah cemberut. "Tetapi, aku juga tidak mempunyai uang sebanyak itu."
Jika 20 juta hingga 40 juta, dia mungkin bisa meminjamkannya.
Junius ingin meminjam 200 juta, dari mana dia bisa mencari uang sebanyak itu?
"Ini ... aku tidak bisa mengambil keputusan, harus kembali dulu dan mendiskusikan dengan baik!" Antonius berkata dengan wajah tidak berdaya.
Tanah itu adalah harapan terbesarnya.
Pada saat pembagian tanah, tanah itu terletak dekat jalan besar, orang-orang yang lalu lalang sangat banyak, ada ternak seperti sapi, kambing, dan babi yang lewat, hasil pertanian mudah dicuri dan rusak, jadi Junius memberikan tanah itu kepada keluarga Antonius.
Tetapi setelah dibangun jalan raya di sana, tanah itu segera menjadi mahal.
Dia tidak mau menjual tanah ini.
"Apa yang perlu didiskusikan?"
Junius langsung bertanya dengan paksa. "Antonius, kau adalah kepala keluarga, menjual atau tidak adalah urusanmu. Jika kau tidak mau membantuku, tidak menganggapku sebagai anggota keluarga sendiri, maka anggap saja aku tidak meminta bantuanmu! Aku akan pergi mencari orang lain di desa, aku yakin pasti ada yang bersedia meminjamkan uang itu! Kelak kalau kalian ingin meminta bantuan dari keluargaku, jangan salahkan aku kalau aku tidak menganggapmu sebagai saudara!"
Antonius berkata dengan wajah tertekan. "Bukan begitu Kak, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya .... "
"Lalu apa maksudmu? Nanti saat Alexander menjadi artis terkenal, 200 juta hanyalah uang kecil? Menerima sebuah iklan saja bisa menghasilkan puluhan miliar! Apa kau masih perlu takut aku tidak punya cukup uang untuk mengembalikan uang yang kami pinjam? Apakah kau meremehkan kakakmu?" Junius terus menekan.
Setelah mendengar ini, Robert menghela napas tidak berdaya.
Gawat.
Ayah akan terjebak lagi.
__ADS_1
Sebenarnya, ayah bukanlah orang bodoh, juga bukan tidak tahu bahwa tidak seharusnya memberikan pinjaman kepada Junius dan keluarganya, hanya saja Junius terlalu licik dan ayah terlalu takut kehilangan muka dan tidak ingin hubungan keluarga rusak.
Jadi Junius selalu berhasil membujuknya, sehingga meskipun ayah tidak bersedia, dia juga hanya bisa menerima saja.
Ternyata benar, Antonius menghela napas dengan tidak berdaya dan berkata, "Baiklah, aku ...."
"Tunggu dulu!"
Ibunya tiba-tiba berseru dengan suara kuat. "Tanah itu tidak boleh dijual."
Junius memicingkan mata dan berkata dengan penuh makna tersirat. "Meriatanti, apa yang ingin kau lakukan? Apakah kau ingin merusak hubungan persaudaraan kami?"
Antonius juga menoleh ke arah istrinya dan berkata, "Tanti, nanti pulang baru kita bicarakan lagi!"
"Bicarakan apa? Apa yang harus dibicarakan?"
Meriatanti langsung berdiri dan berkata, "Aku tidak akan ikut campur urusan lain, kalian saudara sekandung bisa melakukan apa saja yang kalian suka! Tapi tanah itu adalah milik anakku! Antonius! Kau harus minta pendapat anakmu terlebih dahulu kalau ingin menjualnya! Kalau tidak, jangan salahkan anakmu kalau dia membencimu seumur hidup! Saat tua nanti, dia juga tidak akan mengantar kepergianmu!"
Antonius bergeming.
Apakah perlu begitu kejam?
Dia menoleh ke arah Robert dan bertanya dengan ragu-ragu. "Robert, apa pendapatmu?"
Junius juga menatap Robert dan berkata, "Robert, kelak saat sepupumu menjadi seorang artis, dia tidak akan merugikanmu. Saat itu, dia bisa dengan mudah memberikan bantuan padamu, kau tidak akan kekurangan apa-apa lagi! Kau harus menghitungnya dengan cermat."
Robert mengangguk dan berkata, "Ya, aku harus menghitungnya dengan cermat! Jadi aku mencatatnya di buku kecil ini!"
Sambil berkata, Robert mengeluarkan buku kecil yang sudah hampir berjamur dari sakunya.
Buku ini dibawa oleh ibunya dari desa, tadi saat datang ibunya memberikannya kepadanya.
Robert mengambil buku itu, membuka halaman pertama, dan berkata dengan wajah serius. "Buku ini, aku catat sejak usiaku 7 tahun, saat aku bisa menulis. Pada saat SD kelas satu, hari pertama masuk sekolah, Alexander merebut uangku sebesar seribu lima ratus rupiah. Hari kedua, dia merebut uangku sebesar empat ratus rupiah."
Alexander. ".... Kau mencatat semua itu?"”
Robert menjawab. "Tentu saja, emang kau pikir kenapa aku mengejarmu dengan pisau sampai ke rumahmu? Oh ya, hari ketiga, paman meminjam uang sebesar seratus lima puluh ribu rupiah kepada ayahku, sampai sekarang belum dikembalikan."
Junius. "Kapan itu?"
Robert menjawab. "Aku akan membantumu mengingat kembali, tanggal 4 September 2004, hujan kecil. Selanjutnya, yaitu tanggal 5 September, bibi mengambil tiga batang bayam dari rumahku, sampai sekarang belum dikembalikan."
Erni bergeming.
Junius bergeming.
Antonius bergeming.
Tiga batang bayam juga dicatat selama belasan tahun?
Anak ini kejam sekali.
__ADS_1