Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
175


__ADS_3

Setelah menutup telepon, Robert menelepon sekretarisnya, Feronika.


"Bantu aku menyiapkan sebuah mobil van," kata Robert.


"Baik, Bos, apakah ada permintaan khusus?"


"Tidak ada permintaan khusus, yang penting harus nyaman dan jangan terlalu menonjolkan diri," jawab Robert.


Dia tidak suka terlalu menonjol diri, orang tuanya baru saja datang dari desa. Jika mereka tahu terlalu banyak informasi sekaligus, mungkin akan sulit untuk menerima kenyataan ini, jadi lebih baik jangan terlalu menonjolkan diri.


Setelah menutup telepon, Robert  beres-beres sebentar dan langsung bersiap untuk keluar rumah. Namun, tepat saat dia akan pergi, ponselnya berdering, ternyata panggilan dari Junius.


"Halo Robert, ini Aku, pamanmu. Kami di hotel bintang lima, Hotel Fantasy. Nanti, orang tua dan bibimu juga akan datang. Kau juga datang saja, kami akan mentraktirmu makan," tutur Junius sambil tersenyum di ujung telepon.


Robert mengangkat alisnya, berpikir sejenak, lalu menjawab, "Baik."


Dia penasaran dan ingin melihat apa yang akan dilakukan pamannya.


Jika dia berani berniat jahat, Robert tidak keberatan untuk mengabaikan kemarahan ayahnya, dan akan langsung mengusir sepupunya keluar dari perusahaan Starway Entertainment.


Tetapi ini adalah langkah terakhir, kecuali tidak ada pilihan lain, dia tidak ingin sekejam itu.


Tak lama kemudian, Robert menerima panggilan pemberitahuan. Begitu keluar dari pintu dia langsung melihat sebuah mobil van Mercedes-Benz tujuh penumpang yang berwarna hitam berhenti di luar, di sampingnya berdiri seorang sopir tengah baya.


Melihat Robert, sopir tengah baya itu tersenyum dan langsung berjalan kemari. "Halo Tuan Robert, aku sopir pribadi Anda, Wawan. Apakah perlu lanjut melayani Anda?"


Robert mengangguk. "Ya, aku belum pernah mengemudi mobil ini, lanjutkan saja, antar aku ke Hotel Fantasy."


"Baik, Tuan."


Selesai berkata, Wawan segera kembali ke kursi kemudi.


Sampai di Hotel Fantasy, Robert langsung menerima panggilan dari ayahnya begitu keluar dari tempat parkiran.


"Halo Robert, aku dan ibumu sudah hampir sampai di Hotel Fantasy, kau sekarang di mana?" Antonius bertanya di ujung telepon sambil tersenyum.


"Ayah, aku menunggumu dan ibu di depan pintu hotel," jawab Robert.


"Baik baik."


Setelah menutup panggilan, dan belum sampai dua menit.


Sebuah CRV putih berhenti di depannya, ini adalah mobil Alexander, tampaknya mereka sendiri yang mengambil mobil itu dari tempat servis.


Kemudian, pintu mobil terbuka.


Sepasang suami-istri berumur setengah baya keluar dari mobil, itu  adalah ayah dan ibunya.


Robert segera berlari menyambut mereka, tersenyum sambil berseru. "Ayah, Ibu."


Antonius tertawa dan mendekat ke arah Robert, menepuk-nepuk Robert dengan gembira. "Dasar, beberapa hari tidak bertemu kau bertambah tinggi dan gemuk lagi."


Robert tertawa. "Ayah, ini adalah pertumbuhan kedua kali."

__ADS_1


Meriatanti memandang suaminya dengan tatapan jengkel. "Kau keberatan anakmu bertambah tinggi?"


"Tidak tidak! Itu karena aku gembira!" Antonius menjawab sambil tertawa.


Saat ini, kepala seorang wanita muncul dari dalam mobil, lalu berseru ke arah mereka. "Jangan mengobrol di sana lagi, Junius masih menunggu kita di dalam. Kalian masuk dulu, kami pergi parkir mobil, nanti langsung naik ke atas dari basement."


Robert menoleh dan melihat bahwa itu adalah Bibinya, Erni.


"Baik baik, kalian semua masuk dulu." Antonius menjawab.


Setelah itu, CRV putih langsung melewati mereka bertiga dan menuju ke basement.


Robert juga tidak peduli dengan mereka, dia menoleh ke arah orang tuanya dan berkata, "Ayah, ibu, kalian berpakaian sangat formal hari ini."


"Ya, kami kan datang ke kota, tidak boleh memalukan warga pedesaan, bukan? Jadi aku mengeluarkan pakaian pernikahan yang aku pakai dulu! Bagaimana, keren 'kan?" Tanya Antonius sambil tersenyum.


Meriatanti di sampingnya berbalik menatapnya dengan tatapan jijik. "Sudahlah! Keren apanya dengan memakai pakaian tua yang warnanya sudah luntur? Apa tidak cukup malu?"


