
Setelah menutup telepon, Robert menatap telepon dan tertegun, lalu membuka kotak pesan Elysia di forum.
Di saat teman-teman mengkhianatinya, Elysia malah membantunya tanpa alasan apa pun, jadi sangat wajar Robert ingin berterima kasih padanya.
Karena tidak memiliki nomor kontak Elysia, jadi dia hanya bisa meninggalkan pesan di forum.
Tapi, bagaimana cara mengungkapkan rasa terima kasih?
Robert berpikir sejenak, lalu mulai mengetik.
Hanya sesaat, ratusan kata sudah ia ketik.
Setelah membaca ulang, dia semakin merasa tidak puas!
Terlalu panjang, apa Elysia mau membacanya?
Akhirnya, ratusan kata itu diringkas langsung menjadi kata 'terima kasih' saja!
Kemudian...
Robert mulai menunggu sang dewi membalas pesannya.
Terus menunggu...
Setelah menunggu lebih dari 10 menit, Elysia masih tidak membalas. Akhirnya, dia dengan enggan menutup kotak pesan dan keluar dari forum.
Mungkin dia tidak melihatnya. Lupakan saja, dia akan langsung berterima kasih padanya besok.
...
Pada waktu bersamaan.
Perumahan Angel Residence.
Dewi sedang menyiapkan makanan di ruang makan dan berteriak ke kamar tidur Elysia.
"Elysia, ayo makan! Elysia?"
Tapi...
“Sudah dipanggil dua kali, kok masih tidak ada respon?"
__ADS_1
“Apa yang dilakukan gadis ini di kamar?"
Dewi bergumam ingin tahu, lalu berjalan masuk ke kamar Elysia.
Begitu masuk, dia melihat Elysia duduk di tempat tidur, menatap ponselnya dengan linglung, dia bahkan tidak menyadari Dewi ada di sampingnya.
Dewi diam-diam mengulurkan kepala... melirik layar ponsel Elysia.
Di layar ponsel adalah sebuah kotak pesan yang tertulis kata 'terima kasih' di atasnya.
Elysia menatap "terima kasih" di layar ponsel dengan linglung, tidak tahu sudah berapa lama dia linglung di sana.
Melihat adegan ini, Dewi tiba-tiba merasa heran.
Dia belum pernah melihat Elysia seperti ini sebelumnya.
Kondisi linglung ini, sama seperti saat ia masih muda.
"Elysia?" Dewi berteriak pelan.
Elysia langsung sadar, dia segera meletakkan ponsel ke samping, dan berkata panik. "Bibi, apakah sudah waktunya makan?"
Dewi menepuk bahu Elysia, dan berkata dengan lembut. "Elysia, apakah kamu lagi ada masalah?"
“Melihat ekspresimu, kamu masih bilang tidak ada masalah?! Bibi merawatmu sejak kecil, mana mungkin Bibi tidak tahu? Sebelumnya, kamu mana pernah seperti ini?” Dewi bertanya sambil memiringkan kepalanya.
Dia juga pernah melewati usia muda, tentu dia pernah mengalami semua ini. Hanya dengan melihat ekspresi Elysia, dia sudah tahu bahwa Elysia menyembunyikan sesuatu darinya, dan itu mungkin saja masalah cinta.
"Aku……" Elysia berhenti berkata.
Dewi terkekeh, "Tidak apa-apa, kamu bisa menceritakan kepada Bibi! Bibi juga pernah seusiamu, Bibi tahu kondisi anak seusia kalian, kamu bisa memberitahuku, mungkin aku bisa memberikan petunjuk padamu. Jangan khawatir, aku pasti akan merahasiakan, aku tidak akan pernah memberi tahu siapa pun, termasuk Ibumu."
Elysia berpikir sejenak, dan akhirnya menggelengkan kepala, "Terima kasih Bi, aku ingin menangani masalah ini sendiri."
"Baiklah."
Dewi tersenyum, merentangkan tangannya dan berkata, "Bibi tidak memaksamu! Tapi Bibi hanya ingin mengingatkan bahwa hidup ini singkat, jadi kamu harus tahu bagaimana menghargainya, jangan sampai kehilangan baru menyesal! Jangan seperti Bibi..."
Dewi berkata sambil menghela napas.
Elysia tertegun, dan dengan ragu bertanya, "Bi, bisakah kamu menceritakan... pengalaman hidupmu?"
__ADS_1
"Tentu."
Dewi tersenyum dan duduk di sebelah Elysia, meraih tangannya, berbalik untuk melihat ke luar jendela, dan berkata dengan senyum tipis di wajahnya: "Sebenarnya, hanya hal biasa saja, pengalaman cinta di masa kuliah! Aku masih ingat waktu itu, saat tahun kedua kuliah, ada seorang anak pindahan dari kampus lain..."
Elysia memandang wajah Dewi yang masih mulus meskipun usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun itu. Mendengarkan dengan fokus, dan semakin merasa menarik...
Keesokan harinya.
Rumor sudah menyebar di seisi kampus, membuat kampus yang awalnya tenang menjadi berisik dalam sekejap.
Setelah sarapan, para siswa berkumpul secara berkelompok dan mulai berbisik-bisik.
"Apakah kamu sudah melihat forum kampus?"
"Tentu saja! Semua membahas Robert jadi sugar baby!"
"Aku juga sudah lihat, dari semalam sudah mulai heboh! Aku benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan anak itu, sudah jadi sugar baby, masih saja berani memberitahu semua orang!"
"Apa dia tidak merasa malu?"
"Pasti malu dong, kurasa anak itu bakalan tidak berani masuk kuliah!"
"Dia sendiri yang tidak tahu malu, mau salahkan siapa?"
"..."
Lapangan, gedung asrama, gedung belajar, jalan, hampir tidak ada tempat yang tidak membicarakan hal ini.
Rumor yang awalnya sudah heboh, ditambah dengan ikut sertanya Elysia, semakin membuat heboh seisi kampus.
Pada saat ini, radio kampus tiba-tiba berbunyi.
"Halo semuanya, aku Hardi, aku adalah penyiar hari ini."
Mendengar suara ini, banyak orang menoleh untuk mendengar apa yang dikatakan Hardi.
Ketua OSIS adalah penyiar hari ini?
Pasti ada masalah penting yang harus diumumkan, karena biasanya, Hardi tidak akan bisa ikut campur masalah penyiaran.
Suara Hardi bergema di seisi kampus.
__ADS_1
“Banyak hal telah terjadi di kampus dalam dua hari terakhir, dan ada beberapa hal yang sangat menyentuhku! Teman-teman yang kucintai, apakah kalian masih ingat cita-cita kalian? Tapi bagaimanapun juga, hidup ini sangat sulit. Kita perlu mengatasi berbagai rintangan untuk menggapai cita-cita kita! Hanya saja ada orang yang telah melupakan cita-cita dan tujuan hidupnya. Pada usia saat ini yang seharusnya digunakan untuk berjuang, dia malah dengan tidak tahu malu membuang martabatnya sendiri..."