Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
Pergerakan Pasar Saham


__ADS_3

Robert tidak tahu seberapa besar kehebohan yang dia timbulkan di pasar saham saat dia membeli saham sebanyak enam miliar.


Biasanya, meskipun enam miliar itu jumlah yang besar, jika dilemparkan ke pasar saham, sama sekali tidak menyebabkan perubahan yang besar.


Namun, bagi investor yang memegang saham Hontaro, itu berpengaruh besar.


Siapa pun yang telah berinvestasi di pasar saham selama lebih dari tiga tahun pada dasarnya akan memiliki beberapa saham Hontaro di tangan mereka!


Di pasar bull tiga tahun lalu, ketika puluhan ribu saham naik bersama, saat itu saham Hontaro juga melonjak tinggi, siapa yang mau ketinggalan?


Setelah itu, para paus-paus besar tiba-tiba meninggalkan pasar saham, Ketua Direksi Hontaro dipenjara, dan banyak penanggung jawab perusahaan aset mereka ditahan, harga saham pun langsung anjlok.


Investor yang memegang saham Hontaro awalnya tidak percaya, kemudian panik dan mulai menjual saham mereka.


Namun, pada saat itu, hanya segelintir orang yang beruntung dan berhasil menjual saham di tangan mereka, sedangkan sebagian besar tersangkut di saham tersebut.


Sekali tersangkut tiga tahun penuh.


Tepat ketika semua orang sudah putus asa, seseorang tiba-tiba melempar uang sebesar enam miliar untuk membeli saham tersebut, semua investor yang memegang saham Hontaro pun segera berbondong-bondong ingin menjual saham di tangan mereka.


Namun, ada juga beberapa orang yang langsung curiga ketika melihat seseorang membeli saham dalam jumlah besar.


"Apakah mungkin saham ini akan hidup kembali?"


"Saham ini telah mencapai harga terendah. Jika benar-benar bisa hidup kembali, maka pasti akan untung besar!"


"Jangan bodoh! Tidak tahu ada berapa banyak orang yang berpikiran sama denganmu, dan orang-orang itu masih terjebak di dalam saham ini!"


"Benar! Biasanya, tidak ada kemungkinan bisa hidup kembali! Karena tidak ada yang berani berinvestasi, bahkan bos besar pun tidak berani berinvestasi di saham seperti itu, karena kalau tidak hati-hati, maka semua uang mereka akan hangus."


"Mungkinkah perusahaan Hontaro telah mengembangkan teknologi baru?"


 "Apakah ada yang mengenal seseorang dari perusahaan Hontaro? Tahu apa yang sedang terjadi?"


"Aku tahu! Aku sedang bertanya!"


“…”


Pada saat yang sama...

__ADS_1


Di kota Tangerang, Banten.


Di kantor Manager Umum perusahaan Hontaro.


Dua pria paruh baya dengan perut buncit sedang duduk mengobrol dan merokok di depan jendela.


Sebagai penanggung jawab Perusahaan Energi Baru Hontaro, begitu ketua direksi mereka ditangkap, semua aset mereka juga ikut ditahan oleh pihak kepolisian. Mereka bahkan tidak diizinkan naik pesawat. Yang bisa mereka lakukan setiap hari adalah duduk di depan jendela, merokok sambil menghitung hari, dan menunggu aset dilikuidasi.


Awalnya perusahaan Hontaro masih memiliki harapan, mereka mencoba yang terbaik untuk membawa perusahaan kembali ke puncak.


Namun, sekarang tiga tahun telah berlalu, mereka sudah lama menyerah pada harapan yang tidak realistis ini.


Dulu tidak tahu siapa yang menelan uang investor yang tak terhitung jumlahnya sampai tidak tersisa. Tidak peduli seberapa keras mereka mencoba menyelamatkan perusahaan, tapi tetap tidak membuahkan hasil.


Sekarang, mereka sudah menyerah.


Bam!


Pada saat ini, pintu kantor tiba-tiba didorong terbuka, dan seorang gadis berusia dua puluhan masuk dari luar.


