
Mendengar suara cemas John di telepon, semua orang tercengang.
Mereka tidak pernah melihat Bos John begitu emosi, apalagi terhadap anaknya sendiri.
Sejak kecil hingga dewasa, Dylan jelas tahu bahwa ayahnya sangat mencintainya. Tidak peduli apa yang dia minta, John akan memuaskannya!
Tapi sekarang dia dipukuli hingga babak belur, John tidak membantunya, dan malah menyuruhnya pulang.
Apakah hanya karena Robert mengatakan bahwa 'ada roh jahat mengganggunya'?
Dylan memandang Robert dengan heran dan berkata, "Kamu ... siapa kamu?"
Robert merentangkan tangannya dan berkata, "Siapa aku? Hardi tahu dengan jelas, kamu bisa bertanya padanya."
Hardi ingin menggunakan Dylan untuk memberinya pelajaran, sekarang dia membalasnya dengan cara yang sama.
Saat Dylan ingin bertanya, John meraung lagi di ujung telepon. "Apakah kamu tuli? Apakah kamu ingin mati? Segera pulang!"
"Baik, aku akan pulang sekarang."
Dylan langsung masuk ke SUV tanpa melawan, dia tidak berani melawan perintah ayahnya.
Hardi juga berlari masuk ke mobil bersama tiga pria kekar yang barusan terkapar di tanah.
Robert hanya menjatuhkan mereka, tapi tidak melukai mereka.
Mereka tidak bangkit dari tadi karena mereka jelas tahu bahwa mereka bukan lawannya Robert, jadi mereka hanya pura-pura tidak bisa bangkit.
Menjadi gangster juga harus tahu diri, jika tidak mungkin mereka sudah mati sejak awal.
Dalam sekejap mata, lima orang itu sudah menghilang, dan hanya tersisa Robert, Dewi, dan Elysia.
Elysia melihat SUV yang menghilang di malam hari, dan bertanya pada Robert dengan heran, "Robert, apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Ya, itu Bos John lho!"
Dewi juga berkata dengan tidak percaya. "Di seluruh Jakarta, tidak banyak orang yang bisa membuat Bos John begitu ketakutan. Kenapa dia takut dengan kata-katamu barusan? Ini terlalu sulit dipercaya, ‘kan?"
Robert merentangkan tangannya dan berkata, "Bukankah aku baru saja mengatakan bahwa dahi anaknya gelap, sedang diganggu oleh roh jahat, dan kemungkinan besar akan tertimpa bencana, makanya dia menyuruh Dylan pulang!"
“Kamu mengerti ilmu fengshui?” tanya Dewi dengan tak percaya.
"Ya, kamu tidak percaya? Aku mempelajari saham Hontaro dengan ilmu fengshui, dan merasa saham itu mungkin akan melonjak!" kata Robert dengan ekspresi serius dan penuh omong kosong.
"Ini bukan masalah percaya atau tidak! Aku tidak percaya pada feng shui sama sekali! Kamu bisa memainkan piano dan bernyanyi dengan sangat baik, dan sekarang kamu memberitahuku bahwa kamu juga mengerti ilmu fengshui. Apakah itu mungkin?” tanya Dewi dengan ragu.
Elysia menambahkan, "Ya! Meskipun kamu mengerti fengshui, John juga tidak mungkin mempercayai perkataanmu, ‘kan?"
Robert tertawa kecil dan berkata, "Karena pernah melihat aku meramal dengan fengshui, dia tahu bahwa ramalanku sangat akurat. Makanya dia ketakutan begitu aku mengatakan bahwa putranya akan mengalami bencana besar."
“Begitukah?” Dewi dan Elysia sama-sama mengerutkan kening ketika mendengar jawaban Robert.
Dia merasa jawaban Robert tidak terlalu masuk akal, tapi sulit dijelaskan.
Robert merentangkan tangannya dan berkata, "Jangan khawatir, dia seharusnya tidak punya nyali itu. Bahkan kalau dia ingin membuat masalah, dia akan mencariku terlebih dulu. Kalau dia berani mengganggu kalian, kalian harus segera memberitahuku. Biar aku yang berurusan dengannya."
