
Robert tidak keberatan dengan perkataan Ryan. Hak cipta lagu sama sekali tidak ada artinya baginya.
Tetapi kartu diskon 50% memiliki arti yang berbeda.
Ini berarti dia bisa membawa Elysia untuk makan di sini kapan saja, dan dia hanya perlu membayar setengah harga!
Inilah manfaat nyata!
Inilah namanya saling menguntungkan!
Robert mendapatkan apa yang dia inginkan dengan harga murah, dan Ryan juga dapat menggunakan lagu dan piano yang dimainkan oleh Robert untuk terus meningkatkan popularitas Rose Restoran.
"Terima kasih Tuan Robert, kalau begitu aku tidak akan mengganggu makan malam Anda dan pacar Anda, sampai jumpa."
Ryan melambaikan tangan pada Robert, lalu berbalik dan pergi.
Robert menoleh untuk melihat Elysia, dia tersenyum dan berkata, "Bos Ryan sangat pengertian, ya."
Elysia. " …."
Dewi. " ...."
Melihat reaksi Elysia, Robert pun tertawa. "Emm ... kita makan dulu, dan biarkan bibimu makan bersama kita biar bisa makan gratis."
Dia melihat Dewi saat kembali dari panggung.
Bagaimanapun, hanya ada dua meja di antara mereka, dan meskipun Dewi sedikit lebih tua, tapi dengan wajah yang cantik dan tubuhnya yang ideal, dia tetap terlihat mencolok di antara wanita lainnya. Itulah yang menarik perhatian Robert.
Elysia tersipu, dan segera berkata, "Aku tidak menyuruh bibiku datang, dia diam-diam membuntutiku. Aku tidak tahu dia ada di sini, aku juga barusan tahu saat aku berdiri."
"Yah, aku percaya padamu." jawab Robert dengan ekspresi tak percaya.
Elysia. " ...."
Elysia berdiri dan memanggil Dewi.
Kalimat pertama yang dikatakan Dewi adalah, "Tuan Robert, tidak disangka kamu begitu hebat?"
Robert terbatuk dan berkata, "Bibi jangan bercanda, panggil saja aku Robert, jangan memanggilku Tuan."
“Baik, aku akan memanggilmu Robert, kamu belajar piano dengan siapa? Hebat sekali!” tanya Dewi.
Robert menggaruk kepalanya dengan malu dan berkata, "Hanya bermain asal-asalan."
“Kalau begitu, bisakah kamu mengajar Elysia? Dia selalu ingin belajar piano, tapi selalu tidak bisa meluangkan waktu untuk belajar,” kata Dewi sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Begitu mendengar ini, Robert langsung bersemangat dan segera menjawab, "Boelh! Kapan kita mulai?"
Elysia ingin membimbing Robert.
Robert ingin mengajari Elysia bermain piano.
Bukankah itu berarti dia bisa sering bersama Elysia ke depannya?
Begitu memikirkan ini, Robert tiba-tiba merasa bahwa masa depannya sangat cerah.
"Kamu bisa mulai kapan saja. Aku punya piano di rumah. Kamu bisa datang ke rumahku saat punya waktu luang," kata Dewi.
“Baik! Tidak masalah!” jawab Robert.
Dewi tertawa kecil dan tiba-tiba bertanya, "Oh ya, kemarin Elysia mengatakan kepadaku bahwa kamu merekomendasikan saham Hontaro kepadanya? Apakah kamu tahu saham itu?"
Robert mengangguk dan berkata, "Aku tahu sedikit tentang saham itu. Temanku yang sering main saham juga terjebak di saham itu."
“Kalau begitu kenapa kamu masih berani merekomendasi saham itu?” kata Dewi dengan cemberut.
“Karena menurutku saham itu akan melonjak tajam. Bibi, apakah kamu ingin membelinya?” Robert menyarankan.
Dewi menyeringai dan berkata, "Lupakan saja. Aku menaruh ratusan ribu dolar di saham itu. Hari ini, aku akhirnya bertemu dengan orang bodoh yang membeli saham itu, dan berhasil menjualnya. Kamu malah menyuruhku membeli saham itu lagi ..."
Sebelum menyelesaikan perkataannya, dia tiba-tiba melebarkan mata dan menatap Robert, lalu berkata dengan ragu. "Kamu ... kamu yang membeli saham Hontaro hari ini?"
