
"Kau..." Antoni memelototi Robert dengan marah, lalu tiba-tiba dia tertawa dingin. "Mentang-mentang kaya, sekarang kau sombong ya Robert! Sahabat baik sendiri pun kau pukul! Jangan kira kau bisa berbuat semena-mena karena punya uang! Aku akan membuatmu membayar tamparan ini! Kalau berani… jangan pergi kau!"
Selesai berbicara, dia berbalik dan pergi dengan marah.
Menatap Jamil dan Antoni berjalan dengan marah, yang lainnya pun ikut memarahi Robert.
“Mentang-mentang punya uang, kau pikir hebat begitu?"
"Kami memperlakukanmu sebagai sahabat selama bertahun-tahun, beginikah caramu memperlakukan sahabatmu?"
"Sungguh sial bersahabat denganmu! Ayo kita pergi!"
"Heh! Gendut! Kau kira menjadi sahabat orang ini adalah suatu penghargaan begitu! Siap-siap saja kau dikhianati!
"Iya benar! Lihat saja berapa lama mereka bisa sombong! Ayo pergi!"
"..."
Mereka melototi Robert dengan marah, lalu berbalik dan pergi.
Setelah beberapa saat, mereka menyusul Jamil.
“Jamil, apa rencanamu untuk membalas tamparan ini?” tanya Antoni.
Jamil menyentuh pipi kanannya yang sakit.
Tamparan dari Robert sama sekali tidak tanggung-tanggung, membuat setengah wajahnya bengkak.
Jamil menggertakkan gigi, "Si Robert bajingan! Dia kira bisa berbuat semena-mena karena punya uang?! Aku akan membuatnya membayar sepuluh kali lipat atas tamparan ini! Masyarakat kita saat ini punya hukum, ‘kan!"
“Apakah kamu akan melapor polisi?” tanya Antoni dengan penasaran.
Jamil mengangguk dan berkata, "Tentu saja! Wajahku bengkak, ini sudah termasuk cedera ringan! Tidak hanya melapor polisi, aku juga akan melapor kepada Rektor, agar dia dikeluarkan dari kampus ini! Biar dia menyesal seumur hidup karena telah menamparku!"
Dia mengeluarkan ponsel dan memanggil 110.
Pada waktu bersamaan, di Jembatan Teksas.
Bus yang rusak telah ditangani, tetapi Jeffri dan yang lainnya masih belum pergi, mereka semua menundukkan kepala dan mendengarkan teguran dari pemimpin!
“Apa yang kalian semua lakukan! Hah? Seorang pahlawan yang menyelamatkan begitu banyak orang, tapi kalian bahkan tidak tahu identitasnya?” kata seorang pria paruh baya berusia empat puluhan dengan marah.
Meskipun insiden bus pada dasarnya sudah berakhir, tetapi dampak dari kejadian ini baru saja dimulai.
Seorang pemuda tak dikenal menyelamatkan nyawa seisi penumpang bus!
Ini adalah sesuatu yang patut dipublikasikan di seluruh Jakarta.
Namun, saat dia bertanya kepada Jeffri tentang identitas pemuda itu, Jeffri malah tidak tahu sama sekali.
Jeffri berkata pelan, "Aku tahu namanya Robert."
__ADS_1
"Selain itu?" kata pria paruh baya itu dengan marah.
Jeffri menundukkan kepala dan tidak berani mengatakan sepatah kata pun.
Dia benar-benar hanya tahu nama Robert, dan tidak tahu apa-apa selain itu.
Jeffri yakin Lia mengetahui identitas Robert, dia mencoba menelepon Lia, tetapi Lia tidak menjawab panggilannya.
Dalam situasi ini, dia hanya bisa menundukkan kepala dan dimarahi.
Pada saat ini, ponsel Jeffri tiba-tiba berdering, dan ketika dia melihat orang yang menelepon, ekspresinya tiba-tiba menjadi serius.
Itu adalah panggilan ketua tim.
Setelah terhubung, orang di ujung telepon tiba-tiba berkata, "Jeffri, ada perkelahian mahasiswa di UI, kamu berada di dekat kampus, ‘kan? Coba pergi dan lihat apa yang sedang terjadi."
