Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
Mengikuti Kehendak Hati


__ADS_3

Selesai berbicara, panggilan ditutup.


Elysia memegang ponsel dan berdiri di sana dengan bingung.


Pada saat ini, Dewi berjalan ke arahnya, dan dengan lembut menariknya ke sofa untuk duduk.


Ditampilan TV saat ini para reporter mengikuti mobil ambulans ke rumah sakit, lalu mendapati Robert sudah melarikan diri, dan membuat laporan singkat.


Dewi juga ikut menghela napas lega setelah melihat semuanya baik-baik saja.


Kemudian, dia mematikan TV dan berkata kepada Elysia. "Elysia, bisakah kamu memberitahuku? Seharusnya ada banyak hal yang tidak aku ketahui, kan?"


Elysia mengatupkan mulutnya, dan kemudian menghela napas. "Baiklah, aku akan memberitahumu, masalah ini dimulai sejak hari pertama dia masuk universitas... Dia punya pacar, dan sama-sama dari pedesaan. Jadi ada banyak topik yang bisa dibicarakan bersama, dan aku hanya bisa berharap mereka berdua bisa bahagia. Setelah itu, aku tidak lagi memikirkannya dan hanya fokus pada pelajaran!"


Setelah mendengarkan kata-kata Elysia, Dewi menghela nafas lega dan berkata, "Jika mendengar ceritamu, berarti dua hari ini karena Robert putus dengan pacarnya, perasaan cinta di hatimu bangkit kembali? "


"Tidak."


Elysia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sebenarnya, hatiku sangat kacau! Robert yang aku kenal adalah anak laki-laki yang baik. Meskipun prestasinya tidak terlalu baik, tapi dia sangat optimis. Kondisi keluarganya juga tidak baik, tetapi dia pernah mengeluh. Tidak peduli apa yang terjadi, dia selalu menghadapinya dengan senyuman! Justru karena karakternya yang optimis, aku perlahan-lahan jatuh cinta padanya. Hidup bersamanya, mungkin dia tidak bisa memberikan material yang mewah untukku, tapi aku percaya kami pasti bisa hidup dengan bahagia!!"


Saat dia berkata, senyum perlahan muncul di wajahnya.


Dewi tersenyum setelah mendengar kata-kata Elysia.


Ini adalah cinta di masa muda.


Anak muda hanya mengejar apa yang mereka sukai, dan tidak peduli pada kaya miskin, status, perbedaan, bahkan pendapat orang lain. Inilah yang tidak bisa dilakukan orang yang lebih dewasa, karena mereka memiliki terlalu banyak pertimbangan.

__ADS_1


Pada saat ini, senyum di wajah Elysia tiba-tiba menghilang.


Dia menghela napas. "Tapi Robert yang sekarang ini, terasa asing bagiku! Dia tidak seperti Robert yang aku kenal dulunya. Aku tidak tahu harus berbuat apa, dan bagaimana menghadapinya!"


Mendengar ini, Dewi menghela napas, dan bertanya, "Lalu kok dia tiba-tiba mengajakmu makan malam? Apakah kamu sudah memberitahunya kalau kamu menyukainya? Jadi dia mulai mengejarmu?"


Jika begitu, Dewi merasa bahwa Elysia memang harus mempertimbangkan dengan baik apakah Robert cocok dengannya atau tidak. Tidak peduli Robert kaya atau miskin, anak muda yang begitu putus dengan pacar lama langsung mengejar gadis lain bukanlah anak muda yang baik, Dewi tidak ingin Elysia membuang waktu untuknya.


"Bukan begitu."


Elysia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak menyatakan cinta padanya! Itu karena dua hari ini Ketua OSIS yang sedang berpacaran dengan mantan pacar Robert itu sengaja menyebar rumor dan mengatakan keburukan Robert. Jadi hari ini Robert sengaja membawa Bugatti ke kampus untuk membungkam mulutnya. Setelah itu, gadis-gadis kampus mulai gila-gilaan mengejarnya. Melihat Robert kewalahan, aku mengambil inisiatif untuk membantunya dengan mengatakan bahwa Robert adalah pacarku. Dan, demi berterima kasih padaku, Robert baru mengajakku makan malam."