"Berapa yang kamu beli?"
“Tidak … tidak banyak, hanya enam miliar.” Robert berkata dengan takut-takut.
Dewi berkata dengan tidak percaya. "Berapa? Enam miliar? Ternyata kamu yang membeli saham itu?"
Dia menatap Robert seperti menatap orang bodoh.
Orang lain berusaha untuk menjual saham itu meskipun harus menanggung kerugian, tapi Robert malah mengambil inisiatif untuk membelinya. Tidak hanya itu, dia malah membeli enam miliar sekaligus!
Apakah uangnya terlalu banyak?
Robert berkata dengan tak berdaya, "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu, tapi aku punya firasat bahwa saham ini pasti akan melonjak!"
“Sudah berapa lama kamu berinvestasi di pasar saham?” tanya Dewi.
Akunku baru dibuka kemarin." Robert menyeringai.
Dewi. "???"
__ADS_1
Dia menatap Robert seolah-olah sedang menatap orang gila, lalu berkata, "Baru membuka akun dan belum pernah bermain saham sebelumnya? Kamu membeli saham Hontaro hanya karena firasatmu?"
"Ya," jawab Robert.
"Heh, kalau firasat memang berguna maka tidak ada orang miskin lagi di dunia ini! Aku telah berinvestasi di pasar saham selama bertahun-tahun, dan aku punya firasat bahwa hal ini tidak akan pernah menjadi kenyataan! Aku tidak akan percaya bahwa saham sampah yang akan segera dihapus bisa melonjak!" kata Dewi dengan tegas.
Selesai berbicara, dia menoleh untuk melihat Elysia dan berkata, "Elysia, ini adalah kesalahan paling umum yang dilakukan oleh pemain saham baru. Tidak tahu diri! Kamu harus menganggap ini sebagai peringatan dan jangan pernah menyentuh saham itu."
Elysia menundukkan kepalanya dan berbisik, "Aku ... sudah membelinya."
Berapa banyak yang kamu beli?” kata Dewi dengan mata terbelalak.
"Tiga ... tiga ratus juta." Elysia semakin menundukkan kepalanya.
Dewi, "??? Bukankah total uang di rekeningmu hanya 140 juta?"
“Aku … aku menjual semua saham yang kamu rekomendasikan padaku.” kata Elysia dengan takut.
Dewi. "..."
Dia bersandar dengan putus asa di bangku dan menutupi wajahnya dengan tangan.
Pada saat ini, dia tidak tahu harus berkata apa lagi!
Sejak Elysia mengungkit saham kemarin, dia telah mengingatkan Elysia lebih dari sekali, jangan percaya apa yang dikatakan Robert, dan jangan sentuh saham Hontaro.
Tapi hasilnya, Elysia malah diam-diam menjual semua saham yang bernilai dengan saham Hontaro!
Tidak heran semua orang mengatakan bahwa wanita menjadi bodoh saat mereka sedang jatuh cinta!
Contohnya Elysia, mahasiswi top di UI yang memiliki nilai tertinggi di antara puluhan ribu siswa, tapi hanya karena sepatah kata Robert, dia tidak ragu untuk menukar semua saham dengan saham Hontaro!
Bukan hanya bodoh, tapi idiot!
Siapa yang mengira bahwa seorang sarjana dari UI bisa melakukan hal bodoh seperti itu?
Sebagai bibi Elysia, apa lagi yang bisa Dewi katakan?
Gadis ini telah terkena racun cinta dan tak tertolongkan!
Tak ada harapan!
Tidak hanya Dewi, Robert juga menatap Elysia dengan heran dan terkejut.
Dia tidak pernah berpikir bahwa Elysia akan begitu mempercayainya, hanya karena satu kata darinya, Elysia akan menukar semua saham menjadi saham Hontaro! Karena bahkan teman baiknya Kelvin juga hampir bertengkar dengannya ketika dia mendengar Robert membujuknya untuk membeli saham Hontaro. Sedangkan Elysia langsung mempercayai kata yang tidak sengaja dia katakan saat berada di perpustakaan.
__ADS_1
Kepercayaan tanpa syarat Elysia membuat Robert merasa sedikit khawatir.