
Orang yang menelepon adalah Wiranto, raja real estate kota Jakarta.
Tidak peduli itu kawasan universitas atau yang lainnya, yang terpenting adalah tanah!
Selama bisa mendapatkan tanah, maka akan memperoleh keuntungan besar!
Dan dalam hal ini, Wiranto adalah orang yang paling ahli!
Wiranto adalah orang yang baik, Wiranto membantunya di perjamuan sebelumnya, tidak hanya itu, dia juga memberikan sebuah vila seharga lebih dari 160 milar untuknya.
Mereka bisa bekerja sama untuk memperoleh keuntungan. Robert kurang ahli di bidang real estate, dia tak mampu bersaing untuk memperoleh tanah di sana.
Oleh karena itu, dia lebih baik bekerja sama dengan Wiranto.
Menekan tombol jawab, Robert tersenyum dan berkata, "Halo, Tuan Wiranto."
Wiranto di ujung telepon juga tertawa dan berkata, "Halo, Tuan Robert, mengenai berita Energi Baru Hontaro, kau benar-benar membuatku terkejut! Aku biasanya tidak pernah kagum pada seseorang, tapi kali ini aku benar-benar kagum padamu! Kau tak melihat ekspresi Bambang tadi, sungguh menarik!"
Robert merasa malu, dia tersenyum dan berkata, "Oh, biasa-biasa saja. Sebenarnya, aku tidak ingin melakukan itu, aku benar-benar hanya ingin membantunya!"
"Aku mengerti! Sayangnya Bambang terlalu meremehkanmu! Oh ya, Tuan Robert, aku ingin mengundangmu makan malam dan membicarakan beberapa hal. Apakah kau punya waktu?" tanya Wiranto.
Begitu mendengar ini, Robert langsung menunjukkan kegembiraan di wajahnya dan berkata, "Mesti harus ada waktu, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu juga!"
"Baguslah. Pukul enam sore, sampai jumpa di Hotel Aston."
"Baik!"
Begitu menutup telepon, Robert langsung tertawa.
Dia yang memberikan informasi, dan Wiranto yang mengeluarkan uang dan relasi, dengan begitu setidaknya mereka bisa memperoleh setengah dari tanah di kawasan universitas.
Adapun apakah Wiranto akan menipunya, Robert tidak bodoh, bahkan jika dia yakin bahwa Wiranto layak untuk dijadikan teman, tetapi jika Wiranto tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan, dia juga tidak akan memberikan informasi tersebut.
Hari ini tanggal 5 Juli, masih ada 25 hari lagi sebelum konferensi pers dimulai, jadi waktu masih cukup!
Setelah itu, Robert membuka halaman web untuk melihat dampak yang terjadi oleh Energi Baru Hontaro.
Ini adalah mahakaryanya, dia masih belum sempat melihat apa yang terjadi sejak dia kembali dari Sunshine Manor.
__ADS_1
Melihat pergerakan saham dulu.
Saham Hontaro melonjak hingga mencapai ARA, tidak ada satu pun orang yang menjual, semuanya memesan pembelian, bahkan saham energi baru lainnya juga ikut melonjak.
Menurut situasi saat ini, jika Robert menjual saham di tangannya, pasti akan terjual dalam sekejap, tetapi dia tak akan melakukan hal bodoh semacam itu.
Hanya saja Robert tidak tahu bahwa dia sekarang telah dimarahi oleh para investor saham.
Waktu sudah berlalu satu jam sejak diadakannya konferensi pers Energi Baru Hontaro, dan berita tentang modul kapasitor baru Hontaro juga telah menyebar ke publik.
Di Forum Pasar Saham.
"Bajingan mana yang membeli saham Hontaro! Cepat keluar!"
"Aku menjual semua saham Hontaro sebelumnya, tapi begitu kujual, saham Hontaro langsung melonjak!"
"Iya! Ingin sekali aku menghajarnya!"
"Aku ingin melapor bahwa ada seseorang memanipulasi saham Hontaro! Aku ingin dia mengembalikan saham itu kepada kami!"
"Tidak ada gunanya, aku sudah melapor! Badan pengawasan pasar saham tidak menolak laporan, mereka mengatakan bahwa semua transaksi terjadi secara legal, tidak ada pelanggaran sama sekali!"
"...."
