Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
144


__ADS_3

"Oh?"


Mendengar kata-kata Robert, Wiranto langsung tertarik.


"Proyek real estat? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya? Informasi dari mana? Coba ceritakan," kata Wiranto sambil menuangkan segelas anggur untuk Robert.


Dia telah bekerja di bidang real estat selama bertahun-tahun, bisa dikatakan dia adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi di bidang tersebut, tapi dia tidak mendapatkan informasi yang dikatakan Robert. Dari mana Robert mendapatkan informasi tersebut?


Setelah tos, Robert perlahan meletakkan gelas anggur, lalu tersenyum dan berkata, "Proyek ini cukup besar, tidak tahu apa yang akan Tuan Wiranto gunakan untuk menukarnya dengan informasi ini?"


Wiranto tertawa dan berkata, "Kau ini, belum mengatakan apa-apa sudah mulai tawar-menawar denganku! Begini saja, tidak peduli proyek apa, semuanya milikmu, aku hanya bertanggung jawab untuk membantumu! Sebagai gantinya, izinkan aku berinvestasi di modul kapasitor baru Hontaro. Bagaimana?"


Robert terkejut. "Sebagai gantinya? Tuan Wiranto, dalam waktus singkat, keuntungan dari proyek ini pasti akan melebihi keuntungan modul kapasitor baru. Kau tak ingin mempertimbangkannya lagi?"


"Tidak perlu!"


Wiranto menggelengkan kepalanya dan berkata, "Biarkan aku memberi tahumu! Aku telah bekerja di bidang real estat selama bertahun-tahun, aku lebih paham darimu, memang cepat memperoleh keuntungan di real estat, tapi itu juga jangka pendek! Sekarang aku tidak kekurangan uang, yang aku butuhkan sekarang bukan menghasilkan uang, tapi stabilitas! Aku harus memikirkan masa depan anak dan cucuku, sedangkan keuntungan dari real estat tidak stabil, tidak bisa menjamin masa depan mereka selamanya, apakah kau mengerti maksudku?"


Dia tidak kekurangan uang.


Bahkan di seluruh Jakarta, tidak banyak orang yang bisa mengeluarkan uang sebesar dua triliun untuk berinvestasi tanpa ragu-ragu.


Itu belum termasuk aset tetapnya, tidak ada yang bisa menghitung berapa besar kekayaan Wiranto.


Dia sama sekali tidak tertarik dengan bisnis yang bisa memperoleh keuntungan besar. Sekarang dia hanya ingin pindah dari bisnis real estat, dan mencari bisnis lain yang lebih stabil dan berjangka panjang.


Dalam waktu lima belas tahun, bidang real estat telah berkembang sangat pesat, tetapi tidak ada yang tahu seperti apa situasinya dalam sepuluh tahun ke depan.


Sebaliknya, industri teknologi, serta layanan dan hiburan, adalah tren masa depan.


Setelah mendengar kata-kata Wiranto, Robert menggelengkan kepalanya lalu tersenyum dan berkata, "Tuan Wiranto, coba dipertimbangkan, kita bagi rata saja hasil yang diperoleh. Bagaimana?"

__ADS_1


“Tidak! Aku hanya menginginkan proyek Energi Baru Hontaro!” Wiranto berkata dengan tegas.


"Lalu bagaimana kalau proyek ini adalah proyek kawasan universitas?" Robert bertanya sambil tertawa.


Wiranto tertegun sejenak ketika dia mendengar perkataan Robert, dan kemudian berdiri karena terkejut.


"Apa katamu? Kawasan universitas?" Wiranto bertanya dengan heran.


Robert mengangguk dan berkata, "Ya, kawasan universitas, kalau informasi yang kuperoleh benar, pemerintah setempat akan menentukan lokasi pembangunan kawasan universitas dalam waktu dekat."


"Bagaimana kau bisa tahu? Kawasan universitas telah dibicarakan selama bertahun-tahun, bukankah tidak ada kesepatan? Apakah kau punya berita eksklusif?" Wiranto berkata dengan tatapan serius.


Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak serius.


Bagaimanapun, itu adalah proyek kawasan universitas, setelah ditentukan dan mulai dibangun, dampaknya akan sangat besar.


Awalnya, dia berpikir bahwa proyek yang dibicarakan Robert hanyalah proyek pembongkaran kawasan kumuh atau semacamnya, dia sama sekali tidak menyangka proyek yang dikatakan Robert adalah proyek kawasan universitas.


Robert menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


Berita eksklusif?


Tentu saja.


Namun, dia tidak boleh memberi tahu Wiranto sumber infomasi tersebut.


