
Dalam perjalanan ke kantor rektorat.
Jackson berkata kepada Robert, "Robert, perbuatanku dulu kalau ada yang keterlaluan, aku harap kamu tidak menyimpannya dalam hati."
Dia dari dulu ingin meminta maaf kepada Robert.
Karena sebelum itu, dia telah melakukan banyak hal yang menyinggung Robert.
Kalau Robert hanya orang biasa, itu tidak apa-apa.
Namun, siapa yang percaya anak muda yang bisa mengendarai mobil sport ratusan milar adalah orang biasa?
Jackson hanyalah seorang dosen pembimbing, dia takut dan ingin meminta maaf kepada Robert, tetapi tidak punya kesempatan yang cocok. Setidaknya dia adalah seorang dosen, jadi punya harga diri yang lebih tinggi dibandingkan Jamil. Saat ini, dia baru mendapatkan kesempatan untuk meminta maaf.
Robert melambaikan tangannya dan berkata sambil tertawa kecil, "Pak Jackson, apa yang Anda katakan, Anda adalah dosen kami, Anda sudah banyak mengkhawatirkan kami dalam beberapa tahun terakhir, bahkan jika ada hal-hal yang tidak menyenangkan, itu semua bukan masalah besar, jangan khawatir, aku sudah tidak ingat."
Ada hal yang akan dia ingat selamanya, tapi ada juga hal yang akan dia lupakan.
Meskipun Jackson banyak menyinggungnya, itu semua bukan kehendaknya, jadi tidak perlu menyimpannya dalam hati.
Meskipun sekarang dia kaya, dia masih Robert sebelumnya, dia tidak akan menjadi sombong.
Seperti yang dikomentari Elysia, tidak peduli apa yang orang lain lakukan padanya, dia adalah orang yang selalu optimis dan tersenyum, dia tidak akan berkecil hati dan bersedih hati.
Bahagia atau tidaknya seseorang memiliki hubungan tertentu dengan kemampuan ekonomi, tetapi itu bukanlah hubungan yang menentukan.
Wajah Jackson tampak bersyukur ketika mendengar apa yang dikatakan Robert.
“Robert, jangan khawatir, aku tidak akan seperti dulu lagi!” Jackson meyakinkan Robert.
Robert menggelengkan kepalanya dan berkata, "Pak Jackson terlalu sungkan."
Jackson berjalan ke arah Robert dengan cepat, dan berkata, "Ada satu hal lagi, kurasa kamu mungkin tidak tahu bahwa Hardi sudah diberhentikan dari jabatan ketua BEM."
"Um?"
Robert menghentikan langkahnya, mengangkat alisnya karena terkejut.
Mereka baru saja kembali ke kampus dan tidak tahu sama sekali tentang hal ini.
Jackson ikut berhenti dan melanjutkan, "Tidak hanya itu, dia juga kena skorsing, sebagai pertanggungjawaban atas hal yang terjadi sebelumnya."
Robert menarik napas panjang dan berkata, "Iya, kalau seperti ini, Hardi mungkin akan semakin membenciku."
Hukuman skorsing semacam ini sangat berat.
…
Segera, ketiganya datang ke kantor rektorat.
__ADS_1
Saat ini, ada empat atau lima orang yang duduk di kantor, semuanya adalah pemimpin senior kampus.
Rektor Handoko, Dekan Bidang Akademik Julfikar, dan Direktur Penuntutan Disiplin Sutarto, ... semuanya telah menunggu di sini.
Tentu saja,
Jamil dan lima lainnya juga berdiri di sudut.
Tuk,tuk,tuk~
Jackson mengetuk pintu dengan ringan, dan berteriak ke dalam, "Robert sudah datang."
"Um, masuklah." jawab seseorang dari dalam ruangan.
Jackson menoleh dan berbisik kepada Robert, "Masuklah sendiri, aku tidak akan menemanimu masuk."
Terus terang, dalam menghadapi masalah semacam ini, bahkan sebagai seorang dosen pemimbing pun sedikit merasa takut.
Robert mengangguk dan berjalan masuk bersama Kelvin.
Awalnya dia tidak ingin Kelvin masuk, dia tahu Kelvin orangnya emosional, dia benar-benar khawatir Kelvin akan masuk dan langsung memukul orang-orang di dalam.
