
Robert sedang mengemudi, dia tidak berani mengklik berita yang dikirim oleh sistem. Boleh saja mengobrol sambil mengemudi, tapi terlalu berbahaya untuk menundukkan kepala dan melihat ke ponsel, dia bisa membaca berita setelah sampai di rumah.
Di luar sedang hujan gerimis.
Lia, yang berada di kursi co-driver, kembali bereaksi setelah tertegun beberapa saat.
Dia menatap Robert dengan mata penuh semangat, dan berkata, "Energi Baru Hontaro! Ternyata kau adalah orang yang yang membeli saham Hontaro secara gila-gilaan beberapa hari yang lalu. Robert, hebat sekali kau, diam-diam membeli saham?"
Robert tersenyum tak berdaya dan berkata, "Bukan diam-diam, awalnya aku ingin mengajak temanku untuk ikut beli, tapi mereka semua menganggapku orang bodoh!"
Lia mengangguk dan berkata, "Kalau kau memberitahuku sebelumnya, aku juga akan menganggapmu bodoh! Tapi bagaimana kamu bisa tahu bahwa Hontaro bisa mengembangkan energi kapasitor jenis baru yang begitu hebat? Kau sungguh beruntung!"
"Apa boleh buat, tidak ada yang bisa menghentikan keberuntunganku! Awalnya aku hanya iseng, tak kusangka perusahaan Hontaro akan berhasil! Ini mungkin ditakdirkan oleh Tuhan?" kata Robert sambil tersenyum.
Ketika Lia mendengar ini, dia menghela napas dan berkata, "Sekarang, diperkirakan kakekku pasti sangat menyesal.!"
"Aku telah memberi mereka kesempatan dengan memberinya satu-satunya izin kerja sama dari perusahaan Hontaro sebagai hadiah ulang tahun. Hadiah itu cukup besar, ‘kan?" kata Robert.
Lia mengangguk dan berkata, "Terima kasih, Robert, aku tidak menyangka kau akan memberikan sesuatu yang begitu penting kepada kakekku sebagai hadiah ulang tahunnya! Tapi sayangnya kakekku tidak tahu menghargai, malah merobek kontrak tersebut! Ini adalah kesalahan keluarga kami, aku tidak akan meminta kau memaafkan mereka."
Saat meninggalkan perjamuan tadi, Robert telah mengatakan bahwa kalau mereka mengusir dia keluar hari ini, kelak bahkan diundang pun, dia tak akan dengan mudah menyetujui untuk kembali.
Dalam hal ini, dia tahu Robert marah, jadi ketika Joni membericarakan masalah ini padanya di telepon, meskipun dia tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi, dia langsung menolaknya.
Pada saat ini, ponsel Lia berdering lagi, kali ini ibunya yang menelepon.
Dia ragu-ragu selama beberapa detik, dan akhirnya memilih untuk menutup telepon.
Kemudian, dia menoleh untuk melihat Robert dan berkata, "Aku sudah menerima beberapa panggilan, kenapa ponselmu tidak berdering? Bukankah seharusnya ada banyak orang yang akan meneleponmu?"
Dalam situasi saat ini, ponsel Robert seharusnya sudah menerima banyak panggilan.
Robert tersenyum dan berkata, "Aku telah melakukan pengaturan ponsel untuk menolak panggilan yang tidak dikenal, hanya orang-orang di buku kontakku yang dapat meneleponku!"
Sejak terakhir kali Joe dan yang lainnya secara langsung memeriksa nomor ponselnya melalui badan pengawas pasar saham, Robert sudah tahu bahwa informasi kontaknya telah bocor.
Meskipun dia telah menyetel informasi pribadinya agar tidak dapat dilihat oleh publik, tapi staf badan pengawas tetap bisa melihat informasinya.
Apa yang dia anggap sebagai privasi sebenarnya tidak privasi sama sekali.
Dia jelas tahu bahwa selama penelitian perusahaan Hontaro berhasil, dia akan ditelepon oleh banyak orang, jadi dia melakukan pengaturan untuk menolak panggilan yang tidak dikenal.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan Artha Gading Vila.
"Sampai jumpa, Lia."
Begitu keluar dari mobil, Robert langsung mengucapkan selamat tinggal kepada Lia.
Dia terburu-buru untuk kembali dan melihat berita apa yang yang dikirim oleh sistem Berita Utama Besok kali ini.