Tentu saja, untuk meyakinkan Wiranto, dia tidak bisa mengatakan bahwa dia hanya menebak.


"Memang ada ada informasi mengenai kawasan universitas."


Robert terkekeh. "Aku tidak bisa memberitahumu sumber informasinya, tapi kredibilitas informasi ini sangat tinggi! Bagaimanapun, saat ini pertumbuhan ekonomi Jakarta pada dasarnya melambat, kalau keadaan ini berlangsung lama, kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi akan menurun! Kau seharusnya sangat jelas tentang hal ini, kalau ingin meningkatkan ekonomi, maka hanya bisa dengan cara membangun kawasan universitas."

__ADS_1


Wiranto mengangguk dengan serius, dan berkata, "Yang kau katakan memang benar, tapi begitu kawasan universitas dibangun, pasti akan menjadi sebuah investasi besar, akan sulit direalisasikan baik itu di kawasan wisata wilayah timur ataupun kawasan di wilayah barat, apalagi dengan kondisi perekonomian yang buruk saat ini. Itulah kenapa proyek kawasan universitas ditunda sampai sekarang."


Wiranto tidak berani terlalu mempercayai Robert, tapi dia juga tidak sepenuhnya menyangkalnya.


Bagaimanapun, Robert adalah orang yang misterius, sejak pertama kali dia melihat Robert, Robert terkesan misterius.


Ditambah dengan penemuan teknologi energi baru Hontaro, membuatnya merasa bahwa Robert bukan orang biasa.


Jadi bukan tidak mungkin Robert mengetahui informasi tentang kawasan universitas sekarang.


"Lalu bagaimana kalau pemerintah memilih membangun kawasan universitas di wilayah selatan?"


Robert tersenyum dan berkata, "Tanah di sana jauh lebih murah, dan pengembangannya akan relatif lebih mudah!"


"Itu tidak mungkin!"


Wiranto segera menggelengkan kepalanya dan berkata, "Pada dasarnya tidak ada kemungkinan melakukan pembangunan di wilayah selatan, ada sebuah jalan bebas hambatan terkendali yang menjadi penghalang di sana, aku memiliki beberapa bidang tanah di sana, bahkan beberapa bangunan yang terbengkalai karena kawasan di sana tidak bisa dikembangkan, kecuali jalan bebas hambatan terkendali itu dibongkar! Tapi kemungkinan itu sangat rendah!"


Robert tersenyum, lalu mengulurkan tangannya untuk menggambar di atas meja dan berkata, "Misalnya ini Jakarta, ini adalah jalan bebas hambatan di selatan yang menyebabkan wilayah selatan tidak bisa dikembangkan. Tapi, bagaimana kalau lokasi kawasan universitas didirikan di sini?"


Sambil berkata, Robert menggambar lingkaran di ruang terbuka di sisi selatan jalan bebas hambatan terkendali.


Ketika Wiranto melihat lokasi yang digambar Robert, dia langsung tercengang, lalu berkata dengan serius. "Maksudmu di dekat Danau Cincin? Lokasi itu memang sangat cocok untuk pembangunan kawasan universitas, tetapi apakah lokasi itu tidak terlalu jauh dari pusat kota? Bisa dikatakan sudah berada di luar kota!"


Robert menggelengkan kepalanya dan berkata, "Memang benar, tapi bagaimana kalau kawasan universitas itu berdiri sendiri dan diubah menjadi ecocity kecil, dengan begitu tidak hanya akan menyelesaikan masalah jalan bebas hambatan yang menjadi penghalang, tapi juga membuat kawasan universitas menjadi lebih sempurna dan menarik lebih banyak investor untuk bergabung?"


"Luar biasa!"


Wiranto langsung bertepuk tangan dengan penuh semangat, dan berkata, "Kenapa aku tidak pernah memikirkannya! Alasan kenapa pemerintah tidak bisa mengambil keputusan dalam pembangunan kawasan universitas adalah karena memerlukan investasi yang besar, takut merusak ekonomi Jakarta! Tapi kalau membangun kawasan universitas menjadi ecocity kecil, maka akan menarik banyak investor luar, dengan begitu pemerintah tidak perlu mengeluarkan terlalu banyak biaya untuk membangunnya! Keuntungan ekonomi yang dihasilkan bahkan mungkin lebih besar dari wilayah timur dan barat!"


Robert menatap Wiranto sambil tersenyum, tetapi tidak berbicara.

__ADS_1


Dia sedang menunggu kata-kata Wiranto selanjutnya, yang akan menentukan keputusan Wiranto untuk bekerja sama dengannya.


__ADS_2