"Baik, tapi kamu tetap harus berhati-hati, John bukan orang baik, dan tidak mudah untuk dihadapi," kata Dewi.
Robert mengangguk dan berkata, "Aku mengerti."
Setelah mengobrol sebentar, Robert pamitan dengan Dewi dan Elysia, dan kembali ke kampus sendirian.
Sebenarnya, dia ingin membawa Elysia berkeliling dan menikmati pemandangan malam di Jakarta.
Tapi sangat disayangkan, Elysia tidak mau ikut dengannya dan bersikeras untuk pulang bersama Dewi. Jadi dia terpaksa merelakan dengan perasaan sedih ...
Pada saat yang sama, di dalam SUV hitam.
__ADS_1
Dylan menggosok wajahnya yang babak belur, dan kesakitan setengah mati.
Hardi berkata dengan gugup dari samping. "Tuan Muda Andrian, mohon bersabar, kita akan segera tiba di rumah sakit."
Dylan menahan rasa sakitnya, memandang Hardi dan berkata dengan marah, "Sialan! Hardi, katakan dengan jujur, siapa anak itu? Kenapa satu katanya bisa membuat ayahku takut? Aku belum pernah melihat ayahku setakut itu!"
“Aku … aku juga tidak tahu! Robert hanyalah seorang mahasiswa biasa!” jawab Hardi.
Plak! Dylan langsung menampar wajah Hardi.
"Apakah kamu pikir aku bodoh?"
Dylan berteriak dengan marah. "Kalau dia hanya mahasiswa biasa, bisakah dia menakuti ayahku? Kamu memintaku untuk berurusan dengannya, jadi aku harus lebih memahaminya! Katakan dengan jujur siapa dia, kalau tidak aku akan membunuhmu!"
"Baik, akan kukatakan." Hardi segera melambaikan tangannya dan berkata, "Dia benar-benar hanya seorang mahasiswa biasa sebelumnya, dan bahkan pacarnya memilih untuk putus dengannya, tapi kemudian aku juga tidak tahu apa yang terjadi, anak itu tiba-tiba menjadi kaya, dan bahkan mengendarai mobil Bugatti!"
"Apa? Dia pemilik Bugatti yang membuat heboh di Jakarta baru-baru ini? Bukankah dia mengendarai mobil rendahan? Kapan dia menjadi pemilik Bugatti?" Dylan berkata dengan kaget.
“Mobil rendahan itu seharusnya milik teman sekamarnya, dia tidak mengendarai Bugatti hari ini!” Suara Hardi sedikit melemah.
Dylan menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan ekspresi dingin, "Hardi, tahukah kamu apa yang dikatakan masyarakat tentang Bugatti itu baru-baru ini?"
"Apa kata mereka?"
"Hehe ... mereka mengatakan bahwa pemilik mobil itu kemungkinan adalah tuan muda keluarga terkemuka di Jakarta! Kamu memintaku untuk berurusan dengan orang seperti itu? Apakah kamu tidak ada kerjaan, atau menurutmu hidupku terlalu enak? Jadi kamu sengaja menjebakku?" kata Dylan dengan ekspresi yang semakin dingin.
"Tidak … tidak … tidak ..."
Hardi segera melambaikan tangannya dan berkata, "Jangan salah paham, Tuan Muda Andrian, aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu, aku ..."
“Brengsek! Pukul dia!” Dylan mendengus dingin.
Dia baru saja dipukuli oleh Robert, dan sekarang dia menggunakan Hardi untuk melampiaskan amarahnya.
__ADS_1
Selesai berkata, ketiga pria kekar di dalam mobil segera mengangkat kepalan tangan mereka yang seukuran karung pasir dan menghantamkannya ke Hardi, karena melampiaskan amarah, tinju mereka lebih kuat daripada saat berhadapan dengan Robert.
Sementara itu, SUV hitam yang sedang berjalan mulus di jalan tiba-tiba mulai oleng ke kiri dan ke kanan, dan pada saat yang sama, suara teriakan terdengar dari dalam ...