
Melihat mobil Mercedes Benz tiba-tiba muncul, Junius dan Erni langsung terkejut.
Mereka tidak tahu apa itu mobil van, juga tidak mengenali tipe mobil di depan mereka.
Namun mereka sangat mengenal logo Mercedes yang besar di depan mobil itu.
Mobil Mercedes!
Itu adalah merek mobil yang dikendarai oleh anak kepala desa, David.
Melihat mobil Mercedes Benz di depan mereka, Erni merasa malu.
Dia baru saja mengatakan bahwa mobil yang dipakai Robert tidak sebagus mobil CRV milik mereka.
Tidak disangka Robert menggunakan mobil Mercedes.
Benar-benar mempermalukan diri sendiri.
"Ini ... mobilmu?" Junius bertanya dengan bingung.
Robert tersenyum lalu berkata, "Tentu saja? Bagaimana? Apakah lebih bagus dari CRV-mu yang seharga 400 jutaan?"
Junius bergeming.
Saat ini, seorang pria paruh baya keluar dari dalam mobil lalu bersikap hormat, dan berkata, "Tuan Robert, Tuan Besar, Nyonya, silakan naik mobil."
"Ayah, Ibu, ayo naik?" Robert berkata di depan pintu mobil.
"Oh."
Antonius dan istrinya akhirnya bereaksi, lalu naik ke mobil Mercedes Benz sesuai arahan Robert, Robert juga ikut naik.
Setelah itu, mobil mulai bergerak perlahan.
Junius melihat mobil Mercedes Benz yang pergi lalu melihat kembali mobil CRV-nya.
Di desa mereka, mobil seharga 400 jutaan sudah bisa disebut sebagai mobil mewah.
Selain mobil milik anak kepala desa, mobil mereka adalah yang paling mahal.
Setelah membeli mobil ini, Junius merasa dirinya seperti orang kaya.
Namun sekarang, begitu dia melihat mobil mewahnya, dia tiba-tiba merasa mobil itu tidak terlalu bagus.
Mobil yang tidak bisa dipakai untuk dipamerkan, apa gunanya?
"Huh!"
__ADS_1
Erni berbicara dengan nada dingin. "Itu hanya mobil sewaan, apa yang bisa dipamerkan? Aku tidak percaya mereka bisa masuk ke konser tanpa tiket."
Junius mengangguk lalu berkata, "Benar! Mari kita lihat sampai kapan mereka bisa memamerkan diri! Ayo! Aku ingin melihat bagaimana mereka masuk ke konser."
Di sisi lain, di dalam mobil Mercedes Benz.
Antonius dan istrinya duduk di dalam, wajah mereka sangat kikuk, bahkan tidak berani bergerak sedikit pun.
"Robert, darimana kau mendapatkan mobil ini?" Meriatanti bertanya dengan ragu-ragu.
"Ini mobil sewa, Bu!" Jawab Robert.
Meriatanti mengangguk paham lalu berkata dengan wajah kecewa. "Untuk apa kau menyewa mobil sebagus ini? Sekarang di mana-mana ada bus umum, bukankah lebih hemat jika naik bus umum?"
"Tidak apa-apa, tidak mahal, kalian hanya perlu menikmati saja!" Robert menjawab sambil tersenyum.
Antonius memelototi Robert. "Aku memberimu 6 juta agar kau bisa menlayani pamanmu, tapi dari apa yang kudengar dari pamanmu, kau sama sekali tidak pernah mengajak mereka makan dan jalan-jalan. Apakah kau menyewa mobil ini dengan uang 6 juta itu?" Tanya Antonius.
"Kapan kau belajar menjadi sesombong ini?"
Robert berkata dengan tidak berdaya. "Ayah, sejujurnya, bahkan membuang uang 6 juta itu, aku juga tidak akan memakainya untuk mereka."
"Kau ini benar-benar kacau! Terjadi pertengkaran sebesar itu, pamanmu masih mau mengajak kita ke konser. Ini adalah hubungan persaudaraan, apakah kau mengerti?" Antonius melototi Robert.
Robert menghela napas. "Ayah, kaulah yang tidak mengerti! Bukankah aku baru saja bilang? Dia masih menginginkan tanah itu. Jika tidak, jangankan mengajakmu ke konser, dia bahkan tidak akan menghiraukanmu."
