
Keesokan hari.
Robert dengan tidak rela mengikuti Kelvin ke departemen perindustrian dan keuangan untuk mengurus pembentukan perusahaan jasa keuangan "Perusahaan Rob Finansial Jakarta".
Tugas mengelola perdagangan emas ke depannya diserahkan kepada karyawan Perusahaan Rob Finansial Jakarta yang direkrut oleh Kelvin. Sementara itu, Grup Berto saat ini hanya beranggotakan Robert dan Kelvin saja.
Setelah itu, Robert mengalihkan perusahaan Starway Entertainment, Gedung Komersial Longtech, Energi Baru Hontaro, dan Hotel Fantasy ke bawah naungan Grup Berto, Grup Berto pun resmi dibentuk.
Perusahaan-perusahaan ini memang miliknya, jadi proses pengurusannya juga sangat cepat.
Namun, saat melihat nama "Perusahaan Rob Finansial Jakarta" di sertifikat, Robert semakin merasa kepalanya sakit.
Bagaimana dia bisa setuju dengan nama yang diberikan oleh Kelvin ini?
Kelvin melirik nama perusahaan yang berada di bawah naungan Grup Berto, dan matanya tiba-tiba berkedip, lalu bertanya dengan ragu-ragu. "Robert, kenapa ada nama Hotel Fantasy? Hotel bintang lima ini juga milikmu?"
"Boleh dikatakan begitu," jawab Robert dengan tersenyum malu.
Kelvin bergeming.
Sial!
Sekarang dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi!
Setelah mengantar Kelvin kembali ke Longtech, Robert kembali ke rumah Elysia untuk melanjutkan mengajari dia kaligrafi.
Ternyata saat sampai di sana, Dewi memberitahunya bahwa Elysia tidak ada di rumah.
"Bibi Dewi, apakah Elysia pergi ke kampus?" tanya Robert dengan bingung.
Kemarin dia telah janjian dengan Elysia untuk melanjutkan latihan kaligrafi hari ini, dan sekarang juga tidak ada kelas di kampus, kenapa Elysia pergi ke kampus?
"Tidak," jawab Dewi sambil menggelengkan kepala. "Sepupunya tiba-tiba menelepon dan mengatakan bahwa dia datang ke Jakarta, Elysia pergi menjemputnya."
"Sepupunya?" tanya Robert terkejut.
Ini adalah kali pertama dia mendengar kabar tentang keluarga Elysia.
__ADS_1
Elysia selalu tinggal bersama Dewi, itu membuat Robert mengira bahwa keluarga Elysia hanya terdiri dari dia dan Dewi.
"Ya," jawab Dewi sambil mengangguk. "Sepupunya datang, kalian mungkin tidak bisa latihan kaligrafi hari ini. Kau sebaiknya kembali saja, kalau ada apa-apa akan kukabari."
"Baiklah," jawab Robert.
Robert menghela napas dan setelah berpamitan dengan Dewi, dia berjalan keluar. Namun, tak jauh setelah dia keluar, dia melihat Dewi dan seorang pria muda datang menghampirinya. Pria muda itu terlihat berusia 27-28 tahun, tingginya hampir sama dengan Robert, tetapi lebih gemuk dan tersenyum senang saat berjalan, seperti patung Buddha Maitreya yang sedang berjalan.
Pada saat Robert akan menghampiri untuk menyapa Elysia, dia tiba-tiba melihat Elysia terus-terusan mengirimkan isyarat kepadanya agar jangan berbicara.
Namun, ekspresi yang mereka tunjukkan ditangkap oleh mata pria muda di sampingnya.
Pria muda itu melihat Robert dan menoleh melihat Elysia, lalu bertanya dengan ragu. "Kalian kenal?"
Elysia segera menjawab, "Boleh dikatakan kenal, ini temanku Robert."
Setelah itu, Elysia memperkenalkan kepada Robert. "Robert, ini sepupuku Santoso, baru saja kembali dari Kota Surabaya."
Robert segera tersenyum dan mengulurkan tangan. "Tuan Santoso, senang bertemu denganmu."
