
Setelah mengantar orang tua Lia keluar, Robert menghela napas panjang dan merasa lega.
Akhirnya, aku tidak perlu diganggu oleh mereka lagi, sekarang tinggal bagaimana mereka memilih.
Tetapi yang bisa dipastikan adalah dengan sifat Bambang yang emosional, setelah mendengar ketiga syarat ini, diperkirakan dia pasti akan mengamuk.
Sangat disayangkan, dia tidak bisa melihat ekspresi marah Bambang setelah mendengar syarat yang dia ajukan.
Jika tidak, malam ini dia pasti bisa tidur dengan nyenyak.
Kemudian, Robert memandang Lia, lalu tersenyum dan berkata, "Bagaimana? Sangat menarik, ‘kan?"
"Um!"
Lia mengangguk kuatt dan berkata, "Sangat menyenangkan! Sudah lama aku tidak sebahagia hari ini! Tapi aku penasaran, kenapa kau membantuku?"
"Bukankah aku baru saja mengatakannya kalau kita adalah teman," kata Robert.
“Tapi sebelumnya kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau ingin aku kembali menjadi direktur Grup Setiawan?" tanya Lia dengan ekspresi sedikit kecewa.
Dia mengira Robert suka padanya, ternyata dia salah.
Robert merentangkan tangannya dan berkata, "Aku baru teringat, jadi tidak tahu harus bagaimana memberitahumu? Kenapa? Kau tidak mau?"
Lia menghela napas dan berkata, "Aku telah bertengkar dengan kakekku, kupikir aku mungkin akan dikucilkan di perusahaan."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
Robert meliriknya dan bercanda, "Apakah kau ingin berada di sisiku dan menjadi sekretarisku? Kebetulan aku kekurangan seorang sekretaris, jadi banyak pekerjaan yang harus kukerjakan sendiri! Apakah direktur besar sepertimu bersedia merendahkan diri untuk menjadi sekretarisku?"
__ADS_1
Bagaimanapun, dia sekarang adalah bos besar, pekerjaan akan lebih ringan jika dia memiliki seorang sekretaris.
Kemampuan Lia tidak perlu diragukan, tetapi posisi sekretaris kurang sesuai untuknya, bakat Lia akan terbuang sia-sia jika menjadi sekretaris.
Robert memelototinya dan mengangkat alisnya. "Aku serius! Kalau kau tidak ingin menjadi direktur Grup Setiawan, aku dapat membatalkan syarat ketiga, kau boleh bekerja di sisiku, aku tak akan merugikanmu. Kalau kau ingin menjadi direktur, aku akan membantumu sepenuhnya!"
Lia memegang dagunya dan merenung selama beberapa detik, lalu memiringkan kepalanya dan bertanya pada Robert dengan serius. "Bolehkah aku menjadi direktur di pagi hari dan menjadi sekretaris di malam hari?"
Robert bergeming.
Melihat penampilan Robert, Lia terkikik dan berkata, "Sudahlah, aku hanya bercanda. Tadi suasananya terlalu serius, tapi sekarang sudah jauh lebih baik. Aku mendengar saranmu, aku akan kembali ke Grup Setiawan untuk menjadi direktur. Dengan begitu kau bisa lebih mudah melakukan kerja sama dengan Grup Setiawan. Kalau untuk sekretaris, aku punya pilihan yang lebih sesuai untukmu."
Robert mengangkat alisnya dan berkata dengan heran. "Siapa?"
"Seorang temanku!"
Lia menjawab, "Dia baru saja kembali dari studi di luar negeri dan sedang mencari pekerjaan. Awalnya aku ingin dia bekerja di tempatku, tapi dia bilang kalau dia terlalu akrab denganku jadi akan sulit dalam mengurus masalah kerja. Aku bisa menjamin kemampuannya, tidak hanya pintar, dia juga cantik. Bagaimana, kau tertarik?"
Lia tertegun sejenak, kemudian menyadari sesuatu, dan berkata, "Dia adalah cewek yang cukup serius. Aku bisa menjamin kalau kau tak mengambil inisiatif untuk berbicara dengannya, dia tak akan mengucapkan sepatah kata pun kepadamu."
"Baik!"
Robert langsung bertepuk tangan dan berkata, "Kau yang menghubunginya saja, nanti baru dibicarakan lagi saat bertemu dengannya.”
Lumayan bagus kalau sifatnya pendiam dan serius.
“Kalau begitu aku akan menghubunginya!” Lia segera pergi ke samping dan menelepon.
Segera, Lia berjalan kembali, mengangkat telepon di tangannya dan berkata, "Aku sudah menghubunginya. Dua hari ini dia pulang kampung. Dia akan kembali besok atau lusa. Setelah kembali, aku akan menyuruhnya datang ke sini."
__ADS_1
"Um."
Robert mengangguk, kemudian melirik waktu.
Sudah hampir sore, dia dan Wiranto punya janji untuk makan malam di malam hari.
Setelah berpamitan dengan Lia, Robert langsung keluar dari pintu dan bergegas ke Hotel Aston ....
....
Pada saat yang sama.
Kediaman keluarga Setiawan.
Di luar ruang tamu, sekelompok orang berdiri dengan cemas di luar pintu.
Di dalam ruang tamu, hanya ada tiga orang, Bambang, Joni beserta istrinya. Awalnya semua orang berada di ruang tamu untuk mendengar kabar yang dibawa kembali oleh Joni, tapi untuk menjaga harga diri Bambang, Joni menyuruh semuanya keluar dari ruang tamu.
Setelah Bambang mendengar tiga syarat yang dikatakan Joni, wajahnya menjadi muram lalu berkata dengan marah, "Tidak mungkin! Lebih baik aku langsung memberikan Grup Setiawan kepadanya! Aku lebih memilih tidak bekerja sama dengan perusahaannya, daripada meminta maaf secara langsung kepadanya. Jangan berharap!"
Joni berbisik, "Ayah, Tuan Robert mengatakan bahwa dengan kemampuan Lia, ditambah dengan teknologi modul kapasitor baru Hontaro, Grup Setiawan dapat berada dalam urutan terdepan dalam persaingan pasar di masa depan. Keuntungan yang dihasilkan pasti lebih besar beberapa kali lipat dari yang ada saat ini! Bahkan dengan memberi Robert 30% saham perusahaan, pendapatan kita masih lebih tinggi dari sekarang!"
Ketika Bambang mendengar ini, ekspresinya tiba-tiba menjadi dingin, lalu berkata dengan serius, "Apakah kau sedang mengajariku membuat keputusan!"
"Tidak tidak!"
Ekspresi wajah Joni langsung berubah, dia segera melambaikan tangannya dan berkata, "Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya menganalisis pro dan kontra untuk Ayah!"
"Aku tidak perlu kau menganalisisnya untukku! Apakah kau benar-benar berpikir kalau aku sudah tua dan tidak berguna?"
__ADS_1
Bambang berkata dengan marah, "Beri tahu Robert! Masalah ini tidak bisa dinegosiasikan! Grup Setiawan adalah milikku! Hanya boleh ada di tanganku! Aku tidak bisa memberikannya kepada siapa pun!"
Pada saat ini, Erika berdiri, mengerutkan kening dan berkata, "Ayah, meskipun dalam masalah ini keluarga Setiawan perlu berkorban lebih banyak tapi bukankah keuntungan yang diperoleh juga lebih besar? Apakah harga diri ayah lebih penting daripada kepentingan seluruh keluarga Setiawan?"