
Robert merasa lega setelah mengusir Lia ke halaman belakang.
Robert tahu jika Lia masih terus berada di ruang tamu dan berkata yang tidak-tidak, Elysia akan marah dan pergi!
Baru saja Lia pergi menjauh, Robert langsung menjelaskan kepada Elysia. "Elysia, Lia hanya tinggal di sini selama beberapa hari, dia akan pergi setelah mendapatkan tempat tinggal."
Elysia mengangguk lalu tersenyum dan berkata, "Kau tidak perlu menjelaskan ini kepadaku. Aku hanya datang untuk berterima kasih karena telah menyuruhku membeli saham Hontaro! Aku tahu kau tidak akan berbohong padaku!"
Robert menghela napas lega, lalu tersenyum dan berkata, "Tak perlu berterima kasih! Aku yang seharusnya berterima kasih padamu karena mempercayaiku. Aku memberi tahu Kelvin dan yang lainnya, tapi tak seorang pun yang percaya padaku, mereka malah mengatakan bahwa aku bodoh!"
"Um!"
Elysia berkata, "Bibiku mengatakan bahwa kita berdua adalah orang bodoh bertemu orang bodoh, dia bilang kita berdua tidak normal!"
Setelah mengatakan itu, Elysia segera menutup mulutnya dan tertawa.
Kemudian Robert juga ikut tertawa bersamanya.
Mereka benar-benar terlihat seperti dua orang bodoh ....
"Oh ya, Robert, sebelum datang ke sini, bibiku memberi tugas padaku, dia ingin mengambil kembali saham yang kau beli darinya. Dia bilang tidak perlu mengembalikan terlalu banyak, cukup setengah atau sepertiga. Bagaimana menurutmu? Kalau tidak bisa, aku akan memberikan sahamku, seharusnya cukup sepertiga," tanya Elysia.
Elysia langsung memberi tahu Robert maksud dari Dewi.
Robert merenung sesaat dan menjawab, "Tidak, bibimu memiliki sekitar 600 juta saham Hontaro. Baiklah, aku akan mengembalikan 600 juta, ditambah 200 juta!"
Untuk berpacaran dengan Elysia, dia harus merelakan uang tersebut.
Sekarang uang 800 juta tidaklah seberapa baginya. Memberikan uang tersebut kepada Dewi adalah pilihan terbaik, karena Dewi adalah bibinya Elysia.
“Benarkah?” Elysia terkejut.
Robert mengangguk dengan serius. "Tentu saja!"
"Yeah! Terima kasih! Aku akan meminta bibiku mentraktirmu malam ini?" Elysia mengangkat kepalan tangan kecilnya dengan penuh semangat.
Robert berkata dengan sopan. "Tak usah sungkan, tak perlu mentraktirku, aku punya janji dengan Wiranto malam ini, aku akan mentraktir kalian kalau ada waktu."
Keduanya mengobrol sebentar, lalu Robert mengantar Elysia keluar.
Bibinya masih menunggu kabar baiknya di rumah.
__ADS_1
Begitu Elysia pulang, Robert langsung tertawa.
Bagaimanapun, Dewi bisa dianggap sebagai ibu mertuanya, meyakinkan Dewi dengan uang 800 juta, ini adalah transaksi yang menguntungkan!
Di saat Robert masih tertawa gembira, Lia tiba-tiba muncul, lalu berkata sambil terkekeh. "Gembira banget, ya. Primadona kampusmu sudah pulang?"
"Um."
Robert melirik Lia dan berkata dengan tak berdaya. "Lia, Elysia hampir marah barusan! Kapan kau berganti pakaian? Apakah kau tak merasa kalau kerah pakaianmu terlalu rendah?"
Tadi dia melihat Elysia menatap dada Lia dari waktu ke waktu.
Tatapannya terlihat sangat aneh.
Pakaian Lia memang menarik perhatian, tetapi juga harus dipakai sesuai tempat dan kondisi.
Lia menundukkan kepala untuk melirik dadanya, lalu tersenyum kepada Robert dan berkata, "Aku baru saja menggantinya di kamar mandi! Kenapa, bukankah pria suka melihatnya?"
Robert menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan tatapan serius, "Ibu Direktur, kau juga tahu kalau aku adalah pria, ‘kan? Apakah kau tidak takut aku berbuat sesuatu padamu?"
Robert benar-benar merasa tak berdaya setelah mendengar apa yang dikatakan Lia.
Apakah Lia wanita yang sangat terbuka?
