Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
Bab 114


__ADS_3

Menghadapi Junius yang antusias, Lia tak berdaya, dan mengarahkan pandangannya pada Robert untuk meminta bantuan.


Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapinya.


Jika bukan karena hubungan baik antara dia dan Robert, dia pasti memarahi Junius secara langsung!


Tapi orang itu adalah paman Robert, dan dilihat dari penampilan Robert saat ini, diperkirakan Robert tidak ingin mereka mengetahui identitasnya. Lia tidak dapat secara langsung memberitahu mereka, jadi dia hanya bisa membiarkan Robert membantunya.


Namun, yang membuatnya tak berdaya adalah Robert bukah hanya tidak membantunya, dia malah tertawa.


Kemudian, Robert menatap Lia dan berkata, "Kak Lia, aku juga berpikir kalau sepupuku orangnya baik, dia sangat profesional dalam membuat musik, dia juga trainee di Starway. Hanya butuh dua setengah tahun dia akan menjadi artis besar. Tidakkah kamu mempertimbangkannya?"


Robert merasa penampilan Lia saat ini benar-benar lucu.


"Ya, ya!" Junius segera menjawab.


Kemudian dia melirik Robert dengan ekspresi memuji, lalu lanjut berkata kepada Lia. "Pemuda sebaik anakku sudah sangat langka di zaman sekarang! Bagaimana kalau kalian keluar makan lalu ngobrol berdua?"


Dia benar-benar sangat puas dengan Lia yang terlihat cantik dan memiliki temperamen yang unik!


Jika mereka bisa mendapatkan menantu seperti Lia, keluarga mereka pasti dipandang tinggi oleh orang lain!


Lia dengan marah melototi Robert!


Bajingan ini!


Lia memaksakan senyum dan berkata kepada Junius. "Emm ... Paman, nanti baru kita bicarakan. Ada hal yang harus kubicarakan dengan Tuan Robert!"


Selesai berbicara, Lia buru-buru berkata, "Tuan Robert, aku akan turun dulu dan menunggumu di bawah!"


Dia benar-benar tidak tahan lagi, jadi dia segera berbalik dan berjalan keluar.


Jika dia mengetahui bahwa Junius dan putranya ada di lantai atas, dia tidak mungkin naik ke atas.


Kerabat macam apa ini?


“Oh, tunggu sebentar, Nak?” Junius berteriak pada Lia, tapi sosok Lia sudah menghilang di pintu.


Junius menendang pantat Alexander, dan berkata dengan marah. "Apakah kamu tidak tahu untuk lebih berinisiatif? Kenapa tidak berbicara tadi? Setiap kali harus aku yang membantumu!"

__ADS_1


“Aku juga ingin berbicara tadi, tapi Ayah telah mengatakan semuanya, aku tidak tahu harus berkata apa!” Alexander berkata dengan tak berdaya.


"Hei?" Junius memutar matanya dan berkata, "Beraninya melawanku!?"


Alexander langsung ketakutan.


Robert tersenyum dan berkata, "Kalian ngobrol dulu di sini, aku akan turun dulu! Oh ya, aku mungkin harus tinggal di kampus malam ini, kalian tidak perlu menungguku!"


Selesai berkata, dia langsung berjalan ke luar.


Robert tidak ingin menghiraukan mereka berdua, yang penting dia sudah melakukan tugas yang diberikan oleh ayahnya. Dia tak berencana untuk kembali mencari mereka.


"Tunggu sebentar, Robert, beri tahu kami nama dan nomor telepon cewek tadi sebelum kamu pergi?" Junius berteriak.


"Untuk hal itu, kita bicarakan lain kali saja."


Di dalam koridor, terdengar gema suara Robert.


Meninggalkan nomor telepon?


Mustahil.


Dalam sekejap mata, hanya Junius dan Alexander yang tersisa di lantai atas.


Junius duduk di sofa dengan marah dan berkata, "Dasar bocah tengik! Apa salahnya memberi tahu nomor teleponnya terlebih dulu sebelum pergi?"


Dia mendengus dan duduk dengan menggoyangkan pantatnya di atas sofa, lalu berkata dengan heran. "Kenapa sofa ini terasa begitu nyaman? Jauh lebih nyaman daripada punya kita!"


“Tentu saja nyaman, ini adalah sofa kulit kelas atas, enam puluh hingga delapan puluh juta!” jawab Alexander.


Dia pernah melihat sofa semacam ini di luar, tetapi ini adalah produk kerajinan kelas atas. Kebanyakan orang enggan membeli sofa mahal seperti ini. Ketika dia melihatnya barusan, dia sudah terkejut, pemilik rumah ini benar-benar kaya.


Kenapa sofa semahal ini diletakkan di sini?


"Ah? Sofa ini sangat berharga?"


Junius terkejut ketika dia mendengar ini, kemudian matanya mulai bergerak ke sana kemari ....


Atau, kita bawa pulang?

__ADS_1


Di lantai bawah.


Lia menyilangkan tangan di depan dadanya, rambutnya yang panjang menari-nari tertiup angin.


Melihat Robert turun, Lia menoleh dan menatap Robert dengan sepasang mata indah yang penuh dengan niat membunuh.


"Uhuk~"


Robert terbatuk ringan, dia berkata dengan malu. "Itu ...."


“Apakah kamu merasa itu menarik? Hah?” Lia bertanya dengan cemberut.


Robert menundukkan kepalanya, lalu menjawab, "Seharusnya ... tidak menarik."


“Lalu kenapa mempermainkanku? Sangat menyenangkan?” tanya Lia dengan tegas sambil mengangkat alisnya.


Robert tersenyum dan berkata, "Oh ya, ada apa kamu mencariku?"


"Ajak kamu pergi berbelanja! Anggap sebagai permintaan maafku, bagaimana?" kata Lia.


Begitu Robert mendengar Lia mengajaknya berbelanja, sudut matanya berkedut.


Apa?


Berbelanja?


Apakah ini permintaan maaf?


Ini adalah balas dendam!


Berbelanja dengan seorang cewek adalah hukuman yang paling kejam di zaman sekarang!


Dia lebih suka lari maraton daripada pergi berbelanja dengan seorang cewek, hal ini sangat menyiksa diri!


"Emm ... aku masih ada urusan lain, kita pergi lain hari saja!" Robert menolak.


Lia menarik napas dalam-dalam!


Setelah itu, dia memiringkan kepalanya dengan rambut panjang di bahunya, matanya sedikit menyipit.

__ADS_1


__ADS_2