Namun, Kelvin bersikeras untuk ikut dengannya.
Setelah masuk, Robert menyapa, "Halo, Pak."
Robert menyeringai dan berkata, "Ini aku, Pak Julfikar, apa kabar?"
Mulut Julfikar berkedut saat mendengar ini.
Apa kabar? Sialan!
Awalnya, jika dia bisa menemani Steven dengan baik, dia mungkin akan dipromosikan, tapi Steven malah masuk ICU gara-gara Robert!
Hanya saja Julfikar tidak pernah membayangkan bahwa Robert adalah mahasiswa dari kampus mereka, dan dia akan bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini!
Pada saat ini, Julfikar menghela napas, merasa bahwa dunia ini terlalu kecil!
Handoko melihat reaksi Julfikar dan bertanya dengan penasaran, "Pak Julfikar, kamu sebelumnya mengenal Robert?"
Julfikar menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Aku tidak mengenalnyal!"
Mana mungkin dia mengaku bahwa sudah bertemu dengan Robert semalam, dan dipermainkan olehnya!
Di depan begitu banyak orang, dia tidak boleh kehilangan harga diri!
Namun, sekarang Robert ada di tangannya, sepertinya Robert sedang tidak beruntung hari ini!
Julfikar menarik napas dalam-dalam, duduk kembali, dan bertanya kepada Jamil sambil mencibir, "Apakah dia memukulmu?"
__ADS_1
Jamil bergegas berdiri dan berkata, "Ya! Dia yang memukulku! Setengah dari wajahku bengkak, mati rasa sampai sekarang!"
Julfikar mengangguk, menoleh untuk melihat Robert dan berkata dengan serius, "Apa kamu mengakuinya?"
Robert mengangguk dan berkata, "Aku yang memukulnya."
"Bagus!"
Julfikar mencibir dan berkata, "Memukul teman sekelas di kampus secara terang-terangan! Ini melanggar peraturan kampus! Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk mengeluarkanmu! Bereskan barangmu dan keluar dari kampus ini!"
Handoko, Sutarto dan para pemimpin lain mengangkat alis mereka dengan bingung ketika melihat Julfikar membuat keputusan dengan begitu cepat.
Handoko mengerutkan kening dan berkata, "Pak Julfikar, kamu..."
Julfikar menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Aku adalah Dekan Bidang Akademik, aku memiliki hak untuk mengeluarkan mahasiswa! Kamu memukuli teman-teman sekelas di kampus, dan tidak ada penyesalan sama sekali. Mahasiswa seperti kamu benar-benar mempermalukan nama kampus! Tidak ada gunanya mahasiswa semacam kamu berada di kampus ini, cepat keluar dari sini!"
Robert memandang Handoko.
Julfikar pasti sangat membencinya. Jika dia ingin tetap tinggal di kampus ini, dia hanya bisa membuat terobosan melalui Handoko.
"Ah!"
Pada saat ini, Kelvin tiba-tiba mencibir dan berkata: "Sebagai Dekan Bidang Akademik, kamu mengeluarkan mahasiswa tanpa menanyakan akar permasalahannya, orang yang hanya tahu menyalahgunakan kekuasaan seperti kamu, tidak berhak menjadi dekan di sini!"
Robert menatap Kelvin dengan heran.
Orang ini benar-benar berani berkata sembarang.
Bam!
Julfikar memukul meja, dan berkata dengan marah, "Apa yang kamu katakan!"
Kelvin langsung datang di depan Julfikar, meregangkan lehernya dan berkata dengan marah, "Aku bilang kamu menyalahgunakan kekuasaanmu. Kamu hanya tahu bagaimana menggunakan kekuasaanmu untuk menggigit orang, seperti anjing!"
Ketika Robert mendengar ini, ekspresi wajahnya langsung berubah.
Waduh si gemuk ini...
Julfikar yang mendengar kata-kata Kelvin, wajahnya langsung memerah karena marah.
"Kamu cari mati!"
Dia dengan marah mengangkat tangannya dan menampar wajah Kelvin.
Robert berseru, bergegas menarik Kelvin, tapi tidak berhasil.
Plak!
Tamparan Julfikar menghantam wajah Kelvin dengan kuat.
__ADS_1