
Menghadapi penolakan tegas Robert, dokter pria paruh baya dan perawat muda itu benar-benar heran. Mereka tidak pernah melihat orang seperti ini.
Dokter pria paruh baya itu menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Meskipun kamu hanya lemas, jika kamu tidak mengisi energi tepat waktu, mungkin akan menyebabkan trauma permanen! Dan Kapten Jeffri juga mengatakan bahwa pemimpin akan menjengukmu secara langsung, dan akan ada banyak wartawan yang akan mewawancarai kamu. Sayang kan kalau kesempatan bagus ini dilewatkan begitu saja?! Kamu ikut saja dengan kami ke rumah sakit!"
Kelvin di sebelahnya juga melanjutkan. "Iya, lho! Kesempatan bagus untuk tampil di TV! Dan ada pemimpin besar yang bertemu langsung denganmu! Sayanglah kalau kesempatan bagus ini dilepas begitu saja!”
Mendengar kata-kata dokter paruh baya dan Kelvin, dia semakin menolak pergi ke rumah sakit!
"Tidak! Aku tidak akan pergi! Aku hanya perlu istirahat sebentar! Aku akan turun saat sampai di pintu masuk rumah sakit!" teriak Robert.
Jangan bercanda! Ada wawancara dan pemimpin yang datang, mana mungkin bisa selesai malam ini! Bagi dia, waktu adalah uang, dia tidak bisa menyia-nyiakannya!
Adapun menjadi terkenal di TV, dia sangat pemalu, mana mungkin berani menunjukkan wajahnya di depan begitu banyak orang, apalagi di TV! Baginya, itu semua tidak penting.
“Kenapa?” Kelvin berkata dengan tidak sabar.
"Aku… aku baik-baik saja sekarang! Jika kamu tidak percaya, coba lihat ini!" Robert berkata sambil menendang-nendang kakinya.
Kakinya masih terasa kebas, seperti tertusuk jarum, tapi sudah baikan, dia yakin sebentar lagi pasti bisa sembuh.
Fisiknya berbeda dari orang biasa, lagipula dia sudah memperoleh serum prajurit super, jadi tubuhnya tidak lemah seperti orang biasa.
Setelah melakukan ini, dia langsung mengeluarkan 400 ratus ribu dari sakunya dan berkata, "Jangan khawatir, aku akan membayar biaya ambulans!"
"Itu juga tidak boleh!" Dokter setengah baya menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tegas. "Ini bukan masalah uang! Kamu tidak perlu membayar biaya perawatan! Kapten Jeffri sudah berpesan agar kami merawatmu dengan baik sampai kamu benar-benar sembuh!"
Perawat muda cantik itu juga membujuk. "Iya lho, jangan menolak, ini kan kesempatan bagus, sulit mendapatkan kesempatan ini seumur hidup!"
Segera, ambulans sudah sampai di pintu rumah sakit.
Staf medis sudah bersiap-siap dengan peralatan medisnya di luar pintu.
Begitu pintu ambulans dibuka, orang-orang ini akan segera mengambil alih.
Hanya saja begitu pintu ambulan terbuka, seorang tiba-tiba melompat keluar, dan berkata kepada semua orang. "Maaf ya! Bye-bye! Kelvin, ayo lari!"
Selesai berbicara, Robert berbalik dan lari.
__ADS_1
Kelvin terkejut sesaat, dan buru-buru berteriak, "Aa... ah, tunggu aku!" Kemudian dia ikut melompat turun dan mengejarnya.
Di dekat pintu mobil, para dokter dan perawat yang bertugas menjemput pasien menatap dokter setengah baya dan perawat cantik itu dengan bingung. "Mana pasiennya?"
Dokter paruh baya itu menunjuk jarinya ke arah Robert yang sedang berlari, dan berbisik, "Itu dia..."
Setiap orang bertanda tanya, "???"
Hah?
Orang yang berlari itu pasiennya?