Melihat gadis itu datang, kedua pria paruh baya itu buru-buru duduk, membuka semua jendela, dan berkata kepada gadis itu sambil tersenyum, "Jesika, ada apa?"


Di seluruh perusahaan, hanya Jesika yang bertanggung jawab di bagian finansial, itu pun karena karyawan lain memohonnya untuk tidak meninggalkan perusahaan.


Yang mengejutkan mereka adalah Jesika yang biasanya marah ketika mencium bau asap rokok, bergegas masuk, dan mengabaikan asap di ruangan kantor.


“Kak Joe, Kak Lewis, seseorang membeli saham kita!” kata Jesika dengan bersemangat.


Salah satu pria paruh baya melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak aneh, masih banyak orang yang keras kepala membeli saham kira, mereka hanya ingin memastikan apakah saham kita akan naik kembali atau tidak!"


Nama pria itu Joe Hans. Dia dulunya adalah manajer umum perusahaan Hontaro. Dia sudah lama terbiasa dengan apa yang dikatakan Jesika.


Dalam tiga tahun terakhir, dari waktu ke waktu, ada orang keras kepala yang ingin mencoba dan melihat apakah mereka dapat membeli saham Hontaro dengan harga terendah.


Akibatnya, uang mereka langsung tersangkut.


“Tidak! Kak Joe, apa kamu tahu seberapa besar dia membeli saham kita? Enam miliar!” kata Jesika dengan bersemangat.


"Apa?"

__ADS_1


Mendengar ini, kedua pria paruh baya itu langsung berdiri.


"Enam miliar? Beli saham Hontaro? Apakah kamu yakin?" tanya Joe dengan mata terbelalak.


Pria paruh baya di sebelah berkata dengan tidak percaya, "Benar tidak, sih? Jangan bercanda ya!"


Jesika segera mengangguk dan berkata, "Tentu saja benar! Aku telah mengkonfirmasinya berulang kali! Orang itu telah membeli ribuan lot!"


"Ayo cepat!"


Joe berkata dengan penuh semangat, "Cepat jual sahamku, aku akan pergi ke restoran malam ini untuk makan lebih banyak!"


"Tunggu sebentar!"


Lewis Januar segera menghentikan Joe dan berkata dengan serius, "Siapa yang akan membeli begitu banyak saham kita sekaligus? Aku masih belum pernah melihat orang yang begitu keras kepala! Mungkinkah orang penting itu sengaja mengerjai kita?"


Dia benar-benar ketakutan oleh orang yang mengerjai mereka tiga tahun lalu.


Jika bukan orang itu, situasi Energi Baru Hontaro tidak akan seburuk sekarang.


"Aku tidak tahu!" kata Jesika sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku memeriksa akun sahamnya, akunnya adalah akun baru yang dibuka kemarin, dan tidak ada catatan transaksi."


Mata Lewis membeku ketika mendengar ini.


Akun baru membeli enam miliar saham mereka pada hari pertama perdagangan?


Apakah orang ini gila?


Lewis mengerutkan kening dan berkata dengan serius, "Kurasa masalah ini tidak sesederhana itu!"


Setelah itu, dia mengeluarkan ponselnya, menelepon bagian laboratorium, dan bertanya, "Bagaimana eksperimen di sana? Apakah ada perkembangan baru?"


"Tidak, masih sama seperti dulu, alasan utamanya adalah kekurangan uang..."


Setelah menutup telepon, Lewis mengerutkan kening dan berkata, "Apa mungkin dia anak orang kaya yang memborong saham di harga rendah?"


"Pikirkan sendiri saja Lewis, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi! Ada orang yang telah membelinya, tidak peduli apa yang dia inginkan, aku akan menjual punyaku dulu!" kata Joe, mengabaikan keberatan Lewis. Dia langsung mengeluarkan telepon dan mengoperasi penjualan saham.

__ADS_1


Lewis yang melihat adegan ini di sampingnya, ragu untuk sesaat dan akhirnya memilih untuk tidak ikut menjual sahamnya.


Saat ini dia ingin mengamati keadaan.


__ADS_2