Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
Julfikar Yang Tak Berdaya


__ADS_3

 Di ruang rektorat.


Semua pemimpin yang awalnya duduk di ruangan itu segera berdiri setelah melihat pria paruh baya itu, lalu tersenyum.


"Halo, Sekretaris Iskandar."


"Kenapa Sekretaris Iskandar ada di sini?"


"Silakan duduk."


“…”


Para pemimpin kampus yang biasanya sangat dihormati dan disegani tiba-tiba bersikap hormat.


Hanya karena pria paruh baya di depannya adalah Iskandar Mahmud, sekretaris balai kota dan kepala Biro Propaganda Jakarta.


Orang seperti ini berdiri di sini, siapa yang berani duduk?


Belasan polisi, reporter, kamera, ...


Selain itu, ada banyak pemimpin besar dari kota, dan bahkan bos besar dari Biro Pendidikan, banyak dari mereka tidak bisa disinggung begitu saja!


Hanya saja mereka tidak mengerti, begitu banyak orang datang ke sini secara misterius tanpa pemberitahuan sebelumnya, apa yang akan mereka lakukan?


Hanya Robert dan Kelvin yang tertawa ketika mereka melihat Kapten Jeffri di antara kerumunan, terutama setelah melihat Kapten Jeffri mengedipkan mata pada mereka.


Kali ini, tampaknya rencana Julfikar akan gagal.


"Tidak perlu!"


Iskandar melambaikan tangannya tanpa ekspresi, dan berkata kepada Robert, "Kami ke sini untuk mencari Robert!"


Mendengar kata-kata Iskandar, semua orang yang hadir melebarkan mata.


Mencari Robert?


Ada begitu banyak orang yang mencari seorang mahasiswa?

__ADS_1


Masalah besar apa yang dibuat Robert kali ini?


Wajah Julfikar tiba-tiba menjadi dingin, dan dia menunjuk tangannya ke arah Robert dengan marah dan berkata, "Hei Robert! Hal buruk apa yang kamu lakukan?"


Selesai berbicara, dia segera bekata pada Iskandar, "Sekretaris Iskandar, Robert telah dikeluarkan dari kampus kami. Apa yang dia lakukan tidak ada hubungannya dengan kami! Sungguh!"


Beberapa pemimpin kampus yang berteman dengan Julfikar juga segera berdiri dan berkata, "Ya, Sekretaris Iskandar, Robert memang telah dikeluarkan, kami semua bisa bersaksi!"


 Biasanya, mereka tidak akan memihak karena tidak ingin menyinggung Handoko.


Namun sekarang Iskandar ada di sini, tentu saja mereka harus segera menyatakan posisi mereka.


Hanya saja, melihat orang-orang ini takut terlibat karena berhubungan dengan Robert, Iskandar mengangkat alisnya dan berkata dengan setengah tersenyum, "Benarkah?"


Julfikar tertegun untuk beberapa saat, tidak mengerti apa maksud dari ekspresi Iskandar, tetapi dia masih mengangguk dan berkata, "Ya!"


Iskandar mengangguk.


Kemudian, dia berjalan ke arah Robert, menepuk bahunya dan berkata sambil tersenyum, "Anak muda, kerja bagus!"


Julfikar dan yang lainnya benar-benar tercengang oleh reaksi Iskandar.


Apa yang sedang terjadi?


Iskandar begitu sopan kepada seorang mahasiswa?


Apakah ini bercanda?


Iskandar memandang mereka, wajahnya tiba-tiba menjadi muram, lalu berkata dengan serius, "Robert adalah mahasiswa yang sangat baik! Aku belum pernah melihat mahasiswa yang luar biasa seperti ini! Bahkan kalian keluarkan dia, aku benar-benar meragukan kemampuan kerja kalian!"


“Ah? Dia? Luar biasa?” Julfikar tercengang.