Namun, tepat pada saat ini, Lia juga turun dari mobil dan bertanya dengan heran, "Apakah kau tidak memintaku untuk masuk dan duduk sebentar?"
Robert mengedipkan mata dan berkata dengan ekspresi terkejut. "Kau ... tidak pulang?"
Kau hanya perlu mengantarku sampai di sini.
"Tapi aku tidak punya tempat tinggal!"
Lia berkata dengan wajah sedih, "Kalau aku pulang sekarang, orang tuaku pasti akan terus membujukku. Aku sudah tak punya tempat tinggal sekarang, kau membawaku keluar dari keluarga Setiawan, jangan katakan padaku kalau kau akan membiarkan aku tinggal di jalanan."
Saat mengatakan ini, Lia menatap Robert dengan ekspresi sedih.
Robert bergeming.
Ekspresi apa ini?
Mungkinkah dia ingin tinggal di rumahku?
Kita bukan kekasih, mana bisa kau tinggal di rumahku?
Jika diketahui orang lain, bagaimana aku bisa mendapatkan pacar ke depannya?
Jangan-jangan kau ingin menjadi pacarku?
Robert melirik Lia dari atas ke bawah, terutama posisi dadanya, lalu menyentuh dagu sendiri.
Sepertinya juga bukan tidak boleh ....
"Robert, dulu aku selalu tinggal bersama orang tuaku, aku tidak pernah mengambil satu sen pun dari Grup Setiawan! Termasuk mobil ini merupakan hadiah dari kakekku! Aku benar-benar tak punya tempat tinggal sekarang. Biarkan aku tinggal di sini selama beberapa hari, boleh ‘kan? Aku akan segera pindah setelah menemukan tempat tinggal!" kata Lia.
Begitu mendengar ini, Robert langsung terdiam beberapa saat.
Gadis ini benar-benar telah bekerja keras untuk Grup Setiawan!
__ADS_1
Tidak mengherankan bahwa setelah diusir oleh Bambang, akan ada begitu banyak kebencian di dalam hatinya!
Siapa pun yang ditimpa masalah seperti ini pasti akan mengamuk. Lia tidak memarahi mereka secara langsung di tempat, itu sudah menandakan bahwa Lia cukup menghargai mereka.
"Oke, masuklah, tapi jika terjadi padamu, kau tidak boleh menyalahkanku!" kata Robert langsung.
Jika reputasi Lia terpengaruh karena tinggal bersamanya, dia pasti tidak akan bertanggung jawab.
"Terima kasih!"
Lia terkikik dan berkata, "Robert, kau adalah orang yang baik! Aku yakin kau tidak akan melakukan apa pun padaku! Kalau begitu aku akan masuk!"
Setelah itu, Lia langsung berlari ke dalam.
Robert berdiri di tengah hujan dengan ekspresi bingung, terlihat sangat tak berdaya.
Di aula vila, Lia melihat sekeliling, ketika dia melihat Robert masuk, dia pun berkata sambil tertawa, "Robert, rumahmu sungguh mewah!"
“Rumah ini hadiah dari Wiranto. Aku menyelamatkannya dalam kecelakaan bus di jembatan Teksas, jadi dia memberiku vila ini sebagai tanda terima kasih!” Robert berkata dengan wajah serius.
Lia mengangguk dan berkata, "Aku pernah berinteraksi dengan Direktur Wiranto, dia orang yang baik! Oh ya, bisakah aku menggunakan kamar mandi rumahmu? Tubuhku terkena air hujan. Kalau tidak mandi, maka kulitku akan rusak."
"Hah? Man ... mandi? Di sini?"
Begitu mendengar ini, Robert langsung tercengang.
Dia ingin mandi di rumahku?
Dia sungguh percaya pada kepribadianku!
“Boleh saja, tapi aku tidak punya pakaian wanita di sini!” kata Robert dengan tak berdaya.
“Tidak apa-apa, aku membawanya sendiri!” Lia mengangkat tas di tangannya.
Robert bergeming.
"Aku akan mandi dulu."
Selesai berkata, Lia langsung berjalan masuk dengan tas di tangannya.
Setelah beberapa saat, suara tetesan air datang dari arah kamar mandi.
__ADS_1
Robert mengambil dua langkah ke dalam, suara tetesan menjadi semakin kuat, dia langsung membayangkan pemandangan di mana tetesan air mengenai tubuh Lia, lalu berkhayal yang bukan-bukan ....