Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
Bab 115


__ADS_3

Robert merasa bersalah saat dilirik oleh Lia.


Lia meliriknya dari atas ke bawah.


Apa yang ingin dia lakukan?


Wanita ini ....


Apakah dia memiliki niat jahat padanya?


Memikirkan hal ini, Robert tiba-tiba merasa semangat!


Apakah sepuluh poin pesona itu akhirnya berfungsi?


Robert menjilat bibirnya, dan berkata dengan penuh semangat. "Nona Lia, aku ... aku ...."


"Pakaianmu ini tidak sesuai untuk mengikuti pesta!"


Lia tiba-tiba menggelengkan kepalanya dan berkata, "Meskipun pakaianmu berkualitas, tapi masih tidak cukup! Pesta keluarga Setiawan pada tanggal 5, semua orang yang menghadiri pesta adalah orang-orang kaya. Pakaianmu pasti akan dipandang rendah! Aku akan membawamu membeli beberapa pakaian mewah dan memberitahumu situasi tentang hari itu."


Robert bergeming.


Pada saat ini, hati Robert tiba-tiba merasa sedih.


Jika ingin menaklukkan Lia, dia harus menggunakan penampilan ganteng, kebijaksanaan tinggi, kepribadian yang mantap, dan temperamen yang elegan!


Tetapi dirinya saat ini, selain ganteng, sepertinya tidak ada kelebihan lain.


Di saat Robert sedang tidak tahu harus bagaimana, Lia tiba-tiba berkata, "Tapi mulai hari ini, kita harus latihan menjadi pasangan sungguhan, agar tidak ketahuan ketika saatnya tiba! Jadi ...."


Setelah mengatakan itu, Lia langsung mengulurkan tangan dan memeluk lengan Robert, lalu tersenyum dan berkata, "Robert, ayo pergi!"


Segera setelah menarik Robert, Lia berjalan ke depan.


Robert merasakan kelembutan dari sikunya, jantungnya berdetak kencang dan mulai berimajinasi!


Pada saat yang sama, di lantai tiga.


Junius berbaring dengan nyaman di sofa, mengubah posturnya dan berkata, "Alexander, bisakah kamu melihat Robert dan cewek itu di jendela, lihat apa yang mereka lakukan!"


"Oh."

__ADS_1


Alexander menjawab dan berlari ke jendela dan melihat ke luar.


Dia langsung melihat Lia memeluk lengan Robert, dan berjalan keluar dengan wajah bahagia.


“Sialan! Ayah, datang dan lihat, terjadi sesuatu!” Alexander tiba-tiba berteriak.


"Apa!"


Junius berseru dan segera berlari untuk melihat.


Ketika dia melihat Robert dan Lia saling berpelukan di lantai bawah, dia melompat dengan marah dan berkata, "Keterlaluan! Ini sungguh keterlaluan! Beraninya merebut menantu keluargaku! Tidak boleh! Aku harus bertanya pada Antonius! Aku ingin bertanya apakah dia masih menganggapku sebagai kakaknya atau tidak!"


Setelah mengatakan itu, dia mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon Antonius, "Antonius! Putramu merebut menantu keluarga kami, apa maksudmu?"


"Apa?"


Antonius berteriak kuat. "Apa yang kamu katakan? Angin di sini sangat kuat aku tidak bisa mendengar dengan jelas!"


“Aku bilang putramu merebut pacar putraku!” Junius berteriak dengan marah.


“Apa? Anakmu merebut pacar anakku? Tidak apa-apa, toh, kita ‘kan satu keluarga, itu pacar siapa sama saja, aku tak keberatan kok! Aku sedang bekerja, tutup telepon dulu, ya! Mari kita bicarakan lagi kalau ada waktu!" Antonius menjawab dengan kuat.


Junius bergeming.


Sial ....


“Apa yang pamanku katakan?” tanya Alexander dengan penasaran.


Junius menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan ekspresi rumit. "Dia bilang ... tidak peduli itu menantu siapa, tetap adalah menantu keluarga Kusnadi ...."


Alexander bergeming.


Sial, itu yang dikatakan Antonius?


Kapan sikap Antonius menjadi begitu keras?


Di lantai bawah.


Mobil Lia diparkir di jalan utama, begitu keduanya masuk ke mobil, Lia langsung mengendarai mobil ke pusat perbelanjaan dan memilih beberapa pakaian untuk Robert, semua pakaian yang dibeli adalah merek internasional yang terkenal!


Harganya masing-masing di atas 150 juta!

__ADS_1


Dengan pakaian baru, temperamen Robert mengalami perubahan yang besar, pakaian yang bagus memang bisa mengubah penampilan seseorang!


"Lumayan." Lia mengangguk puas.


Robert tersenyum dan berkata, "Bagaimana? Ganteng, ‘kan?"


"Hmm, ganteng! Aku sudah bayar! Ayo pergi! Aku akan membawamu membeli jam tangan yang bagus!" kata Lia sambil memeluk lengan Robert dan berjalan keluar.


“Ah? Jam tangan? Apakah perlu? Aku tidak pernah memakai jam tangan, bisa melihat waktu di ponsel, jadi tidak perlu menggunakan jam tangan!” tanya Robert.


"Mana ada orang dari kalangan kelas atas yang mengeluarkan ponsel untuk melihat waktu?"


Lia menyipitkan mata menatap Robert dan berkata, "Pada dasarnya, orang yang memiliki status tertentu akan memakai jam tangan! Jam tangan adalah simbol dari status seseorang! Robert, setidaknya kamu adalah tuan muda dari keluarga terkemuka yang mampu mengendarai Bugatti, kenapa kamu bahkan tidak tahu tentang hal ini?"


"Uh ... sebenarnya, kamu salah paham. Aku benar-benar bukan tuan muda dari keluarga terkemuka mana pun. Aku menemukan Bugatti secara tidak sengaja!"


"Kalau begitu coba kamu temukan sekali lagi?"


Robert bergeming.


Bugatti ini benar-benar ditemukan secara tidak sengaja!


Aku mengklaim-nya lewat ponselku.


Kemudian, sebuah Bugatti jatuh di depanku ... lalu aku memperoleh keterampilan mengemudi tingkat dewa ....


"Lalu kenapa kamu tidak menemukan Bugatti lain lagi? Sekalian temukan satu lagi untukku dan satu lagi untuk primadona kampusmu! Kemudian temukan beberapa lagi untuk disewakan." Lia menatap Robert dengan seksama.


Robert bergeming.


"Lupakan saja, ayo beli jam tangan. Kebetulan aku suka sebuah jam tangan, harganya ratusan juta, dulu aku merasa sayang kalau membelinya! Kali ini aku merelakan uangku!" Robert menggertakkan giginya.


Dia juga memiliki jam tangan favorit.


Terutama jam tangan mekanik, sebagai seorang pria, ia sangat suka dengan jam mekanik!


Lia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak butuh uangmu! Aku akan membayarnya! Jam tangan seharga ratusan juta tidak sesuai dengan status pacarku. Pacarku harus memakai jam tangan setidaknya seharga 1 miliar! Dengan begitu statusmu baru bisa lebih tinggi dari orang lain!"


Robert bergeming.


Kak! Ini membuat orang kaya sepertiku malu di depanmu!

__ADS_1


__ADS_2