Sekelompok orang berkumpul di depan kantor, menatap saham peringkat teratas Energi Baru Hontaro, dan membicarakannya.
"Energi Baru Hontaro ini akan terus melonjak! Tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang!"
"Kalau aku tahu sebelumnya, aku tidak akan menjual saham Hontaro! Baru kujual pagi ini, sorenya sudah melonjak! Sialan!"
"Aku melihat seorang pemuda di sini beberapa hari yang lalu, dia merekomendasikan untuk membeli saham Hontaro, tapi aku menertawakannya pada saat itu. Sekarang kalau dipikir kembali, aku benar-benar mempermalukan diri sendiri. Kalau aku ikut membelinya saat itu, pasti sudah kaya!"
"Sial! Mungkinkah pemuda yang kau katakan itu adalah bos besar di balik semua ini?"
"Tidak mungkin! Pemuda itu baru berusia dua puluhan, dia terlihat sangat muda. Dia baru saja membuka akun saham. Paling-paling, dia hanya membelinya secara iseng. Dia tak mungkin bos besar yang cerdik itu!"
"...."
Perumahan Angel Residence.
__ADS_1
Dewi, yang mengenakan rok pendek yang membungkus pinggulnya, berbaring di balkon dengan mata tertutup sambil memasang masker wajah.
Di sampingnya, Elysia sedang duduk membaca buku dengan serius, suasana terasa damai.
Makan, minum, membaca buku, dan melakukan perawatan wajah adalah hal yang wajib dilakukan oleh bibi dan keponakan itu setiap hari.
“Elysia, ayo ikut pasang masker wajah. Meskipun kau lebih muda, kulitmu tidak sebagus kulitku!” kata Dewi.
"Tak mau!"
Elysia menjawab tanpa menatap Dewi. "Hal yang paling penting bagiku sekarang adalah ujian masuk pascasarjana! Aku harus segera belajar!"
Dewi berkata dengan suara samar, "Kau telah dijamin masuk oleh kampus, kenapa masih harus belajar begitu keras?"
“Aku ingin memberi privat untuk Robert, nilainya terlalu jelek, jadi aku harus mempelajarinya terlebih dulu!” Elysia berkata tanpa melihat Dewi, dan terus membaca.
Dewi bergeming.
Dia benar-benar tak berdaya dalam menghadapi keponakannya ini.
Dewi menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan serius. "Elysia, aku pikir kita harus mencari waktu luang untuk membicarakannya, kau sekarang tampak seperti kesurupan! Dengan satu kata dari Robert, kau membeli saham Hontaro dengan semua uangmu, sekarang kau membantunya mempersiapkan diri dalam mengikuti ujian masuk pascasarjana lagi?"
“Bukankah sudah seharusnya membantu teman?” Elysia bertanya balik.
Dewi tertawa dan berkata, "Bagaimana dengan saham Hontaro? Itu adalah saham sampah, kau tidak hanya memakai semua uangmu untuk membeli saham itu, kau bahkan tidak mendengar saranku! Saham Hontaro itu bagaikan sumur yang tak memiliki dasar! Apakah kau tahu bagaimana reaksi para investor saham saat aku memberi tahu mereka bahwa kau membeli saham Hontaro tadi malam?"
“Aku tidak peduli, aku yakin Robert tidak akan menipuku, dia bukan orang seperti itu!” jawab Elysia.
Dewi merasa kecewa dan berkata, "Kau telah terobsesi! Dengarkan saranku, manfaatkan sekarang masih ada orang yang ingin membeli saham Hontaro, jual semua sahammu! Kalau tidak kau tak akan punya kesempatan lagi!"
“Aku tak akan menjualnya! Kau pasang masker wajahmu, aku ingin membaca buku, jangan menggangguku!” Setelah Elysia selesai berbicara, dia membalikkan tubuhnya, tak ingin menghiraukan Dewi.
Dewi menghela napas tak berdaya.
Pada saat ini, ponsel di sebelahnya tiba-tiba berdering.
Dia mengangkat telepon, melirik nomor penelepon, lalu menjawabnya. "Halo, Jojo, aku gagal membujuknya! Keponakanku mengabaikanku sekarang ...."
Detik berikutnya. "Apa?!"
__ADS_1
Dewi berseru, melompat langsung dari kursi, dan berdiri di tempat dengan ekspresi kaget.