
Robert menatap sosok kepergian Elysia, ekor kuda panjang yang menari-nari di punggungnya yang indah terlihat seperti peri yang sedang menari.
Robert tersenyum bahagia, dia belum pernah merasakan perasaan bahagia seperti ini sebelumnya.
Dia baru kembali sadar setelah sosok Elysia menghilang dari pandangannya, lalu dengan gembira kembali ke asrama putra untuk mencari Kelvin.
...
Pada saat bersamaan.
Di kantor kepala sekolah.
Hardi menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa.
Di meja di seberangnya, Handoko sedang menelepon.
Orang di ujung telepon adalah Lia.
“Ya, baikl, jangan khawatir, Bu Direktur, aku akan menanggapi masalah ini dengan serius.” Handoko terus tersenyum pada Lia yang ada di ujung telepon.
Apa boleh buat, begitu banyak orang yang membicarakan hubungan Lia dan Robert di forum sekolah. Hal ini sama sekali tidak boleh dianggap sepele, karena akan dianggap sebagai fitnahan dan merusak reputasi Direktur Lia dan kampus. Jika dia mengetahui hal ini sejak awal, dia pasti tidak akan membiarkan masalah ini berkembang sampai tahap ini.
Setelah menutup telepon, Handoko menghela napas panjang, menatap Hardi dan berkata, "Hardi, kamu benar-benar keterlaluan kali ini..."
Hardi semakin menundukkan kepalanya, dia sama sekali tidak berani melawan, karena orang yang berdiri di depannya adalah kepala sekolah kampus ini!
Tidak peduli apa yang dia katakan, Hardi hanya bisa mendengarkan dengan patuh.
“Coba beri aku penjelasan!” Handoko duduk di kursi dan bertanya dengan makna tersirat.
Hardi membuka mulutnya, tetapi tidak ada tahu mau berkata apa.
Handoko mencibir. "Apakah karena Robert merampas pusat perhatian teman-teman lainnya saat Direktur Lia datang ke kampus menjemputnya? Lalu kamu ingin memberinya pelajaran, kan?"
“Tidak, tidak!” Hardi segera melambaikan tangannya.
“Kalau begitu, kamu merasa Robert hanyalah mahasiswa biasa, dan kamu yang seharusnya mendapatkan semua ini, jadi kamu merasa iri?” Handoko terus bertanya.
“Tidak, tidak.” Hardi melambaikan tangannya lagi, dahinya mulai berkeringat dingin.
__ADS_1
Menghadapi pertanyaan Handoko, dia bahkan tidak berani bernapas. Karena sebelumnya, Handoko tidak pernah memberinya begitu banyak tekanan.
“Lalu kenapa?” Handoko mengerutkan kening dan bertanya.
Hardi menyeka keringat dingin di dahinya, dan menjawab, "A... aku benar-benar mengira Robert itu baby sugar, tidak ingin dia merusak reputasi kampus kita, jadi aku..."
“Reputasi kampus? Apakah kamu perlu mengkhawatirkannya?” Handoko menyela kata-kata Hardi.
Hardi langsung terdiam.
Meskipun dia adalah ketua OSIS, dan memiliki banyak wewenang, tetapi masalah reputasi sekolah, itu memang diluar wewenangnya.
Handoko menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Awalnya ini hanya masalah sepele, tetapi setelah kamu membuat keributan seperti ini, seisi kampus menjadi heboh. Barusan Direktur Lia meminta pertanggung jawaban dari kampus, apa kau tahu hal ini akan berdampak seberapa besar terhadap kampus kita?"
Hardi menelan ludah, tidak berani membantah dan tidak bisa dibantah.
Begitu Lia meminta pertanggung jawaban kampus, maka pasti akan diketahui seluruh masyarakat.
Dengan begitu, tidak hanya nama kampus akan tercemar, tetapi para pemimpin juga seperti Handoko dan lainnya juga berisiko dipecat dari jabatan.
Karena masalah ini berdampak besar, maka setidaknya harus ada seseorang yang harus keluar untuk bertanggung jawab.
“Maaf, Pak, aku terlalu ceroboh kali ini.” Hardi menundukkan kepala dan berkata.
“Apa!” Hardi mengangkat kepalanya dengan tidak percaya.
Handoko ingin mencabut jabatannya sebagai ketua OSIS?
Tidak hanya itu, Handoko melanjutkan. "Karena penampilan kamu kali ini sangat buruk, kamu kemungkinan besar juga akan kena skorsing!."
"Apa……"
Mendengar ini, mata Hardi melebar karena terkejut.
Kena skorsing?
Begitu kena skorsing, tidak hanya tidak bisa memperoleh ijazah, bahkan akan dicatat dalam arsip. Kelak, dia akan sulit mencari pekerjaan ataupun lanjut prasarjana.
"Jangan, jangan..."
__ADS_1
Hardi ketakutan. "Pak, jangan pak, aku sudah tahu salah, aku benar-benar tidak tahu masalah ini akan berdampak begitu besar, tolong beri aku kesempatan lagi!"
Handoko menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kamu sudah dewasa, dan kamu harus bertanggung jawab atas kesalahanmu! Dibandingkan dengan hukuman atas kesalahanmu yang serius, masalah ini berdampak lebih besar pada Lia dan Robert! Aku sudah berwelas asih padamu karena konstribusimu selama menjadi ketua OSIS, jika diganti siswa lain, kamu mungkin akan langsung dikeluarkan dari kampus!"
Hardi menggertakkan giginya, kemudian menghela napas tanpa daya.
Dari kata-kata Handoko sudah bisa terdengar jelas, bahwa sudah tidak ada jalan lain untuk menebus kesalahannya.
Dibandingkan langsung dikeluarkan dari kampus, hukuman skorsing sudah dianggap lebih ringan.
Seorang mahasiswa dikeluarkan dari kampus, tidak peduli bos mana yang melihat riwayat seperti ini, dia tidak akan mempekerjakan karyawan seperti ini, karena orang seperti ini cenderung berperilaku sangat buruk!
Dia dengan lemah membungkuk dan berkata, "Terima kasih, Pak."
“Iya, kembalilah!." Handoko menjawab.
Setelah itu, Hardi berbalik, mengambil langkah berat, dan berjalan keluar secara perlahan.
Pada saat dia berbalik, wajahnya langsung menjadi muram!
"Robert!"
Hardi meraung dengan suara rendah.
Semua ini gara-gara Robert, jika bukan dia, semua ini tidak akan terjadi!
Dia tidak bisa menerima kenyataan ini! Hatinya penuh dengan amarah yang tak bisa dilampiaskan.
Setelah itu, ketika dia ingin mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Freya, dan mencari tempat untuk melampiaskan amarah. Baru saja mengeluarkan ponsel, dia mendengar dua orang sedang berbisik di sudut.
"Apa kamu sudah mendengar? Freya pergi ke perpustakaan dan langsung berlutut di hadapan Robert, memohon untuk balikan sama dia!"
"Iya, aku sudah dengar! Wanita itu benar-benar murahan! Sudah putus dan minta balikan setelah tahu Robert itu anak kaya! Apakah Ketua Osis kita tahu masalah ini?!"
Ketika sedang asyik berbisik, kedua orang itu bertemu dengan Hardi yang sedang memegang ponsel dengan wajah muram di tikungan.
"Ketua OSIS!"
Ekspresi keduanya langsung berubah, langsung meminta maaf, dan segera melarikan diri.
__ADS_1
Plak!
Hardi membanting tinjunya ke dinding di sebelahnya, dan meraung kuat: "Robert kau bajingan! Jangan sombong dulu, masalah ini belum selesai!"