Dewi mengangguk kuat dan berkata, "Oh, begitu..."


Selesai berbicara, Dewi sengaja menggoda. "Lalu, saat kamu berpura-pura menjadi pacarnya, apakah kamu merasa bahagia dan bersemangat?"


Dewi tersenyum dan membelai rambut Elysia. "Mendengar kata-katamu, aku merasa Robert orangnya lumayan baik! Tidak peduli dia itu anak orang kaya atau bukan, karakternya memang baik. Lagipula, tidak semua orang bisa mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan orang lain."


Elysia mengerutkan kening dan berkata, "Tapi..."


Dewi menyelanya dan berkata, "Tidak peduli dia kaya atau miskin. Uang peninggalan orang tuamu sudah cukup untuk kalian gunakan seumur hidup. Apalagi kalau dia kaya, kehidupan kalian akan jauh lebih baik! Yang paling penting adalah karakternya, dia adalah orang yang menyelamatkanmu dulu, dia juga selalu optimis dan antusias, bukankah itu yang terpenting?"


Mata Elysia tiba-tiba berbinar ketika mendengar kata-kata ini.


Dewi lanjut bertanya, "Elysia, apakah menurutmu Robert menyukaimu?"


Elysia merenung sejenak, dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin. Di kampus, aku adalah primadona. Banyak anak laki-laki ingin dekat denganku! Tapi dia tidak pernah, walaupun terkadang bertemu juga hanya senyum-senyum saja! Terus terang, dalam empat tahun ini bisa dikatakan aku hampir tidak pernah berbicara dengannya."

__ADS_1


"Hahaha!"


Dewi tidak bisa menahan tawa ketika mendengar kata-kata Elysia.


Dia membelai rambut Elysia dan berkata, "Dengan penampilanmu, banyak anak laki-laki yang ingin dekat denganmu, tapi anak laki-laki yang kamu naksir malah tidak pernah berbicara denganmu. Bibi tahu bagaimana perasaanmu selama empat tahun ini, benar-benar kasihan!"


Elysia terkekeh, "Aku tidak merasa kasihan, aku menghabiskan seluruh perhatianku untuk belajar, saat ini aku adalah mahasiswa No.1 di kampus! Ini adalah hasil kerja kerasku."


“Tetapi masa muda tidak pernah kembali, dan masa kuliah juga hanya satu kali saja,” kata Dewi.


Ekspresi Elysia menjadi sedih ketika mendengar kata-kata ini.


Ya, bagaimanapun juga, waktu selalu adil bagi semua orang.


Sama seperti Dewi, dia sudah berusia tiga puluhan, tapi masih sendirian. Dia juga memiliki orang yang dia sukai dan ingin hidup bersamanya. Tetapi dia tidak bisa, dia melajang sampai sekarang.


Dalam sekejap mata, masa muda telah hilang, dan sudah mencapai usia paruh baya.


Elysia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk dan berkata, "Aku mengerti Bi, aku tahu apa yang harus kulakukan."


“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Dewi bertanya dengan rasa ingin tahu.


Elysia merenung sejenak, dan menjawab dengan sungguh-sungguh. "Aku akan mengajaknya lanjut pascasarjana, dengan begitu kami berdua akan punya waktu untuk belajar bersama!"


"Hahaha!"


Mendengar kata-kata Elysia, Dewi tidak bisa menahan tawa, dan menggelengkan kepalanya tak berdaya. "Aku kira kamu mendapatkan ide bagus apa, otakmu kok kepikir belajar aja? Lupakan saja! Lakukan saja apa pun yang kamu inginkan!"

__ADS_1


__ADS_2