
"Direktur Lia, siapa orang ini?"
Tanya Robert dengan suara kecil.
“Jangan bertanya, jangan sampai terlibat," jawab Lia dengan alis berkerut.
Dia jelas mengetahui bahwa Steven sangat kejam, dia tidak ingin Robert terlibat masalah.
Pada saat ini, Steven mencibir dan berjalan menuju Lia.
Baru saja berjalan, beberapa anggota staf dari tempat parkir hotel tiba-tiba muncul, dan salah satunya adalah Johan, ketua security Sky Hotel.
Johan buru-buru berhenti di depan Steven dan yang lainnya, dan membujuk: "Halo, jangan berbuat onar di sini."
Dia mengenal Lia dan Robert.
Salah satunya adalah Direktur Grup Setiawan, dan yang satu lagi adalah pemilik mobil Bugatti. Mereka semua adalah tamu kehormatan yang tidak dapat diprovokasi.
Jika terjadi sesuatu pada dua orang ini di sini, Sky Hotel tidak akan mampu bertanggung jawab.
Jadi begitu melihat Steven berjalan ke arah Lia dan dengan ekspresi wajah ganas, dia segera datang untuk menghentikannya.
Melihat ada seseorang yang berani menghentikannya, Steven segera memarahi: "Persetan kau! Beraninya menghentikanku!"
Setelah selesai berbicara, dia langsung mengangkat kakinya dan menendang Johan!
Johan menghindar ke samping, wajahnya tiba-tiba berubah muram, dan berkata dengan dingin, "Ini Sky Hotel, tolong jaga sikapmu, kalau tidak jangan salahkan kami bersikap kasar!"
Beraninya main keras di wilayahnya. Pemuda ini benar-benar keterlaluan!
"Sky Hotel sialan!"
Steven mendengus dingin: "Seorang security biasa juga berani ikut campur urusanku?! Apakah kamu tidak tahu siapa aku?"
Johan menggelengkan kepalanya dengan ekspresi dingin: "Aku tidak tahu! Tapi tidak peduli siapa kamu, kamu juga harus bertindak sesuai aturan!"
Begitu suaranya jatuh, Julfikar yang berdiri di samping berkata dengan suara dingin: "Anak muda, kamu seharusnya tidak bekerja lama di sini, kan?"
Johan mengerutkan kening dan berkata dengan dingin, "Apa maksudmu?"
"Maksudku sangat sederhana! Kamu akan segera mampus!"
Pria paruh baya berkepala botak di sebelah Julfikar mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
__ADS_1
Pada waktu bersamaan.
Ruang konferensi Sky Hotel.
Pemilik Sky Hotel, Martin, berdiri di depan meja konferensi, dan berkata kepada orang di dalam ruangan dengan tatapan serius: "Hari ini, ada seorang tokoh besar akan datang ke hotel kita untuk makan siang! Kalian harus melakukan yang terbaik untuk melayani mereka. Jika ada yang berani memprovokasi tokoh besar ini, jangan salahkan aku... "
Belum selesai berbicara, ponsel di sakunya tiba-tiba berdering.
Dia mengerutkan kening.
Siapa yang meneleponnya ketika sedang rapat?
Dia mengeluarkan ponselnya dan hendak menutup telepon, tetapi ketika dia melihat nomor si penelepon, ekspresi wajahnya tampak terkejut dan dengan cepat menekan tombol jawab, lalu berkata sambil tersenyum: "Kak John, apa yang bisa aku bantu?"
Meskipun Sky Hotel-nya berskala cukup besar, tapi orang di ujung telepon adalah John Antonio, ketua gangster di Jakarta!
Sepertiga dari gangster Jakarta berada di bawah kendalinya!
Bahkan ada banyak desas-desus yang mengatakan bahwa latar belakang orang ini adalah keluarga Anderson!
Dan hari ini, John yang memberitahunya bahwa dia akan membawa seorang tokoh besar untuk makan di hotelnya, dan memintanya untuk melakukan persiapan penyambutan tamu, makanya diadakan rapat kali ini.
Martin hanyalah orang biasa yang menjalankan bisnis hotel!
Beri dia seratus keberanian pun dia tidak berani memprovokasi John.
"Bos Martin, kami sekarang berada di bawah Sky Hotel. Security hotelmu benar-benar hebat! Beraninya menghentikan kami di depan pintu! "Kata John dengan dingin di ujung telepon.