"Ini...aku sedang menerima instruksi dari Ketua Louis. Ketua Louis memintaku untuk mencari Robert, tapi aku tidak menemukannya," kata Jeffri sambil menyeringai.
Dia juga ingin segera pergi, tapi tidak berani!
"Robert? Laporan yang aku dapat barusan, sepertinya mahasiswa yang memukul itu juga bernama Robert!"
“Apa!” Mata Jeffri langsung melebar.
Serius?!
Kebetulan sekali?
Mungkinkah itu dia?
Setelah menutup telepon, Jeffri berkata dengan semangat kepada pria paruh baya di depannya, "Ketua Louis, aku sudah menemukan Robert, dia di UI!"
Mata pria paruh baya itu berbinar, dan melambaikan tangannya, "Ayo pergi!"
Segera setelah itu, mereka segera bergegas ke UI.
————
Di UI.
Setelah Jamil lapor ke polisi, dia membawa Jimmy dan yang lainnya langsung ke kantor rektor.
Begitu masuk, Jamil menangis, "Pak, aku dipukuli, Bapak harus menegakkan keadilan untukku."
Handoko, "..."
Dia melirik Jamil yang wajahnya bengkak, dan bertanya dengan penasaran, "Siapa yang memukulmu?"
"Robert! Baru saja, kami mencari Robert untuk meminta maaf, tapi dia malah menamparku sampai bengkak seperti ini! Bapak harus menghukumnya!" Jamil hampir saja berkata sambil menangis.
Jamil sangat pandai berakting, inilah alasannya kenapa Robert bisa menganggapnya sebagai sahabat selama tiga tahun.
__ADS_1
Namun, Handoko mengerutkan kening ketika mendengar nama "Robert".
Robert?
Kok dia lagi?
Hari ini, dia sudah berulang kali mendengar nama Robert.
Hanya saja, Robert masih bisa memukul orang? Sulit dipercaya!
Pada saat ini, Jimmy dan Antoni juga bersorak di samping.
"Robert menjadi sombong sekarang, memanggil kami ‘anjing’, dia bahkan menampar Jamil!"
"Iya benar! Aku belum pernah melihat dia sesombong ini!"
"..."
Beberapa orang ini sengaja memanasi keadaan.
Handoko mengerutkan kening, melambaikan tangan dan berkata, "Sudah, aku sudah tahu."
Meskipun dia tidak akrab dengan Robert, tapi melalui kontak singkat barusan, dia cukup mengenal kepribadian Robert.
Handoko sudah menjabat sebagai rektor selama bertahun-tahun, penilaiannya terhadap kepribadian mahasiswa yang pernah dia temui selalu tepat.
Robert sama sekali bukan tipe orang yang mereka katakan.
Selain itu, dia juga mengetahui dengan jelas apa yang orang-orang ini lakukan pada Robert sebelumnya.
Handoko benar-benar malas berurusan dengan masalah semacam ini.
Mereka sengaja mencari gara-gara lalu dipukuli, sekarang malah datang meminta bantuannya!
Handoko menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Aku sudah tahu tentang masalah ini, nanti aku akan bicarakan baik-baik dengan Robert."
Mendengar kata-kata Handoko, Jamil sedikit terkejut, dia tidak menyangka bahwa Handoko akan memihak Robert.
Namun karena mereka sudah datang ke sini, tentu saja mereka tidak akan menyerah seperti ini!
"Hanya dipanggil untuk berbicara saja, Pak?"
Jamil menyentuh wajahnya dan berkata, "Lihat bagaimana wajahku dipukuli! Mahasiswa seperti dia harus dikeluarkan dari kampus!"
Handoko mengerutkan kening.
Orang-orang ini benar-benar keterlaluan!
Dilihat dari penampilan mereka, tidak mengherankan jika Robert berperilaku kasar pada mereka.
Ketika Handoko hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara dari luar, "Di kampus kita masih ada mahasiswa yang berkelakuan buruk seperti ini?"
__ADS_1