Sebelum mereka sadar, mobil wartawan tiba-tiba berhenti di sebelah mereka.
Segera setelah itu, sekelompok wartawan berlari turun dari mobil, dan bergegas datang ke mobil ambulans, lalu dengan penuh semangat bertanya, "Di mana sang pahlawan? Kami ingin mewawancarai sang pahlawan yang menyelamatkan 28 nyawa!"
Dokter paruh baya itu menyeringai dan berkata, "Tidak perlu wawancara lagi, dia sudah lari..."
“Lari?” Semua reporter yang hadir terbelalak.
Mereka mengikuti mobil ambulan ke sini hanya untuk mewawancarai Robert dan mendapatkan informasi langsung tentang kejadian hari ini.
Dalam sesaat, mereka saling menatap, tidak ada yang tahu harus berbuat apa.
Akhirnya, mereka terpaksa mengatakan ke kamera. “Sangat disayangkan, kami mengejar sang pahlawan sampai ke rumah sakit, tapi sang pahlawan tidak ingin muncul di depan kamera, dan malah pergi! Di sini, kami hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada sang pahlawan!'
...
Dan sebagai pelaku atas kejadian ini, Robert terus berlari ratusan meter sampai Kelvin tidak mampu berlari. "Aku tidak mampu lari lagi! Tunggu aku!"
Kelvin terengah-engah, memegang lututnya dengan kedua tangan, dan berkata, "Buat apa lari begitu cepat, kita kan bukan pencuri! Emang takut ditangkap?"
"Ya, lho!"
Robert menjawab, "Jika barusan tidak lari, sekarang mana bisa lari lagi?!"
"Sialan!"
__ADS_1
Kelvin mengutuk dan berkata, "Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiranmu! Kesempatan yang begitu bagus, kok kamu malah tidak mau!"
Robert menarik pakaian Kelvin dan berkata, "Ayo ke perusahaan sekuritas buka rekening."
"Apa?!"
Kelvin menegakkan tubuh dan berkata dengan ekspresi tidak percaya, "Kamu melarikan diri karena mau buka rekening? Apakah perlu begitu terburu-buru?"
Robert berkata dalam hatinya, "Tentu saja! Kalau tidak, pasti terlambat!"
Dia menyeret Kelvin ke sisi jalan dan menghentikan taksi.
Dia tidak berani naik bus lagi.
Sudah trauma...
————
Pada waktu bersamaan.
Di perumahan Angel Residence.
Elysia membuka pintu dengan penuh senyum di wajah, sambil menyenandungkan lagu, dan melihat Dewi berdiri di ruang tamu.
“Elysia, senang sekali kamu hari ini, ada hal apa?” Dewi bertanya pada Elysia sambil tersenyum.
Elysia tampak panik, dan segera berkata, "Mana ada, bukankah aku biasanya juga seperti ini?"
"Tidak kok."
Dewi menggoyangkan jari rampingnya dan berkata, "Kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya, kamu bersenandung dan tersenyum. Biasanya kamu terlihat dingin, kok tiba-tiba berubah 180 derajat! Apa yang membuatmu begitu senang? Boleh kasih tahu Bibi?"
“Mana ada, Bi!” Elysia berjalan ke ruang tamu dengan panik.
Dewi tersenyum lembut, dan lanjut bertanya, "Lihat ekspresimu, masih berani bilang tidak ada? Ckckk, sudah merah wajahmu!"
Elysia duduk di sofa dan menyentuh wajahnya, dan menemukan bahwa kedua pipinya terasa panas. Dia buru-buru menundukkan kepala dan bersembunyi di bawah lengannya.
__ADS_1
Dewi duduk di sebelah Elysia, dengan lembut memeluk bahu Elysia, dan tertawa kecil. "Apakah karena mendengarkan cerita bibi kemarin, hari ini kamu sengaja menyatakan cinta pada orang yang kamu sukai?"