"Yang penting aku senang! Ayo, anakku, ayah belum pernah melihat hotel bintang lima. Hari ini kita juga ikut merasakan kemewahan kehidupan orang kaya!"


Setelah Antonius mengatakan itu, dia langsung tertawa dan berjalan ke dalam.


Robert menggelengkan kepala dan tersenyum, lalu pergi ke dalam bersama ibunya.


Ibunya menyeret pakaian Robert, lalu berkata pelan. "Robert, nanti tidak peduli apa pun yang dikatakan oleh paman dan sepupumu, jangan ditanggapi, biarkan ayahmu yang menghadapi mereka."


Robert mengangkat alisnya dan bertanya dengan penasaran. "Ibu, apakah ada sesuatu yang terjadi?"


Robert menatap ibunya dengan heran.


Baiklah.


Kalau begitu dia akan melihat apa yang akan dilakukan kedua orang itu.


Tak lama kemudian, ketiganya sampai di ruangan yang telah dipesan oleh Junius, tapi Alexander dan Erni belum datang, hanya ada Junius sendirian.


Melihat kedatangan Robert bersama orang tuanya, Junius segera menyambut mereka dengan ramah dan tertawa. "Antonius, Meriatanti, Robert, ayo masuk!"


"Kak, kali ini benar-benar berkat Kakak kami baru bisa datang ke hotel bintang lima seperti ini. Biasanya, aku bahkan takut masuk ke hotel seperti ini, apalagi makan di sini." Antonius menjawab sambil tersenyum.


"Jangan segan."


Junius bersikap rendah hati dan berkata, "Aku tidak punya kemampuan itu, semua ini berkat putraku! Alexander cukup hebat, dia memiliki hubungan yang baik dengan kepala manajer hotel bintang lima ini, tidak hanya dapat menginap gratis di sini, juga dapat diskon 50% untuk makan!"


"Wah!"


Antonius terkejut lalu berkata, "Alexander ternyata begitu hebat?"


“Biasa-biasa saja.”


Junius tersenyum bangga dan berkata, "Bagaimanapun dia adalah artis perusahaan Starway Entertainment. Selain itu, Alexander juga cukup cerdas, baru saja masuk ke perusahaan, dia sudah mendapat perhatian dari para pemimpin, perusahaan akan membimbingnya dengan sebaik mungkin dan membiarkannya untuk tampil di panggung! Kepala manajer hotel bintang lima ini sangat menyukai bakat Alexander dan ingin berteman dengannya. Jadi dia memberikan kami kartu VIP! Nanti malam konser Jasmine, aku akan meminta Alexander mengambil beberapa tiket VIP untuk kita, itu hal yang mudah baginya!"


Robert bergeming.

__ADS_1


Astaga!


Pandai sekali berbual!


Jika bukan karena dia yang memberikan kartu VIP itu dan setiap artis di perusahaan mendapatkannya, dia bahkan akan percaya dengan apa yang dikatakan Junius.


Dia sekarang sudah mengetahui tujuan pamannya.


Junius mengundang orang tuanya bukan untuk makan dan menonton pertunjukan, tetapi hanya untuk memamerkan diri.


Apakah aku harus segera mengungkap kebohongan ini?


Tetapi, setelah memikirkannya dengan seksama, biarkan saja.


Lihat sampai kapan mereka bisa berakting!


"Terima kasih, Kak! Kakak benar-benar baik!" Antonius berkata sambil tertawa.


Setelah itu, dia berbalik menatap Robert dan berkata, "Robert, pamanmu sudah membantu banyak, tidakkah kau segera mengucapkan terima kasih kepada pamanmu?"


Robert bergeming.


Kenapa ini berkaitan denganku?


Saat ini, Alexander dan Erni berjalan masuk dari luar.


Antonius segera mengangkat jempolnya ke arah Alexander dan berkata, "Alexander, kau benar-benar hebat! Kau ada kebanggaan keluarga Kusnadi!"


Alexander tersenyum dan berkata, "Paman terlalu segan, ini hanya keberuntungan saja, duduklah dulu, kita duduk dan bicara."


Sambil berkata, enam orang duduk di kursi.


Tetapi setelah duduk, tiba-tiba terdengar suara ketuk pintu dari luar.


"Mungkin pelayan. Meriatanti, kau pergi buka pintu." Erni langsung berkata kepada Meriatanti.


"Aku saja."


Antonius yang berada di dekat pintu segera berkata dan berdiri.


Kemudian dengan langkah besar, dia berjalan ke depan pintu dan membukanya.


Di luar, seorang pria paruh baya berdiri di sana, berpakaian lengkap, terlihat seperti orang sukses, tidak seperti pelayan.


"Kau ...." Antonius bertanya dengan penuh kebingungan.


Junius dan Alexander langsung terkejut dan membelalakkan mata begitu melihat pria itu.


Astaga!


Kepala maanajer Hotel Fantasy, Andi?


Kenapa dia datang ke sini?

__ADS_1


__ADS_2