Santoso melihat Robert mengulurkan tangan kepadanya, tetapi dia tidak menghiraukannya, dan berkata kepada Elysia. "Kenapa aku tidak pernah mendengar kalau kau punya teman seperti ini? Elysia, orang tuamu sedang di luar negeri, tetapi mereka berpesan padaku untuk menjagamu, jangan dekat dengan orang-orang yang tidak jelas! "
Robert mengangkat alisnya dan bertanya, "Tunggu dulu, siapa yang kau sebut orang yang tidak jelas tadi? Apa yang salah denganku?"
Santoso tertawa, dan berkata, "Maaf, aku tidak menyebutmu, jangan terlalu disimpan dalam hati. Tentu saja, kalau kau memaksakan untuk merasa orang itu adalah dirimu, aku juga tidak keberatan."
Robert bergeming.
Saat ini, Robert tiba-tiba mengerti makna dari "di dalam senyuman tersembunyi pisau belati".
Walaupun saat ini Santoso tersenyum, tetapi Robert merasa senyuman Maitreya itu seperti pisau-pisau tajam yang tidak terhitung banyaknya!
"Kak, apa yang kau katakan? Dia temanku!" Elysia berseru.
Setelah itu, dia segera berkata kepada Robert. "Robert, kau kembali saja, nanti baru kita bicarakan, ya?"
Robert tidak ingin membuat Elysia merasa tidak nyaman, dia mengangguk dan berkata, "Baiklah."
__ADS_1
Elysia juga segera menarik Santoso untuk pergi dari sana.
"Santoso ...," ucap Robert dengan pelan.
Sepertinya sepupu Elysia ini tidak suka padanya?
Tidak heran Dewi tidak mengajaknya duduk di dalam rumah kali ini, tetapi langsung memintanya pergi, ternyata karena takut dia bertemu dengan Santoso, kemungkinan Dewi juga cukup mengenal karakter Santoso.
Hanya saja tidak tahu apa pekerjaan sepupunya itu.
Namun setelah memikirkannya dengan seksama, dia telah bergaul lama dengan Elysia, tetapi dia hanya memikirkan keinginannya sendiri, tidak pernah bertanya tentang keluarga Elysia, dan hanya mengenal Dewi.
Dia hanya berharap mertua dan keluarga mertua dapat berinteraksi dengan baik dengannya.
Di saat ini, ponsel Robert berdering, Lia yang meneleponnya.
"Halo Lia, ada apa?" Robert tersenyum dan bertanya.
Beberapa hari ini, Lia terus tinggal di rumahnya, setiap hari menjadi supirnya, berbagai balapan yang tak terduga yang ditunjukkan Lia membuat Robert tidak berdaya.
Awalnya, Robert masih sedikit merasa pusing saat naik mobil, kemudian dia mulai terbiasa, dan obrolannya dengan Lia juga semakin santai.
"Robert, sekretaris cantikmu sudah kembali dari desa, sekarang dia di Jakarta, kapan kalian akan berkencan?" tanya Lia sambil tersenyum di ujung telepon.
Robert berkata dengan tidak berdaya. "Kencan apanya? Ini namanya merekrut!"
"Baiklah, yang penting kau senang. Kapan kau punya waktu? Aku akan mengajaknya berkencan .... Oh, bukan maksudku bertemu denganmu," jawab Lia.
Robert berkata dengan tidak berdaya. "Sekarang saja. Kau yang pilih saja mau bertemu di mana, aku akan segera ke sana."
"Baik, dia berada di dekat Jalan Permai. Kalian bisa bertemu di kedai kopi Abadi di Jalan Permai. Aku akan memberitahunya sekarang. Oh ya, aku akan mengirimkan fotonya padamu sekarang juga agar kau tahu bagaimana wajahnya nanti," jawab Lia.
Kemudian, Robert menutup teleponnya.
Tidak lama kemudian, Robert menerima sebuah foto di akun Whatsapp. Ketika dia membukanya, dia melihat sebuah foto seorang gadis yang tersenyum dengan ceria menghadap ke arah sinar matahari. Gadis itu terlihat cantik dan ramah. Tetapi, Robert tidak tahu bagaimana sifatnya.
Jika sifatnya seperti Lia, yang terlihat serius dan dingin di depan, tapi sebenarnya merupakan seorang pecinta balapan yang gila, Robert merasa dirinya perlu mempertimbangkan kembali.
__ADS_1
Apa boleh buat, dia harus menghadapi Lia di dalam dan di luar rumah, Robert benar-benar tidak berdaya.