
Di Jalan Perdamaian, sebuah Maserati merah.
Lia duduk di kursi co-driver, menangis dengan mata merah.
Robert menyerahkan selembar tisu dan berkata, "Apakah kau sudah selesai melampiaskan kesedihanmu? Apakah masih ingin menangis sebentar?"
Lia mengambil tisu tersebut, menyeka air mata di wajahnya, lalu mengangkat pipinya yang berlinangan air mata, dan bertanya pada Robert. "Robert, apakah menurutmu aku ini bodoh?"
Robert terkekeh, "Jangan menyangkal diri sendiri! Kau adalah direktur wanita tercantik di Jakarta, seorang wanita berbakat yang telah berhasil memperluas skala Grup Setiawan sebesar 30% dalam dua tahun. Siapa yang berani mengatakan bahwa kau bodoh? Percayalah bahwa kau adalah wanita paling berbakat!"
Lia mengerutkan bibirnya dan menghela napas. "Maaf Robert, semua ini salahku, kau menjadi sasaran keluarga kami!"
“Apa yang kau takutkan, hanya seorang Bambang saja, aku tidak peduli, dia tidak bisa mengancamku!” kata Robert dengan percaya diri.
"Benarkah?" tanya Lia tidak yakin.
“Tentu saja.” Robert mengangguk.
"Baiklah."
Setelah Lia selesai berbicara, suasana sekitar menjadi hening.
Robert meliriknya dan bertanya, "Ada apa?"
Lia menghela napas panjang dan berkata, "Robert, 3% saham Grup Setiawan yang aku janjikan sebelumnya, aku khawatir aku tidak bisa merealisasikan janjiku! Sebelumnya Kakek memberiku 10% saham Grup Setiawan agar aku bisa lebih mudah dalam mengelola perusahaan. Jadi aku ingin mengambil 3% dari saham tersebut sebagai imbalan atas bantuanmu, tapi sekarang ...."
Meskipun Bambang memberinya 10% saham Grup Setiawan, dia tetap memiliki hak untuk mengambilnya kembali kapan saja.
Lia bekerja keras dan memberikan kontribusi besar untuk Grup Setiawan. Dia awalnya berpikir bahwa saham ini akan menemaninya selamanya.
Tetapi dia tidak menyangka bahwa saham tersebut akan langsung diambil oleh Bambang dalam situasi seperti ini.
Akibatnya, imbalan yang dijanjikan kepada Robert tidak dapat dia realasikan.
"Tak apa-apa."
Robert terkekeh dan berkata dengan lega. "Sebenarnya, aku tidak terlalu mementingkan saham itu, tidak masalah bagiku sama sekali! Apa rencanamu selanjutnya?"
"Tidak ada rencana."
__ADS_1
Lia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Hatiku masih sangat kacau sekarang! Kau mungkin tidak dapat memahami perasaan ini. Aku merasa hidupku selama 20 tahun terakhir tidak ada artinya sama sekali. Ini seperti hidup yang sia-sia, penuh kebingungan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan apa yang bisa kulakukan selanjutnya.”
Setelah Robert mendengar kata-kata Lia, dia bertanya dengan penasaran, "Kenapa? Kau menyesal keluar bersamaku? Kau masih tidak rela meninggalkan keluargamu? Apakah kau ingin kembali?"
"Bukannya aku ingin kembali, tapi tidak peduli bagaimanapun, bahkan kalau mereka bersalah, itu adalah tempat aku dilahirkan dan dibesarkan! Aku dibesarkan di keluarga Setiawan, dan di situlah aku tinggal selama lebih dari 20 tahun! Kali ini, di depan begitu banyak orang, aku bertengkar dengan kakekku, sampai-sampai kepemilikan saham dan posisiku di perusahaan pun dicabut, aku takut kelak tidak ada lagi tempatku di keluarga Setiawan!" kata Lia dengan ekspresi rumit.
Semua orang suka bernostalgia.
Bagaimana mungkin bisa merelakan sebuah keluarga, tempat di mana dia telah hidup lebih dari 20 tahun?
Robert menatap Lia, dan bertanya, "Bagaimana kalau keluarga Setiawan menelepon untuk meminta maaf padamu, dan ingin membujukmu kembali, lalu berjanji bahwa mereka tidak akan mempersulitmu ke depannya, dan mengembalikan saham serta posisi direktur kepadamu, apakah kau akan kembali?"
"Mustahil!"