Ketika Martin mendengar ini, dia sangat terkejut, dahinya berkeringat dingin, dan segera berkata: "Kak John, mungkin terjadi kesalahpahaman, aku akan segera turun!"
Selesai berbicara, dia langsung berlari keluar tanpa menjelaskan apa yang sedang terjadi kepada orang-orang di ruang konferensi.
Di luar gerbang Sky Hotel.
Johan melihat John kelihatan sangat tenang, lalu mengerutkan kening dan berkata, "Apakah kamu baru saja menelpon bos kami?"
John mencibir: "Ada orang yang tidak bisa kamu provokasi, kami salah satunya, jadi kamu harus membayarnya!"
Johan berkata dengan terkejut: "Kalian..."
“Hah? Kak John saja tidak kenal, kamu masih berani tinggal di Jakarta?” Orang terakhir yang berada di belakang Julfikar berkata dengan dingin.
Dia adalah seorang pemuda berusia dua puluhan, dari tadi berdiri di belakang Julfikar. Dia tidak seusia dengan Julfikar dan John, jadi tidak ada yang memperhatikannya.
__ADS_1
Johan menoleh dan melirik orang itu.
Detik berikutnya, matanya melebar.
Dia tidak mengenal Julfikar dan John, tetapi dia samar-samar mengingat pemuda ini, dia tampaknya adalah anak dari seorang pejabat terkenal di Jakarta.
Kali ini, ekspresi Johan akhirnya berubah, lalu berseru: "Kamu..."
Pada saat ini, Martin berlari keluar dari Sky Hotel dengan tergesa-gesa, dan tersenyum kepada John dengan ekspresi menyanjung: "Maaf, Kak John, karyawanku tidak mengenal Anda! Mohon Kak John jangan marah. "
Tidak jauh dari sana.
Ketika Robert melihat adegan ini, alisnya sedikit terangkat.
Pada awalnya, dia merasa Steven sudah sangat hebat karena ada Julfikar yang mengikutinya.
Tapi, dia tidak menyangka, dua orang itu juga begitu hebat. Dia tidak tahu apa identitas pemuda itu, tetapi melihat perubahan ekspresi Johan yang tiba-tiba, dia bisa menebak pemuda itu pasti juga tidak boleh diremehkan.
Adapun pria botak itu, dengan satu panggilan telepon, Bos Sky Hotel langsung berlari turun dengan ketakutan!
Sekarang,
Tiga orang itu begitu hebat, tetapi rela mengikuti di belakang Steven dengan patuh.
“Nona Lia, apa latar belakang Steven?” Robert bertanya pada Lia.
Dia benar-benar tidak bisa membayangkan, orang macam apa yang memiliki pengaruh sebesar itu?
Lia menarik napas dalam-dalam dan berbisik dengan wajah muram: "Aku akan memberitahumu... dia adalah tuan muda dari keluarga Anderson."
"Keluarga Anderson?" Robert mengerutkan kening.
Dia sama sekali tidak mengerti tentang lingkaran kalangan atas, dan tidak memiliki konsep sama sekali.
Lia mengangguk dan berkata: "Ya! keluarga Anderson sangat kuat, merupakan keluarga terkemuka dan kaya raya di Jakarta, memiliki bisnis besar. Edi Anderson, sebagai kepala keluarga Anderson, memiliki tiga putra. Putra sulung dan kedua adalah jenius dalam dunia bisnis, mengikuti Ayah mereka bergelut dalam dunia bisnis. Dan Steven adalah anak bungsunya!"
Mendengar ini, Robert baru mengetahui latar belakang Steven.
Ternyata anak kaya dari keluarga terkemuka di Jakarta, jadi tidak heran begitu ditakuti.
Lia melanjutkan: "Dia berbeda dari dua kakak laki-lakinya. Tahunya hanya berfoya-foya dan bermain wanita! Aku pergi mengikuti sebuah pertemuan di pusat kota bulan lalu. Dia melihat aku di pertemuan itu, dan mulai mengejarku dengan gila. Aku telah diganggu olehnya selama lebih dari sebulan! Tidak disangka akan bertemu dengannya disini!"
Saat berbicara, ekspresinya menjadi semakin khawatir.
__ADS_1