Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
Robert yang Sombong


__ADS_3

“Waduh!” Sopir setengah baya berseru tak percaya ketika melihat adegan itu.


Dia berpikir Robert akan terbunuh oleh kedua penjahat itu, tetapi dia malah mengalahkan salah satu dari mereka dengan begitu mudah.


Benar-benar hebat sekali!


Bukan hanya dia, Robert sendiri juga tercengang pada dirinya sendiri.


Seni bela diri yang dihadiahkan oleh sistem Berita Utama Besok itu ternyata begitu mengagumkan!


Dia melambaikan tangan dan meletakkannya di belakang badannya: "Aku beritahu kalian bahwa aku memiliki ilmu bela diri! Angkat dia! Siapa selanjutnya?!"


Dilihat dari gayanya, dia benar-benar kelihatan seperti seorang ahli bela diri, ditambah dengan satu jurusnya yang langsung merobohkan penjahat berambut pirang itu, penjahat bertubuh pendek di samping yang melihat adegan itu menelan air ludah dan mundur selangkah tanpa sadar, jelas dia ketakutan.


Lia, yang baru saja berlari dua langkah, menoleh dan melirik ke belakang ketika mendengar suara gerakan di belakangnya.


Segera setelah itu, matanya melebar.


"Hati-hati di belakangmu!" Lia berseru.


Begitu suara itu jatuh, Robert tiba-tiba merasa punggungnya terasa dingin.


Wajahnya berubah dan dia secara tidak sadar membalikkan tubuhnya ke samping, tetapi bagaimanapun juga, dia masih selangkah lebih lambat, dan sebuah belati langsung menebas di bahunya.


Robert mengangkat kepala dan melihat bahwa yang menebas bahunya adalah penjahat bertubuh jangkung yang menggertak sopir setengah baya sebelumnya itu.


“Jangan buang waktu lagi! Setelah menghabisinya bersama-sama, segera bawa Lia pergi!” Pemuda bertubuh jangkung itu berteriak dengan nada dingin.


Pada saat yang sama, pemuda berambut pirang yang jatuh juga bangkit dari tanah, mengambil belati, dan berteriak ke arah Robert bersama dua pemuda lainnya.

__ADS_1


"Ayo habisi dia bersama? Ayo!"


Robert menggerakkan jarinya pada mereka, wajahnya penuh percaya diri.


Sekarang, dia sangat sombong, bahkan merasa dirinya bisa melawan lima orang sekaligus.


"Woo..." Pada saat ini, suara sirene mobil polisi tiba-tiba datang dari kejauhan.


Tiga penjahat menjadi panik ketika mendengar suara itu, dan ingin melarikan diri.


Jika tidak lari sekarang, tidak sempat lari lagi.


“Anak Muda! Kali ini kamu beruntung, tapi tunggu pembalasan dari kami!” kata pemuda bertubuh jangkung itu sebelum melarikan diri.


Tetapi, mana mungkin Robert membiarkan mereka pergi begitu saja?


"Mau lari? Sudah terlambat! Terima tendanganku ini!"


"Cari mati kau!"


Penjahat bertubuh jangkung berteriak keras, dan langsung mengangkat belati untuk menikam Robert.


Jika tidak menghabisi Robert, mereka sama sekali tidak bisa melarikan diri.


Tetapi Robert tidak mundur, dia malah maju dan mengangkat kakinya, kemudian menendang ************ penjahat bertubuh jangkung itu.


"Aduh!"


Penjahat bertubuh jangkung berteriak, dan berlutut ke tanah dengan wajah pucat, kedua tangannya memegang selangkangannya dan rebah ke tanah.

__ADS_1


Robert tidak menghentikan gerakannya. Dia menolehkan kepalanya, membalikkan pahanya dan membuat tendangan taekwondo di udara, menendang langsung ke dada penjahat berambut pirang itu hingga badannya terbang keluar.


Tidak jauh dari sana, sopir setengah baya dan Lia yang menyaksikan semua adegan itu tercengang.


Robert mengalahkan ketiga penjahat yang menggunakan belati itu. Wow, benar-benar hebat!


Robert berjalan di hadapan tiga penjahat yang tergeletak di tanah itu dan menendang mereka sambil menghujat, sama sekali tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk melarikan diri.


"Brengsek! Beraninya belajar menjadi penjahat, apakah kalian sudah tahu bahwa kalian salah?"


"Masih ingin menghabisiku? Ayo?!"


"Aku memiliki ilmu bela diri, mana mungkin takut pada kalian? Sekarang kalian tahu bahwa aku hebat, kan?"


"Malah memaksaku untuk turun tangan! Aku hanya malas menggunakan kekuatan dalam untuk melawan kalian! Jika menggunakan kekuatan dalam, kalian pasti sudah hancur berkeping-keping!”


"......"


Dang! Dang! Dang……


Sudut mulut sopir setengah baya dan Lia yang berdiri tidak jauh dari sana berkedut tanpa sadar mengikuti tendangan kaki Robert.


"Kakak, tolong maafkan kami!"


"Kami sudah tau salah, Kak!"


"Kak, kami tidak berani lagi!"


"Kami benar-benar tidak tahu diri! Kak, jangan pukuli kami lagi, jangan...!"

__ADS_1


Ketiga penjahat meringkuk di tanah, memegangi kepala mereka dan memohon belas kasihan.


__ADS_2