Lia tersenyum sambil membuka lengan dan berkata, "Aku tidak punya pacar. Kau juga tampak ganteng. Kita boleh coba berkencan, tapi bagaimana dengan primadona kampusmu?"
Setelah mendengar kata-kata Lia, Robert semakin tak berdaya.
Wanita ini memang hebat, Robert merasa tak mampu menghadapi wanita seperti Lia.
Siapa yang percaya bahwa direktur wanita tercantik di Jakarta yang biasanya terlihat dingin adalah wanita yang begitu terbuka.
Pada saat ini, ponsel Lia tiba-tiba berdering.
Begitu mengangkat ponsel, Lia mengangkat alisnya dan berkata dengan serius, "Robert, orang tuaku datang ke sini, mereka berada di luar gerbang sekarang."
Robert tak berdaya. "Orang tuamu benar-benar tak kenal putus asa!"
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Lia.
Robert menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dan berkata, "Orang tuamu sudah datang ke sini, apa lagi yang bisa kau lakukan?"
__ADS_1
Selesai berkata, Robert langsung berjalan keluar, Lia ragu-ragu sejenak, dan kemudian ikut berjalan keluar, dia menarik kerah pakaiannya ke atas pada saat bersamaan.
Di depan Robert, dia bisa memanjakan dirinya dengan bebas, tetapi tidak di depan ayahnya.
Ketakutan terhadap ayahnya telah berakar di hatinya.
Setelah keluar, Robert membuka pintu dan melihat dua orang berdiri di luar, Joni dan ibunya Lia, Erika.
Melihat Robert keluar, Joni bergegas menyambutnya dan berkata sambil tersenyum, "Halo, Tuan Robert!"
Robert mengangguk dengan sopan dan berkata, "Halo Paman, silakan masuk."
Tidak peduli seberapa buruk hubungan Lia dengan Joni, tidak peduli seberapa buruk sikap Joni terhadap Lia, bagaimanapun juga dia adalah ayahnya Lia.
Sebelum hubungan mereka benar-benar putus, dia tetap harus bersikap sopan terhadap orang tua Lia.
Kemudian Robert mengundang keduanya ke dalam.
Setelah masuk ke ruang tamu, Lia sengaja bertanya, "Ayah, Bu, kenapa kalian datang ke sini?"
"Tentu saja untuk mencari Tuan Robert."
Joni memandang Robert, dan berkata dengan tulus, "Tuan Robert, hal yang terjadi sebelumnya adalah kesalahan keluarga kami, tidak mencari tahu masalahnya terlebih dulu sehingga menyinggungmu. Aku meminta maaf atas nama ayahku. Mohon Tuan Robert mempertimbangkan kembali kontrak ini."
Selesai berkata, Joni mengeluarkan kontrak yang telah direkatkan dengan selotip, kontrak itu tidak lain adalah kontrak yang dibawa Robert sebelumnya.
Di perjamuan, Alex merobek kontrak itu untuk mempermalukan Robert, tetapi sekarang mereka malah menyatukannya lagi.
"Tuan Robert, kami sudah membaca kontrak ini. Kau telah memberikan kami hadiah besar untuk Grup Setiawan, tapi kami malah tidak menghargai. Untuk meminta maaf, kami bersedia memberimu sepuluh persen saham Grup Setiawan untuk menukarnya dengan kontrak ini. Bagaimana menurutmu?" tanya Joni dengan hati-hati.
Melihat adegan ini, Lia tiba-tiba merasa kecewa dalam hati.
Ayahnya sebenarnya adalah pria yang sangat arogan, terutama setelah Lia menjadi direktur Grup Setiawan.
Tetapi sekarang, mereka hanya bisa memilih untuk merendahkan diri di depan Robert atas apa yang seharusnya dapat mereka peroleh dengan mudah.
Dan semua ini disebabkan oleh kearoganan keluarga Setiawan, mempertahankan sesuatu yang dikatakan sebagai ‘aturan’.
Bagi suatu perusahaan, aturan itu memang penting, tetapi semua aturan didasarkan pada kepentingan perusahaan.
Tetapi ketika seseorang semakin arogan, ia akan menjadi semakin tidak tertarik pada kepentingan perusahaan, dan malah semakin memperhatikan apa yang disebut ‘aturan’.
__ADS_1
Awalnya, di depan Grup Setiawan adalah sebuah jalan yang lebar.
Namun, mereka telah mempersempit jalan tersebut dengan tangan mereka sendiri.