Lia menjawab langsung, "Kau pasti tak memahami keluargaku. Kakeknya adalah kepala keluarga, barusan aku telah mempermalukan kakekku di depan umum, sekarang seluruh keluarga pasti membenciku, bagaimana mungkin mereka meminta maaf padaku? Apalagi mengembalikan posisi direktur kepadaku!"
Hal itu adalah mustahil!
Bahkan jika tidak ada dua bersaudara itu, situasi seperti itu juga tidak mungkin terjadi, apalagi ada Alex dan Jacky sengaja membuat masalah.
Robert terkekeh dan menggelengkan kepalanya, dia bertanya, "Bagaimana mungkin orang bisa tahu sesuatu yang belum terjadi? Semuanya mungkin saja! Kalau dihitung waktunya, sepertinya sudah hampir sampai ...."
Lia mengerutkan kening.
Begitu selesai berkata, ponsel Lia tiba-tiba berdering.
Setelah mengeluarkan ponsel, Lia menemukan bahwa Joni yang meneleponnya.
“Panggilan telepon dari keluarga Setiawan? Mungkin saja orang tuamu yang menelepon,” kata Robert.
Lia bertanya dengan tidak percaya, "Bagaimana ... bagaimana kau bisa tahu?"
“Aku tak hanya tahu, aku juga tahu bahwa mereka akan meminta maaf padamu dan bahkan mengembalikan posisi direkturmu!” kata Robert.
"Ini ...." Lia tertegun sejenak.
Apa yang terjadi?
Pada saat ini, Lia benar-benar merasa linglung, dia tidak bisa mengerti apa yang sedang terjadi sama sekali!
__ADS_1
Bagaimana Robert bisa tahu bahwa orang tuanya akan meneleponnya?
Dan begitu yakin bahwa orang tuanya akan membujuknya kembali?
Robert bertanya, "Kenapa kau tidak mengangkatnya?"
"Aku ... aku tidak tahu," kata Lia ragu-ragu.
Ekspresi wajah Lia tampak gugup, matanya terus menatap layar ponsel.
Ponsel masih berbunyi.
Di layar, avatar Joni terus berkedip diikuti suara deringan.
Dulu, setiap kali Joni menelepon, Lia akan merasa sangat senang, dan akan segera menjawabnya, tapi hari ini, untuk pertama kalinya dia merasa ragu.
Penampilan dan reaksi Joni di pesta ulang tahun Bambang barusan membuat Lia merasa sangat asing, dan dia bahkan tidak percaya bahwa orang tersebut adalah ayah yang telah dia kagumi sejak kecil.
Dia tidak tahu apa yang akan menyambutnya setelah panggilan itu dijawab.
Tak lama kemudian, telepon terputus.
Lia, yang gugup dari tadi akhirnya menghela napas lega.
Robert melirik Lia dan berkata, "Aku harus mengingatkan padamu bahwa ada banyak persimpangan jalan di dalam hidup ini! Ketika kau berada di persimpangan jalan, kau mungkin tak akan merasakan apa-apa, tapi kelak ketika kau kembali mengenang masa lalu, kau akan menemukan bahwa persimpangan jalan itu adalah titik balik bagi hidupmu! Dan sekarang, aku pikir titik balik dalam hidupmu tepat di depanmu sekarang."
Begitu selesai berkata, telepon di tangan Lia berdering lagi, membuat Lia merasa gelisah.
Dia mengerutkan bibirnya, mengambil napas dalam-dalam, dan ekspresinya tiba-tiba menjadi sangat serius.
Setelah itu, dia pun menekan tombol jawab.
Dia bukan orang yang memilih kabur saat menghadapi masalah.
Sebaliknya, apa pun yang terjadi, dia akan memilih untuk menemukan cara untuk menyelesaikannya, daripada melarikan diri!
"Halo, Ayah."
“Lia, aku tahu kau marah pada ayah. Apa yang terjadi barusan adalah kesalahan kami. Kakek juga sudah tahu bahwa dia salah. Kami semua meminta maaf padamu. Bisakah kau membawa Tuan Robert kembali sekarang? Asalkan kau membawanya kembali, kakek berjanji bahwa dia tidak hanya akan mengembalikan posisi direktur, tapi juga menambah kepemilikan sahammu menjadi 15%!" kata Joni dengan semangat di ujung telepon.
__ADS_1
"Hah?" Mata Lia langsung melebar.