Tak lama kemudian, mobil sampai di luar acara konser. Konser kali ini akan diselenggarakan di Stadion Madya Gelora Bung Karno. Saat Robert sampai di luar acara konser, Junius dan istrinya juga sudah sampai di sana. Mereka hampir datang dalam waktu bersamaan.
Junius melihat Robert dan yang lainnya, lalu berkata dengan nada dingin. "Tak disangka kalian berani datang ke sini?"
Robert mengerutkan kening. "Kenapa tidak?"
"Huh!"
Erni tertawa sinis. "Kalian bahkan tidak memiliki tiket masuk, untuk apa kalian datang ke sini? Suamiku, mari kita masuk dan nonton konser. Biarkan mereka menonton di luar sana!"
Setelah mengatakan ini, dia meraih tangan Junius dan berjalan ke pintu masuk. Dia memberikan tiket kepada satpam di pintu masuk, lalu masuk ke dalam.
Setelah masuk, Erni hendak lanjut berjalan masuk dengan Junius, tetapi Junius menoleh dan berkata, "Tunggu sebentar, mari kita lihat di sini. Kita lihat bagaimana mereka masuk, apakah mereka akan diusir oleh satpam!"
"Baik!"
Erni tampak sangat gembira, dan berkata, "Harga tiket jutaan! Aku tidak percaya mereka rela membeli tiket semahal itu! Paling-paling, mereka akan berjalan-jalan di sekitar pintu masuk konser, lalu mengambil rekaman video, dan mengunggahnya ke Tiktok, kemudiam memamerkan diri kepada orang desa, setelah itu mereka akan pulang."
Ketika Junius mendengar ini, matanya berbinar, lalu berkata, "Pasti begitu! Aku akan memotret mereka dan mempostingnya di Tiktok, agar mereka tidak bisa memamerkan diri!"
Saat berbicara, dia mengeluarkan ponselnya dan membuka video, lalu mengambil gambar area pintu masuk.
__ADS_1
Di luar pintu masuk.
Meriatanti menatap satpam yang memeriksa tiket di pintu, dan bertanya kepada Robert dengan ragu-ragu. "Robert, apakah benar kau bisa membawa kami masuk? Kita tidak punya tiket, apakah kita akan diusir keluar jika masuk seperti ini?"
"Tentu saja tidak!"
Robert tersenyum dan berkata, "Jangan khawatir, Ibu, Ayah, aku sudah berjanji akan membawa kalian masuk, jadi tenang saja! Ikuti aku saja, aku akan membawa kalian duduk di barisan terdepan!"
"Aku tahu apa yang terjadi!"
Antonius menepuk pahanya dan berkata, "Apakah kau diam-diam membeli tiket?"
Robert tertawa pelan dan berkata, "Tidak! Ayo masuk."
Sambil berbicara, mereka langsung berjalan ke ke arah pintu masuk.
Antonius dan istrinya saling memandang dengan curiga.
Benar tidak ada tiket?
Bisakah masuk tanpa tiket?
Meskipun mereka tidak percaya, mereka tetap mengikuti Robert dan berjalan masuk.
Di pintu masuk.
Erni melihat Robert bertiga berjalan menuju pintu masuk, dan berkata dengan gembira. "Mereka datang! Suamiku! Cepat ambil gambar!"
“Jangan bergerak,aku sedang mengambil gambar!” Junius berkata dengan semangat dan sangat menantikannya.
Junius tidak pernah begitu bersemangat seperti sekarang.
Dia tiba-tiba merasa bahwa memamerkan diri memang terasa senang, tetapi lebih senang lagi ketika melihat kemalangan orang lain.
Apalagi saat menunggu melihat kemalangan orang lain.
Perasaan ini sama asyiknya dengan saat berkencan dengan kekasih.
Akhirnya, Robert bertiga berjalan ke pintu masuk.
Kemudian, beberapa satpam menatap Robert secara bersamaan.
Saat ini, mata Junius langsung melebar, menatap pintu masuk tanpa berkedip, menunggu Robert dan orang tuanya diusir oleh satpam.
Saat ini, sesuatu yang mengejutkannya terjadi.
Begitu melihat Robert, para satpam yang awalnya terlihat lesu, tiba-tiba berdiri tegak seperti seorang prajurit.
__ADS_1
Kemudian, mereka berteriak serempak. "Halo, Tuan Robert!"