Iskandar mencibir dan berkata, "Ya! Luar biasa! Baru siang hari ini, terjadi kecelakaan bus di Jembatan Teksas. Robert menghentikan bus agar tidak jatuh ke sungai dan menyelamatkan nyawa semua orang di bus! Robert pergi tanpa meminta imbalan apa pun, kami semua terus mencarinya, dan sampai sekarang baru berhasil menemukannya!"


"Ini…"


Julfikar tercengang saat mendengar kata-kata Iskandar.

__ADS_1


Sialan! Dia juga mendengar kejadian tentang kecelakaan bus, tetapi dia tidak terlalu memperhatikan, hanya menganggapnya sebagai berita lalu-lalang saja.


Pada akhirnya, orang yang menyelamatkan bus itu ternyata Robert!


Iskandar melanjutkan, "Kami menerima perintah dari pemerintah kota untuk mempublikasikan masalah ini dan membangun citra sosial yang baik di kota ini! Aku membawa wartawan ke sini hanya untuk melakukan wawancara, tetapi aku malah mendengar bahwa dia dikeluarkan dari kampus kalian."


Mendengar ini, Julfikar berkeringat dingin.


Terlepas dari apakah Robert memukul Jamil, atau kenapa dia memukulnya. Dengan menyelamatkan lebih dari dua puluh nyawa, masalah pemukulan yang dilakukan Robert barusan sudah bukan masalah besar.


Orang yang dicari tokoh penting, tetapi dia malah mengusirnya. Jika hal semacam ini benar-benar menjadi kenyataan, mungkin dia akan lengser dari jabatan dekan.


Dengan keadaan saat ini, dia sama sekali tidak berani menyinggung Robert.


Julfikar buru-buru tertawa dan berkata, "Tidak! Sekretaris Iskandar, semua ini salah paham! Sungguh! Bagaimana mungkin kami mengeluarkan siswa yang begitu baik? Aku hanya bercanda dengannya!"


Di sebelah, Jamil, Jimmy dan yang lainnya, langsung menundukkan kepala begitu mendengar kata-kata Iskandar.


Mereka berani menyinggung Robert karena Robert adalah teman sekelas mereka.


Bahkan ketika Robert mengendarai Bugatti mahal pun, di alam bawah sadar mereka, Robert hanyalah orang lemah.


Namun orang-orang di depan mereka ini berbeda. Mereka adalah orang-orang penting yang hanya muncul di TV!


Di depan orang-orang ini, Jamil bahkan tidak berani bernapas, apalagi melawan mereka!


"Pak Julfikar bilang dia bercanda dengan kami? Berarti Pak Julfikar bilang kami memalukan nama kampus itu juga bercandai? Mengeluarkan kami dari kampus juga bercandakan?" tanya Robert sambil memicingkan mata.


“Iya benar, itu semua hanya candaan! Bagaimana mungkin kami mengeluarkan mahasiswa yang begitu baik sepertimu? Tentu saja hanya bercanda” Julfikar tertawa, tetapi memarahi Robert di dalam hati.


Bajingan kecil ini benar-benar menyimpan dendam.


Pada saat ini, Handoko juga datang, tersenyum dan berkata kepada Iskandar, "Sekretaris Iskandar, kami tidak berencana untuk mengeluarkannya, hanya ada perselisihan kecil antara Robert dan Pak Julfikar, bukan masalah besar! Kami bukan hanya tak akan mengeluarkan siswa berprestasi seperti Robert, tapi kami juga akan membimbingnya dengan penuh semangat!"


Selesai berbicara, dia mengedipkan mata pada Julfikar dan berkata, "Benarkan, Pak Julfikar?"


Julfikar marah besar dalam hati begitu mendengar kata-kata ini, tapi dia hanya bisa menahan amarahnya, dan berkata sambil tersenyum, "Ya, ya, apa yang dikatakan Pak Handoko benar, hanya ada sedikit perselisihan antara kami berdua, itu bukan masalah besar, dan tidak ada rencana untuk mengeluarkannya!"

__ADS_1


__ADS_2